Assalaamu'alaikum wr.wb. Rekan-rekan member SOL yang saya cintai, Pertemuan kita selama kurang lebih 3 jam kemarin memang terasa singkat tapi saya yakin ada hal-hal yang dapat kita petik dan bawa pulang dari perjumpaan pertama kita.
Bagi saya, idea tentang orbit dan cakrawala merupakan hal baru yang tidak saya sadari sebelumnya. Bisa dikatakan terlalu banyak cakrawala dalam kehidupan saya sehari-hari dan saya sangat kurang memaksimalkan orbit saya.
Hari ini Alhamdulillah, saya telah berusaha memperbaiki satu hal yang menjadi orbit saya ( yang kemarin saya tulis dalam catatan saya, yaitu hadir di Majelis Taklim ). Lebih dari 2 tahun sudah saya meninggalkan dunia kantoran, karena pekerjaan dapat saya lakukan dari rumah. Tapi tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk datang ke majelis taklim ibu-ibu yang cuma berjarak 100 meter dari rumah saya. Ibu saya, yang tergolong paling aktif mengaji di kampung, berulang kali mengajak saya untuk datang ke majelis taklim tapi saya selalu beralasan mau pergi kesana, mau pergi kesitu, banyak kerjaanlah dsb-dsbnya. Alhasil selama 2 tahun sejak berhenti kerja kantoran saya belum pernah datang ke pengajian tsb. Padahal saya sudah mengoleksi banyak baju-baju muslim, jilbab dan kerudung pun sudah memenuhi lemari saya, tetap saja belum ada keinginan untuk datang ke majelis taklim. Tapi pagi ini, dengan membaca Bismillah, saya datang berdua dengan ibu ke pengajian kebetulan hari ini adalah acara pembukaan kembali majelis taklim setelah vakum selama bulan ramadhan dan juga acara halal bi halal. Alhamdulillah saya disambut dengan gembira oleh semua yang hadir, beberapa diantaranya adalah teman-teman sepengajian saya sewaktu kecil kira-kira 25 tahun yang lalu, selebihnya adalah ibu-ibu lanjut usia dan kerabat dekat keluarga saya. Ketika berada di pengajian baru saya sadar mestinya saya sudah datang kesini setidaknya sejak 2 tahun yang lalu.... Hari ini saya bersyukur atas rahmat yang telah diberikan Allah kepada saya, atas penerimaan yang tulus dari Ibu-Ibu dan teman-teman saya di majelis taklim tsb. Insya Allah besok pagi saya akan datang kembali di Majelis Taklim yang lain dalam acara yang sama.
Masih banyak orbit-orbit lain yang harus saya jalankan, perbaiki dan maksimalkan. Saya menyadari semuanya pastilah memerlukan proses. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-NYA kepada kita semua. Amiin.
Wassalaam,
etty
salah seorang peserta School of Life, Chapter 1; Mind Power
kisah lainnya bisa didapat di http://schooloflife.multiply.com
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Tuesday, November 14, 2006
Monday, November 13, 2006
Kisah Danie tentang School of Life
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ya Allah, aku mohon Engkau menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin karena aku ingin menjadi hamba-Mu yang beruntung dan meraih kemenangan. Dan yang penting buka hati ini selalu berbuat baik, tidak hanya niat tapi amal nyata, Insya Allah.
Alhamdulillah hari ini aku diizinkan Allah untuk datang ke acara pelatihan Mind Power yang diadakan oleh School of Life yang dimotori Mas Gaw (Bayu Gautama) and friends. Padahal paginya, kepalaku sakit, perutku nggak enak, kenapa ya?, tapi aku cepat-cepat berdzikir: Yaa Syifa Yaa Syafii (Yaa Maha Mengobati, Yaa Maha Menyembuhkan).
Jam 08.30 aku berangkat dengan Aji. Sampai di lokasi, terlihat oleh Aji peserta yang tidak seumuran, dan sempat ngambeg di mobil, tapi aku bilang, lihat dulu, pasti ada manfaatnya. Maklum yang ikut usianya diatas 20 tahun, dan sudah bekerja.
Selama acara berlangsung, Aji memang tampak tidak nyaman, tapi aku mohon Allah untuk membuat dia tetap duduk dan mendengarkan, karena aku yakin, pasti ada yang nempel di pikirannya, walau hanya beberapa persen.
Alhamdulillah acara 3 jam berlalu dengan sangat cepat, aku banyak mendapatkan ilmu dari sharing para peserta, dan Insya Allah akan aku tulis di edisi rahmat, aku mendapat teman baru yang baik dimana aku bisa belajar, karena usia bukan jaminan untuk mengetahui semua ilmu, dan aku bersyukur Aji bertemu dengan salah seorang team SOL yang jago design grafis, yang cocok sama bidang yang sedang digeluti Aji (hari-hari di depan komputer bikin design).
