Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Friday, December 21, 2007

[Press Release] Muliakan Pequrban dan Penerima Qurban

Allah memuliakan para pequrban dengan janji-Nya yang tak pernah diingkari. Beberapa janji Allah bagi para pequrban diantaranya pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. “Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan …” (HR. Abu Dawud dan At Tirmizi).

Hewan qurban pun akan menjadi saksi pada hari kiamat, “Sesungguhnya hewan qurban itu akan dating pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu bahagiankan dirimu dengannya” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Bahkan, Rasulullah SAW menggambarkan betapa besarnya pahala berqurban dengan salah satu sabdanya, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Jika Allah memuliakan para pequrban, apakah para penerima qurban tidak berhak mendapat kemuliaan? Meski hanya dari para panitia qurban. Lihatlah beberapa fakta tentang penyaluran hewan qurban di berbagai kota dan daerah di negeri ini.


1. Antrian panjang

Sebelum matahari terbit, bahkan ratusan orang rela menunggu pembagian jatah qurban sebelum sholat Ied diselenggarakan. Mereka khawatir tidak mendapatkan bagian daging qurban. Antrian panjang para calon penerima qurban itu lebih mirip parade kemiskinan bangsa ini

2. Berebut daging qurban

Sudah menjadi pemandangan yang biasa, pembagian daging qurban diiringi dengan kerusuhan, saling sikut, saling injak untuk berebut jatah daging qurban yang jumlahnya tak seberapa.

3. Penerima bukan yang benar-benar berhak

Ini juga fenomena yang terjadi di hari raya Idul Qurban setiap tahun penyelenggaraannya. Banyak yang sebenarnya tidak berhak menerima daging qurban, justru menjadi penikmat daging. Padahal, banyak kaum dhuafa (lemah) yang tak beranjak dari rumah mereka, berharap panitia qurban mengetuk pintu dan memberinya daging qurban.

4. Mubazir

Hal ini juga seringkali tidak terhindarkan. Lantaran banyak penyelenggara qurban tidak memiliki cukup data mustahik/calon penerima daging qurban.

Maka dari itu, di tahun ini Program ”QURBANKU untuk korban bencana” tak sekadar menyalurkan hewan qurban itu ke berbagai daerah bencana, baik bencana alam, konflik sosial dan bencana kemiskinan. Dalam pelaksanaannya, ACT pun meminimalisir terjadinya fakta-fakta di atas.

Program ”QURBANKU untuk korban bencana” tak sekadar menggalang qurban, kemudian mendistribusikannya ke berbagai daerah bencana. Salah satu keunggulan program ini adalah dalam hal packaging (pengemasan) daging qurban serta sistem distribusinya. Berikut sistem pelaksanaan program qurban yang dilakukan ACT di berbagai daerah;


1. Sentralisasi pemotongan di masing-masing wilayah

Area daerah bencana sangat luas, misalnya Bengkulu atau Jogjakarta. Sentralisasi pemotongan hanya di beberapa titik utama agar lebih efisien untuk menjamin distribusi lebih merata dan tepat sasaran serta memudahkan pemantauan.

2. Pemberdayaan relawan berbasis masyarakat lokal

Semua program ACT berbasis kerelawanan, begitu juga program qurban. Segenap relawan ACT, mulai dari kantor pusat di Ciputat hingga di berbagai daerah seperti Aceh, Jogjakarta, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya serempak bekerja mulai dari penggalangan hingga pemotongan dan pendistribusian.

3. Pemberdayaan peternak

Pengadaan hewan qurban langsung dari peternak, bukan dari pedagang. Kebijakan ini sebagai bagian dari keberpihakan terhadap peternak yang selama ini sering tak mendapatkan perilaku tak adil dalam proses transaksi. Pengadaan hewan dari lokasi terdekat sehingga menghidupkan perekonomian lokal.

4. Kemasan sehat dan higienis

Pemuliaan penerima menjadi prioritas ACT selain memuliakan para pequrban. Kemasan daging qurban bukan dengan kantong plastik seperti yang biasanya dilakukan di hampir semua tempat. Kami menggunakan kemasan yang lebih bersih dan higienis, yakni bahan sterofoam yang ditutup dengan plastik cling wrap. Kemasan ini menjaga kesegaran dan kebersihan daging, dan langsung terlihat dengan jelas dari penutup transparannya.

5. Tanpa antrian dan tidak perlu berebut

Para penerima qurban cukup duduk tenang di rumah. Relawan-relawan ACT sudah mendata nama-nama penerima dan akan mendistribusikannya langsung ke rumah-rumah para penerima. Ini pun merupakan bagian dari pemuliaan penerima qurban.

6. Laporan pertanggungjawaban kepada para pequrban

Agar menambah keyakinan para pequrban, ACT memberikan laporan pelaksanaan pemotongan dan distribusi kepada setiap pequrban. Laporan tersebut berisi dua foto sebelum dan saat pemotongan, nama (atas nama) pequrban serta lokasi pemotongan.

***

Kami mengundang segenap rekan media untuk melihat langsung proses packaging (pengemasan) daging qurban sebelum didistribusikan kepada para penerima.

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Desember 2007 (hari tasyrik ke-3)
Tempat : Yayasan Ash Shiddiq, Jl. Bendungan Melayu Utara,
RT 11, RW. 01, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d 12.00 WIB


Bayu Gawtama
Communication Senior Manager ACT
021-7414482
085219068581
www.aksicepattanggap.com

Friday, December 14, 2007

Stop Global Warming from small things

Heal the world, make it better place.. :) Yukkk

DO YOU KNOW THAT .....
1. Ngga menancapkan colokan listrik walopun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40-50% biaya listrik yang harus anda bayarkan tiap bulannya....

Dan berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.

2. Kantong plastik butuh waktu 1000 tahun untuk terurai di TPA(tempat pembuangan akhir). Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di Indonesia

Belum lagi yang dibuang di sungai belakang rumah dan tempat2 yang tidak semestinya.

Dan 10kg kertas koran yang siap di jual loakan... itu membutuhkan 1 pohon yang butuh waktu 10taon untuk jadi besar.

Bayangkan yang terjadi dengan ilegal logging... how many trees has been cutdown for you? Imagine how they make the world hotter?
3. Ketika kamu membeli 1 liter air mineral di supermarket = beli 5 liter air. Tanya kenapa?

Karena di pabrik, untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air... cck cck cck...

Kode botol apa yang aman digunakan sebagai botol air? Lihat tanda dibawah botol, cari nomor 2,3 atau 4.... selain nomor2 itu... they're not safe, karena sama aja kamu makan plastik!!!!

4. Tisue yang uda di pakai itu ngga bisa di recycle... begitu juga karton2 yang bekas kena minyak, makanan, kue, minuman...

They're only a waste... yang mau ngga mau tanahlah yang harus merecycle.

Perkiraan orang memakai tisue 6 lembar sehari. 2.200 lembar setaun. Berarti kira2 44 MILIAR lembar seluruh Indonesia setaun...

Kalau kita menghemat 1 lembar ajah tiap hari... berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIIAR lembar setaon... HEBAT KAN?

5. Be Green on ATM? Kalo di BCA kan ada yang ambil duit ngga pake receipt... atau be smart dong... Transfer lewat Internet banking ato mobile banking....

8 MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap taun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia. Kalau selama setaon orang transaksi ngga pake kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 15 kali... ccck ccck

6. Minimal punya 2 macam tempat sampah dirumah, membantu mengurangi polusi air, udara dan tanah. Pisahkan sampah basah (sisa makanan dan masakan, daun, minuman) dan sampah kering ( botol, plastik, kertas, kaca). Lebih baik lagi untuk memisahkan sampah menurut 4 kelas:
o Plastik ( pembungkus makanan, kantong kresek, kantong belanjaan)
o Rumah tangga ( tulang ayam, sisa capcay, makanan basi)
o Kertas (Pembungkus gorengan, popok bayi, tisue yang sudah dipakai)
o Buku bekas catatan, kertas2 tagihan, koran, kertas iklan... disendirikan untuk dijual
o Logam (kaleng susu, kaleng makanan) dan kaca.

Hanya butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman...

7. Polar Bear / Beruang kutub ngga bisa berenang... tapi karena global warming di Kutub Utara, mereka harus berenang 30km untuk mencari es tempat berteduh.

Watch DISCOVERY CHANNEL : PLANET EARTH... pasti nangis deh ngeliat perjuangan seekor beruang kutub yang akhirnya mati karena kelelahan mencari daratan.

Is that the world you will leave for your children?
Yang penting be smart for the sake of ourselves!
Save the world, save our lifes, save our children! (dari milist)

Wednesday, December 12, 2007

Meniru Cara Allah Mencinta

Suatu malam Ade mengajukan pertanyaan kepada suaminya, Akang, “Apa yang membuat Akang memilih saya menjadi isteri Akang? Bukankah saya tidak lebih cantik dari teman-teman perempuan Akang yang lain?”

Akang yang mendapat pertanyaan itu hanya menyunggingkan senyum tanpa menjawab sepatah kata pun. Mungkin pertanyaan itu terlalu retoris karena disampaikan hanya satu hari setelah pernikahan mereka. Akang pun tetap sibuk menyemir sepatunya untuk kerja esok hari.

Merasa tak puas hanya mendapatkan senyum manis sang suami, Ade pun mendekati Akang dan mengulangi pertanyaannya. ”Jawab atuh kang, Ade butuh jawabannya...?”

Tiba-tiba tangan Akang yang berlumuran semir warna hitam mendarat mulus di kiri dan kanan pipi Ade yang putih. Ade tak sempat berkelit dan hasilnya, wajah Ade pun menjadi cemong. Sesaat kemudian Ade pun ngambek menekuk wajahnya, bibirnya maju beberapa senti. Jawaban yang diharapkannya tak keluar sedikit pun dari suaminya, justru tangan Akang yang berlumuran semir hitam yang mewakili jawaban itu.

Melihat isterinya kecewa dan nyaris meneteskan air mata, Akang langsung menarik tubuh mungil isterinya itu, mendekapnya erat dan kemudian menghadapkan wajah isterinya tepat dihadapan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan, hanya beberapa mili saja jaraknya. Ia memberi isyarat hendak mengatakan sesuatu yang serius, bening air di sudut mata Ade tertahan tak jadi tumpah. Bak kembang yang baru mekar, wajah Ade berubah cerah menunggu tak sabar gerangan apa yang akan disampaikan suaminya.

”Andai wajah Ade benar-benar hitam sehitam semir ini, Akang akan tetap mencintai Ade,” kalimatnya terlalu datar, belum membuat senyum Ade mengembang. Langit di wajahnya masih sedikit mendung, belum sepenuhnya cerah. Ade hanya menganggukkan kepalanya agak ke atas seolah sedang bertanya ”lalu?”

Mengerti isyarat ”lalu?’ isterinya, Akang pun mengeluarkan barisan kata-kata yang nampaknya sudah lama tersimpan. ”Cinta Akang bukan cinta biasa”. Ah, lagi-lagi Ade kecewa, ia memalingkan wajahnya sedikit ke kiri pertanda protes. Mungkin dalam hatinya Ade berkata, ”punya suami nggak kreatif banget, jiplak Siti Nurhaliza”.

Tapi Akang pun sebenarnya belum selesai. Kalimat ”cinta Akang bukan cinta biasa” itu hanya kalimat pembuka rangkaian kalimat yang sudah tersimpan rapih di kantongnya. Senyum yang lebih manis lagi disuguhkan ke wajah isterinya dan, ”Akang mencintai Ade bukan karena kecantikan Ade, bukan karena satu sisi pun di tubuh Ade. Ingat, mungkin tiga puluh tahun lagi Ade tidak secantik hari ini. Kalau Akang hanya melihat kecantikan Ade, cinta Akang akan berkurang seiring dengan berkurangnya kecantikan Ade”.

Wajah Ade tambah cerah. Tapi Akang seperti tak memberi kesempatan isterinya untuk berkata-kata.
”Jika Ade bertanya, apa yang membuat Akang memilih Ade sebagai isteri Akang, jawabnya Allah. Allah yang memilihkan Ade untuk Akang. Jadi yang paling tahu kenapa Ade yang dipilih Akang menjadi isteri, tentu saja Allah. Sedangkan kecantikan, serta hal-hal fisik lainnya yang ada di diri Ade, ibarat pakaian yang menghiasi tubuh pemakainya, tak ubahnya seperti seekor burung merpati, apapun warna bulunya tak mengubah namanya tetap merpati. Hakikat merpati bukan pada warnanya, melainkan pada penurut dan kesetiaan yang menjadi sifatnya”.

Ade pun tersipu. Kali ini ia yang benar-benar tak sanggup berkata.

”Sayang, benci, marah, atau cinta itu semestinya diletakkan pada piringan Allah. Alasnya hanyalah Allah, sebab Allah-lah yang menciptakan semua rasa itu”.

Senyum Ade tipis manis menghiasi wajahnya. Binar matanya menunggu tak sabar barisan kata indah suaminya.

