Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, March 06, 2006

Sekarung “Chiki” Kampung untuk Anak-Anak Cibadak

Seorang bocah bertelanjang dada dengan celana yang nyaris kedodoran menyodorkan baskom plastik kepada penjaja makanan kecil sejenis “Chiki”. Baskom tersebut untuk ditukarkan dengan beberapa takar Chiki kampung. Tentu saja ini menjadi sebuah pemandangan unik, masih ada praktik jual beli di masyarakat pedesaan yang tak menggunakan uang sebagai alat tukarnya, melainkan barang bekas seperti botol, baskom atau benda lain yang dianggap masih memiliki nilai jual.

Malang nian bocah kecil itu, baskom plastik berwarna hitam yang dibawanya itu tak laku untuk ditukarkan. Buyarlah impian sederhana miliknya sekadar untuk menikmati makanan kampung tersebut. “Baskomnya sangat kotor, lagi pula sudah pecah,” alasan Mamang penjaja kue ringan itu. Sementara si bocah masih mematung berdiri berharap belas kasih, tangannya tak bergerak terus menyodorkan baskomnya.

Sedih rasanya, melihat seorang bocah terus berharap penuh semangat untuk sekadar mendapatkan makanan ringan yang belum tentu sehat itu. Baskomnya terus diayun-ayunkan seolah memaksa menyodorkan kepada penjaja kue, namun wajah memelas bocah tersebut tak membuat Mamang penjual itu tergubris. Ia malah asik melayani anak-anak lainnya.

“Berapa harga satu semua makanan itu mang,” tanya saya sambil menunjuk sekarung Chiki kampung yang dijualnya itu.

“Murah pak, cuma enam belas ribu rupiah saja...” jawabnya sambil tersenyum sumringah.

“Kalau begitu, berikan kepada semua anak-anak itu, ini uangnya,” seru saya sambil menyerahkan selembar dua puluh ribuan.

Seketika, terjadi aski saling rebut, saling dorong, saling tarik makanan. Tak hanya anak-anak, bahkan remaja, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak pun ikut bertarung memperebutkan makanan yang tak seberapa itu. Seorang teman yang mencoba membagi-bagikan pun kewalahan dibuatnya. Ada seorang bapak yang menjadikan pecinya sebagai wadah. Lain lagi dengan seorang ibu yang tiba-tiba mengangkat roknya untuk menampung raupan makanan yang berhasil didapatnya. Termasuk bocah kecil tadi yang menjadikan baskom tak laku-nya sebagai tempat. Cukup disayangkan, akibat aksi rebutan itu, tak sedikit makanan ringan itu yang terbuang.

Bertambah miris hati melihat kenyataan yang ada, betapa makanan yang jatuh di tanah pun masih jadi rebutan anak-anak yang bertubuh dekil itu. Malu rasanya jika untuk mereka hanya makanan kecil tak bergizi yang diberikan, padahal mereka teramat membutuhkan asupan gizi dan energi yang memadai.

Anak-anak itu tak peduli lagi akan rumah-rumah mereka yang hancur tertimbun tanah. Tak lagi memusingkan bagaimana menyelamatkan barang-barang berharga yang sudah terkubur bebatuan. Longsor dan banjir yang menerjang rumah mereka juga telah memusnahkan satu-satunya mainan kesayangannya, yang entah berapa tahun lalu sanggup dibeli Ayah mereka. Mereka hanya tahu bahwa setiap pagi, siang, dan malam harus mendapatkan makan, tapi tanya mereka tak pernah terjawab, “kenapa siang ini tak ada makanan? Kemarin juga tidak ada?”

Korban bencana bukan hanya orang tua, justru anak-anak lebih banyak jumlahnya. Bahkan anak-anak itu jauh lebih rentan dari bahaya paska bencana, seperti penyakit dan kelaparan. Bocah-bocah kecil itu takkan pernah kuat untuk berlama-lama bertelanjang dada, dengan perut yang kosong yang sesekali terisi dengan makanan sedapatnya. Beruntung bagi mereka yang masih ada orang tuanya, bagaimana dengan anak-anak korban bencana yang ibu bapaknya ikut tertimbun longsor? Kakak, paman dan bibinya hilang terseret banjir bandang? Seberapa lama mereka mampu bertahan?

Ini akan menjadi bencana berikutnya jika tak segera ditangani. Mari bersama bantu mereka.

Bayu Gawtama

Thursday, March 02, 2006

Memberi Di Saat Sulit

Suatu hari Ali bin Abi Thalib mendapati kedua anaknya, Hasan dan Husain, sakit. Bahkan kedua cucu Baginda Rasulullah SAW itu mengalami sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, “Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari”. Rupanya Allah mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh.

Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az Zahra, pun berpuasa. Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya.

Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa.

Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak mempunyai makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah.

Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa Allah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan. Bahkan kisah yang teramat indah ini Allah lukiskan dalam Al Quran Surat Al-Insaan (76): 8-10, agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

Memberi di saat berlebih adalah hal mudah, meski tidak semua orang melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk meniru apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya. Tentu saja kita bisa, jika kita mau.

“... barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan...” (QS. Al Kahfi:110)

Bayu Gawtama

Wednesday, March 01, 2006

Kisah Badut Kebun Binatang

Ada kisah menarik tentang seseorang yang bekerja sebagai badut di Kebun Binatang. Sebut saja namanya Ipang. Setiap pagi ia sudah tiba di Kabun Bintang untuk bersiap-siap mengenakan kostum hewan yang biasa kita lihat di area tersebut. Ia tak pernah tahu akan memakai kostum apa hari itu, karena setiap hari akan selalu berganti peran. Bisa jadi hari ini ia akan mengaum seperti harimau, meringkik ala kuda, mengembik layaknya kambing, atau meraung sekeras beruang.

Sungguh semua itu dilakukannya untuk satu tujuan; membuat anak-anak tersenyum ceria, dan bersahabat akrab dengan hewan. Jika ada anak yang menangis, tugasnya mendekati merujuknya agar tertawa. Bila si anak bertambah keras menangisnya, gagallah tugasnya. Di kerumunan anak-anak yang tertawa riang, tugasnya menjaga agar tawa itu tetap terdengar. Jika ada anak-anak yang terbirit ketakutan bersembunyi di tubuh orang tuanya, gagal pula ia menjalankan perannya. Karena sekali lagi, tugasnya adalah membuat anak-anak tersenyum ceria. Tak peduli ia berkostum apa.

Tak ada yang pernah tahu siapa di balik kostum gajah itu, seperti apa rupa asli di dalam boneka besar berbentuk beruang. Orang yang bertugas itu pun sadar, bahwa ia tak pernah diperkenankan menunjukkan wajah aslinya di depan kerumunan orang, di muka para pengunjung kebun binatang. Tak pernah sekali pun tiba-tiba ia membuka kedoknya di depan anak-anak yang berkerumun.

Bukan hanya itu, selain ia harus rela tak dikenali. Petugas badut binatang itu pun rela jika harus diusik, dijahili, atau bahkan dicaci orang tua yang anaknya ketakutan akibat aksinya. Baginya, ini bagian dari tanggungjawab profesinya sebagai badut. Ia tak peduli harus berkeringat kepanasan di dalam boneka besar itu, tak dibenarkan membuka kedoknya hanya karena kehausan. Sudah ada waktu khusus baginya untuk beristirahat sejenak, menghirup udara segar dan menyeruput air segar. Kadang, ia pun harus rela melewatkan kesempatan istirahatnya jika anak-anak menarik-narik mengajaknya terus bermain. Sekali lagi, ia akan selalu memegang tujuan utama dari perannya itu; menceriakan anak-anak.

Tak satu pun pernah mengira, tuakah atau seorang pemuda yang di dalam kostum binatang itu, wanita atau lelaki, tampankah ia, cantikkah ia, tak pernah ada yang tahu. Bahkan mungkin, orang tua dan anak-anak di tempat wisata itu juga tak percaya jika ada yang berkata, "Tahu nggak, yang tadi jadi badut harimau itu kan saya...". Bisa jadi mereka tak peduli.

Para pengunjung kebun binatang, berikut anak-anak mereka tak pernah mengerti keletihan, kepanasan, kehausan atau lapar yang diderita petugas badut. Bagi mereka, badut-badut itu harus tetap berdiri, bergoyang, bernyanyi, berlari-lari, untuk tetap membuat anak-anak tersenyum, tertawa dan ikut berlari. Berhenti ia menari dan melucu, anak-anak akan diam, atau ada yang menangis. Tak tega melihat anak-anak itu menangis, ia akan kembali bergoyang, tanpa lagi peduli sekujur tubuhnya sudah teramat letih. Ia tahu, tuntutan terhadapnya begitu banyak, dan tak pernah ada yang tahu betapa ia pun butuh berhenti sejenak.

Kostum apa pun yang ia pakai, ia akan berperangai, bersuara dan bertingkah sesuai kostumnya. Ia tak akan pernah mengembik saat berkostum kelinci, tak pernah melompat-lompat saat tak sedang menjadi katak. Ia juga tak pernah memakai sekali dua kostum, kepala harimau sementara badannya seekor jerapah. Pasti akan membingungkan anak-anak, hewan apa gerangan? Tapi yang pasti ia bisa menjadi apa pun, dan akan bersuara sesuai dengan yang saat itu diperankannya. Hari ini ia menjadi seekor serigala yang melolong, mungkin esok ia menjadi kelinci. Meski tujuannya hanya satu; menceriakan anak-anak.

Bayu Gawtama
berkostum apa pun, saya tetap mencintai anak-anak