Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Thursday, November 13, 2008

Kopi Susu Singkong Keju

Bukan lantaran pagi ini saya menikmati singkong goreng yang masih panas mengepul sambil menyeruput kopi susu panas, kemudian tulisan ini berjudul seperti tertera di atas. Kopi susu sudah menjadi rutinitas pagi sebelum beraktifitas, seraya menyaksikan beragam berita pagi yang disajikan beberapa stasiun televisi.

Sejak dulu orang sudah mengenal kopi. Penikmati kopi sejati tahu persis jenis kopi paling enak di jagad raya, meski setiap orang dari berbagai daerah punya selera masing-masing. Kopi Jawa dianggap lebih lembut dari kopi Sumatera. Bahkan kopi Sumatera pun masih berbeda-beda rasanya, mulai dari Lampung sampai Aceh.

Cara meracik dan meminum kopi pun berbeda-beda, ada kopi tarik di Aceh karena cara meraciknya dengan cara ditarik seduhan kopinya ke atas menggunakan saringan dan dituangkan ke cangkir langsung dari saringan yang sudah ditarik ke atas. Di Blora, tepatnya di Cepu ada kopi kotok, entah kenapa namanya demikian, tetapi cara meraciknya lumayan menarik. Bubuk kopi, gula dan air direbus sama-sama di atas tungku sampai mendidih, baru kemudian dituangkan ke cangkir.

Kopi berwarna hitam dengan rasa dan aroma yang khas, cita rasa pahitnya sangat digemari berbagai kalangan, laki-laki dan perempuan. Begitu pula dengan susu, sebelum ada susu coklat, minuman ini identik dengan warna putih.

Hitam dan putih adalah dua kutub warna yang berseberangan, kerap dijadikan perumpamaan kebenaran dan kebatilan. Kasihan sekali si hitam yang selalu dianggap salah, padahal si putih tidak selalu benar. Iklan-iklan di televisi pun sering ikut-ikutan tidak adil merefleksikan kecantikan dengan kulit putih. Terlebih kita tidak pernah mendengar istilah “kambing putih” karena yang ada hanya “kambing hitam”.

Entah kapan orang pertama kali mencampur kopi dengan susu, sebab dahulu kopi dan susu ibarat minyak dan air, sesuatu yang tabu dicampur. Kopi ya kopi, berwarna hitam. Susu juga susu saja, putih warnanya. Namun setelah dicampur aduk antara keduanya, tersajilah sebuah minuman yang tak kalah nikmatnya, kopi susu. Orang yang sebelumnya tidak suka susu, tapi kalau dicampur dengan kopi jadi suka susu. Sebaliknya pun begitu, yang sebelumnya tak minum kopi, jadi minum kopi setelah dipadu dengan susu. Sekali seruput dua rasa ternikmati, cita rasa bubuk kopi pahit, berpadu di lidah bersama manisnya susu yang semriwing.

Mengisi pagi dengan seruputan kopi susu belum lengkap jika tidak disertai camilan. Ada pilihan menarik, kalau orang betawi di masa lalu pilihannya ada dua, roti dan singkong. Roti isi keju salah satu favorit camilan untuk menemani kopi, ini bagi yang mampu. Bagi sebagian yang lain, pilihannya cuma ‘roti sumbu’ alias singkong.

Maka jadilah singkong dan keju ibarat langit dan bumi untuk menggambarkan si miskin dan si kaya, anak gedongan dengan anak kolong jembatan, orang mampu dengan orang yang baru bisa mimpi. Kalau bisa makan keju serasa tuan tanah, sementara yang lain cukup makan buah tanah, ya singkong itu.

Tetapi kreativitas orang-orang di negeri ini membuat jarak langit dan bumi itu menjadi rapat. Kemudian ada makanan nikmat yang disebut singkong keju, dinikmati berbagai lapisan masyarakat, tua dan muda, tak pandang status sosial. Yang sebelumnya ‘alergi’ dan merasa bukan kelasnya makan singkong, ikut menikmati. Begitu juga yang sebelumnya rasa keju masih aneh di lidah, karena niatnya makan singkong, ya lahap juga.

Sekarang bayangkan, pagi hari menonton berita Barrack Obama menjadi Presiden terpilih Amerika Serikat, atau sambil membaca koran dengan tema yang nyaris tak ada bedanya, tidak akan senikmat menyeruput kopi susu panas ditemani singkong keju yang hangat. Hmm…

Minum kopi saja sudah enak, tapi dicampur susu pun tak kalah nikmatnya. Singkong digoreng empuk hanya berbumbu garam saja sudah lezat, ditaburi keju di atasnya pasti bikin ketagihan.

