Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, August 30, 2006

Social Workers, Profesi yang Tidak Diminati?

Adakah diantara anak-anak Anda yang bercita-cita menjadi pekerja sosial? Pernahkah mereka berteriak lantang, "Pekerja sosial" untuk menjawab pertanyaan guru di kelas tentang profesinya setelah dewasa nanti? atau adakah orangtua yang memersiapkan satu saja -diantara sekian anaknya- untuk menjadi pekerja sosial?

Pertanyaan lain, benarkah pekerja sosial (social workers) tidak pernah menjadi cita-cita yang dituliskan remaja-remaja yang menjelang dewasa dalam kertas mimpi mereka sepuluh tahun yang akan datang? Atau memang para orang tua tak memperkenankan dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pekerja sosial, lantaran satu pandangan bahwa kegiatan sosial masih bisa dikerjakan sambil waktu, di paruh waktu dan sisa waktu. Misalnya hanya pada saat akhir pekan saja, atau disaat memasuki usia pensiun (produktif).

Pertanyaan lain yang juga harus dijawab. Apakah masalah sosial hanya bisa ditangani oleh pejabat negara bersangkutan? bukankah peran masyarakat begitu besar untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, seperti kemiskinan, bencana alam, konflik sosial, dan berbagai bentuk patologi sosial yang terus menerus muncul dengan ragam dan bentuk terbarunya. Tak menjadi pentingkah keberadaan lembaga-lembaga sosial lengkap dengan para pekerja sosialnya? Dan, bukankah masalah kemiskinan, bencana alam, konflik dan lain sebagainya itu tak hanya datang di akhir pekan atau hari libur saja?

Bencana alam, kemiskinan dengan berbagai derivasinya, atau konflik bisa hadir kapan saja. Kadang menimpa orang-orang yang jauh dan sangat tidak kita kenal. Meski suatu saat dan sangat mungkin mendatangi orang-orang terdekat, sanak famili, kerabat, sahabat, bahkan diri kita sendiri. Dan yang pasti, butuh penanganan cepat, serius, tidak setengah-setengah, profesional, serta tidak menunggu akhir pekan.

Mengingat begitu banyaknya masalah-masalah sosial yang terus terjadi, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial. Pemerintah sebagai penentu kebijakan, masyarakat sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar yang turut memberikan sumbangsihnya, dan lembaga sosial sebagai eksekutor di lapangan yang mendapat mandat dan kepercayaan penuh, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Idealnya seperti ini.

Lembaga kemanusiaan asal Cuba, Brigada Medicana Cubana, misalnya, bisa menjadi contoh ideal sinergi yang cantik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga tersebut. Tanggal 5 September 2006, lembaga kemanusiaan tersebut akan meninggalkan Jogjakarta dan Klaten untuk kembali ke negaranya setelah sekitar 3 bulan mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga, harta dan keterampilannya membantu para korban gempa Jogja dan Jawa Tengah. Lembaga tersebut membawa serta tim kemanusiaannya yang berjumlah sekitar 95 orang dan mendirikan 2 rumah sakit lapangan di Klaten. Sesungguhnya, apa yang dilakukan lembaga tersebut tak jauh berbeda dengan lembaga kemanusiaan lain dari negeri sendiri. Yang membedakan adalah, bahwa hampir setiap hari mereka mendapat telepon langsung dari Fidel Castro, pimpinan negara tersebut. "Bekerjalah sebaik-baiknya, kalian semua adalah kebanggaan kami karena datang mewakili negara," begitu kira-kira yang dipesankan Castro.

Sungguh, iri rasanya mendengar kisah mereka tentang perhatian dan dukungan penuh yang didapat dari pemerintah dan masyarakatnya. Kerinduan yang teramat sangat untuk kebanyakan lembaga sosial non pemerintah, untuk mendapatkan sekadar "Apa kabar para relawan?" dari pimpinan atau pejabat negara ini.

Terlepas dari adanya oknum dan lembaga yang kurang dipercaya lantaran kasus tertentu yang kemudian menciptakan negative image bagi lembaga sosial/kemanusiaan secara keseluruhan, sesungguhnya kerja-kerja lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan akan lebih solid, profesional, cepat dan bertanggungjawab jika kepercayaan dan dukungan terus diberikan. Memang, butuh waktu dan perjuangan melelahkan untuk menghadirkan dukungan dan kepercayaan tersebut. Karena untuk mendapatkan satu orang yang percaya saja begitu sulitnya, terlebih sebuah komunitas masyarakat.

