Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Friday, January 26, 2007

Ketakutan yang Salah Alamat

Dulu sering terjadi seorang pengendara motor atau mobil jika menabrak seekor kucing hingga mati, maka ia segera menghentikan kendaraannya, segera menguburnya dan berdoa agar tak terjadi apa pun terhadap diri dan keluarganya. Bahkan jika yang menabrak kucing seorang wanita yang tengah hamil, ketakutannya makin bertambah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu terhadap janin yang tengah dikandungnya. Intinya, jika seseorang menabrak seekor kucing hingga mati, takutnya bukan kepalang sehingga harus menguburnya terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Sebab kalau tidak, akan terjadi sesuatu terhadap si penabrak.

Saya pikir mitos itu sudah lama hilang ditelan perkembangan peradaban anak manusia. Namun ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar. Belum lama saya melihat lagi kejadian tersebut. Seseorang tengah sibuk menggali tanah di pinggir jalan, motornya di parkir tak jauh darinya. Rupanya ia tengah mengubur seekor kucing yang baru saja ditabraknya. “Takut saya kenapa-napa di jalan nanti mas,” ujarnya singkat tentang alasannya mengubur kucing mati itu.

Tidak ada yang salah “perasaaan bersalah” setiap kali seseorang menabrak seekor kucing hingga mati. Namun kalau boleh membandingkannya dengan berbagai kasus tabrak lari, si pengendara malah memacu lebih cepat kendaraannya. Ada yang karena menghindari amukan massa, ada pula yang memang benar-benar tidak berani bertanggungjawab. Padahal, boleh jadi si pengendara tidak bertanggungjawab tersebut pernah menabrak kucing dan tetap dia berhenti lalu “bertanggungjawab” menguburnya.

Aneh. Kadang saya merasa aneh dengan orang-orang seperti ini. Ia sangat ketakutan saat menabrak seekor kucing, tetapi tetap melaju kencang ketika manusia yang ditabraknya. Apakah kucing lebih berharga dari nyawa manusia? Bukan, tentu bukan itu alasannya. Jelas karena ia takut terkena akibat langsung yang sering dijadikan mitos bagi siapa pun penabrak kucing. Tetapi tetap saja aneh, kenapa seorang pelaku tabrak lari tidak merasa takut “terjadi apa-apa” lantaran menabrak seseorang?

Ini yang mesti diluruskan. Ketakutan dan merasa bersalah semestinya jangan salah alamat. Seharusnya seseorang itu takut kepada Allah setiap kali ia melakukan kesalahan. Memang benar ada kewajiban untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan, tetapi taubat tetap dialamatkan kepada Allah. Penabrak kucing misalnya, ia tak semestinya merasa takut berlebihan ketika menabrak kucing. Sebab apa yang terjadi sesudah ia menabrak kucing, itu semua ada di tangan Allah.

Contoh menabrak kucing ini, sebenarnya bisa menjadi cermin betapa kita masih salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah setiap kali melakukan kesalahan. Misalnya saja orang yang melakukan korupsi, ia lebih takut perilakunya diketahui rekan sekerja, atasan, bawahan, atau tercium aparat keamanan. Sebaliknya, ia tidak pernah merasa bahwa di detik pertama ia menjamah sesuatu yang bukan miliknya itu, Allah tidak buta dan pasti mengawasinya.

Ketakutan dan rasa bersalah sering kali salah alamat. Khusus si penabrak lari, ia lebih takut kepada amukan massa ketimbang murka Allah lantaran telah tidak bertanggungjawab menghilangkan nyawa manusia. Si koruptor misalnya, lebih takut masuk penjaran ketimbang masuk neraka. Dan tentu saja masih banyak lagi berbagai perilaku yang mengalamatkan rasa bersalahnya tidak pada tempatnya.

Menulis rangkaian kalimat di atas, saya jadi malu sendiri. Sambil terus mengingat-ingat, berapa kali saya salah mengalamatkan ketakutan dan rasa bersalah?

Gaw

Thursday, January 25, 2007

Sebab Cinta

Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota, sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota. Yang ia tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu –kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota, mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu. Masih ragu kah dengan cinta ibu?

Gaw

BERANI COBA??? SELEKSI CALON RELAWAN TIM RESCUE ACT!

Jika Anda bermental kuat, para survivors, punya fisik dan ketahanan tubuh yang prima, dan berani menghadapi resiko tinggi di lokasi bencana, maka Anda pantas menjadi relawan rescue ACT.

ACT – Aksi Cepat Tanggap, adalah lembaga kemanusiaan yang memfokuskan programnya pada penanganan bencana. Emergency Recue merupakan komponen penting di lembaga ini, karenanya ACT membuka kesempatan untuk Anda bergabung sebagai relawan (volunteers) tim Rescue.

Ikuti seleksi calon relawan tim rescue! (terbatas, hanya 50 orang)

Kamis, 1 Februari 2007
Jam. 09.00 s/d 16.00 WIB

Kantor ACT
Perkantoran Ciputat Indah Permai
Jl. Ir. H. Juanda No. 50 Blok B-8
Telp. 021-7414482 ext 121

Sarat-sarat (wajib):

1. Pria/Wanita
2. Usia maksimal 30 tahun
3. Background pecinta alam/kepanduan/pramuka/survivors
4. Berjiwa sosial
5. Sehat Jasmani dan Rohani
6. Berkemampuan dasar rescue : Renang, Menyetir (mobil dan motor), dan menggunakan alat komunikasi

Materi seleksi meliputi:

1. Test tertulis
2. Wawancara/interview
3. Test fisik

Peserta yang terseleksi (50 orang) akan mengikuti pelatihan (training) rescue pada akhir Februari 2007. Mereka yang lulus training rescue secara resmi teregistrasi sebagai relawan rescue ACT dengan sertifikat khusus, yang siap diterjunkan ke berbagai lokasi bencana.

Jika Anda tertantang untuk mencoba seleksi, kirimkan curriculum vitae (data pribadi), foto terbaru dan data pendukung lainnya ke masyarakat_relawan_indonesia@yahoo.co.id paling lambat tanggal 31 Januari 2007.

Informasi dan Contact Person:
Gandi Purnama 0813 21088441
Bayu Gawtama 0852 190 68581

Catatan: Seleksi dan training rescue tidak dipungut biaya (gratis)