”Coba kita tiru cara Allah marah, sayang atau bahkan cinta kepada hamba-Nya...”

Ade tak sabar mendengarkan,

”Ingat kisah Adam ketika diusir Allah dari surga? Allah bukan marah kepada Adam, tetapi marah lantaran sikap Adam yang melanggar aturan Allah. Bahkan boleh jadi, Allah tidak membenci dan melaknat syaitan karena zatnya, melainkan karena sikapnya yang sombong, membangkang dan tak mau tunduk kepada Allah. Coba pelajari sejarah Bilal bin Rabbah, wajahnya tak tampan, kulitnya hitam legam, tetapi Allah mencintainya karena keimanannya yang tak terbanding. Pelajari juga alasan Allah menjadikan Abu Lahab sebagai salah satu figur penghuni neraka, adalah karena sikapnya yang menentang Rasulullah”.

Berguguran bening air dari sudut-sudut mata isterinya. Sementara Akang belum memberikan tanda-tanda akan menghentikan kalimatnya.

”Dan episode cinta yang meniru cara Allah mencinta ini, dipentaskan dengan cantik oleh Muhammad Rasulullah bersama para sahabatnya. Ummat Muhammad mencintai putra Abdullah itu bukan karena ia cucu Abdul Muthallib, salah seorang yang paling disegani masyarakat Quraisy. Juga bukan karena Muhammad keponakan Abu Thallib yang cukup terpandang. Adalah sifat mulia Muhammad yang membuat orang-orang mendekat dan menjadi sahabatnya serta mengikuti ajarannya”.

***

Akang pun memeluk isterinya seraya berbisik, ”cintai Akang karena Allah de, cintai Akang sepanjang Akang tetap dekat kepada Allah. Cintai Akang dengan cara menegur Akang setiap kali menyimpang dan berbuat salah. Begitu pula cara Akang mencintai Ade...”

Gaw
The life-sharer

(tulisan ini saya persembahkan buat sahabat saya, Andhika Purbo Swasono yang baru saja melangsungkan pernikahannya di awal Desember 2007)

Tuesday, December 11, 2007

Menghormati Dhuafa

Suatu hari, saya terlibat sebuah pembicaraan di sebuah masjid bersama beberapa pengurus masjid tersebut. Topik obrolan seputar marbot (penjaga masjid) yang bermaksud meminjam uang kas masjid untuk biaya pernikahan keponakannya. “Keponakan saya anak yatim piatu, saya yang menanggung semua kebutuhannya sejak kecil. Sekarang hendak menikah pun, butuh biaya tambahan,” kira-kira begitu permohonannya.

Mengingat jasa dan jerih payahnya dalam menjaga dan membersihkan masjid tersebut, sebagian besar pengurus tak keberatan untuk membantunya. Yang menjadi masalah, apakah bantuan pinjaman itu akan diambil dari kas masjid atau dari sumber lainnya. Sementara menurut bendahara masjid, kondisi keuangan masjid belum bagus. Obrolan pun menjadi lebih serius, tentu saja tanpa melibatkan orang yang bersangkutan.

Seorang pengurus agak ragu untuk meminjamkan, bukannya ia kikir. Justru sebaliknya, ia berpendapat jika sebaiknya sang marbot benar-benar dibantu, bukan dipinjamkan sejumlah uang. “Saya khawatir ini akan memberatkan dia, jika setiap bulan harus mencicil ke kas masjid”.

Pengurus lainnya setuju untuk memberinya sejumlah uang tanpa harus dikembalikan. Begitu juga dengan beberapa pengurus lainnya yang sepakat untuk mengumpulkan uang yang mungkin tak sepenuhnya akan menutupi kekurangan biaya pernikahan, namun sedikit bisa meringankan bebannya.

Seorang pengurus lainnya pun mengajukan diri untuk berkeliling ke seluruh jamaah untuk membantu Pak marbot ini, memberi kesempatan untuk bersedekah. Sebab, bukan saja meringankan beban Pak marbot, melainkan juga memuliakan anak yatim yang hendak menjalankan sunnah Rasulullah SAW.

Tetapi kesepatan itu tiba-tiba berubah, seorang pengurus lain mengusulkan ide lain yang dianggap akan lebih membuat Pak marbot lebih terhormat. “Apakah dengan memberinya bantuan begitu saja Pak marbot menjadi tidak terhormat?” tanya yang lain.

Tentu saja tidak, ia tetap terhormat dan tak berkurang kehormatannya. Hanya saja usul yang satu ini dirasa lebih pas, dan akan mendudukkan seseorang pada posisi yang sejajar, tak merasa ‘berhutang’ dan tak merasa ‘dibawah’. Yang dipinjamkan pun tak harus menunduk-nunduk setiap kali bertemu orang yang membantunya. Sementara yang memberi bantuan pun tak serta merta merasa diatas atau seolah lebih terhormat.

Ide cemerlang itu yakni dengan mempekerjakan Pak marbot sesuai keahliannya. Sangat kebetulan, ia memiliki beberapa keahlian seperti membuat taman, memasang rumput dan merapihkan tanaman, membetulkan genteng bocor, atau pekerjaan-pekerjaan berat lainnya yang ternyata sering dibutuhkan warga perumahan sekitar masjid. Ia akan mendapatkan upah dari hasil kerjanya itu, sehingga ia akan merasa puas dengan uang didapatkannya karena bukan hasil meminjam atau menerima bantuan tanpa berbuat apa-apa. Pak marbot pun tak harus pusing memikirkan pengembalian uang kas masjid jika ia benar-benar jadi meminjamnya.

Semua pengurus masjid menyetujui ide tersebut dan langsung memanggil Pak marbot untuk membicarakannya. Dan Alhamdulillah ia menyetujuinya dengan senang hati dan bersemangat. Pagi itu juga, beberapa pengurus masjid dan warga perumahan mulai mengorder pekerjaan, ada yang memasang rumput, membuat taman atau sebagai tenaga angkut puing.

***

Berat, mungkin memang lebih berat apa yang harus dikerjakan Pak marbot untuk mendapatkan sejumlah uang guna membiayai pernikahan keponakannya. Tetapi saya yakin itu lebih suka dilakukannya, ketimbang ia menadahkan tangannya dibawah tanpa berbuat apapun. Itu juga lebih baik daripada ia harus pusing memikirkan pengembalian pinjaman. Dan yang terpenting, hal itu membuat dirinya jauh lebih terhormat. Wallaahu ’a’lam (Gaw)

Tuesday, December 04, 2007

[Siaga Bencana] Indonesia, Belajarlah dari Kuba!

Badai topan Cyclone yang menerjang Bangladesh dan menewaskan lebih dari 4000 jiwa pada pertengahan November 2007 silam, seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Bukan soal minimnya bantuan kemanusiaan dari Indonesia layaknya yang dilakukan berbagai negara lain kepada negeri yang malang itu. Tetapi lebih tentang bagaimana tidak siapnya negeri itu menghadapi bencana yang bukan pertama kali itu sehingga mengakibatkan jumlah korban yang sangat banyak.

Pada tahun 1970, badai topan menewaskan lebih setengah juta warga Bangladesh. Salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang tercatat dalam sejarah. Masalahnya, sejarah pun mencatat bahwa negeri itu belum maksimal belajar dari bencana yang nyatanya secara rutin menyambangi salah satu Negara termiskin di dunia itu. Maka ketika badai topan yang sama kembali menerjang di tahun 2007, jumlah korban jiwa yang ditimbulkan masih relatif besar.

Tentu saja Indonesia tak harus belajar dari Bangladesh, karena nyata-nyata Bangladesh pun tidak belajar dari masa lalunya. Hal yang sama pun dilakukan Indonesia dalam bencana yang berbeda, yakni tsunami. Tsunami meluluhlantakkan sebagian besar Nangroe Aceh Darussalam dan Nias di akhir tahun 2004. Tercatat lebih dari dua ratus ribu jiwa menjadi korban salah satu tsunami terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia itu. Namun ternyata pemerintah dan masyarakat negeri ini pun tak cepat belajar dari bencana itu. Terbukti, tidak kurang dari 700 jiwa meninggal dunia akibat tsunami yang menerjang Pangandaran, Jawa Barat di tahun 2006.

Penyadaran akan potensi dan bahaya bencana, sosialisasi dan kesiapsiagaan bencana belum maksimal dilakukan sampai ke lapisan masyarakat. Anak-anak sekolah lebih banyak yang tidak mengerti bagaimana berlindung ketika gempa dan tsunami terjadi. Para ibu di rumah tak pernah mengerti apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Yang mereka tahu hanya panik, menjerit dan ketakutan. Demikian juga para Ayah yang masih bingung dan tak banyak tahu. Latihan kesiaagaan bencana tidak pernah dilakukan, sosialiasi dan pemahaman terhadap bencana tidak diberikan. Bahkan simulasi bencana pun masih sangat minim. Masyarakat hanya tahu, jika bencana –gempa, banjir, tsunami atau lainnya- terjadi mereka harus minta bantuan. Yang menyedihkan, bahkan masyarakat tidak banyak tahu berapa nomor telepon yang harus dihubungi ketika terjadi bencana.

Sebagai negeri yang sering dilanda bencana, bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai negeri bencana lantaran nyaris semua bencana pernah dialami seperti gempa bumi, banjir, banjir bandang, tsunami, angin puting beliung, longsor, kekeringan, kebakaran, kelaparan, gunung meletus, sampai luapan Lumpur, Indonesia boleh belajar dari Kuba. Negara di Amerika Latin ini disebut sebagai Negara yang paling siap menghadapi bencana. Salah satu bencana besar yang menjadi langganan negeri itu adalah badai topan tahunan.

Kerjasama yang apik dan terencana antara pemerintah, media eletronik maupun cetak, lembaga swadaya masyarakat, akademisi dan institusi pendidikan serta segenap elemen masyarakat, menjadikan Kuba sangat siap menghadapi bencana. Setiap menjelang musim badai, pemerintah dari pusat hingga daerah melalui instansi terkait mengeluarkan peringatan potensi bencana, berbagai media mensosialiasikannya langsung ke masyarakat, institusi pendidikan mengeluarkan berbagai modul penanganan bencana, sedangkan berbagai lembaga kemanusiaan dan LSM aktif melakukan simulasi dan latihan kesiapsiagaan bencana. Dan yang terpenting, tingginya kesadaran masyarakat akan bencana dan bagaimana mengantisipasinya. Kesadaran ini memunculkan keinginan yang kuat untuk lebih banyak tahu tentang bencana, hingga mengikuti berbagai simulasi dan pelatihan kebencanaan.

Masyarakat pun tidak pasif hanya mengikuti berbagai simulasi dan pelatihan kebencanaan. Bahkan, mereka pun terpanggil untuk menjadi relawan kemanusiaan ketika bencana benar-benar terjadi. Jauh-jauh hari, masyarakat beramai-ramai menyatakan kesiapan mereka menjadi relawan kemanusiaan.


Isu Bencana Besar

Di beberapa wilayah Indonesia, masyarakat sering dibuat takut, cemas bahkan panik tidak bisa tidur lantaran beredarnya isu bakal terjadinya bencana besar yang konon diprediksi sebagai bencana terbesar yang belum pernah terbayangkan. Di Bengkulu misalnya, masyarakat masih khawatir dan cemas dengan beredarnya isu akan terjadi gempa yang disusul tsunami. Gempa yang disebut-sebut akan mencapai 9 skala richter dan menimbulkan tsunami itu membuat masyarakat Bengkulu tidak tenang dan terus bertanya, “benarkah ini akan terjadi?”

Masyarakat di Pulau Jawa pun tak ketinggalan diserang isu tersebut. Disebutkan akan terjadi patahan di Pulau Jawa yang menyebabkan sebagian Pulau Jawa akan tenggelam ke dasar laut. Bahkan, di Jakarta pun beredar isu akan terjadi serbuan badai besar, lebih besar dari yang pernah terjadi dan belum terbayangkan akibat yang ditimbulkannya.

Entah siapa yang memulai isu ini, namun setidaknya si penyebar isu ini telah berhasil membuat masyarakat resah dan panik. Ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, berbagai instansi terkait seperti BMG, akademisi maupun lembaga kemanusiaan untuk menangkal isu tersebut serta meyakinkan berbagai lapisan masyarakat agar tak mudah termakan isu yang belum bisa dipertanggungjawabkan itu.

Masyarakat memang semestinya tidak perlu panik, tetapi juga jangan tenang-tenang saja. Bencana mungkin akan terjadi, ada yang bisa diprediksi namun ada yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sepatutnya menjadi sikap paling tepat bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana pun, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, kebakaran, gunung meletus dan lain sebagainya itu tetap mengancam. Siap siaga terhadap bencana akan sangat menentukan jumlah korban yang ditimbulkan dari bencana itu.

