Suatu pagi, sebuah stasiun tv menayangkan berita penangkapan seorang pengedar narkoba di rumahnya. Penangkapan dilakukan aparat kepolisian di depan anak dan isteri si pelaku. Histeria pun terjadi, dua anaknya menangis berteriak-teriak berharap ayahnya tak ditangkap. Sedangkan isterinya terlihat shock, tak bisa berkata-kata.
Masih di program acara yang sama, juga di stasiun tv yang sama, seorang wanita paruh baya digelandang ke kantor polisi dengan tuduhan menipu sekitar ratusan orang dengan modus arisan. Ratusan orang yang merasa tertipu dan mengalami kerugian masing-masing satu hingga puluhan juta itu tak merasa iba dan bahkan berharap polisi segera menjebloskannya ke dalam sel. Sedangkan suami wanita itu, menutupi wajahnya lantaran malu. Empat anaknya yang sudah besar-besar pun menghindari kamera tv dan memilih tak berkomentar.
Nyaris setiap hari bisa kita saksikan berita semacam itu, kekeliruan yang dilakukan salah satu anggota keluarga, boleh jadi si Ayah, ibu, atau anak-anak, tidak hanya berdampak resiko buat si pelaku saja, melainkan keluarga mereka. Contoh pengedar narkoba tadi, awalnya anak-anak menangis karena tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tetapi, hari-hari berikutnya tangis itu masih berlanjut bukan karena kehilangan figur teladan, melainkan kekecewaan yang teramat mendalam terhadap sosok yang selama ini selalu terlihat baik itu.
Tangis pun terus berlanjut, ketika di sekolah mereka pun dicemooh teman-temannya yang melihat wajah Ayah yang dicintainya berkali-kali ditayangkan di berbagai stasiun tv atau terpampang di koran. Mereka malu, kecewa, dan marah kepada Ayahnya. Begitu pun dengan isterinya, ia akan malu keluar rumah, tak tahan dengan ratusan pasang mata yang terus memandanginya. Sesekali telinganya menangkap bisikan, “itu lho… suaminya kan kemarin ditangkap polisi karena jadi pengedar”.
Tak berbeda kondisi yang terjadi dengan keluarga ibu yang dituduh menipu ratusan orang itu. Suaminya tak pernah menyangka apa yang dilakukan isterinya, begitupun anak-anaknya. Sebuah keputusan pun harus diambil, mau tak mau keluarga itu harus pindah rumah setelah sekian puluh tahun mengukir kenangan bersama rumah itu.
Sungguh, kita tak pernah sendiri melangkah. Ada kaki isteri, suami, anak-anak dan ratusan anggota keluarga lainnya yang mengiringi langkah ini. Ada harapan yang menyertai setiap ayunan langkah, yang kesemuanya berupa kebaikan. Lurus dan baik langkah ini, tersenyumlah mereka. Namun sebaliknya, tangis kecewa pun tak terbendung saat diri salah melangkah.
***
Satu pagi, saat kedua puteri saya meminta saya mengantarnya ke sekolah, saya sedang tak berpakaian dan hanya bercelana pendek. “Ayo Abi antar, begini saja ya…” ujar saya berseloroh.
Serempak mereka berteriak, “Nggaaaaaaaaaaaaaaakk…”
“Memangnya kenapa?” tanya saya.
“Malu tau… memangnya Abi nggak malu? Teteh sama dede sih malu dan mendingan nggak diantar Abi ke sekolah…”
Hmm… saya semakin yakin, bahwa orang-orang tercinta di lingkungan keluarga senantiasa berharap yang terbaik dari kita dan tak ingin kecewa atau malu. Doa pun terpanjat, semoga Allah senantiasa menyertai langkah ini agar tak salah arah.
Gaw
“ya Allah, jangan biarkan hamba kembali berbuat salah”
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Monday, September 01, 2008
Thursday, August 14, 2008
Memaksa Allah di Pondok Indah
Minggu tengah malam, telepon seluler saya berdering, suara isak tangis sesegukan di seberang telepon, “Bang, tolongin Ade bang… Ade nabrak orang bang, buruan kesini bang…” saya masih setengah sadar mendapat telepon itu. Suara si bungsu, adik perempuan saya terdengar sangat parau dan mudah terbaca hatinya sangat kacau.
Rupanya, minggu malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, ia dan suaminya beserta ibu tengah menuju Jakarta sepulang kondangan di Ciamis. Di daerah Cileunyi, beberapa kilometer sebelum masuk tol, menabrak seorang wanita yang menyeberang jalan. Kondisi wanita itu kritis dan dalam keadaan koma.
