Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Thursday, January 26, 2006

Usang Sudah Nyanyian Cinta

“Waktu ku kecil hidupku
amatlah senang
senang dipangku-dipangku dipeluknya
serta dicium-dicium dimanjanya
namanya kesayangan...”


Masihkah lagu itu dinyanyikan anak-anak sekarang? Jika pertanyaan itu diajukan ke setiap anak di seluruh pelosok negeri ini, saya yakin tidak sedikit anak-anak yang tak mampu menyanyikannya. Bukan karena mereka tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, atau tak pernah diajarkan oleh guru di taman kanak-kanak. Tapi lebih karena lagu tersebut selama ini hanya akan membuat batin mereka menjerit.

“Lagu itu hanya mimpi, yang menciptakan juga sedang bermimpi, apalagi yang menyanyikannya, pastilah para pemimpi”. Kalimat ini pantaslah diucapkan oleh Riska Rosdiana, gadis kecil yang mati mengenaskan di kamar tidurnya setelah berkali-kali diperkosa paman dan dipukuli ibu tirinya. Bolehlah juga dilontarkan oleh Indah Sari yang kini telah berbahagia di sisi Allah, setelah berhari-hari menahan pedihnya luka bakar perbuatan sang ibu. Tinggal Lintar Syahputra, sang adik yang masih tak mengerti mengapa ibu tega membakar dirinya.

Risman pun boleh sekeras-kerasnya berteriak demikian, agar kakek yang telah menganiayanya dengan siraman air panas dan sundutan rokok mendengar. Kakek Risman mungkin sudah lupa, ia dipercaya untuk menjaga cucunya, bukan justru mengurung Risman dalam kamar tanpa makan dan minum. Siti Ihtiatus Sholehah bukan satu-satunya yang pernah merasakan lempengan setrika dengan suhu di atas 100 derajat celcius. Adalah ayahnya sendiri yang membuat Siti meringis kepanasan dan kulitnya melepuh luka bakar.

Di tahun 80-an, kita pernah mendengar kisah memilukan Ari Hanggara. Bahkan karena penganiayaan anak terbilang langka pada saat itu, kasus Ari pun sempat dibuat filmnya. Jika semua kasus penganiayaan anak saat ini dianggap luar biasa, entah sudah berapa judul dan episode film yang harus dibuat. Atau bisa jadi, sutradara dan penulis skenario pun akan kesulitan untuk lebih dulu menulis kasus yang mana. Mungkin juga dibutuhkan ribuan anak untuk melakukan casting sebagai pemeran anak-anak malang itu. Ah, jangan-jangan film-film itu takkan pernah selesai dibuat. Sebab belum selesai satu skenario ditulis, sudah ada puluhan kasus lain yang terjadi.

Akankah suatu saat penganiayaan anak menjadi sesuatu yang biasa di negeri ini? Sehingga anak-anak tak lagi mengerti kenapa mereka harus dilahirkan jika hanya untuk disakiti. Mulut-mulut kecil mereka takkan lagi mampu menyanyikan lagu cinta yang selama ini mereka dengar dan atau diajarkan guru di taman kanak-kanak. Haruskah mereka bernyanyi, “pok ame-ame/ belalang kupu-kupu/ siang dipukuli/ kalau malam disundut rokok/...”

Begitu banyak anak-anak yang tak lagi mendapat kasih sayang selayaknya anak-anak lain. Cinta dan kasih sayang adalah hak mereka, dan kewajiban orang tualah memenuhinya. Mereka butuh belaian, bukan pukulan. Butuh sentuhan, bukan cubitan melintir atau sundutan rokok. Butuh kata-kata manis, bukan makian dan bentakan lengkap dengan kata kasar. Butuh kecupan, bukan tempelengan. Butuh arahan, bukan tendangan yang menyakitkan.

Anak-anak memerlukan seorang ibu, bukan penjahat tak berperasaan yang terus menerus membuat mereka menderita. Anak-anak butuh seorang ayah, bukan gladiator yang akan membunuhnya. Mereka juga membutuhkan lingkungan dan saudara-saudara yang baik dan penuh kasih, bukan para perampok kebebasan.