Jadi, tidak perlu takut. Mari siaga bencana! (gaw)

Thursday, November 29, 2007

Semua Orang Ingin Berqurban

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang menelepon ke kantor ACT, “Pak, saya berapa harga seekor kambing qurban melalui ACT?”

Setelah mendapat jawaban dari seorang petugas ACT, bahwa harga seekor kambing qurban Rp. 775.000,- sedangkan sapi atau kerbau Rp. 5.750.000,-/ekor, perempuan yang menelepon itu bertanya kembali, “uang saya hanya Rp. 350.000,- apakah saya bisa ikut berqurban?”

Sejenak terdiam, petugas ACT itu langsung menjawab lugas, “Bisa bu, tidak perlu khawatir. Dengan uang sebesar itu ibu akan tetap bisa berqurban,” jelasnya dengan sopan dan meyakinkan.

Memang, jumlah uang yang disebutkan perempuan di seberang telepon itu tidak mencukupi untuk harga seekor kambing, bahkan separuhnya pun tidak. Menjadi tugas kami untuk menjaga semangat berqurban setiap orang, sebab teramat banyak orang yang berkeinginan bahkan menjadikan qurban sebagai salah satu cita-cita tertingginya. Namun karena alasan keterbatasan ekonomi dan kebutuhan lainnya yang dianggap lebih mendesak, maka kesempatan berqurban pun seringkali menguap begitu saja dengan satu harapan, “Insya Allah tahun depan bisa berqurban”.

Masalahnya kemudian, peristiwa setiap tahun menjelang hari raya qurban selalu berulang. Kejadiannya pun persis sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kesempatan berqurban terkalahkan oleh kebutuhan primer lainnya. Harapan “tahun depan insya Allah bisa berqurban” selalu menjadi harapan yang terus diperbaharui setiap usai hari raya Idul Qurban.

Berqurban adalah hak sekaligus keinginan, mimpi dan cita-cita setiap orang yang beriman. Meski pada akhirnya, berqurban bagi sebagian besar orang tetap sebatas keinginan, masih menjadi mimpi dan sekadar cita-cita yang entah kapan kan terwujud. Namun meski sekadar memiliki keinginan, punya mimpi dan cita-cita berqurban, itu sudah lebih baik daripada tidak ada niat sedikit pun untuk berqurban. Selama keinginan dan mimpi itu terus terpatri dalam jiwa dan tak pernah lekang digerogoti waktu, maka suatu waktu di tahun yang akan dating seseorang sangat mungkin melumuri tangannya dengan darah qurbannya sendiri.

Kewajiban kita bersama untuk sama-sama menjaga agar keinginan, mimpi dan cita-cita berqurban setiap orang tetap bersemayam, hingga akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan. Seperti yang kami lakukan kepada ibu yang bertanya, apakah ia bisa berqurban hanya dengan jumlah uang yang kurang dari separuh harga qurban. Sungguh, segenap keyakinan kami ingin mengatakan bahwa ibu yang memiliki niat dan tekad kuat berqurban dengan uang yang seadanya itu, sesungguhnya sudah mendapatkan nilai berqurban meski hari raya Idul Qurban masih jauh.

Allah dan para Malaikat-Nya senantiasa tersenyum menyaksikan setiap hamba yang secara ikhlas menanamkan sebiji zarah niat kebaikan, sekali lagi, sebiji zarah niat kebaikan. Meski baru sebatas niat dan keinginan kuat untuk melakukan sebuah kebaikan, tentu sangat bernilai di mata Allah.

Kita sadari, tak satu pun diantara kita yang bisa mengklaim bahwa ibadah siapa yang akan diterima Allah. Seperti halnya tak satu pun dari kita yang boleh menyebut diri paling bertaqwa di mata Allah. Belum tentu infak yang kita keluarkan setiap hari lebih bernilai dari infak seseorang yang hanya melakukannya sekali seumur hidupnya. Tidak ada jaminan jumlah sedekah yang banyak lebih membuat Allah tersenyum dibanding uang receh yang disedekahkah seorang kaum dhuafa. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti shalat, puasa, haji, juga qurban.

Hewan qurban siapa yang paling bernilai di mata Allah? Tentu semua kita berharap persembahan qurban kita lah yang lebih bernilai. Namun hak prerogatif penilaian tetap terletak di tangan Allah. Hanya Allah sahaja yang tahu, dan kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik, menjaga keikhlasan hati, serta meluruskan niat di setiap aktifitas ibadah kita.

Oya, boleh jadi, meski uangnya tak seharga seekor kambing. Justru ibu itulah yang detik ini sudah menggenggam pahala berqurban dari Allah SWT, meski pun hari raya Idul Adha masih beberapa hari lagi. Wallahu ‘a’lam (gaw)

***

Berqurban melalui program QURBANKU untuk korban bencana. Salurkan melalui rekening (atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap):

BCA 676 030 3133 (swift code: Cenaidja)
BSM 004 011 9999
Mandiri 128 000 4555 808
Muamalat 304 002 2915
BNI Syariah 009 611 0239

ACT – Aksi Cepat Tanggap
Perkantoran Ciputat Indah Permai Blok B-8
Jl. Ir. H. Juanda No. 50, Ciputat 15419

Informasi dan layanan jemput: Andhika
021-7414482 ext 108
021-7061 4482
email: qurban@aksicepattanggap.com
www.aksicepattanggap.com

Wednesday, November 28, 2007

Bosan Jadi Penerima Daging Qurban

Tahun lalu, seorang sahabat bertandang ke rumah dan mengungkapkan satu keinginan orang tuanya. “Ibu saya bilang sudah bosan menjadi penerima daging qurban. Ibu ingin sekali tahun depan keluarga kami bisa menyembelih seekor hewan qurban,” begitu lirih sahabat saya.

Saya menyentuh tangannya, memegangnya erat-erat sambil berkata, “kamu bisa mewujudkan keinginan ibumu. Tahun depan itu masih ratusan hari lagi, dan sangat mungkin itu bisa terealisasi,” saya menepuk semangatnya.

Apa yang terjadi setelah hampir satu tahun kemudian adalah sesuatu yang sudah bisa terduga. Belum lama ia menelepon dan bertanya tentang harga seekor kambing untuk qurban. “Saya punya tabungan delapan ratus ribu, apakah sudah cukup untuk membeli seekor kambing?” tanyanya bersemangat. Tentu saja uang sejumlah itu sudah lebih dari cukup untuk seekor kambing.

Ia pun membawa kabar gembira itu kepada ibunya di rumah dan mengatakan akan segera ada hewan qurban di rumah itu. Semua anggota melonjak kegirangan dan air mata bahagia tak tertahankan tumpah ruah bersamaan dengan datangnya kabar tersebut. Bahwa ia, sahabat saya itu, lelaki satu-satunya di keluarga itu semenjak sang Ayah berpulang sebelas tahun yang lalu, akhirnya bisa mewujudkan mimpi sang ibu untuk berqurban.

Menurutnya, lantaran keluarga mereka termasuk dalam kategori keluarga miskin, maka setiap tahun pula mereka selalu mendapatkan jatah zakat fitrah maupun daging qurban. Bahkan setiap kali ada perayaan hari besar Islam yang menyertakan acara santunan bagi anak-anak yatim piatu, ia beserta ketiga adiknya tak pernah terlewat dalam catatan panitia penyelenggara sebagai penerima santunan. Tidak hanya itu, bahkan sang ibu pun masuk dalam daftar penerima, dengan status janda miskin.

Tahun ini, merupakan tahun paling membahagiakan di keluarga itu. Bayangkan, bukan bermaksud menyombongkan diri jika di hari raya Idul Adha nanti keluarga ini akan menolak kiriman daging qurban dari panitia di masjid. Dengan sedikit bangga mereka akan berkata, “Terima kasih, kami keluarga pequrban. Silahkan berikan kepada yang lain yang lebih berhak”.

Kalimat bangga semacam ini pula yang belum lama ini mereka miliki menjelang hari raya Idul Fitri. Keluarga itu memohon kepada panitia zakat untuk tak memasukkan namanya dalam daftar mustahik tahun ini. Dan luar biasa, hal itu memang mereka lakukan karena keinginan kuat mereka untuk memerbaiki kualitas dan taraf hidup mereka. “Siapa yang mau seumur hidup menyandang status fakir miskin? Kami harus berubah”.

Sepakat dengan semangat keluarga ini. Bagaimana pun hidup dibayangi belas kasihan orang lain tetaplah tidak nyaman. Senikmat-nikmatnya makanan adalah yang dihasilkan dari jerih payah dan hasil memeras keringat sendiri, bukan dari pemberian orang lain, bukan dari usaha tangan di bawah alias meminta-minta.

Si Sulung, sahabat saya ini pun membawa keluarganya pada posisi yang lebih terhormat. Mereka bukan lagi golongan mustahik, melainkan muzakki. Ia senantiasa bersedekah dan berinfak, tak lagi berharap sedekah orang untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Dan di hari raya Idul Qurban tahun ini, keluarga ini benar-benar akan mengatakan, “kami bosan menjadi penerima daging qurban”.

Sungguh, berinfak, sedekah, membayar zakat, juga berqurban, tak semata menjalankan perintah Allah. Secara langsung semua aktifitas ‘tangan diatas’ ini serta merta meningkatkan derajat seseorang. Baik derajat ketaqwaan di mata Allah, maupun derajat sosial di mata masyarakat sekitarnya. Wallaahu ‘a’lam (gaw)

***

Berqurban melalui program QURBANKU untuk korban bencana, hubungi ACT 021-7414482

Tuesday, November 27, 2007

Subuh Terindah

Sholat subuh berjamaah pagi ini terasa sangat indah. Bukan karena rembulan bulat penuh yang mengiringi langkah-langkah saya menuju masjid, bukan karena semilir angina fajar yang merasuk menjalari celah-celah pakaian, serta bukan karena panggilan adzan nan merdu yang senantiasa terdengar dari corong masjid di lingkungan tempat tinggal saya itu.

Rembulan fajar berwarna kuning kemerah-merahan sudah hampir setiap hari menemani langkah para jamaah. Ia kadang hadir sebulat penuh, meski kadang malu mengintip dengan sepertiga tubuhnya saja. Namun bulat penuh maupun separuhnya, tetaplah indah. Demikian pula dengan angin yang menembus tipis jaket atau gamis yang dipakai para jamaah, udara pagi itu juga membawa serta aroma fajar yang menyejukkan. Siapa pun yang mengayunkan langkah di waktu itu, akan memanfaatkannya dengan menghirup panjang udara bersih anugerah Allah. Bagus untuk kesehatan, terlebih buat seorang pengidap asma seperti saya.

Tetapi subuh pagi ini terasa lebih indah bukan karena semua keindahan fajar yang biasa dinikmati setiap hari itu. Subuh ini, begitu melangkahkan kaki menaiki anak tangga, belum sempat melakukan shalat sunnah, sesuatu terasa aneh di perut saya yang memaksa tubuh ini berlari ke area tempat wudhu dan segera mencari toilet. Entah apa yang saya makan semalam sehingga perut terasa mulas dan harus menyelesaikannya di toilet masjid.

Ternyata butuh waktu agak lama untuk menghilangkan rasa mulas itu, saya pun berpikir akan tertinggal jamaah. Segera setelah selesai dan mengambil wudhu, tubuh ini pun saya paksa untuk berlari – lebih cepat dari saat tadi menuju toilet- agar tidak tertinggal jamaah. Sedetik kemudian, saya merasa terharu dengan apa yang saya lihat dalam hitungan detik itu. Sejak saya keluar dari toilet, kemudian saya berwudhu hingga terus berlari ke dalam masjid, posisi barisan jamaah dalam keadaan ruku’. Sehingga ketika saya merapatkan barisan dalam jamaah, saya masih mendapatkan nilai jamaah dalam sholat saya.

Sungguh, saya berterima kasih dengan Pak Wahid, salah seorang warga baru yang menjadi imam subuh pagi ini. Saya memang tidak bertanya langsung apakah beliau sengaja memperlama ruku’ untuk menunggu saya atau karena hal lain. Yang pasti sampai usai sholat subuh bibir ini masih tertutup rapat tak melayangkan pertanyaan itu, bahkan ketika kami semua satu persatu beranjak dari masjid, pertanyaan itu menyelinap dalam-dalam di sisi tercuram hati ini.

Biarlah saya yang terus mengagumi keindahan subuh dan menuangkannya dalam tulisan ini. Berharap ragam keindahan subuh, juga di waktu-waktu shalat berjamaah lainnya terus bertumbuh layaknya bunga-bunga yang merekah di musim semi, seolah musim gugur takkan pernah terjadi. (gaw)

Sunday, November 11, 2007

Cantik Itu Wanita

Sabtu lalu, kami sekeluarga berencana pergi ke Tangerang. “Kangen sama nenek,” kata si kecil Iqna. Maka lima menit sebelum pukul 06.00 pun semua sudah mandi dan berpakaian rapih, kecuali Iqna yang masih sibuk memilih pakaian mana yang akan dikenakannya. Sepuluh menit kemudian, pakaian pilihannya sudah dikenakan, tetapi, “Kok dede nggak pakai kaos dalam?” tanya Umminya.