Saya mencoba menenangkan hatinya, “Besok pagi-pagi Abang langsung ke Bandung,” itu saja janji saya.
Senin pagi saya langsung menghubungi sebuah agen shuttle bus untuk memesan seat ke Bandung. Rupanya Allah belum mengizinkan saya lebih awal ke Bandung, karena baru dapat seat pukul 14.30 WIB. Usai dzuhur langsung memacu motor ke arah Bendi Raya, Tanah Kusir, untuk menitipkan motor dan minta diantar seorang teman.
Dari Bandung, adik tak henti menelepon, “Abang bisa lebih cepat ke Bandung? Butuh darah A+ jenis PRC tujuh kantong sekarang juga, karena dia mau dioperasi, cepat carikan bang…”
Wah, saya jadi ikut panik. Namun tak berapa lama saya menghubungi Bambang, sahabat saya. Bambang pun segera mengontak Syamsudin, rekan kami di Bandung. Dalam hati, kenapa saya tidak terpikir menghubungi langsung Syamsudin ya…
Rupanya di Bandung Syamsudin tengah berada dalam suasana kampanye calon walikota. Ia memanfaatkan moment itu untuk mengumumkan kepada khalayak soal kebutuhan darah itu. Alhamdulillah, satu masalah teratasi.
Kembali ke rencana perjalanan ke Bendi Raya, di tengah jalan motor kehabisan bensin, mampirlah ke pom bensin. Mulanya saya cukup kaget karena ternyata hanya mengantongi uang sebelas ribu rupiah. Akhirnya, sepuluh ribu saya belikan bensin. “Nanti ambil uang dulu di ATM buat bayar travel” pikir saya.
Pukul 14.10, saya sudah tiba di Pondok Indah di pool shuttle bus. Namun sebelumnya saya harus mencari ATM guna mengambil sejumlah uang untuk membayar shuttle bus.
Masya Allah, saya kembali terkaget, kali ini lantaran kartu ATM yang saya bawa saya yakini tidak ada uangnya. Sedangkan kartu ATM yang ada uangnya tertinggal di rumah. Saya pun agak bingung, karena beberapa menit lagi jadwal keberangkatan. Saya pun memutuskan untuk tetap mengecek di ATM, siapa tahu masih ada yang bisa diambil. Something stupid, lagi-lagi saya melakukan kebodohan, sudah tahu tidak ada uang masih saja penasaran mengecek saldo.
Saya pun memutuskan untuk kembali ke agen shuttle bus dan meminta saya dijadwalkan pukul 15.30 saja. Sebelumnya saya menelepon teman agar mentransfer sejumlah uang, sekadar untuk ongkos travel. Beberapa menit kemudian, segera saya kembali lagi ke ATM, dengan keyakinan sudah ada uang di rekening saya.
Kembali saya harus menelan ludah, saldonya masih tetap sama seperti semula. Beberapa kali menelepon teman, dan beberapa kali mengecek saldo, hasilnya tetap belum berubah. Saya hampir putus asa, saya ingin pulang saja dan batal ke Bandung. Tapi saya teringat adik saya, ia pasti tengah kebingungan, sebingung saya yang terdampar di tengah hari di Pondok Indah.
Kembali ke Bendi pun bingung, uang di kantong tinggal seribu. Pilihannya, naik bis dengan resiko diomelin kondektur atau beli air mineral untuk membasahi kerongkongan. Tapi dua opsi itu tak saya ambil, biarkan saja uang seribu ini tetap bersemayam di kantong.
Pukul 15.25 WIB, artinya 5 menit lagi waktu keberangkatan shuttle bus. Saat itulah, di depan ATM saya berdoa dan sedikit memaksa, “Ya Allah, kalau memang saya ditakdirkan ke Bandung sore ini, pasti ada jalannya. Tapi kalau gagal, memang Engkau belum mengizinkan…”
Belum sepuluh detik, saya mengangkat tangan lagi, “Tapi ya Allah, tolong ya Allah, uang saya tinggal seribu, saya bisa apa?? Biarkan saya ke Bandung ya Allah, terserah Engkau bagaimana caranya…” kali ini lebih memaksa.
Mungkin saya akan kembali melakukan kebodohan dengan memasuki lagi ruang ATM. Dalam hitungan saya, sudah empat kali saya bolak-balik ruang itu. Mungkin tukang parkir di depan bank itupun ikut menghitungnya.