Telinga mereka yang teramat lembut itu untuk mendengar ungkapan sayang, bukan makian kasar. Mata indahnya semestinya mendapatkan tatapan teduh ayah dan bunda. Kulit halus punya mereka itu untuk mendapat sentuhan lembut, bukan untuk dilukai. Rambut tipis terurainya untuk dibelai, tak untuk dijambak. Dan mereka butuh pelukan untuk menghangatkan tubuh kecilnya, bukan air mendidih atau api menyala-nyala.

Bermimpikah mereka untuk bisa disisiri setiap pagi oleh sang ibu? Salahkah mereka berharap ayah memangku dan mendongengkan cerita indah setiap malam? Atau bermimpi pun mereka tak boleh?

“Satu-satu, aku sayang ibu
dua-dua, juga sayang ayah
tiga-tiga, sayang adik kakak
satu-dua-tiga, sayang semuanya...”


Haruskah mereka menyanyikannya?

Bayu Gawtama

Wednesday, January 25, 2006

Dicintai Anak Yatim

"Kalau Ibu sudah nggak ada, tetap santuni anak yatim ya". Kalimat tersebut terucap belasan tahun lalu dari bibir tipis nan berkerut nenek saya kepada ibu. Wajar bila nenek berpesan demikian, sebab terhitung sejak tahun 1970an bersama sang suami ia rajin menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Setidaknya, setiap tahun di bulan Muharam acara santunan anak yatim digelar di rumahnya.

Ketika kakek meninggal tahun 1984, ratusan pasang mata anak yatim menangis. Saya yakin mereka mencintai kakek dan khawatir kehilangan orang yang selama ini menyantuninya. Ternyata kekhawatiran mereka tak berlangsung lama, karena nenek berjanji untuk tetap melanjutkan tradisi keluarga itu. Sayangnya, sejak seluruh keluarga nenek pindah dari Jakarta ke Tangerang, entah siapa yang melanjutkan menyantuni anak-anak yatim di Jakarta itu. Nenek tetap menyantuni anak yatim, tentu anak-anak yatim di Tangerang, di sekitar rumahnya.

Puluhan pasang mata anak yatim pun menangis sedih saat nenek meninggal di tahun 1998. Sebelumnya, nenek berpesan kepada semua anak-anaknya agar tetap menyantuni anak yatim. “Jika kita tak punya uang, ajak orang lain untuk menyantuni anak yatim. Dicintai anak yatim itu salah satu kunci pintu surga,” salah satu pesan terakhirnya. Tentu saja, tak satupun anak-anak nenek berani mengabaikan pesan tersebut. Dan hingga kini, tradisi ini masih terus berlangsung meski kami sering tak tahu harus mendapat bantuan dari mana untuk menyantuni anak-anak yatim, janda tua dan kaum dhuafa di sekitar rumah.

Tahun lalu, menjelang bulan Muharram tiba, biasanya ibu mulai direpotkan dengan meminta anak-anaknya membuat proposal permohonan bantuan. Semakin dekat bulan Muharram ibu semakin panik, terlebih jika belum satu pun permohonan mendapat jawaban. Saya tahu persis kekhawatiran ibu, ia tak ingin malu kepada anak-anak yatim dan janda tua itu jika mereka datang ke rumah dan tak mendapatkan apa pun. Karena tanpa diundang pun, mereka sudah tahu jadwal pemberian santunan itu, yakni tepat tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. “Ibu tak ingin membuat mereka kecewa. Biar sedikit yang penting tetap ada,” harapnya.

Muharram tahun ini sudah tiba. Seperti biasa, ibu pun tetap sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Memang tidak pernah ada seremoni dan adegan foto pemberian santunan. Anak-anak yatim itu hanya datang untuk mengambil “haknya”, sudah itu pulang. Namun ibu masih terlihat resah, belum banyak bantuan yang didapatnya untuk membeli sembako dan sedikit untuk mengisi amplop kosong. Semua anak-anak ibu sudah membantu, bahkan membawa proposal permohonan bantuan itu ke kantor masing-masing.