“Nggak mau” jawabnya singkat.

“Nanti masuk angin kalau nggak pakai kaos dalam”, “Ummi marah deh kalau dede nggak pakai kaos dalam”, “Teteh aja pakai kaos dalam”, “Jelek dede…”, Itu beberapa kalimat yang digunakan isteri saya untuk merajuk Iqna agar mau pakai kaos dalam. Semua rajukan itu hanya mendapat jawaban singkat penuh keteguhan, “nggak mau”.

Bahkan, satu ancaman pun terpaksa terlontarkan, “Kalau dede nggak mau juga, mending nggak usah ikut. Dede dengar ummi ya…”. Sementara yang diancam tetap tidak bergeming dengan pendiriannya. Mungkin ia tahu persis bahwa tidaklah mungkin ditinggalkan. Mungkin juga isteri saya lupa –karena kesalnya- bahwa ancaman tidak akan pernah efektif dipakai dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Orang tua mana yang tega sengaja meninggalkan anaknya yang masih balita sendirian di rumah?

Akhirnya, isteri saya pun menyerahkan ‘urusan’ kaos dalam itu kepada saya yang sejak tadi tersenyum memerhatikan celoteh pagi ibu dan anak itu. Kemudian, saya menghampiri Iqna, menggendongnya dan membisikkan sesuatu. Hanya dalam hitungan detik, si dede pun berlari ke kamarnya serta mengambil kaos dalam dan mengenakannya.

Saya berikan senyum ‘kemenangan’ ke arah isteri. Namun ditanggapi ledekan, “Ah, paling-paling dijanjikan beli es krim sama Abi…” jelas ia tak mau kalah begitu saja. “Siapa yang nggak nurut kalau setiap kali harus diiming-imingi jajanan,” tambah si manis.

Sebenarnya, prasangka isteri saya itu tidak benar. Saya tak mengimingi Iqna dengan es krim atau makanan kesukaannya yang lain. Pun tak menjanjikan sejumlah uang hanya untuk meluluhkan hatinya agar mau mengenakan kaos dalam. Sungguh, ini hanya soal komunikasi yang sering dianggap remeh. Kepada siapa berkomunikasi, apa konten komunikasinya dan bagaimana situasi serta waktu saat berkomunikasi.

Faktanya, pagi itu Iqna memang tetap pada pendiriannya tidak mau mengenakan kaos dalam. Saya berbagai rahasia kepada isteri, apa yang saya bisikkan kepada Iqna sehingga ia mau mengenakan kaos dalam. “Abi cuma bilang, Iqna pasti lebih cantik kalau pakai kaos dalam. Coba deh…”.

Muncul rasa penarannya untuk membuktikan, benarkah pernyataan saya bahwa ia akan lebih cantik kalau pakai kaos dalam. Setelah ia kenakan, saya langsung serang ia dengan pujian, “Wah, dede cantik sekali. Tuh benarkan Abi bilang, dede jauh lebih cantik,” ia pun tersipu malu.

Belum sempat ia berkomentar, saya minta dukungan isteri, “Ummi lihat deh, dede lebih cantik kan?” Isteri pun berujar, “Ya jelas donk, itu baru anak Ummi”.

Matanya terus berbinar mendapatkan pujian, senyumnya tak tertahankan. Ya, Iqna akhirnya mau mengenakan kaos dalam hanya karena kami tahu bagaimana berkomunikasi dengannya. Iqna itu wanita, dan wanita itu identik dengan kecantikan. Sentuhlah ia pada hal-hal yang dekat dengan identitasnya. Coba deh … (gaw)

Tuesday, October 30, 2007

Spirit Indonesia di ACT

Spirit Indonesia di ACT

Saat berlangsungnya 2nd Indonesia Sharia Expo, 24-28 Oktober 2007 yang berlangsung di Jakarta Convention Center lalu, seorang pengunjung stand ACT bertanya, “ACT ini lembaga asing? Dari negara mana?”

Bisa dimaklumi jika pertanyaan itu terlontar, sebab jika hanya melihat nama dan tulisan ACT, orang lebih sering membacanya “Act” yang maksudnya action. Tetapi lebih bisa dimaklumi karena ternyata orang yang bertanya itu belum lama tinggal di Indonesia setelah sekian tahun belajar di luar negeri. Sebelumnya kami sempat merasa sedikit harus berintrospeksi, bahwa selama ini sosialisasi dan kampanye lembaga ini masih sangat minim.

Terlepas bahwa ACT memang harus terus berupaya lebih baik lagi dalam mensosialisasika programnya, dan berhubung ada pertanyaan tentang asal muasal ACT, perlu diketahui bahwa ACT asli made in Indonesia. Lahir dan didirikan di Indonesia, semua pengurus dan relawannya pun asli orang Indonesia. Meski lingkup program ACT tidak hanya untuk negeri ini saja, melainkan jauh melewati batas wilayah Indonesia.

Belum cukup? Jika demikian perlu dijabarkan beberapa program dan lembaga inisiasi ACT yang bernuansa Indonesia. Ini sekaligus menjadi pelengkap bahwa nasionalisme begitu kuat mewarnai langkah dan gerak lembaga kemanusiaan ini.

Pertama, MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), sebuah lembaga yang digagas ACT agar menjadi wadah yang menampung para relawan seluruh Indonesia. Semangat kepedulian yang dimiliki para relawan sangat luar biasa, itu terbukti ketika tsunami meluluhlantakkan Nangroe Aceh Darussalam. Semangat yang sama pun terlihat di berbagai bencana lainnya, di Jogjakarta, Pangandaran dan di hampir seluruh wilayah bencana negeri ini. Sudah semestinya semangat itu terbingkai dalam satu wadah agar tak kan luntur meski tak sedang ada bencana.

Kedua, DMII (Disaster Management Institute of Indonesia). Kami menyebutnya ‘di em wan wan” hanya agar terdengar lebih ‘emergency’ karena lebih dekat dengan 911 (nain wan wan). Semua tahu, bahwa angka 911 adalah angka emergency, dan DMII pun diharapkan sangat identik dengan semua persoalan kebencanaan. Program DMII meliputi training, consulting dan research. Salah satu program besar yang digarap DMII bersama ACT adalah pelatihan kesiapsiagaan gempa di Senayan beberapa waktu lalu.

Ketiga, Indonesia Sekolah (IS), sebuah program reguler dan kontinyu dengan satu tujuan, “tidak ada anak Indonesia yang tidak sekolah”. Itu artinya, sepanjang masih ada anak di negeri ini yang tidak sekolah, maka program ini akan terus berlangsung dan tidak boleh berhenti. Tiga program utama dari Indonesia Sekolah adalah, (1) Relawan Pendidikan, salah satunya menyediakan tenaga relawan sebagai guru di daerah-daerah minim tenaga pendidik. (11) Sister School, sinergi antara anak-anak sekolah yang berkemampuan lebih agar tumbuh jiwa kepeduliannya dengan membantu saudara-saudara mereka dari sekolah minim. (111) Korporat Asuh, semacam gerakan orang tua asuh, hanya saja bedanya program ini langsung dilakukan oleh sebuah perusahaan. Misalnya, perusahaan X membiayai 300 anak kurang mampu di lokasi bencana Jogjakarta.

Yang keempat, Sehatindonesia (SI). Ini bagian dari kepedulian ACT untuk masalah kesehatan negeri ini. Seperti halnya pendidikan, kesehatan adalah masalah utama negeri ini. Dua masalah tersebut (pendidikan dan kesehatan) bukan hanya pekerjaan yang mesti diselesaikan oleh pemerintah saja. Ini PR bersama yang menjadi kepentingan bersama pula untuk menyelesaikannya.

Dari empat program di atas saja, sangat terasa nuansa nasionalisme ACT. Semoga cukup untuk menggambarkan betapa warna program ACT sangat Indonesia. Bravo Indonesiana! (gaw).

Tuesday, October 23, 2007

Catatan Lebaran 7: Magnet Silaturahim

Saya pernah mendapatkan penjelasan tentang asal muasal kata "lebaran". Meski belum bisa menjamin ketepatan asal kata itu, tetapi boleh juga disimak. "Lebaran" menurut asal katanya adalah 'lebar' yang artinya luas, sehingga lebaran bisa diartikan 'melebarkan' atau 'meluaskan'. Makna kata 'melebarkan' adalah memperlebar persaudaraan dengan menyambung dan menjaga silaturahim. Entah sudah berapa ratus tahun kata 'lebaran' ini digunakan masyarakat Indonesia untuk menyebut hari raya Idul Fitri, dan nyatanya seringkali lebaran dijadikan moment terbaik untuk menyambung dan menjaga silaturahim.

Silaturahim pun diwujudkan dalam beragam cara dan bentuk. Mulai dari saling berkirim SMS (pesan singkat) berisi ucapan selamat hari raya dan mohon maaf lahir batin, hingga perjuangan tanpa kenal lelah menuju kampung halaman atau yang biasa disebut mudik.

Sepuluh tahun silam, saat telepon seluler masih menjadi barang lux dan langka. Kartu lebaran begitu booming dan menjadi penyambung silaturahim antar saudara, sahabat, kerabat bahkan sesama relabis bisnis serta mitra kerja. Memang tradisi kartu lebaran belum hilang sampai tahun ini, namun tidak seramai tahun-tahun sebelumnya karena telah tergantikan oleh pesan singkat melalui telepon seluler.

Penggunaan pesan singkat pun mengalami beberapa perubahan. Mulai dari hanya rangkaian kata, di tahun berikutnya sudah bisa ditambahi animasi. Tahun berganti foto dan gambar yang lebih hidup pun bisa terkirim dengan mudah melalui fasilitas MMS. Bahkan sekarang, jarak terasa semakin dekat dengan fasilitas 3G.

Sebagai pelengkap dari silaturahim, parsel pun menjadi pilihan utama. Jika dulu buah tangan masih berbentuk rantang berisi ketupat beserta sayurnya plus rendang atau opor ayam. Kali ini bingkisan parsel kerap menghiasi ruang tamu sebagian orang. Ini salah satu bentuk kebaikan yang tidak boleh hilang, yakni saling memberi hadiah sebagai salah satu cara pencair kebekuan dan peluntur kekakuan sikap.

Yang menarik, coba perhatikan cara berbagai orang bersilaturahim mengunjungi sanak famili, kerabat, saudara atau sahabat. Satu hari menjelang lebaran, bengkel-bengkel motor dan mobil penuh antrian. Tentu saja ini bagian dari persiapan bersilaturahim, agar perjalanan tidak terganggu oleh ulah kendaraan yang tidak diinginkan. Coba lihat sepanjang jalan selama lebaran, mulai dari hari pertama hingga hari ke enam. Mobil bak terbuka (pick up) disulap menjadi mobil angkutan, dipasangi terpal. Mobil box yang biasa untuk mengangkut barang pun dipakai untuk mengangkut anggota keluarga, tinggal pintu box-nya dibuka agar tidak pengap. Begitu juga dengan truk ukuran kecil yang mengangkut lebih banyak orang untuk beranjangsana ke sanak famili yang jauh.

Tidak peduli bedak harus luntur oleh keringat yang mengucur lantara terjemur terik matahari atau oleh pengapnya udara dalam mobil box. Tidak peduli aroma harum parfum pilihan berganti aroma tak sedap setelah berjam-jam di dalam truk yang belum sepenuhnya bersih. Bahkan mereka pun tidak menghiraukan baju lebarannya kotor dan lusuh berhimpitan serta turun naik dari pick up dan truk. Terpenting dari itu semua adalah, silaturahim tetap terjaga. Dalam hal ini, saya tidak sedang berbicara tentang orang-orang yang punya kendaraan bagus, baik roda dua maupun empat. Buat kelompok yang satu ini, mungkin silaturahim hanya mengalami sedikit perjuangan.

Nah, satu hal yang takkan tergantikan hingga kapanpun yakni tradisi mudik. Belasan jam berdiri di kereta, belasan jam berpeluh di dalam bis, belasan jam menahan kantuk, lelah, kesal dalam kemacetan di sepanjang perjalanan. Belum lagi kemungkinan mendapat perlakuan kasar, tidak senonoh, kecopetan, penipuan rela dijalani demi sebuah semangat silaturahim.

Kendaraan yang sebelumnya tidak layak jalan pun dipaksakan jalan, kendaraan roda dua ditumpangi empat orang, ditambah segunung tas dan oleh-oleh dari kota. Bajaj, becak, sepeda, truk pun jadi, tidak peduli seberapa besar lelah yang akan ditanggung. Namun semuanya akan sirna begitu tiba di kampung bertemu dengan orangtua, keluarga, saudara dan sahabat di kampung.