Tetapi, Subhanallah, Allaahu Akbar!!! dugaan saya salah, ini bukan kebodohan, ini keberuntungan, dan Allah meridhoi saya ke Bandung. Ada uang 150 ribu di rekening saya, saya tak peduli uang dari mana, langsung tarik dan duduk manislah saya di shuttle bus.
Dalam perjalanan ke Bandung, teman yang tadi janji transfer menelepon, “Maaf, belum bisa transfer…” Nah loh, saya bingung, mulanya saya pikir ini uang dia yang mengirimnya. Tapi saya tidak mau ambil pusing, ini rezeki dari Allah, selalu datang dari arah yang tidak diduga.
Selang satu jam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, “Pak, honor tulisan bulan ini sudah saya transfer ya, maaf telat baru hari ini”
Maha Suci Allah yang telah mengatur segalanya. Andai ia tepat waktu mengirim honor tulisan itu, mungkin saya benar-benar gigit jari tak jadi ke Bandung. Pelajaran penting buat saya, Allah selalu tepat waktu dalam memberikan rezeki maupun pertolongan, meski kita kerap berpikir sebaliknya.
Gaw
Rupanya, minggu malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, ia dan suaminya beserta ibu tengah menuju Jakarta sepulang kondangan di Ciamis. Di daerah Cileunyi, beberapa kilometer sebelum masuk tol, menabrak seorang wanita yang menyeberang jalan. Kondisi wanita itu kritis dan dalam keadaan koma.
Saya mencoba menenangkan hatinya, “Besok pagi-pagi Abang langsung ke Bandung,” itu saja janji saya.
Senin pagi saya langsung menghubungi sebuah agen shuttle bus untuk memesan seat ke Bandung. Rupanya Allah belum mengizinkan saya lebih awal ke Bandung, karena baru dapat seat pukul 14.30 WIB. Usai dzuhur langsung memacu motor ke arah Bendi Raya, Tanah Kusir, untuk menitipkan motor dan minta diantar seorang teman.
Dari Bandung, adik tak henti menelepon, “Abang bisa lebih cepat ke Bandung? Butuh darah A+ jenis PRC tujuh kantong sekarang juga, karena dia mau dioperasi, cepat carikan bang…”
Wah, saya jadi ikut panik. Namun tak berapa lama saya menghubungi Bambang, sahabat saya. Bambang pun segera mengontak Syamsudin, rekan kami di Bandung. Dalam hati, kenapa saya tidak terpikir menghubungi langsung Syamsudin ya…
Rupanya di Bandung Syamsudin tengah berada dalam suasana kampanye calon walikota. Ia memanfaatkan moment itu untuk mengumumkan kepada khalayak soal kebutuhan darah itu. Alhamdulillah, satu masalah teratasi.
Kembali ke rencana perjalanan ke Bendi Raya, di tengah jalan motor kehabisan bensin, mampirlah ke pom bensin. Mulanya saya cukup kaget karena ternyata hanya mengantongi uang sebelas ribu rupiah. Akhirnya, sepuluh ribu saya belikan bensin. “Nanti ambil uang dulu di ATM buat bayar travel” pikir saya.
Pukul 14.10, saya sudah tiba di Pondok Indah di pool shuttle bus. Namun sebelumnya saya harus mencari ATM guna mengambil sejumlah uang untuk membayar shuttle bus.
Masya Allah, saya kembali terkaget, kali ini lantaran kartu ATM yang saya bawa saya yakini tidak ada uangnya. Sedangkan kartu ATM yang ada uangnya tertinggal di rumah. Saya pun agak bingung, karena beberapa menit lagi jadwal keberangkatan. Saya pun memutuskan untuk tetap mengecek di ATM, siapa tahu masih ada yang bisa diambil. Something stupid, lagi-lagi saya melakukan kebodohan, sudah tahu tidak ada uang masih saja penasaran mengecek saldo.
Saya pun memutuskan untuk kembali ke agen shuttle bus dan meminta saya dijadwalkan pukul 15.30 saja. Sebelumnya saya menelepon teman agar mentransfer sejumlah uang, sekadar untuk ongkos travel. Beberapa menit kemudian, segera saya kembali lagi ke ATM, dengan keyakinan sudah ada uang di rekening saya.