Tentu saja, masyarakat berhak untuk menentukan percaya kepada siapa dan lembaga apa. Masyarakat juga berhak untuk mengkritik, mempertanyakan, dan meminta pertanggungjawaban dari lembaga yang dipercayanya. Jelas, karena mereka telah mencoba menitipkan amanah donasinya untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Namun, selain tuntutan dan kritikan tersebut, dukungan yang lebih dan peningkatan kepercayaan adalah hal lain yang juga diharapkan.

Social Workers
Kembali ke persoalan pekerja sosial sebagai profesi. Banyak faktor yang menyebabkan orang belum mau menjadikan pekerja sosial sebagai profesinya. Pertama, soal bonafiditas. Sebagian besar masih menempatkan pekerjaan lain, misalnya Engineer, Banker, atau bahkan guru, jauh lebih bergengsi tinimbang menjadi pekerja sosial. Kedua, alasan benefit. Salary yang didapat sebagai pekerja sosial tidaklah besar, itu pun tergantung seberapa besar lembaga sosial tersebut. Alasan ketiga, dan ini yang paling banyak mempengaruhi adalah soal masa depan. Masa depan para pekerja sosial dianggap tidak jelas, sangat tergantung dengan kontinuitas lembaga itu sendiri. Berakhir lembaga itu, berakhir pula masa depannya.

Cobalah telisik, benarkah mereka yang bekerja sebagai pekerja sosial itu orang-orang yang kalah bersaing dan tidak mendapatkan tempat dalam pekerjaan lain? Ada anggapan seperti ini yang beredar di masyarakat. Sesungguhnya tidak demikian, pakerja sosial adalah sebuah pilihan, seperti halnya orang lain memilih untuk menjadi banker, enginer, dokter, arsitek, pengusaha dan lain sebagainya. Selalu ada alasan bagi setiap individu untuk menentukan dimana dan sebagai apa ia berkarir, begitu pula ketika seseorang memilih pekerja sosial sebagai profesinya. Cobalah datangi langsung lembaga-lembaga tersebut, orang-orang di dalamnya bukan sekadar lulusan SMA (highschool). Jebolan S1, S2 dan S3 dari perguruan tinggi terkenal dalam dan luar negeri kini menghuni lembaga sosial, sama halnya dengan mereka yang bekerja di perusahaan besar dan menjalani profesi lainnya.

Padahal, ada nilai kemuliaan yang diusung oleh orang-orang yang terjun langsung di lembaga sosial. Bahwa ada sebagian orang yang tidak berorientasi nilai salary (upah) ketika ia mantap memilih profesinya. Ketika kebutuhan untuk mengaplikasikan diri jauh lebih tinggi dari kebutuhan dasar dan status sosial, dan disaat kesadaran penuh keyakinan bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan berarti profesi lain tak bermanfaat untuk orang lain, karena ini sama halnya dengan mementahkan peran masyarakat luas untuk mendukung lembaga sosial/kemanusiaan. Tetapi para pekerja sosial ini, ingin menjadi orang yang bersentuhan langsung dengan para penerima manfaat, menyampaikan salam cinta dari para donatur yang menaruh kepercayaan ditangannya kepada orang-orang yang berhak dan tepat. Yang tak kalah pentingnya, ada kenikmatan yang takkan tergantikan saat melihat senyum para penerima manfaat. Meski tangan pekerja sosial hanyalah kepanjangan tangan dari para donatur, namun ada sebuah kebahagiaan yang tak sebanding dengan berapa pun bayarannya ketika mendengar ungkapan, "terima kasih, sampaikan salam kami untuk para dermawan".

Tantangan terbesar yang selalu dicari oleh para pekerja sosial dan secara tidak langsung oleh lembaga tempatnya berkiprah adalah mendapat kepercayaan dan dukungan. Sungguh, keduanya menjadi tolok ukur terpenting yang memberi kepuasan, sekaligus menjadi tantangan berikutnya, yakni menjaga kepercayaan dengan tetap amanah dalam menjalankan programnya. Ada yang bilang, dibutuhkan orang-orang `aneh`, `gila` dan bermental baja untuk bekerja di lembaga sosial. Ini ada benarnya, karena memang tidak mudah dan tidak semua orang mau serta mampu menjadi pekerja sosial.