Pas pulang aku bilang ke Aji, bahwa jangan berpersepsi jelek dulu kalau ikut acara yang terkadang pesertanya tidak seumur, tapi ambil manfaat dari orang-orang yang nggak seusia dengan kita, baik lebih tua maupun lebih muda.
Insya Allah, Aji mengerti dan dia nyaman setelah aku jelaskan, karena di dalam pelatihan ada istilah yang bisa membuat aku untuk mengingatkan Aji setiap pagi, afirmasi, orbit dan cakrawala.
Terima kasih untuk team School of Life, Mas Bayu Gautama, Mas Andhika, semoga kita dapat berbagi di kesempatan berikutnya, Power of Sharing atau Miracle of Sharing.
Miracle of Sharing, it is beautiful word, it is really meaningful, only for those who want to get the lessons from others.
Wass,
Danie
catatan: Danie, nama lengkapnya, Ismiradani Setiawan, adalah satu dari 17 peserta dalam School of Life, chapter 1: Mind Power
Ya Allah, aku mohon Engkau menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin karena aku ingin menjadi hamba-Mu yang beruntung dan meraih kemenangan. Dan yang penting buka hati ini selalu berbuat baik, tidak hanya niat tapi amal nyata, Insya Allah.
Alhamdulillah hari ini aku diizinkan Allah untuk datang ke acara pelatihan Mind Power yang diadakan oleh School of Life yang dimotori Mas Gaw (Bayu Gautama) and friends. Padahal paginya, kepalaku sakit, perutku nggak enak, kenapa ya?, tapi aku cepat-cepat berdzikir: Yaa Syifa Yaa Syafii (Yaa Maha Mengobati, Yaa Maha Menyembuhkan).
Jam 08.30 aku berangkat dengan Aji. Sampai di lokasi, terlihat oleh Aji peserta yang tidak seumuran, dan sempat ngambeg di mobil, tapi aku bilang, lihat dulu, pasti ada manfaatnya. Maklum yang ikut usianya diatas 20 tahun, dan sudah bekerja.
Selama acara berlangsung, Aji memang tampak tidak nyaman, tapi aku mohon Allah untuk membuat dia tetap duduk dan mendengarkan, karena aku yakin, pasti ada yang nempel di pikirannya, walau hanya beberapa persen.
Alhamdulillah acara 3 jam berlalu dengan sangat cepat, aku banyak mendapatkan ilmu dari sharing para peserta, dan Insya Allah akan aku tulis di edisi rahmat, aku mendapat teman baru yang baik dimana aku bisa belajar, karena usia bukan jaminan untuk mengetahui semua ilmu, dan aku bersyukur Aji bertemu dengan salah seorang team SOL yang jago design grafis, yang cocok sama bidang yang sedang digeluti Aji (hari-hari di depan komputer bikin design).
Pas pulang aku bilang ke Aji, bahwa jangan berpersepsi jelek dulu kalau ikut acara yang terkadang pesertanya tidak seumur, tapi ambil manfaat dari orang-orang yang nggak seusia dengan kita, baik lebih tua maupun lebih muda.
Insya Allah, Aji mengerti dan dia nyaman setelah aku jelaskan, karena di dalam pelatihan ada istilah yang bisa membuat aku untuk mengingatkan Aji setiap pagi, afirmasi, orbit dan cakrawala.
Terima kasih untuk team School of Life, Mas Bayu Gautama, Mas Andhika, semoga kita dapat berbagi di kesempatan berikutnya, Power of Sharing atau Miracle of Sharing.
Miracle of Sharing, it is beautiful word, it is really meaningful, only for those who want to get the lessons from others.
Wass,
Danie
catatan: Danie, nama lengkapnya, Ismiradani Setiawan, adalah satu dari 17 peserta dalam School of Life, chapter 1: Mind Power
Wednesday, November 08, 2006
Mimpi Konsumen: Murah, Cepat, dan Bagus
Hujan deras membasahi bumi, aroma tanah yang diguyur air langit menyeruak seiring hembusan angin dingin yang lumayan kencang menerpa tubuh. Udara dingin memaksa mata ini lirik kanan kiri mencari kehangatan. Kemudian, tatapan pun tertuju ke sebuah kedai pisang goreng. Hmm, pasti nikmat sekali dingin-dingin menyantap pisang goreng panas, cocok untuk menghangatkan tubuh.