Kembali saya harus menelan ludah, saldonya masih tetap sama seperti semula. Beberapa kali menelepon teman, dan beberapa kali mengecek saldo, hasilnya tetap belum berubah. Saya hampir putus asa, saya ingin pulang saja dan batal ke Bandung. Tapi saya teringat adik saya, ia pasti tengah kebingungan, sebingung saya yang terdampar di tengah hari di Pondok Indah.
Kembali ke Bendi pun bingung, uang di kantong tinggal seribu. Pilihannya, naik bis dengan resiko diomelin kondektur atau beli air mineral untuk membasahi kerongkongan. Tapi dua opsi itu tak saya ambil, biarkan saja uang seribu ini tetap bersemayam di kantong.
Pukul 15.25 WIB, artinya 5 menit lagi waktu keberangkatan shuttle bus. Saat itulah, di depan ATM saya berdoa dan sedikit memaksa, “Ya Allah, kalau memang saya ditakdirkan ke Bandung sore ini, pasti ada jalannya. Tapi kalau gagal, memang Engkau belum mengizinkan…”
Belum sepuluh detik, saya mengangkat tangan lagi, “Tapi ya Allah, tolong ya Allah, uang saya tinggal seribu, saya bisa apa?? Biarkan saya ke Bandung ya Allah, terserah Engkau bagaimana caranya…” kali ini lebih memaksa.
Mungkin saya akan kembali melakukan kebodohan dengan memasuki lagi ruang ATM. Dalam hitungan saya, sudah empat kali saya bolak-balik ruang itu. Mungkin tukang parkir di depan bank itupun ikut menghitungnya.
Tetapi, Subhanallah, Allaahu Akbar!!! dugaan saya salah, ini bukan kebodohan, ini keberuntungan, dan Allah meridhoi saya ke Bandung. Ada uang 150 ribu di rekening saya, saya tak peduli uang dari mana, langsung tarik dan duduk manislah saya di shuttle bus.
Dalam perjalanan ke Bandung, teman yang tadi janji transfer menelepon, “Maaf, belum bisa transfer…” Nah loh, saya bingung, mulanya saya pikir ini uang dia yang mengirimnya. Tapi saya tidak mau ambil pusing, ini rezeki dari Allah, selalu datang dari arah yang tidak diduga.
Selang satu jam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, “Pak, honor tulisan bulan ini sudah saya transfer ya, maaf telat baru hari ini”
Maha Suci Allah yang telah mengatur segalanya. Andai ia tepat waktu mengirim honor tulisan itu, mungkin saya benar-benar gigit jari tak jadi ke Bandung. Pelajaran penting buat saya, Allah selalu tepat waktu dalam memberikan rezeki maupun pertolongan, meski kita kerap berpikir sebaliknya.
Gaw
Wednesday, August 13, 2008
Buku Terbaru Gaw, "Tangan Allah di Seutas Tali"

Saat nyawa di ujung tanduk, saat kematian di depan mata, saat tali-tali mulai putus, saat pengharapan mulai sirna, saat pintu-pintu tertutup, saat wajah mulai pucat pasi, kemana hati dan jiwa hendak meminta pertolongan? Kemana diri akan pergi menyelamatkan diri? Apakah kepada manusia yang kemampuan dan usahanya terbatas? atau kepada Tuhan manusia yang kekuatan dan kemampuan-Nya tiada terbatas?
Benar, hanya ada satu tali yang tak pernah putus. Hanya ada satu pintu yang tak pernah tertutup. Hanya ada satu tangan yang senantiasa terbuka. Itulah tangan Allah. Tangan-Nya senantiasa terbuka menerima dan memberi. Menerima taubat dan doa hamba-Nya. Memberi pertolongan dan kemudahan kepada siapa saja yang dikehendaki. Tiada pamrih dalam memberi dan terus memberi meski sering dikecewakan.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dan kisah nyata yang sarat makna. Bahasanya sederhana, namun kalimat demi kalimat dirangkai dengan indah, menyentuh bahkan tidak jarang mampu meneteskan air mata.
Ada banyak pelajaran, wawasan dan inspirasi yang terkandung dalam setiap kisahnya. Semoga dapat membuka pintu kearifan pembaca dalam menjalani kehidupan ini.
Detail buku:
Judul : Tangan Allah di Seutas Tali
Penulis : Bayu Gawtama
Penerbit : Kuwais
Bulan dan tanggal terbit : Juli 2008 (cetakan I)
Halaman : 225 halaman
Warna cover : hitam
Harga : Rp. 35.000,-
Pemesanan bisa sms langsung ke: 087 87 877 1961 atau email ke bayugautama@yahoo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)