Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Sunday, July 18, 2010

ACT Road to Palestine; Jaga Keikhlasan, Pesan Pak Dubes (bag 6)

Hari ke empat di Kairo, Ahad, 11 Juli 2010, tim ACT kembali dijadwalkan untuk bertemu secara resmi dengan Duta Besar RI untuk Mesir, Abdurrahman Muhammad Fahir, setelah pertemuan sebelumnya yang kurang resmi di acara aqiqah putra salah satu staf KBRI Kairo di Masjid Indonesia Kairo hari Jum’at (9/7) lalu. Pukul 15.00 waktu Kairo kami tiba di KBRI dan dipersilahkan menunggu karena Dubes masih menghadiri acara yang lain.

Tak lebih dari setengah jam kemudian, kami dipersilahkan untuk bertemu dengan Dubes di ruang tamunya. Satu ruangan yang cukup bersahaja dan sederhana, sesederhana orangnya. Setidaknya kesan sederhana inilah yang pertama kami tangkap dari Dubes RI sejak pertemuan pertama. Pada kesempatan kedua kali ini, ternyata tidak berubah kesederhanannya meskipun ia harus menggunakan pakaian standar kenegaraan pada umumnya, jas dan dasi. Mengutip komentar Pak Burhanuddin Badruzzaman, Minister Counsellor KBRI di Kairo, “Memang beda rasanya kalau Pak Dubesnya itu Kyai”.

Hanya perlu menunggu dua menit, ‘Pak Kyai’ pun datang dan menyalami tim ACT. Ia mengaku selalu bangga dan kagum kepada tiim kemanusiaan, apapun namanya, yang berasal dari tanah air. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang peduli, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang peduli. “Jelas saya kagum terhadap orang-orang seperti Anda,” ujarnya.

Kepada tim ACT, Dubes menyampaikan bahwa ia memahami betul tingginya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bangsa Palestina sehingga setiap saat bantuan terus mengalir baik melalui pemerintah maupun lembaga-lembaga kemanusiaan. Jadi sangat wajar jika berbagai lembaga kemanusiaan pun berdatangan ke Mesir untuk terus ke Gaza untuk menyampaikan bantuan tersebut. Oleh karena itu, kadang ketika satu lembaga tidak mampu mengirimkan bantuan langsung ke Gaza lantaran visanya belum keluar dari pemerintah Mesir, ia pun bisa memahami jika orang-orang dari lembaga atau elemen masyarakat itu kemudian ada yang bereaksi keras terhadap Kedutaan Besar Mesir di Jakarta. “Ya boleh jadi mereka juga merasa terdesak oleh kewajiban untuk menyampaikan bantuan itu secepat mungkin,” kata Dubes Abdurrahman.

Menurut Dubes, selalu ada ujian bagi tugas kemanusiaan kemanapun, terlebih ke Palestina. Salah satu ujian pertama adalah menjaga kesabaran perihal pengurusan visa di Jakarta. Kedubes Mesir di Jakarta, kata Dubes, adalah perwakilan pemerintahan resmi negara mereka di Indonesia. Jadi jika kita datang ke kedubes mereka layaknya datang ke negara mereka sendiri. Ada cara dan etika yang harus dijunjung tinggi masyarakat Indonesia ketika berada di Kedubes Mesir. “Saya sarankan sebelum mengajukan permohonan visa, sebaiknya elemen masyarakat bersilaturahim dulu ke Duta Besarnya, sampaikan siapa Anda dan lembaga Anda serta visi dan misinya. Saya yakin Duta Besar akan menerima dengan baik. Setelah ia kenal baik dengan Anda, saya kira akan lebih mudah baginya untuk memberikan izin masuk ke negaranya. Bahkan lebih dari sekadar masuk ke Mesir, mungkin Pak Dubes akan ikut memberi rekomendasi kepada Kemenlu disini agar tim Anda diberi izin masuk ke Gaza karena ia mengenal Anda dengan baik,” papar Dubes Abdurrahman seraya mencontohkan, boleh jadi izin yang didapat Parlemen Indonesia memasuki Gaza salah satunya dari pendekatan-pendekatan secara pribadi.