Begitulah hidup, bagi sebagian orang mungkin hidup sendiri sudah merasa cukup. Tapi hidup berdampingan, akur dan bersabahat dengan tetangga dari berbagai daerah dan latar belakang, jauh lebih indah. Mengandalkan kekuatan sendiri, mungkin sudah mampu. Namun bersinergi dengan kekuatan yang dimiliki orang lain, bayangkan betapa mudahnya hidup ini. Segala yang berat terasa ringan dikerjakan bersama-sama, semua yang tidak mungkin tercapai, tiba-tiba terasa mudah terwujud.

Ada yang tidak suka kopi susu dan singkong keju? Masih ada pilihan lain kok, bisa kopi coklat, mocca atau singkong coklat… (gaw)

Isteri Simpanan

Seandainya judul tulisan ini "Simpanan Isteri", entah apakah ada yang tertarik untuk membacanya atau tidak. Kalau pun ada, seyakinnya saya tidak akan sebanyak jika judulnya tetap seperti tertera di atas. Mungkin tidak banyak yang tertarik untuk meng-klik judul di atas untuk kemudian membacanya.

Meski dua kata yang dipakai sama, namun hanya sekadar membalikkan urutannya artinya sangat jauh berbeda. “Simpanan isteri” sangat tidak menarik, orang hanya akan berpikir sebentar dan memahaminya sebatas, “ooh, mungkin maksudnya tabungan, perhiasan atau barang berharga lainnya yang disimpan oleh sang isteri”. Tapi kalau “Isteri simpanan”, wah ini jelas lebih menarik, mengguncang stabilitas rukun tetangga, rukun warga, hingga kelurahan.

Simpan berarti meletakkan sesuatu di tempat yang rapih dan aman. Dengan akhiran ‘an’ di belakang kata tersebut, bermakna sesuatu yang diletakkan oleh seseorang secara rapih dan aman. Jadi, isteri simpanan berarti isteri yang diletakkan –ditempatkan- di satu lokasi yang rapih dan aman. Aman dari siapa? Tentunya aman dari penglihatan dan penciuman isteri pertama.

Di suatu kampung, terdengar desas-desus bahwa perempuan Y ternyata simpanan seorang pejabat di Jakarta. Pantas saja rumahnya besar, mobilnya bagus, pakaiannya bermerk, telepon selularnya sering gonta-ganti, padahal ia tidak bekerja, bukan pengusaha ataupun selebritis. Ini baru gosip, tapi secepat kilat menyebar seantero kampung. Si Y pun langsung menjadi buah bibir ibu-ibu –juga bapak-bapak- sekampung.

Di kampung lain terjadi kehebohan, seorang pria setengah baya yang belum lama menceraikan isterinya yang dianggap sudah tidak menarik, tak berapa lama terlihat sudah menikah lagi dengan isteri muda yang lebih cantik, singset, ranum dan segar. Ketika ditanya tetangganya, dengan enteng dia menjawab, “tukar tambah”.

Meledaklah seisi kampung, dari mulut ke mulut tema yang dibicarakan cuma satu, “isteri kok tukar tambah, memangnya motor!” Tidak peduli lagi apakah istilah “tukar tambah” yang keluar dari mulut pria itu sekadar gurauan atau basa-basi. Yang pasti soal tukar tambah isteri sudah menjalar bahkan memancing pria-pria lain untuk bertanya, “Dimana toko yang jual isteri macam punya situ? Pesan satu dong… ”

Lain lagi di kampung yang tak jauh dari kampung tadi, seorang janda muda diduga sering menginapkan lelaki yang bukan suaminya di rumahnya. Ibu-ibu, juga bapak-bapak ribut mencari tahu kebenaran berita tersebut, tapi hanya dari sumber-sumber yang tidak jelas. Tidak berani langsung dari sumber aslinya. Ini baru dugaan, isu yang belum dapat dibuktikan. Tapi beritanya sudah meluberi kampung, menutupi kenyataan sebenarnya bahwa lelaki yang sering menginap itu adalah adik kandung janda itu yang sangat perhatian terhadap kakak perempuannya.

Gosip, isu, sak wasangka, kabar burung, atau apapun istilahnya yang berkonotasi “katanya-katanya”, sangat cepat berhembus dari satu pintu ke pintu rumah kita. Dari mulut ke mulut seperti tanpa batas, tanpa filter terserap begitu saja. Tidak ada check dan re-check (tabayyun) alias konfirmasi langsung kepada yang bersangkutan, layaknya seorang wartawan senior di medan perang, bersemangat sekali kita menyampaikannya kepada khalayak pendengar sekampung.

Beda ceritanya kalau berita yang terdengar merupakan prestasi, keberhasilan, kesuksesan seorang warga. Misalnya ada yang naik pangkat, juara kelas, terpilih sebagai ibu teladan, diterima sebagai pegawai negeri sipil, atau berbagai prestasi lainnya. Bukan hanya segelintir orang saja yang tahu, karena tema kebaikan dan hal-hal positif di lingkungan warga itu memang tidak menarik untuk dibicarakan.