Luar biasa, silaturahim seperti sebuah magnet besar yang mampu membuat setiap orang mau melakukan apapun untuk menjalaninya. Coba hitung, berapa banyak jumlah pemudik yang meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan raya? Insya Allah mereka sudah mendapatkan pahala bersilaturahim, meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang dituju. Subhanallah (gaw)

Thursday, October 18, 2007

Catatan Lebaran 6: Air Mata di Malam Takbiran

Selepas maghrib, bersama beberapa jamaah masjid Perumahan Taman Melati, bersiap untuk mendistribusikan zakat kepada para mustahik di sekitar komplek. Cukup banyak zakat yang terkumpul dari para penghuni komplek, selain zakat fitrah juga terdapat zakat maal, infak dan sedekah. Sesuai keputusan panitia, semua yang terkumpul akan didistribusikan tidak terkecuali.

Beberapa petugas pendistribusi sudah ditentukan, saya pun kebagian tugas menyampaikan ke beberapa rumah para calon penerima zakat.

Rumah satu:

Hanya sekitar lima belas menit dari komplek, menyusuri jalan yang gelap serta melewati beberapa petak kebun, sebuah rumah pun diketuk. Beberapa kali ucapan salam belum mendapat jawaban. Sampai kali keempat, barulah si empunya rumah menjawabnya, “wa’alaikum salam…” suaranya parau terdengar.

Tidak ada rumah lain di samping rumah tersebut. Ia seperti tinggal tak bertetangga, di sekelilingnya hanya kebun. Suasana rumah dan sekitarnya cukup gelap, sehingga saya pun tak bisa melihat secara jelas wajah penghuni rumah itu. Yang pasti, ia seorang lelaki tua berkisar 55 tahun. Tidak jelas apakah ia sendiri atau bersama keluarganya di rumah itu, yang pasti ia keluar sendirian dengan langkah tertatih. “terima kasih, sampaikan salam untuk para dermawan ya,” ujarnya pelan.

Tidak ada suasana jelang hari raya di rumah berdinding triplek itu. Tidak ada hiruk pikuk persiapan menyambut lebaran seperti kebanyakan rumah lainnya. Beberapa saat kemudian saya pun meninggalkan lelaki itu, yang nampaknya tetap sendirian. Sedetik sebelum kaki melangkah, setitik airmata mengambang di pelupuk mata dan tak sanggup tertahankan.

Rumah dua:

Hanya lampu sentir –lampu terbuat dari kaleng yang diisi minyak tanah dengan satu sumbu kecil diatasnya- yang menerangi seisi rumah itu. Penghuni rumahnya, kakek nenek berusia diatas tujuh puluh tahun. “anak-anak dan cucu sudah tidak disini, mereka tinggal jauh. Mungkin besok pas lebaran baru kesini,” ujar sang nenek, si kakek tersenyum mengiyakan.

Rumahnya terbuat dari bilik bambu, beberapa pondasi yang terbuat dari kayu sudah terlihat keropos. Bahkan bagian belakang rumahnya sudah sedikit miring, padahal di belakang rumah itu terdapat sungai kecil tempat aktifitas MCK (mandi cuci kakus) beberapa warga di kampung tersebut.

Dua sejoli tua itu, menjalani malam takbiran bersama sepi. Tanpa hiburan, hanya suara gemericik sungai kecil di belakang rumahnya yang terdengar. Setitik lagi air mata ini menyembul.

Rumah tiga:

Kondisi rumahnya agak lebih baik, cukup permanen namun terlihat sangat tidak terawat. Di beberapa bagian dindingnya terlihat pecah, bahkan bagian luar rumah itu belum diplester entah sudah berapa tahun lamanya. “yang penting bisa berteduh pak, mlester dan ngecat mah nanti saja kalau sudah ada uangnya,” terang kepala rumah tangga itu.

Saya ingin bercerita satu hal saja yang membuat saya benar-benar tak sanggup menahan air mata. Ketika saya menyerahkan sebuah amplop –berisi uang seratus ribu rupiah- dan sekantong beras, ucapan syukurnya seperti menggelegar, “Ya Allah, terima kasih, alhamdulillah…”

Di depan saya, amplop itu dibukanya dan, “Anak-anak ayo kita berangkat,” rupanya tempat yang dimaksud adalah toko baju. Hingga malam itu, tidak satu pun dari tiga anaknya yang sanggup dibelikan baju untuk berlebaran.

Bagaimana dengan sekantong beras itu? Keluarga itu sudah membeli sepuluh daun ketupat yang sudah jadi, namun belum tahu apakah mereka akan mengisinya atau tidak karena sampai malam itu mereka tidak punya beras sedikit pun.

Cukup… cukup sudah air mata saya. Maaf, saya tidak bisa melanjutkan cerita ini untuk rumah-rumah berikutnya. Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.

***

Jika saya kembali mengingat tayangan di televisi tentang kecenderungan orang yang menciptakan antrian kaum fakir miskin untuk mendapatkan uang zakat dari seorang pejabat. Atau ketika saya melihat tayangan ribuan orang di sebuah daerah untuk berebut sedekah yang hanya sepuluh ribu rupiah saja, dan untuk senilai itu mereka rela berpanas-panasan, saling sikut, saling injak dan akhirnya jatuh pingsan. Semua tayangan itu hanya menggambarkan parade kemiskinan negeri ini yang takkan pernah selesai dituntaskan hanya dengan sepuluh atau lima puluh ribu rupiah saja.

Sungguh, mendatangi langsung para fakir miskin dan menyentuh tangan para penerima itu di rumahnya jauh lebih nikmat. Dan semestinya, memang kita yang mendatangi rumah-rumah fakir miskin, bukan sebaliknya. Semoga di masa yang akan datang tidak terulang lagi. (gaw)

Wednesday, October 17, 2007

Seorang Pengungsi Melahirkan di Tenda Kebakaran Cilincing


Rabu, 17 Oktober 2007, Posko ACT Medis sudah bersiap untuk ditutup sementara, karena pasien terakhir sudah selesai diperiksa dan tengah menunggu obat. Tiba-tiba sekitar pukul 15.33 WIB, seorang lelaki mendatangi posko medis dengan wajah panik, “Dokter, tolong segera ke tenda kami. Ada pengungsi yang mau melahirkan,” ujar lelaki itu tergopoh-gopoh.

Dr. Eddy Tarigan, ketua tim ACT Medis mengaku sudah biasa menangani pasien melahirkan. Dokter ahli penyakit dalam itu pun menyanggupi untuk segera ke tenda pasien, “Kalau ada bidan, sebaiknya ditangani bidan. Tapi kalau tidak ada, Insya Allah saya siap. Ayo kita berangkat,” serunya sambil membenahi peralatan medisnya.

Sesaat menunggu kabar tentang bidan setempat, namun dr. Eddy tidak mau menunggu lama dan langsung berlari menuju tenda pengungsi di seberang lokasi kebakaran Jl. Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Tidak lebih dari lima menit, tim sudah tiba di pengungsian. Jalan sempat terganggu oleh kerumunan pengungsi yang memadati masjid di sebelah tenda pengungsian. Di masjid tersebut, bantuan presiden baru saja tiba dan tengah dilakukan seremoni penyerahan bantuan untuk para pengungsi.

Sesampainya di tenda, ramai orang sudah memenuhi tenda tersebut. Dan ternyata, si bayi sudah keluar tanpa bantuan bidan maupun dokter. Suami korban sangat panik, sementara seorang ibu berteriak, “cepat panggil bidan, bayinya sudah keluar”.

“Permisi, kami tim dokter,” kami meminta jalan. Dr. Eddy langsung menangani bayi yang masih merah itu untuk memutus tali pusar. Alhamdulillah, dalam waktu beberapa menit, baik ibu maupun bayinya dapat diselamatkan. Sebuah mobil ambulance pun datang untuk membawa ibu dan bayi itu ke rumah sakit.

Seorang relawan ACT yang ikut menyaksikan proses persalinan itu, sempat berujar, “bayinya dikasih nama Abu Bakar saja. Karena lahir di lokasi kebakaran dan banyak abu di sekitarnya,” pengungsi yang lain pun tertawa. Suasana haru menyelimuti sekitar tenda pengungsian di Rabu sore itu. Subhanallah (gaw)

Catatan Lebaran 5: Tentang Peran Lembaga Zakat


Sehari sebelum hari raya Idul Fitri 1428 H, sebuah stasiun televisi swasta nasional menayangkan sebuah berita yang boleh diyakini membuat miris hati siapapun yang melihatnya. Digambarkan di sebuah wilayah di Riau, ribuan kaum fakir miskin berdesakan, saling sikut, saling tarik untuk berebut zakat dan sembako yang dibagikan oleh salah seorang dermawan di propinsi tersebut.

Tidak disebutkan secara persis jumlah fakir miskin yang melakukan aksi saling berdesakan itu, namun sangat jelas disebutkan –bahkan berulang-ulang- nilai uang yang membuat mereka memaksakan diri sikut kanan kiri bahkan rela terinjak-injak orang lain; yakni uang lima ribu rupiah dan paket sembako –tidak disebutkan jenis barangnya- senilai sepuluh ribu rupiah. Untuk seharga itu, tercatat ratusan orang, utamanya para lansia jatuh pingsan kehabisan nafas dan terinjak-injak.

Adegan kedua, masih ditayangkan di televisi swasta lainnya, Gubernur DKI Jakarta yang baru, Fauzi Bowo, membagi-bagikan ‘angpaw’ kepada sekitar 1500 warga Jakarta pada hari raya Idul Fitri. Warga berduyun-duyun mendatangi kediaman Bang Foke –panggilan akrab orang nomor satu di Jakarta itu untuk menerima amplop berisi selembar uang limapuluh ribu rupiah.

Yang menarik, belum selesai uang itu dibagi-bagikan kepada para warga yang sudah membentuk antrian panjang, tiba-tiba dihentikan dan antrian dibubarkan lantaran Wapres Jusuf Kalla datang bersilaturahim ke kediaman Foke. Alhasil, ribuan warga menggerutu, memaki-maki dan menyobek-nyobek kupon yang sudah dibagikan sebelumnya. Dalam berita itu, tidak dijelaskan apakah Foke melanjutkan pembagian amplop kepada warga Jakarta setelah Wapres pulang atau memang benar-benar tidak diteruskan.

Dari dua adegan tersebut, menarik untuk ditilik kembali peran berbagai lembaga zakat yang ada di Indonesia. Ini tidak bermaksud mengukur kinerja lembaga zakat, namun jika melihat apa yang terjadi dari dua tayangan di televisi tersebut bolehlah melayangkan satu pertanyaan; kenapa si dermawan tidak mempercayakan saja dana zakatnya kepada beberapa lembaga zakat, agar tidak perlu repot-repot membagi-bagikannya sendiri. Atau kenapa Bang Foke tidak menyerahkan dana ‘zakat maal’nya yang sekitar tujuh puluh lima juta rupiah itu untuk dikelola sebuah lembaga zakat, dan biarkan lembaga zakat itu yang bekerja.

Beragam alasan tentu saja melatarbelakangi dua kejadian itu. Mungkin saja ini bukan lantaran ketidakpercayaan si dermawan atau Bang Foke terhadap berbagai lembaga zakat. Boleh jadi ada faktor lain yang mendominasi aksi bagi-bagi zakat dan ‘angpaw’ itu. Bisa karena alasan politik atau alasan yang lebih bagus, ingin merasakan bersentuhan langsung dengan kaum dhuafa.

Lebih-lebih, di hari-hari akhir ramadhan dan di hari raya Idul Fitri, yang merupakan saat-saat setiap orang memiliki jiwa berbagi yang tinggi selain faktor kewajiban mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya melalui mekanisme zakat maupun infak, teramat banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi dhuafa, sekonyong-konyong terlihat layaknya kaum fakir yang memanfaatkan moment meningginya semangat berbagi itu.

Berkenaan dengan peran lembaga zakat, jelas tugas yang diemban sudah sedemikian berat –bukan saja mulia. Jadi tak perlu merasa direpotkan dengan sikap beberapa pihak yang lebih senang membagi-bagikan sendiri zakat dan kepeduliannya. Toh, masih jauh lebih banyak para muzakki yang menitipkan zakatnya kepada para lembaga zakat ini. Bagaimana pun, dua adegan diatas hanyalah bagian dari dinamika menuju pengelolaan dan pemanfaatan zakat agar lebih baik lagi di masa yang akan datang. Insya Allah (gaw)

Kembali dari Kampung, Rumah Ludes Terbakar

Kebakaran yang melanda kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (15/10) lalu, menyisakan lautan kesedihan bagi para korban. Terutama mereka yang saat kejadian tengah berada di kampung halamannya untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Kesedihan sangat nampak di wajah mereka yang hanya bisa menatap nanar rumah dan harta benda yang tak lagi tersisa.

Sriatun misalnya, ia dan keluarganya tengah berada di Indramayu untuk berlebaran ketika api melalap tidak kurang dari 500 rumah di Cilincing, termasuk rumahnya. Sri dan keluarganya mendapat kabar dari para tetangganya melalui telepon, "waktu ditelepon, katanya rumah kebakaran, saya langsung lemas dan tidak bisa berkata apa-apa," ujar Sri yang langsung mengajak suami dan anak-anaknya ke Jakarta untuk melihat rumahnya.