Bayu Gawtama
Seorang pekerja sosial dari lembaga kemanusiaan ACT-Aksi Cepat Tanggap

Tuesday, August 29, 2006

Ramadhan Sebentar Lagi. Sudah Siap?

Atmosfernya sudah terasa. Bulan suci itu semakin dekat hadirnya, sumringah terlihat di wajah-wajah mukmin yang hampir setahun sudah menantinya. Di beberapa ruas jalan, spanduk-spanduk menyambut kedatangan tamu agung ini sudah terpasang, "Marhaban ya Ramadhan, bulan berkah penuh maghfirah" atau kalimat yang lumayan singkat namun menyentak, "Ramadhan sebentar lagi, sudah siap?"

Ya. Sudah siapkah kita menghadapi kehadiran tamu agung itu? meski sebagian orang masih bertanya, apa saja yang perlu dipersiapkan? bahkan sebagian lain menganggap bulan suci Ramadhan tak bedanya dengan bulan-bulan lainnya, selain jam makan saja yang berubah. Sementara sebagian lainnya, mereka yang mulai tersenyum seraya menitikkan air mata berharap hari-hari ke depan masih menjadi miliknya, agar kembali berjumpa dengan keberkahan Ramadhan.

Benarkah kita telah siap? Apa saja yang sudah kita siapkan? seberapa banyak bekal sudah dikumpulkan untuk Ramadhan? Jangan-jangan belum satu hal pun tersiapkan menjelang hari-hari kedatangan bulan mulia ini. Padahal, kedatangan bulan Ramadhan akan membawa selangit keberkahan kepada siapa saja yang menantinya, menyertakan segunung karunia untuk semua yang merindukannya, dan menjinjing selautan ampunan bagi hamba yang mengharapkannya. Maka, sudah siapkah kita dihujani keberkahan, karunia, ampunan dan segala kemuliaan tertinggi yang tak datang di sebelas bulan lainnya itu?

Kalau saja berbagai stasiun televisi sudah mulai menayangkan beberapa acara ramadhan, dan bertumpuk paket ramadhan lainnya siap diluncurkan menjelang datangnya bulan suci, lantaran mereka sudah memersiapkannya jauh-jauh hari. Itu karena para pengelola stasiun televisi tahu betul, bulan ramadhan membawa banyak berkah juga untuk mereka. Dan tak satu pun dari mereka yang menyia-nyiakan kesempatan emas yang belum tentu dialami di tahun yang akan datang. Begitu juga dengan media-media lainnya, tak pernah ketinggalan menggarap berbagai paket Ramadhan. Jelas karena semua tahu, hadiah, keberkahan, kenikmatan, dan keindahan Ramadhan takkan pernah habis oleh seberapa banyak pun yang memperebutkannya.

Bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita hanya bersiap-siap menjadi penikmat tayangan Ramadhan itu. Karena semestinya setiap mukmin memiliki agenda masing-masing. Jangan kalah semangat untuk berebut keberkahan Ramadhan, jangan lemah bersaing untuk meraih nikmatnya, dan jangan pernah menyerah merengkuh ampunan yang disedikan Allah di bulan suci ini. Sebab, belum tentu kita bertemu Ramadhan di tahun yang akan datang.

Siapkanlah diri, fisik, hati, mental, pikiran kita untuk menyambut bulan Ramadhan. Siapkan segalanya untuk meraih predikat terbaik dari milyaran hamba Allah yang digembleng, kemudian keluar sebagai pribadi unggul yang mengagumkan. Apa yang sudah kita siapkan hari ini? padahal ianya datang tinggal beberapa hari saja, tanyakan pada diri sendiri... (Gaw)

Friday, August 25, 2006

Jeruk Busuk Rasa Manis

Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, "Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?"

Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, "Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?" suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. "Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa," kata si Ayah kepada keluarganya.

Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, "Jeruk asam begini kok dibawa..."

Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.

Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

Bayu Gawtama