Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, December 04, 2007

[Siaga Bencana] Indonesia, Belajarlah dari Kuba!

Badai topan Cyclone yang menerjang Bangladesh dan menewaskan lebih dari 4000 jiwa pada pertengahan November 2007 silam, seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Bukan soal minimnya bantuan kemanusiaan dari Indonesia layaknya yang dilakukan berbagai negara lain kepada negeri yang malang itu. Tetapi lebih tentang bagaimana tidak siapnya negeri itu menghadapi bencana yang bukan pertama kali itu sehingga mengakibatkan jumlah korban yang sangat banyak.

Pada tahun 1970, badai topan menewaskan lebih setengah juta warga Bangladesh. Salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang tercatat dalam sejarah. Masalahnya, sejarah pun mencatat bahwa negeri itu belum maksimal belajar dari bencana yang nyatanya secara rutin menyambangi salah satu Negara termiskin di dunia itu. Maka ketika badai topan yang sama kembali menerjang di tahun 2007, jumlah korban jiwa yang ditimbulkan masih relatif besar.

Tentu saja Indonesia tak harus belajar dari Bangladesh, karena nyata-nyata Bangladesh pun tidak belajar dari masa lalunya. Hal yang sama pun dilakukan Indonesia dalam bencana yang berbeda, yakni tsunami. Tsunami meluluhlantakkan sebagian besar Nangroe Aceh Darussalam dan Nias di akhir tahun 2004. Tercatat lebih dari dua ratus ribu jiwa menjadi korban salah satu tsunami terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia itu. Namun ternyata pemerintah dan masyarakat negeri ini pun tak cepat belajar dari bencana itu. Terbukti, tidak kurang dari 700 jiwa meninggal dunia akibat tsunami yang menerjang Pangandaran, Jawa Barat di tahun 2006.

Penyadaran akan potensi dan bahaya bencana, sosialisasi dan kesiapsiagaan bencana belum maksimal dilakukan sampai ke lapisan masyarakat. Anak-anak sekolah lebih banyak yang tidak mengerti bagaimana berlindung ketika gempa dan tsunami terjadi. Para ibu di rumah tak pernah mengerti apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Yang mereka tahu hanya panik, menjerit dan ketakutan. Demikian juga para Ayah yang masih bingung dan tak banyak tahu. Latihan kesiaagaan bencana tidak pernah dilakukan, sosialiasi dan pemahaman terhadap bencana tidak diberikan. Bahkan simulasi bencana pun masih sangat minim. Masyarakat hanya tahu, jika bencana –gempa, banjir, tsunami atau lainnya- terjadi mereka harus minta bantuan. Yang menyedihkan, bahkan masyarakat tidak banyak tahu berapa nomor telepon yang harus dihubungi ketika terjadi bencana.

Sebagai negeri yang sering dilanda bencana, bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai negeri bencana lantaran nyaris semua bencana pernah dialami seperti gempa bumi, banjir, banjir bandang, tsunami, angin puting beliung, longsor, kekeringan, kebakaran, kelaparan, gunung meletus, sampai luapan Lumpur, Indonesia boleh belajar dari Kuba. Negara di Amerika Latin ini disebut sebagai Negara yang paling siap menghadapi bencana. Salah satu bencana besar yang menjadi langganan negeri itu adalah badai topan tahunan.

Kerjasama yang apik dan terencana antara pemerintah, media eletronik maupun cetak, lembaga swadaya masyarakat, akademisi dan institusi pendidikan serta segenap elemen masyarakat, menjadikan Kuba sangat siap menghadapi bencana. Setiap menjelang musim badai, pemerintah dari pusat hingga daerah melalui instansi terkait mengeluarkan peringatan potensi bencana, berbagai media mensosialiasikannya langsung ke masyarakat, institusi pendidikan mengeluarkan berbagai modul penanganan bencana, sedangkan berbagai lembaga kemanusiaan dan LSM aktif melakukan simulasi dan latihan kesiapsiagaan bencana. Dan yang terpenting, tingginya kesadaran masyarakat akan bencana dan bagaimana mengantisipasinya. Kesadaran ini memunculkan keinginan yang kuat untuk lebih banyak tahu tentang bencana, hingga mengikuti berbagai simulasi dan pelatihan kebencanaan.

Masyarakat pun tidak pasif hanya mengikuti berbagai simulasi dan pelatihan kebencanaan. Bahkan, mereka pun terpanggil untuk menjadi relawan kemanusiaan ketika bencana benar-benar terjadi. Jauh-jauh hari, masyarakat beramai-ramai menyatakan kesiapan mereka menjadi relawan kemanusiaan.


Isu Bencana Besar

Di beberapa wilayah Indonesia, masyarakat sering dibuat takut, cemas bahkan panik tidak bisa tidur lantaran beredarnya isu bakal terjadinya bencana besar yang konon diprediksi sebagai bencana terbesar yang belum pernah terbayangkan. Di Bengkulu misalnya, masyarakat masih khawatir dan cemas dengan beredarnya isu akan terjadi gempa yang disusul tsunami. Gempa yang disebut-sebut akan mencapai 9 skala richter dan menimbulkan tsunami itu membuat masyarakat Bengkulu tidak tenang dan terus bertanya, “benarkah ini akan terjadi?”

Masyarakat di Pulau Jawa pun tak ketinggalan diserang isu tersebut. Disebutkan akan terjadi patahan di Pulau Jawa yang menyebabkan sebagian Pulau Jawa akan tenggelam ke dasar laut. Bahkan, di Jakarta pun beredar isu akan terjadi serbuan badai besar, lebih besar dari yang pernah terjadi dan belum terbayangkan akibat yang ditimbulkannya.

Entah siapa yang memulai isu ini, namun setidaknya si penyebar isu ini telah berhasil membuat masyarakat resah dan panik. Ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, berbagai instansi terkait seperti BMG, akademisi maupun lembaga kemanusiaan untuk menangkal isu tersebut serta meyakinkan berbagai lapisan masyarakat agar tak mudah termakan isu yang belum bisa dipertanggungjawabkan itu.

Masyarakat memang semestinya tidak perlu panik, tetapi juga jangan tenang-tenang saja. Bencana mungkin akan terjadi, ada yang bisa diprediksi namun ada yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan sepatutnya menjadi sikap paling tepat bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana pun, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, kebakaran, gunung meletus dan lain sebagainya itu tetap mengancam. Siap siaga terhadap bencana akan sangat menentukan jumlah korban yang ditimbulkan dari bencana itu.

Jadi, tidak perlu takut. Mari siaga bencana! (gaw)

3 comments:

NN said...

Rasanya kita harus banyak bertaubat dan mendekatkan diri ke pada Allah Swt

devouthandsome said...

wah kata TV kabel Indonesia adalah ring of fire, aku jadi takut.
Om Bayu kerjanya apa ya?.
Setiap aku baca tulisannya di buletin Jumatan, aku selalu terinspirasi .
Aku buatkan pantun khusus Om Bayu dan istri. Tapi cuma bercanda ya!

Hera said...

memang sekarang kita harus waspada tetap terjadinya bencana,,
bencana tsunami yang telah terjadi di Aceh seharusnya menjadikan diri kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,
dan menjadikan semua itu adalah cobaan...