Dalam kesempatan itu, Dubes juga menyesalkan sikap-sikap reaktif dan negatif yang muncul dari sejumlah orang ketika visa dari Mesir belum diberikan. Ada yang menuduh Mesir tidak berpihak pada dunia Islam dan menjelek-jelekkan pemerintah Mesir sesukanya. Bahkan ada yang berani melempari Kedubes dengan bom molotov. Masing-masing negara punya budaya dan kebiasaan yang berbeda. Jika di Indonesia, jangankan bom molotov, bom yang sebenarnya rasanya sudah biasa. Tetapi bagi pemerintah Mesir, bom molotov itu penghinaan. Jangankan bom molotov, demonstrasi saja tidak lazim di Mesir. “Dengan sikap negatif seperti itu jangan harap visa didapat. Jadi sebaiknya tetap bersabar, kita bersikap baik Insya Allah pemerintah Mesir pun senang,” katanya.

Tidak ada salahnya, lanjut Dubes, dalam rangka menjaga hubungan baik dengan pemerintah Mesir kita senantiasa mengedepankan kebaikan-kebaikan dan hal positif dari sebuah negara. Seperti halnya Indonesia, negara lain seperti Mesir mungkin punya sisi negatif, namun pasti jauh lebih besar sisi positifnya. Sampaikan atau tuliskan hal-hal baik dan positif tentang suatu negara, pasti pemerintah itu menyukainya. “Contohnya kita, kota Jakarta banyak yang indah dan bagus, tapi kalau orang menyoroti dan mempublikasikan Jakarta dari sudut Sungai Ciliwung yang penuh sampah misalnya, pasti kita tidak suka kan?”

Pertemuan dengan Dubes Abdurrahman di ruang tamunya itu sebenarnya lebih mirip sebuah forum pengajian. Beliau banyak mengeluarkan nasihat dan kadang-kadang mengutip ayat al quran. Pak Badruzzaman memang benar, Dubes RI di Kairo ini memang seorang ulama. Nasihat-nasihatnya begitu dalam dan mengena. Selain tentang kesabaran, Dubes juga berpesan agar para relawan kemanusiaan ini senantiasa menjaga keikhlasan. Tidak ada jaminan sudah datang ke Mesir akan bisa masuk ke Gaza, ada yang sudah berminggu-minggu menunggu di Rafah namun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Namun ada yang baru tiba di Rafah, justru pada saat pintu Rafah dibuka. Hal seperti ini juga disampaikan Pak Badruzzaman usai pertemuan dengan Dubes. “Kalau ikhlas, ya kita akan terima semua ketentuan Allah. Jika tidak bisa masuk ya karena Allah belum menghendaki, begitu sebaliknya. Jadi tetap jaga keikhlasan dan luruskan niat, insya Allah keikhlasan ini juga membantu mempermudah perjalanan ke Gaza,” pesan Dubes.

Terima kasih buat Dubes Abdurrahman Muhammad Fahir, ‘sang Kyai’ dengan segala nasihatnya, terima kasih kepada Pak Burhan yang dengan sabar melayani tim ACT sampai harus meninggalkan pertemuan dengan para ilmuwan yang tengah berkumpul di KBRI, dan kepada seluruh staf KBRI yang sangat membantu dan memfasilitasi segala keperluan tim ACT. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan bapak-bapak semua. (gaw)

5 comments:

Yogi M said...

Artikel dan blognya bagus juga, komentar juga ya ke blog saya www.infonotesharian.blogspot.com

Anonymous said...

bang slaen buku BERHENTI SEJENAK,nte bikin buku lagi ga?
judulnya apa??

A. Jauhari said...

SALAM KENAL DARI ORANG LEBAKWANGI PARUNG ASLI LOH... LIAT DI BLOG SATUNYA LAGI MENCERITAKAN TENTANG LEBAKWANGI. Sy jg kebetulan lagi posting tentang itu. http://www.kampunglebakwangi.blogspot.com http://www.mtsnparungkabbogor.blogspot.com http://www.syahiranada.co.cc

ini blog yang sy sedang kutak katik
folow ya.. eh dimana mas buku tamunya

Yogi Marsahala said...

Kunjungi juga www.goocap.com untuk info2 menarik lainny, yaa...
Thanks sebelumnyaa

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)