Selasa pagi (16/10), ia tiba di Cilincing dan mendapati rumahnya sudah hangus terbakar, bahkan rata dengan tanah. "Tidak satupun yang tersisa mas, ludes semua apa yang kami miliki," lirihnya sambil mengumpulkan beberapa mangkuk dan piring yang meski masih utuh namun sudah hangus terbakar.

Lain halnya dengan Karnadi (51), pedagang ayam potong ini ketika kebakaran terjadi tidak pulang kampung. Hanya saja ia dan isterinya ditinggal pulang kampung oleh kelima anaknya ke Tegal. Sehingga hanya ia dan isterinya saja yang berjuang menyelamatkan barang-barang dan hartanya. "harta saya yang paling berharga cuma freezer untuk menyimpan ayam potong ikut terbakar, tidak sempat kami selamatkan," kata Karnadi sambil terduduk lemah.

Teramat banyak kisah memilukan di antara puing-puing dan aroma hangus serta beberapa titik asap yang menyeruak. Kisah pilu yang takkan pernah selesai jika hanya disikapi dengan air mata dan empati. Mari, bantu mereka... (gaw)

Wednesday, September 26, 2007

Carikan Hufha Suami yang Baik ya...

Semalam, saat mengantar putri pertama saya, Hufha ke kamarnya untuk tidur, tercetus satu pertanyaan, "Bi, memangnya Ummi benar-benar hamil?"

Saya menjawabnya singkat, "Insya Allah"

Kemudian Hufha bertanya lagi, "Kok Ummi bisa hamil sih, gimana caranya?" untuk pertanyaan yang satu ini, saya sedikit berseringai menahan tawa, sekaligus butuh sedikit waktu untuk berpikir agar bisa memberikan jawaban yang tepat dan memuaskan.

Jawaban yang dicari ternyata susah sekali untuk diungkapkan, akhirnya saya hanya menjawabnya dengan penjelasan yang umum, "Ya, kalau orang sudah menikah memang akan hamil," jawab saya.

Jujur, saya sempat tercengang dengan pertanyaan putri saya itu. Namun lebih kaget lagi dengan pertanyaan -lebih tepatnya permintaan- berikutnya. "Nanti kalau Hufha sudah besar, Abi carikan suami yang baik ya buat Hufha..."

Senyum lebar pun terbentuk di wajah saya, hampir tak percaya, gadis kecil saya yang masih berusia 6 tahun berkata seperti itu. "Yang baik, nggak galak, nggak pernah marah, rajin sholat dan sayang sama Hufha," ia menambahkan.

Duh duh duh, gadis kecil saya sudah berpikir tentang kriteria calon suami. Di satu sisi saya terharu, di sisi lain cukup menimbulkan pertanyaan, bagaimana anak seusianya sudah mulai berpikir tentang suami dan kriteria yang diinginkannya.

Saya pun memancingnya dengan pertanyaan singkat nan menggelitik, sekadar ingin mengorek gerangan siapakah anak lelaki di komplek yang ada di benaknya, "Yang baik, nggak galak, rajin sholat dan sayang itu seperti siapa sih?"

Mulut kecilnya tertutup rapat, dan "hmmm..." agak lama ia berpikir. Kemudian, "Seperti Abi donk..."

Aha, lega rasanya. Saya hanya khawatir pikirannya mulai terpengaruh gaya anak-anak sekarang yang kecil-kecil sudah paham soal pacaran. Ketika ia menyebut, "seperti Abi" saya pun berkata dalam hati, "Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih positif dan bisa menjadi teladan di mata anak-anak, insya Allah akan selalu seperti itu".

Saya pun mengecup keningnya, ketika ia mulai melafalkan doa sebelum tidur. (gaw)

Tuesday, September 25, 2007

Berkah Ramadhan, dapat 2 amanah, seneng tapi deg-degan

Ramadhan memang bulan berkah, alhamdulillah saya mendapatkan keberkahan di bulan mulia ini sekaligus dua;

pertama (disebut pertama saking girangnya sekaligus memang ini yang selalu ditunggu), isteri saya hamil! Senin pagi ini isteri ke bidan untuk periksa, dan ketika saya sedang rapat di kantor dapat sms dari isteri yang isinya, "Alhamdulillah positif, sudah 7 minggu..."

Subhanallah, inginnya sih langsung sujud sukur, tapi berhubung meeting sedang serius bicarakan rencana program recovery Bengkulu, ya dalam hati aja deh sujud sukurnya. Pasti Hufha dan Iqna senang sekali mendengarnya, sebab mereka memang sudah lama kepingin punya adik.

Namun saya cukup deg-degan juga nih, sms isteri kan masih ada lanjutannya, "... karena punya riwayat keguguran, jadi gak boleh kerja berat dulu seperti nyuci, dll"

oke deh say, tenang aja, abang siap nyuci. tapi kalau abang nggak ada di rumah, biar kita cari tenaga bantuan saja ya, he he... Memang selama 2 tahun terakhir, isteri sudah 3 kali keguguran. entah karena lelah atau memang penyakit, semoga saja kali ini Allah memberi kesempatan saya mendapatkan anak ketiga (semoga laki2), dan itu artinya saya sudah diberi kepercayaan lagi sama Allah. Amiinn

berkah kedua; selama ini saya sering merasa nggak nyaman karena selalu pakai handphone milik kantor. So, Sabtu kemarin ada 'titipan' dari seseorang yang nggak mau disebutkan namanya, dan memberikan satu unit HP. Alhamdulillah, sekarang nggak pakai HP kantor lagi, meski yang namanya semua barang itu tetap bernilai "amanah".

Bantu doa ya, semoga saya bisa mengemban dua amanah yang saya dapat di ramadhan ini. terima kasih

Thursday, September 20, 2007

[Peduli Bengkulu] Balada Lampu Cogok

Anasia (65 tahun), salah seorang warga Dusun Raja, Kecamatan Lais, Bengkulu Utara menuturkan kejadian gempa yang mengguncang dusunnya pada Rabu (12/9) selepas adzan maghrib. Ketika itu, ia tengah berada di rumahnya bersama suaminya, Sapri, dan kedua anaknya.

“tiba-tiba rumah bergetar, kami langsung berlari ke halaman rumah. Belum jauh kami ke halaman, rumah kami sudah roboh,” tuturnya.

Beruntung Anasia, Sapri dan kedua anaknya sudah terlebih dulu keluar rumah. Sebab jika melihat kondisi rumahnya saat ini yang sudah rata dengan tanah, ceritanya akan berbeda jika mereka tak segera keluar rumah. “mungkin kami sudah tidak ada, kejadiannya sangat cepat,” tambah Anasia.

Sejak Rabu malam, ia beserta suami dan kedua anaknya mendirikan tenda dengan terpal yang dimiliknya untuk sekadar berteduh. Sapri, sang suami menceritakan, sejak Rabu malam itu, mereka tidur berempat di tenda terpal berukuran 3 x 2 meter tanpa penutup sisi. Sehingga angin laut yang berada di belakang rumahnya begitu mudah menerobos setiap celah tenda. “Dingin pak, saya jadi sakit-sakitan. Apalagi makan pun seadanya…” terang Sapri.

Dusun Raja, Kecamatan Lais, Bengkulu Utara, merupakan salah satu wilayah yang terkena dampak cukup parah akibat guncangan gempa Rabu lalu. Semenjak gempa hingga Selasa (18/9), jaringan listrik belum tersambung, sehingga seluruh pengungsi hidup dalam kegelapan.

Sore menjelang maghrib itu, Sapri memperlihatkan lampu cogok (di jawa lebih dikenal dengan lampu sentir), sebuah alat penerangan berbahan bakar minyak dengan satu sumbu kecil menyembul di atasnya. “Ini lampu kami, kami menyebutnya lampu cogok,” kata Sapri.

Semula kami menganggap bahwa kondisi tersebut wajar mengingat semua jaringan listrik di dusun tersebut memang belum tersambung. Namun ternyata, selama belasan tahun sebelum gempa pun keluarga Sapri memang hidup dalam kegelapan. “Kami orang miskin, tidak punya uang untuk membayar listrik. Jadi ya hanya lampu cogok inilah penerangan rumah kami…” mata Anasia berlinang.

“Sekarang, kami tidak lagi punya rumah. Satu-satunya rumah kami walaupun kecil sudah rata dengan tanah. Tidak tahu apakah nanti kami bisa punya rumah lagi atau tidak,” Anasia nampak sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Sapri pun menutup obrolan kami dengan kalimat yang meruntuhkan hati, “lampu cogok inilah yang masih kami punya. Sebelum dan sesudah gempa, tetap kami pakai lampu ini.” (gaw/bengkulu utara)

Friday, September 14, 2007

Kelahiran Ketiga, Panik!

Waktu menunjukkan pukul 15.40 WIB, tiba-tiba ia berteriak, "Sudah mules terus-terusan, mungkin sudah waktunya". Saya yang sedang tidur-tiduran langsung beranjak meminta izin pinjam mobil paman. Sudah skenario Allah, siang itu Ibu, tante dan paman mampir ke rumah, jadi mobil KIA Carens baru milik paman langsung jadi sasaran.

Mobil pun terpacu cepat melesat melintasi jalan komplek perumahan. Di depan gerbang, tepatnya di lapangan depan perumahan Taman Melati, Sawangan, ternyata sedang ada rencana panggung hiburan, katanya sih menjelang bulan ramadhan, mungkin semacam pesta terakhir. Yang saya dengar pula, beberapa artis dangdut ibukota siap hadir, bahkan MC-nya pun Jaja Miharja. So, jam segitu warga sudah membludak.

Klaksok pun bermain, sambil buka kaca berteriak "Permisi ada yang mau melahirkan nih!". Alhamdulillah jalan terbuka lebar sehingga mobil pun bisa melaju lagi.

Keluar dari pertigaan pengasinan sempat ragu mengambil jalan, kiri atau kanan. Kalau jalan ke kanan lebih lancar dan sepi tetapi banyak jalan berlubang. "kacau kalau brojol di mobil..." pikir saya. Akhirnya arah kanan pun dipilih. Tiga menit kemudian, "Ya Allah, macet total..."

Sepanjang kurang lebih 2 kilometer sampai traffic light Bojongsari jalanan macet total dan tak bergerak. Klakson dan teriakan "orang mau melahirkan" sudah tidak berlaku lagi. Saya menjadi panik, keringat dingin keluar sebesar-besar biji jagung meski airconditioner tetap terpasang.

Kepanikan saya bertambah mendengar rintihannya, "sudah tiga menit sekali mulesnya". Wah, antrian macet masih panjang. Belum lagi si kakak yang muntah sepanjang perjalanan, untungnya ada kantong plastik di laci mobil. Kalau sampai muntah di dalam mobil, bisa didamprat paman. Sedangkan si adik tenang di kursi belakang sambil memegangi perut ibunya.

Alhamdulillah, tidak sampai sepuluh menit jalan kembali normal. Usai melewati traffic light, mobil saya pacu tak kurang dari 80 km/jam. Saya tidak lagi pikirkan keselamatan, bagaimana pun harus cepat tiba di rumah sakit. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 16.05 WIB. Dan kira-kira lima belas menit lagi jika tidak ada aral akan tiba di rumah sakit.

Bersyukur jalan terus lancar, mungkin karena hari Sabtu sedikit orang keluar rumah. Akhirnya, pukul 16.25 WIB mobil pun masuk halaman UGD (unit gawat darurat) dan segera mendapatkan pertolongan dokter bersalin. Saya sedikit lega, termasuk karena tidak melahirkan di dalam mobil paman.

Kepanikan saya sepertinya belum hilang sebelum si bayi terlahir. Sampai di rumah sakit sudah pembukaan empat -jangan minta saya menjelaskan apa itu pembukaan empat- Bahkan boleh jadi lebih panik dari saat isteri saya melahirkan anak pertama enam tahun lalu. Mondar-mandir di depan ruang bersalin menunggu hadirnya warga baru di Taman Melati itu. Ya, hanya itu yang bisa saya lakukan karena dokter melarang saya masuk ke ruang persalinan.

***

Pukul 17.10 WIB, seorang bayi perempuan terlahir dan langsung digendong untuk diazankan ayahnya. Ya, oleh ayahnya, bukan oleh saya. Karena yang melahirkan itu tetangga saya, pada saat mules terasa, si suami sedang pergi mencari perlengkapan melahirkan dan sudah tiba di rumah sakit sepuluh menit sebelum anaknya lahir. Si kakak yang muntah itu anak pertama mereka, adiknya yang memegangi perut ibunya, anak keduanya.

Tapi sejujurnya, saya memang benar-benar panik. Entah kenapa, mungkin karena yang melahirkan justru bukan isteri saya. Syukurnya, saya jadi merasakan kembali bagaimana paniknya jika isteri melahirkan. hi hi....

