Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, July 19, 2010

ACT Road to Palestine; Mesir yang Dermawan dan Mudah Memaafkan (bag 7)

Apa yang Ada di benak kebanyakan orang Indonesia bila disebut nama Mesir? Husni Mubarak, Sungai Nil, Piramid, Firaun, Mummi, Al Azhar, Padang Pasir, Terusan Suez dan Bukit Tursina adalah beberapa contoh nama yang sangat dekat dan terkait erat dengan nama negara Mesir, meski sebenarnya Mesir bukan hanya terkait dengan nama-nama tersebut. Jika pertanyaannya dikembangkan, apa yang langsung terpikir oleh orang Indonesia terkait antara Indonesia dan Mesir? Jawaban pertama mungkin soal sejarah, bahwa Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan bagi penggemar film tentu saja akan menyebut satu judul film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), sebagai hal terkait Indonesia dan Mesir.

Cuma itu? berarti banyak hal yang belum diketahui tentang Mesir dan hubungannya dengan Indonesia. Saya pun demikian, perjalanan ke Mesir ini tentu saja membuka mata saya lebih jauh tentang Mesir, meskipun baru beberapa hari saja berada di negara ini. Meski hanya seujung kuku hal baru yang saya ketahui tentang negara ini dan kaitannya dengan Indonesia, bolehlah dibagi-bagi pengetahuan sederhana ini.

Pertama, hal baru yang saya dapatkan misalnya, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Al Azhar, Kairo memiliki peran yang sangat besar dalam hal pengakuan kedaulatan Republik Indonesia paska proklamasi. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia sudah melakukan studi di Kairo sejak tahun 1920-an dan pada masa sebelum kemerdekaan mereka ikut melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pemerintah Mesir saat itu untuk memberi pengakuan kedaulatan. Selama ini, dalam berbagai pelajaran sejarah yang didapat, kita hanya tahu kulitnya saja bahwa Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, namun belum pernah ada penjelasan bagaimana proses yang terjadi sehingga pengakuan kedaulatan itu ada.

Kedua, hubungan persahabatan Indonesia dan Mesir secara resmi sudah berlangsung selama 63 tahun, meskipun dari beberapa fakta hubungan itu sudah berlangsung jauh sebelum tahun-tahun awal paska kemerdekaan Indonesia. Soekarno sebagai Presiden RI pertama sangat erat bersahabat dengan Gamal Abdel Nasser, sebagai pimpinan Mesir pada saat itu. Yang menarik, Soekarno begitu dikenal di negara ini tidak hanya pada masa orator ulung itu menjadi presiden, melainkan hingga saat ini. Penjelasan yang sangat menarik diceritakan Burhanuddin Badruzzaman, Minister Counsellor KBRI di Kairo. Ketika ia menyampaikan rencana acara peringatan 63 tahun persahabatan kedua negara kepada Direktur Opera House di Kairo –saya lupa namanya-, sang Direktur terkejut begitu melihat sampul depan buku persahabatan Indonesia Mesir yang bergambar Soekarno dan Gamal Abdel Nasser tengah menikmati indahnya pemandangan di tepi Sungai Nil. “Soekarno, Soekarno…” teriaknya, kemudian ia bercerita saat kecil, bahwa ia termasuk anak-anak yang berbaris di pinggir jalan Kota Kairo menyambut kedatangan Presiden Soekarno ke Kairo, dengan lambaian bendera merah putih.

Hal lain yang tak kalah menarik untuk diceritakan tentang Mesir adalah tentang kedermawanan negara ini yang sangat menginspirasi. Dubes RI di Kairo, Abdurrahman Muhammad Fahir bertanya retoris kepada tim ACT, “Anda tahu berapa mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir saat ini?” Saya pernah mendengar dari beberapa mahasiswa pengurus Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Kairo, jumlahnya sekitar 4000 hingga 5000 mahasiswa yang tersebar di beberapa kampus. Universitas Al Azhar merupakan kampus terbesar yang menampung berbagai mahasiswa dari dalam dan luar negeri. “Untuk mahasiswa Indonesia saja, dana yang dikeluarkan sekitar 2,3 miliar rupiah per tahun. Karena kuliah disini memang tidak dipungut biaya,” kata Dubes.

Itu baru untuk mahasiswa asal Indonesia, belum lagi dari negara lainnya seperti misalnya Malaysia yang disebut-sebut jumlah mahasiswanya yang kuliah di Al Azhar jauh lebih banyak dari Indonesia. Yang menarik dan cukup menggelitik disampaikan Dubes, justru karena gratisnya itulah tidak sedikit mahasiswa Indonesia telat lulusnya, persis seperti kisah Azzam di film KCB. “Kuliah di sini kan tidak seperti di Indonesia, di sini tidak pernah ada absen,” soal ini diakui oleh para mahasiswa di Mesir. Meskipun mereka berkilah, “banyak juga kok yang cerdas-cerdas dan lulusnya cepat, tepat waktu dan mendapat nilai baik sekali,” bela para mahasiswa.

Satu cerita ringan dan menarik, meski sudah lazim bagi siapapun yang tinggal di Mesir adalah orang-orang Indonesia disini dikenal ramah dan sopan. Namun cerita menariknya justru bukan dari orang Indonesianya, melainkan kebiasaan orang-orang Mesir. Salah satu karakter kebanyakan orang di Mesir adalah mudah memaafkan. Kalau di Jakarta orang berkendaraan baik motor terlebih mobil saling bersenggolan bisa menimbulkan keributan dan baku hantam. Lecet sedikit bisa langsung pukul, tidak cukup memaki-maki. Saling baku hantam itu nyaris akan tidak ditemukan di Mesir. Setiap hari saya temukan mobil saling bersenggolan, bahkan tabrakan di kota Kairo, namun tidak pernah sampai terjadi baku hantam antar pemilik kendaraan. Mereka memang turun dan ributnya cukup dimulut saja, setelah itu mereka saling cium pipi kanan dan kiri, selesai masalah. Tidak pernah berlanjut sampai tuntutan ganti rugi atau bahkan sampai ke pengadilan lazimnya di Indonesia.

Maka jangan aneh, sepanjang mata memandang ke seluruh penjuru kota dan jalan raya, baik yang sedang parkir atau melaju cepat, sulit menemukan mobil di Kairo dalam kondisi mulus tanpa lecet dan penyok di beberapa bagian bodi mobil. Mobil-mobil banyak yang mewah, namun boleh dipastikan tidak mulus seperti kebanyakan mobil di Jakarta yang selalu terawat setiap hari. Saya yang baru pertama kali ke Kairo sempat berpikir, buka usaha cuci steam mobil di Kairo bagus juga nampaknya, hmm. (Gaw)

5 comments:

eno said...

wuiihh..gitu toh! info yg menarik nih,

btw, view baru nih... lebih ngehitam..hehe

Ihsan Prawoto said...

nice posting backgroundny ko g enak di baca ya mas...salam kenal... :)

no limit adventre said...

kunjungan sob :)

Miftah said...

sungguh inspiratif, bikin ana tambah semangat nulis. ana salah satu mahasiswa Al-Azhar penggemar tulisan bapak. Nama ana Miftah, Salam kenal pak Gawtama, kalau ada waktu silahkan mampir ke rumah ana di miftahuna.malhikdua.com. mohon kritik dan sarannya.

Yogi Marsahala said...

Kesederhanaan adalah kunci dalam belajar dan menggali potensi diri, komentar juga ya ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com