Kalau pun ada yang membicarakan, ujung-ujungnya negatif. “jelas saja naik pangkat, dia kan sahabat dekat direkturnya” atau “kalau bukan nyontek sewaktu ujian, mana mungkin dia bisa juara kelas” dan “pasti nyogok, kalau tidak, bagaimana dia bisa jadi pegawai negeri”.

Entah kenapa, ada kecenderungan hati dan pikiran masyarakat kita senang terhadap hal-hal yang tak menyenangkan bagi orang lain namun menyenangkan untuk dibicarakan. Energi untuk mengetahui atau mencari tahu keburukan orang lain sangat besar. Sebaliknya, kesenangan, kebahagiaan orang lain kerap disikapi sinis, dengki dan iri hati. Kita tidak senang jika orang lain senang, dan kalau orang lain susah, itulah kebahagiaan kita.

Coba jujur, di lingkungan tempat tinggal kita masing-masing, lebih banyak mana yang beredar, berita negatif berbumbu gosip, isu, kabar burung dan prasangka, atau kepastian tentang prestasi seseorang? Atau mungkin karena telinga kita sudah biasa terpasang lebar untuk kabar-kabar beroma “kata si anu”. Boleh jadi karena kita terlalu banyak menonton acara gosip bertajuk infotainment di televisi.

Sekarang jawab, lebih tertarik mana judul “Isteri Simpanan” atau “Simpanan Isteri”? (gaw)

Ustadz Harus Ganteng?

Ada ustadz bagus, mumpuni, sarat ilmu, dilengkapi dengan teknik penyampaian yang memikat. Sayangnya, sang ustadz dianggap memiliki kekurangan, tampangnya tidak menarik alias tidak bisa dibilang tampan. “gesture-nya nggak pas, kurang menjual,” ujar seorang produser televisi.

Setelah hunting kesana kemari, mencari informasi dari berbagai sumber, didapatlah seorang ustadz yang diinginkan. Sarat pertama, tampan alias ganteng. Wajah bersih, menarik, good looking, dan yang paling utama; menjual! Sedangkan sarat lainnya, soal kapasitas keilmuan, bobot materi, bahkan integritas kepribadian, bisa jadi nomor sekian.

Materi bisa saja ada yang menuliskan, kepasitas keilmuan bisa sambil jalan, integritas kepribadian bisa dikamuflase dengan wajah rupawan dan keahlian retorika yang memikat. Maka jadilah sosok ustadz atau ustadzah hasil sulapan, yang ditampilkan demi meraup keuntungan melalui mekanisme rating dan selera pasar, sekaligus keinginan pihak sponsor.

Ustadz dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya cepat meroket, melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara infotainment yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis kita. Dan lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang ustadz dan ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya jadi trendsetter, banyak para jamaah yang berupaya mengikuti semua gaya dan penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab sampai sepatu.

Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas keustadz-annya. Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut, jamaah atau bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi yang berada di belakang ustadz itu.

Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah ini, diundang ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia, sampai ke luar negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan agar tambah ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut menyentuh tangannya untuk diciumi tidak peduli ustadznya masih muda, sedangkan yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya sudah membungkuk.

Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok. Bahkan pada saatnya, sang ustadz melalui managernya boleh mengajukan tarif tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama sekali. Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan.

Gigit jarilah para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa dan di berbagai pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup menyediakan uang transport dan akomodasi yang memadai saat harus mengundang ustadz kondang ini berceramah di masjidnya. Sebab, kelas ustadz ini memang bukan lagi di masjid-masjid kecil, di kampung-kampung becek, melainkan di masjid besar, dan hotel.

Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya, ustadz kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu tiket pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun seringkali yang disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi lebih bagus dari ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya, juga integritas kepribadiannya. Sayangnya, jamaah kita sudah silau oleh ketenaran sang ustadz kota.

Ketika seorang teman bertanya, “Ssst… hati-hati bicara seperti itu. Memangnya siapa ustadz yang Anda maksud?”

Belum ada sih, ini hanya kekhawatiran saya saja. Makanya saya sering titip pesan kepada para ustadz-ustadz muda yang ganteng, bobot ilmunya bagus dan integritas kepribadiannya tidak diragukan, “Ustadz, jangan mau ditawarin masuk tv ya, saya khawatir ustadz jadi susah ditemui. Nanti saya kalau mau konsultasi atau tanya soal agama harus lewat manager ustadz…”

Kalau ustadz yang lain, yang kualitasnya keilmuannya sama baiknya, punya integritas kepribadian yang juga menarik, namun secara fisik tak bakal dilirik stasiun televisi, saya cukup tersenyum dengan ungkapannya, “kalau semua ceramah di tv, terus yang ceramah di masjid-masjid kampung siapa?”

Ustadz oh ustadz, nggak harus ganteng kok jadi ustadz. (gaw)

http://warnaislam.com