Begitu mendekati, "4000 rupiah?" Seorang teman langsung terbelalak dan berbalik arah, "Masak hanya sekadar pisang goreng saja semahal itu?" gerutunya.
Dia mungkin belum tahu tentang pisang goreng yang terkenal itu, meski pun mahal tapi rasanya memang sangat lezat. Siang itu, ia memilih untuk menghentikan tukang gorengan yang melintas di depannya. Namun, "Ah, pisang goreng apa nih? Dingin, tidak enak pula..."
***
Nuning bermimpi memakai pakaian baru di hari lebaran lalu. Tetapi mimpi itu tetaplah menjadi mimpi ketika baju baru yang dipesannya tidak selesai dijahit Mang Ujang, penjahit langganannya. Kain yang diserahkan Nuning sepekan pertama bulan ramadhan hingga sepekan setelah hari raya Idul Fitri tetap masih berbentuk selembar kain. Alasan Nuning menitipkan jahitannya ke Mang Ujang langganannya itu, selain bagus dan rapih jahitannya, juga murah.
Murah, bagus, tapi lama? Ya, bahkan Nuning tak kesampaian memakai baju baru yang diidamkannya hanya karena ingin mencari yang murah.
***
Banyak cerita yang bisa dihimpun berkenaan dengan nasib konsumen di negeri ini. Konon, semua konsumen memiliki tiga pilihan untuk segala hal yang dibeli; Murah, Cepat, dan Bagus. Tetapi, dari tiga pilihan itu hanya dua yang bisa diperoleh. Misalnya, mau bagus dan cepat, berarti harganya tidak murah. Ingin yang murah dan cepat, pasti tidak bagus. Ada yang bagus dan murah, biasanya pengerjaannya lambat.
Seperti teman yang ingin makan pisang goreng hangat dan nikmat tadi, harga satuannya empat ribu rupiah. Ketika dia akhirnya memilih pisang goreng yang seribu tiga, rasanya dingin dan tidak enak.
Seorang teman lainnya, pagi-pagi sudah menggerutu dan ngomel-ngomel. Ternyata, kemarin sore ia menumpang pesawat dengan pelayanan yang buruk. "Delay-nya saja dua jam, landingnya buruk, pramugarinya tidak ramah..." Kenapa pilih maskapai penerbangan tersebut? "Ya, karena murah..."
Begitulah teman...
Begitu mendekati, "4000 rupiah?" Seorang teman langsung terbelalak dan berbalik arah, "Masak hanya sekadar pisang goreng saja semahal itu?" gerutunya.
Dia mungkin belum tahu tentang pisang goreng yang terkenal itu, meski pun mahal tapi rasanya memang sangat lezat. Siang itu, ia memilih untuk menghentikan tukang gorengan yang melintas di depannya. Namun, "Ah, pisang goreng apa nih? Dingin, tidak enak pula..."
***
Nuning bermimpi memakai pakaian baru di hari lebaran lalu. Tetapi mimpi itu tetaplah menjadi mimpi ketika baju baru yang dipesannya tidak selesai dijahit Mang Ujang, penjahit langganannya. Kain yang diserahkan Nuning sepekan pertama bulan ramadhan hingga sepekan setelah hari raya Idul Fitri tetap masih berbentuk selembar kain. Alasan Nuning menitipkan jahitannya ke Mang Ujang langganannya itu, selain bagus dan rapih jahitannya, juga murah.
Murah, bagus, tapi lama? Ya, bahkan Nuning tak kesampaian memakai baju baru yang diidamkannya hanya karena ingin mencari yang murah.
***
Banyak cerita yang bisa dihimpun berkenaan dengan nasib konsumen di negeri ini. Konon, semua konsumen memiliki tiga pilihan untuk segala hal yang dibeli; Murah, Cepat, dan Bagus. Tetapi, dari tiga pilihan itu hanya dua yang bisa diperoleh. Misalnya, mau bagus dan cepat, berarti harganya tidak murah. Ingin yang murah dan cepat, pasti tidak bagus. Ada yang bagus dan murah, biasanya pengerjaannya lambat.
Seperti teman yang ingin makan pisang goreng hangat dan nikmat tadi, harga satuannya empat ribu rupiah. Ketika dia akhirnya memilih pisang goreng yang seribu tiga, rasanya dingin dan tidak enak.
Seorang teman lainnya, pagi-pagi sudah menggerutu dan ngomel-ngomel. Ternyata, kemarin sore ia menumpang pesawat dengan pelayanan yang buruk. "Delay-nya saja dua jam, landingnya buruk, pramugarinya tidak ramah..." Kenapa pilih maskapai penerbangan tersebut? "Ya, karena murah..."
Begitulah teman...
Subscribe to:
Posts (Atom)