Gaw

Friday, September 07, 2007

Menolong Itu Sehat!

Chairul namanya, atau ia lebih senang dipanggil Ilul. "Ilul saja bang, lebih enak dan sudah biasa" katanya ketika saya berkenalan dengannya. Ia pemuda sederhana, tidak bermotor, tidak berpakaian perlente, tidak nge-jeans, dan juga tidak punya handphone layaknya kebanyakan pemuda sekarang. Pemuda berusia duapuluh satu tahun ini sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojeg mulai pukul sepuluh pagi hingga malam hari.

Ilul memahami betul bahwa pekerjaannya bukan semata mencari uang. "ada unsur tolong menolong dalam pekerjaan saya bang." Yang dimaksud Ilul adalah, seringkali orang membutuhkan jasa ojeg untuk alasan kecepatan dan menghindari macet. Jasa ojeg-lah yang sering dijadikan andalah untuk mereka yang berpacu dengan waktu. Namun bukan hanya itu 'unsur menolong' yang dimaksud pemuda jebolan SMP itu. "Kadang ada orang butuh tumpangan padahal dia nggak punya duit, tetap saya antar. Mungkin suatu saat gantian saya yang ditolong orang lain".

Tapi, kenapa baru mulai ngojeg pukul sepuluh? nah, inilah yang menarik untuk diceritakan, sebab hal ini juga berkenaan dengan postur tubuhnya yang boleh dibilang cukup atletis. Memang kalau dilihat lebih seksama, tubuh Ilul terlihat bagus dan atletis. Untuk bagian perutnya, bolehlah dibilang "six pack", sementara otot lengannya cukup berbentuk layaknya binaraga pemula.

Apakah Ilul rajin fitness? "Duit dari mana bang buat ikut fitness. Mending buat makan..."

Akhirnya Ilul pun buka suara. Dia bilang, "boleh percaya boleh nggak". Soal bentuk tubuh atletisnya itu ia dapatkan dari rutinitas pagi dan sorenya membantu sang ibu. Setiap pagi dan sore, ia harus mengisi bak mandi di rumahnya dengan pompa tangan untuk segala keperluan, termasuk untuk mandi ketiga adiknya. Selain bak mandi, semua ember dan bak di rumahnya pun harus diisi, termasuk tempayan besar untuk air memasak. "fitness" pagi ala Ilul itu dilakukan setiap hari pagi dan sore sejak enam tahun lalu. Ayahnya meninggal dunia lebih enam tahun yang lalu dan sejak itu keluarganya memutuskan untuk tidak menggunakan pompa listrik karena khawatir tak sanggup membayar tagihan listrik.

Bukan hanya memompa, setiap usai sholat subuh ia pun harus membawakan belanjaan ibunya dari pasar. "Memang tidak banyak, tapi lumayan berjalan kaki sambil menenteng belanjaan," terangnya.

"Hasilnya seperti ini nih..." Ilul memerlihatkan beberapa bagian otot tubuhnya. Kemudian Ilul menutup pembicaraan dengan kalimat, "Saya percaya akan selalu ada keberkahan setiap kali menolong orang lain, terlebih ibu sendiri."

Sekadar menambahkan kalimat Ilul, seraya melihat hasil yang didapatnya bolehlah saya berujar, "menolong itu sehat".

***

Georgia Wilkins, PhD, penulis buku "Badai Pasti Berlalu" sebuah buku yang didedikasikan untuk para korban bencana tsunami di Asia, termasuk di Aceh, menuliskan, "setiap kali Anda menolong orang, tubuh Anda akan dibanjiri oleh zat alami dari dalam tubuh yang disebut endorfin. Zat Endorfin inilah yang berkhasiat menghilangkan berbagai penyakit dalam tubuh.

Sekali lagi, boleh percaya boleh tidak, rata-rata relawan di berbagai lokasi bencana jarang terkena penyakit meskipun ia harus bekerja siang dan malam. Boleh jadi itu karena aktivitas menolong yang dilakukannya. Wallahu 'a'lam.

Monday, September 03, 2007

Rp. 2.000,- yang Meresahkan

Sabtu sore, usai sholat ashar. Hari ketiga Iqna -putri kedua saya- dirawat di rumah sakit karena typus, saya berpamitan kepada Iqna untuk mengantar orang tua ke rumah. Tidak disangka-sangka, ketika saya mencium keningnya tangan lemah Iqna menyambar seraya mengaitkan tangannya ke leher dan tak melepaskannya.

"Abi nggak boleh pergi, dede nggak mau ditinggal..." kalimat itu lemah terucap dari mulut mungilnya.

Saya bilang, "sebentar ya de, mau antar Abah ke rumah. Nanti Abi balik lagi..."

Namun tetap saja kait tangannya tak terlepas, terus melingkar di leher saya. Kali ini dibumbui air matanya yang mengalir bening melintasi pipinya. Saya pun memberi kode ke Abah agar menunggu sejenak. Sebuah buku cerita saya ambil dan membacakannya. Saya pun sempat bersenandung 'nina bobo' sambil mengusap-usap punggungnya. Soal mengusap-usap punggung ini, adalah kesenangannya sejak bayi dan menjadi senjata andalan saya setiap menemaninya tidur. Kalau ibu saya bilang, "itu nurunin abinya".

Tak berapa lama kemudian, Iqna pun tidur. Tetapi lingkar lengannya masih mengait erat di leher saya. Perlahan saya angkat tangan gadis kecil berusia lima tahun itu. Sejenak saya memandangi wajahnya dan selangkah demi langkah meninggalkan kamar rumah sakit.

Sepanjang jalan mengantar orangtua ke rumah -yang hanya sekitar dua puluh menit- hanya wajah 'malaikat kecil' itu yang terus menerus muncul. Tiba-tiba saya jadi merasa takut, gelisah dan resah. Jangan-jangan... Ah, saya tepis segera perasaan itu. Namun seharian itu saya terus menerus merasa takut kehilangannya, terlebih sejak Senin sore panasnya belum juga turun, masih berkisar 38 sampai 38,5 derajat celcius.

Sekembalinya ke rumah sakit, saya ciumi lagi kening si kecil yang sedang terlelap. Dan nyatanya, dada ini terus menerus tak henti bergemuruh. Minggu pagi, gemuruh resah itu mulai reda. Apalagi saya mulai bisa melihat Iqna tersenyum meskipun panasnya belum juga turun. Minggu siang saya semakin tenang karena ia sudah mau makan walau hanya beberapa suap saja.

Siang itu saya pun minta izin keluar untuk makan siang. Segera saya pesan semangkuk mie ayam, plus teh botol di warung sebelahnya. Usai makan, mie pun terbayar dan langsung menuju ke kamar rumah sakit.

Entah apa yang sudah atau bakal terjadi. Sesuatu yang aneh saya rasakan. resah, galau dan ketakutan yang kemarin tibat-tiba muncul kembali. Segera saya naiki anak tangga dan memasuki kamar tempat Iqna dirawat. "Alhamdulillah..." ia terlihat biasa-biasa saja meskipun masih lemah. Tetapi kenapa saya masih merasa resah?

Akhirnya saya mencoba menghilangkannya dengan berwudhu dan membaca beberapa ayat suci Al Quran untuk menenangkan diri. Setengah jam berlalu, keresahan justru makin menjadi. Namun seketika, "Ya Allah..." saya setengah berteriak. Pantas saja saya terus menerus merasa resah. Saya pun bergegas ke luar rumah sakit dan menemui ibu penjual teh botol.

"Maaf bu, tadi saya lupa membayar teh botol. Sekali lagi maaf, saya sangat lupa dan tidak sengaja melupakannya. Mohon dimaafkan..." saya malu sekali.

"Iya pak, tidak apa-apa" sahutnya.

Saya merasa harus memastikan pemberian maafnya saya dapatkan. Karenanya saya ulangi lagi permintaan maaf itu, "Tolong bu maafkan saya, agar saya merasa tenang".

Akhirnya, "Ya pak, sudah saya maafkan. Saya tahu bapak tidak sengaja..."

Alhamdulillah lega rasanya. Ternyata yang membuat saya resah di hari Minggu itu, hanya uang seharga teh botol. Ya cuma Rp. 2.000,- membuat saya sangat takut dan resah. Terima kasih Ya Allah... (Gaw)

Tuesday, August 28, 2007

Kendali Ego

Jumat pagi itu, motor terpacu dengan kecepatan tidak kurang dari 60 km/jam ketika tiba-tiba saya melewati seorang pengendara motor lainnya yang berhenti mendadak. Penyebabnya, kantong besar berisi ikan yang masih hidup yang dibawanya pecah. Berhamburan lah air dan puluhan ikan itu ke jalan raya.

Saat itu saya sempat ragu untuk berhenti, ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan keraguan itu. Pertama, waktu sudah menunjukkan pukul 07.50 WIB dan saya harus segera ke kantor. Sedangkan perjalanan ke kantor butuh waktu kurang lebih delapan hingga sepuluh menit lagi. Jika saya tetap melanjutkan perjalanan, biasanya tidak akan terlambat. Kedua, saya alergi ikan. Bukan hanya makan makhluk air itu, bahkan mencium ‘amis’nya pun sudah membuat saya terkena penyakit aneh seperti pusing, mual dan gatal-gatal.

Dua hal tersebutlah yang sempat memberatkan. Namun beberapa detik kemudian saya putar arah menuju lelaki yang jelas-jelas membutuhkan bantuan itu. Sejurus kemudian, mulailah tangan ini membantu memungut satu persatu ikan yang menggelepar di jalan raya, beberapa orang lainnya pun turut membantu.

Menurut lelaki pembawa ikan itu, ikan-ikan itu adalah pesanan seseorang yang hendak menggelar pesta. Si pemesan hanya akan membayar ikan yang segar dan bukan ikan yang sudah mati. Karenanya, ketika plastik ikannya pecah dan ikannya berhamburan ia sangat panik. “saya bisa dipecat bos nih…” keluhnya.

Beruntung, beberapa orang –dan alhamdulillah termasuk saya- cepat membantunya mengumpulkan ikan agar tidak ada yang mati. Boleh jadi, jika ia mengumpulkan sendiri puluhan ikan tersebut, butuh waktu yang tidak sebentar dan sangat mungkin ada beberapa ikan yang mati. Saya tidak tahu persis berapa harga satu ikan tersebut, tinggal dikalikan berapa jumlah yang mati. Tapi berapa pun harganya, tetaplah berat buat si pengantar ikan tersebut.

Usai mengumpulkan ikan-ikan itu, si pengantar ikan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantunya. Namun saya bilang, “saya yang berterima kasih, telah diberi kesempatan berbuat baik di pagi hari”.

Ya, saya bersukur dan merasa berterima kasih karena bisa mengawali hari dengan sesuatu yang baik. Disamping itu, saya pun diberi pelajaran berharga tentang bagaimana mengendalikan ego. Saya tahu pasti akan terlambat ke kantor jika menolong orang tersebut. Namun resiko yang saya dapatkan mungkin hanya ‘catatan kecil’ dari HRD bahwa saya pernah terlambat beberapa menit. Tidak ada resiko pemecatan, pemotongan gaji atau caci-maki bos. Tapi bagi si pengantar ikan itu, ceritanya akan sangat berbeda. Ia bisa diminta mengganti ikan-ikan yang mati, kemudian dicaci-maki bosnya, dan akhirnya berujung pada pemecatan.

Dan yang kedua soal alergi ikan itu. Luar biasa, apa yang menjadi kekhawatiran saya selama ini berkaitan dengan ikan itu tidak terjadi. Saat memungut ikan dan sampai ke kantor hingga keesokan harinya tidak terjadi satu apapun terhadap diri saya. Tidak ada pusing, tidak mual maupun gatal-gatal setelahnya. Padahal, biasanya mencium bau ikan saja saya sudah menyingkir jauh-jauh. Meski bukan berarti saat ini saya sudah bisa makan ikan, karena tetap saja saya belum bisa. Tetapi yang jelas, hari itu ego saya terkendalikan dan yang ada dalam pikiran saat itu hanya satu; orang tersebut harus ditolong.

Soal ego memang gampang-gampang susah mengendalikannya. Tetapi saya meyakini satu hal, bahwa ego menolong wajib dikedepankan dan semoga menjadi kebiasaan yang baik buat saya. (gaw)

Thursday, July 26, 2007

Harga Murah Ajakan ke Surga

Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?

Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.

Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?

Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.

Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.

Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp. 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”

Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp. 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”

***

Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga

Gaw
bayugautama@yahoo.com

Monday, July 23, 2007

Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.

_____________________________

Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.

Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.

Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang –sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.

Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.

Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.

Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.

Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah…” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.

Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.

Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.

***

Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.

Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.

Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.

***

Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.