Dalam keresahannya itu, ibu berujar, “Cuma satu keinginan ibu, yakni dicintai anak-anak yatim. Ibu ingin saat meninggal nanti ada anak-anak yatim yang menangis. Itu berarti mereka mencintai ibu”. Dan sambil menghitung dana yang ada ia pun berpesan persis seperti dulu nenek berpesan kepadanya, “Jangan putus amal keluarga, tetap santuni anak yatim”.

Saya bisa menangkap kekhawatiran ibu dalam dua hal. Pertama, ibu khawatir tahun ini tidak banyak bantuan yang didapat, sehingga tidak banyak pula yang bisa diberikan kepada anak-anak yatim. Kedua, nampaknya ibu pun khawatir anak-anaknya tak melanjutkan tradisi ini. Ah ibu, doakan anakmu ini diberikan rezeki yang cukup, agar ada yang terbagi untuk mereka. Tentu saya juga punya keinginan yang sama, mendapatkan salah satu kunci surga karena dicintai anak yatim.

Bayu Gawtama

Tuesday, January 24, 2006

Bersihkan Mushola Berhadiah Gratis Sekolah

Jangan kaget atau heran, kalau suatu hari Anda melihat seorang gadis belia tengah membersihkan mushola di kawasan Depok, Jawa Barat. Anda hanya perlu mendekat dan tanyakan kepadanya perihal yang dikerjakannya. "Saya membersihkan mushola agar bisa gratis sekolah," ujar Rani tanpa malu-malu.

Ya, Rani memang tak pernah malu untuk mengerjakan hal itu. Baginya, membersihkan mushola adalah pekerjaan mulia. Selain, Insya Allah, mendapatkan pahala, Rani juga mendapatkan apa yang selama ini menjadi rintangan terbesar dirinya untuk mengenyam pendidikan. Dengan pekerjaan itulah Rani mendapatkan imbalan yang membuatnya sering bersyukur, ia dibebaskan dari kewajiban membayar uang sekolah. Karena mushola tersebut adalah mushola milik sekolah tempat ia belajar.

Rani, 16 tahun, gadis kecil yang mampu menyingkirkan rasa malunya dari teman-teman sekolahnya lantaran menjadi pembersih mushola sekolah. Berbeda dengan teman-temannya yang masih mendapat sokongan dari orangtuanya baik uang sekolah maupun uang saku untuk jajan, Rani tak pernah mencicipinya. Rani sadar betul, orangtuanya tergolong tak mampu, maka untuk tetap bersekolah, ia harus melakukan sesuatu. Awalnya Rani tak tahu, sampai akhirnya pihak sekolah menawarkan satu pekerjaan dengan imbalan gratis biaya sekolah. Jadilah Rani sang pembersih mushola. Dan ia senang melakukannya.

Jangan pernah tanya berapa uang saku Rani untuk jajan di sekolah. Karena untuk ongkos pulang pergi ke sekolah yang berjarak 5 km dari rumahnya pun Rani tak punya. Ia harus berangkat lebih awal agar tak terlambat berjalan kaki ke sekolahnya. Alhasil, tidak jarang pakaian seragamnya basah oleh peluh setibanya di sekolah. Pulang ke rumah pun demikian. Setelah membersihkan mushola, ia kembali ke rumah tetap dengan berjalan kaki.

Rani tak pernah bersedih, apalagi menyesali nasibnya. Ia merasa harus tetap berjuang. Mungkin Rani tak pernah tahu, bahwa jalan yang tengah ditempuhnya kini adalah jalan yang pernah dilalui orang-orang sukses terdahulu. Tak pernah ada orang sukses tanpa mengarungi derasnya ombak kehidupan, dan tak satupun orang meraih sukses tanpa peluh.

Kelak, jika Rani menuai kesuksesannya. Pastilah sulit baginya melupakan terminal-terminal perjalanan hidupnya. Mushola dan sepanjang jalan menuju sekolahnya, juga baju seragam yang sering bersimbah peluh itu, akan senantiasa menjadi kenangan terindah yang tak mungkin terhapus.

Bayu Gawtama