Gaw

Duh, Kemarin Tak Berinfak

Saya terus bertanya-tanya, sebab apa yang membuat hari kemarin terlupa berinfak. Meski pun di hari kemudian saya menggandakan infak dengan harapan bisa menutupi celah yang kemarin berlubang, namun tetap saja ada perasaan bersalah. Meski pula tak ada sedikit pun kesengajaan untuk tak berinfak, dan saya yakini hanya karena terlupa, tetap saja pikiran ini terus menerus bertanya, kenapa lupa?

Sekarang saya harus banyak merenung dan membayangkan akibat apa yang bakal saya alami selepas tragedi “lupa” berinfak hari kemarin itu.

Tentu saya tak boleh marah jika tiba-tiba Allah sempat memutus aliran rezeki, entah hari ini, besok, lusa atau entah kapan. Sebab dengan tak berinfak hari kemarin, berarti saya telah memutus rezeki orang lain yang berhak. Boleh jadi, akibat terputusnya infak di hari kemarin itu, ada perut-perut yang teriris menahan lapar. Ada tubuh lemah yang semakin melemah akibat sakit yang dideritanya berhari-hari tanpa pengobatan. Bahkan, saya tak harus merasa sakit hati kalau suatu hari nanti saya merasakan tidak punya satu apapun untuk bisa dimakan, termasuk oleh isteri dan anak-anak saya. Ya, gara-gara kemarin tak berinfak, bisa dipastikan ada yang tak memiliki apa pun untuk pengganjal perut laparnya.

Saya pun tak boleh kecewa jika segala apa yang saya upayakan di hari-hari berikutnya terus menerus menemui kebuntuan. Sebab dengan tak berinfak hari kemarin, sangat mungkin saya turut bertanggungjawab atas putusnya sekolah anak-anak yatim. Sangat masuk akal pula akibat terlupanya saya berinfak, akan banyak urusan, kepentingan dan pekerjaan saya yang tak selesai dan tak berhasil. Mungkin karena saya juga tak membantu menyelesaikan urusan orang-orang yang semestinya menerima infak saya di hari kemarin itu.

Di hari-hari yang akan datang, tak ada satu alasan pun bagi saya untuk menggerutu jika segala yang mulanya mudah tiba-tiba menjadi sulit bagi saya. Sesuatu yang biasanya ringan berubah menjadi teramat berat. Jelas itu karena saya tak berinfak hari kemarin sehingga secara tidak langsung memberatkan urusan orang lain, menyulitkan kehidupan orang-orang yang berhak atas infak dan sedekah saya.

Esok atau suatu hari nanti, saya tak berhak menangis Jika salah satu harta benda yang saya miliki hilang, raib, entah dicuri, dicopet atau dengan cara apa pun. Saya harus benar-benar bisa menerima akibat itu, karena mungkin itu balasan dari tak berinfaknya saya di hari kemarin.

Saya tentu akan menyesal seumur hidup jika kemudian anak-anak yatim, kaum fakir miskin beramai-ramai melantunkan sebuah doa kepada Allah, “Ya Allah, hari ini kami tak mendapatkan apa pun dari para dermawan, dari orang-orang yang biasanya Engkau ringankan tangannya, dari orang-orang yang biasanya memudahkan urusan kami. Engkau Maha Tahu ganjaran yang pantas untuk mereka ya Allah…”

Dan karena doa itu, Allah beserta para malaikat bersama-sama meng-amin-i doa tersebut sehingga saya memang benar-benar menjadi orang yang pantas menyesal karena tak berinfak di hari kemarin.

Tinggallah saya berdoa hari ini, “Ya Allah, ampuni hamba. Jangan Kau putus rezeki hamba agar tak terputus pula hamba mensyukurinya dengan berinfak dan sedekah”

Dan …

Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits

Aslih sya’ni kullahu wa la takilni ila nafsi tharfata ‘ainin


(Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Mengurus hamba-Nya… perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan urusanku pada diri ini meski hanya sekejap mata)

Gaw

bayugautama@yahoo.com
http://gawtama.multiply.com

Thursday, July 19, 2007

Rezeki Tidak Pernah Salah Alamat

Jika Anda termasuk yang sering bercukur di tukang cukur bermerk “Pangkas Rambut”, cobalah bertanya kepada si akang pemangkas rambut tersebut perihal daerah asalnya. Hampir bisa dipastikan ia berasal dari Garut, Jawa Barat.

Tanyakan juga kepada para pedagang toko kecil yang banyak berdiri di sudut jalan atau ujung gang, biasanya mereka menjual rokok, penganan kecil seperti biskuit dan permen dan juga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pasta gigi. Hampir semua pemilik warung kecil itu berasal dari Kuningan, Jawa Barat.

Semua pun tahu, bahwa nyaris semua penjahit yang pernah kita temui atau bahkan menjadi langganan kita berasal dari Sumatera Barat. Seperti halnya tempat-tempat penambal ban maupun bengkel motor di pinggir jalan itu kita panggil “Ucok” karena memang kebanyakan mereka asli Sumatera Utara. Dan kalau bicara soal kredit barang-barang kelontong, Tasikmalaya sangat lekat di telinga kita.

Memang tidak semua pemangkas rambut berasal dari Garut, atau penambal ban dan penjahit pakaian berasal dari daerah tersebut di atas. Namun secara mayoritas boleh lah dianggap demikian. Tentu sangat menarik memperhatikan fenomena ini menilik dari kenyataan bahwa rezeki memang sudah ada yang mengaturnya. Dan Allah Maha Adil membagi-bagi rezeki kepada setiap makhluk di muka bumi ini.

Hanya saja yang tak kalah pentingnya untuk dikaji yakni pernyataan bahwa memang tidak semua orang Sumatera Barat itu menjadi penjahit, seperti halnya tidak semua orang Tasikmalaya itu berprofesi sebagai tukang kredit. Meski pun seseorang lahir di Padang, besar di Padang, tetapi ia tidak pernah diajarkan atau menyentuh benda bernama mesin jahit, sampai kapan pun ia tidak akan pernah menjadi penjahit. Sebaliknya si Ucok anak si penambal ban, lantaran sejak melek sampai larut malam yang ia perhatikan adalah bagaimana bapaknya bekerja. Mulai dari mencopot ban dari kendaraan, melepas ban dalam, menambal yang bocor hingga memasangkannya kembali. Maka tak heran jika di usia belasan pun ia sudah mahir membongkar pasang ban kendaraan.

Lebih jelasnya, setiap orang itu akan mendapatkan rezeki tergantung dari keterampilan yang dimilikinya. Orang Garut yang pandai mencukur rambut, maka ia akan membuka usaha cukur rambut. Orang yang mendapatkan pelayanan dari keahlian si tukang cukur, akan membayar sesuai jerih payah dan keahlian tersebut. Sama halnya dengan kita, keterampilan apa yang bisa kita “jual” agar pihak lain mau mengeluarkan sejumlah uang sesuai keahlian yang kita miliki itu.

Intinya, jangan pernah berharap rezeki akan datang begitu saja tanpa ada satu usaha untuk menunjukkan satu bentuk keterampilan yang Anda miliki. Lebih dari satu keterampilan Anda miliki, insya Allah akan lebih pula yang bisa didapat. Tidak punya keterampilan satu pun, siap-siap selalu gigit jari karena kesempatan selalu terlewat begitu saja tanpa bisa kita raih.

Misalnya begini, pernah ada seorang kawan yang bertanya perihal lowongan di tempat saya bekerja. Kemudian saya tanya, “bahasa Inggris bisa? Bisa mengoperasikan komputer?” untuk dua pertanyaan tersebut, jawabannya sama: Tidak. Ooh, ya kalau begitu saya ajukan satu pertanyaan lagi, “Bisa mengemudi mobil?” berhubung saat itu di kantor memang sedang membutuhkan seseorang dengan keahlian tersebut. Nyatanya, ia juga menjawab “Tidak” meski dibubuhi kalimat pendukung, “tapi saya bisa belajar kok…”.

Agak sulit bagi siapa pun untuk membantu mencarikan pekerjaan buat seseorang yang tidak memiliki satu pun keterampilan. Bahkan seorang office boy (OB) sekalipun memiliki keterampilan khusus yang menjadi prasarat ia bisa diterima bekerja sebagai OB.

***

Rezeki tidak pernah salah alamat, itu pasti. Kalau mengibaratkannya dengan seorang tukang pos pengantar surat, ia tidak akan pernah kesulitan mengantar surat jika tertera alamat yang jelas dan lengkap. Ditambah lagi, si pemilik rumah pun semestinya menuliskan alamat rumahnya dengan jelas, seperti nomor rumah, RT/RW dan lain sebagainya, agar pas pos tak kesulitan mencocokkan alamat tertera di surat dengan alamat kita. Jangan salahkan jika tukang pos kebingungan mencari alamat kita, karena boleh jadi kita memang tak memasang alamat jelas di depan rumah.

Jadi, tunjukkan kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang kita miliki. Agar orang lain bisa melihatnya dengan jelas dan memberikan kesempatan terbaik buat kita. Karena rezeki memang tidak pernah salah alamat, hanya kadang kita sendiri yang tak menunjukkan alamat jelas, sehingga seringkali rezeki berlalu begitu saja. (Gaw)

Monday, July 16, 2007

Taufik Savalas and Me!

Jujur, saya nggak kuat nulisnya. Saya sudah nangis duluan, terserah orang mau bilang saya cengeng, nggak peduli.

Tapi Bang Taufik itu, ya Allah, Engkau memanggil sahabat saya itu dengan cara yang .... saya nggak saya nggak sanggup menuliskannya. Tragis, menyeramkan, tapi bagaimana pun, itu hak prerogatif Allah yang Maha Menentukan dengan cara apa setiap makhluk menghadap-Nya.

Saya cukup mengenal sosok Bang Taufik. Awal perkenalan ketika saya meminta kesediaan beliau dan keluarga menjadi cover untuk majalah yang saya buat. Ternyata beliau bersedia. Itu kira-kira tahun 2004 akhir.

Waktu yang ditentukan pun tiba, Bang Taufik dan Teh Rina serta dua anaknya yang masih imut-imut datang ke studio untuk sessi pengambilan gambar. Wardrobe yang dipakai disediakan oleh "Rumah Klambi" sebuah butik milik sahabat saya, Dewi Ma'rifat Ba'aman. Ternyata, baju-baju rancangan Dee (dewi), dipakai juga oleh Teh Inneke, Dewi Hughes, dll.

Dan yang mengagumkan, dia nggak mau dibayar untuk sessi foto itu. "bayaran saya diinfakkan saja ya, itu pun kalau ada bayarannya". Duh, kata-kata itu seketika teringat lagi.

Setelah sessi pemotretan itu, saya pun bikin janji untuk wawancara. Ini agak terbalik memang, biasanya wawancara dulu, baru foto. Tapi karena beliau bisanya begitu, ya mau nggak mau diikutin saja.

Akhirnya, saya dan rekan berkesempatan menyambangi rumah Bang Taufik di Villa Ilhami, Tangerang. Bang Taufik itu ramah, cerdas, kocak pasti, dan sangat religius. Di rumah beliau itu, saya baru tahu kalau Bang taufik punya puluhan anak asuh di Serang.

Beliau sangat dekat dengan anak-anaknya. Saya masih simpan majalah yang memuat Bang taufik dan keluarga sebagai covernya. Waktu wawancara, berkali-kali Bang taufik dengan sabar meladeni beragam permintaan anaknya. "begini nih caranya jadi bapak yang baik" katanya. duh, terima kasih bang atas pelajarannya.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Bang Taufik juga dikenal gaul dan tidak sombong. Sebuah pribadi yang menyenangkan untuk dijadikan teman. Beliau senang ngobrol, tidak pandang siapa pun. Bang Taufik pernah bilang, "Orang gila sekali pun kalau ngomongnya bener guwe dengerin", he he, emang kedengaran seperti bercanda saat itu. Tapi saat ini, saya benar-benar kehilangan kalimat itu bang, sungguh...

Hari-hari selanjutnya, saya masih sering kontak beliau. SMS saya selalu dijawab, dia kalau lama nggak jawab SMS, pasti minta maaf begitu ada waktu balas SMS lagi. "Maaf ya, kemarin lagi sibuk banget... ye sok seleb nih guwe..." (abang bukan cuma selebritis buat saya, abang itu teladan yang baik)

Jujur, saya termasuk yang nggak percaya waktu rabu pagi kemarin dengar berita soal kecelakaan itu. Tapi itu benar.... itu benar bang Taufik. Sudah hampir satu tahun saya nggak pernah kontak beliau lagi... saya menyesal lama tidak menyapanya. Dan sekarang, itu semua sudah terlambat... maafkan saya bang, saya memang bukan siapa-siapa buat Abang, tapi mungkin saja Abang sempat bertanya-tanya kenapa saya tidak menghubungi Abang lagi. Sungguh bang, saya nggak mutusin silaturahmi kok...

Ya Allah, hamba-Mu ini benar-benar kehilangan sosok Abang yang baik. Jaga dia untukku ya Allah...

Gaw,
yang kehilangan abangnya... selamat jalan Bang Taufik