Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Thursday, November 23, 2006

Bunda Hajar, Sang Guru Cinta

Ber-qurban, maknanya tak jauh berbeda dengan berkorban. Setiap kita tentu pernah dan sering berkorban untuk segala kepentingan. Misalnya, untuk bisa meraih predikat mahasiswa teladan dengan indeks prestasi tertinggi, seorang mahasiswa rela mengorbankan waktu 'santai'nya dan diganti dengan hari-hari sibuk berkutat dengan buku. Seorang suami berkorban membanting tulang siang dan malam demi sebungkus nasi yang dibawa pulang untuk anak dan isterinya. Masih banyak lagi contoh pengorbanan yang dilakoni setiap orang.

Beragam pula alasan orang melakukan pengorbanan tersebut. Harga diri, keyakinan, kepuasan, dan yang paling banyak mendasari sebuah pengorbanan adalah cinta dan kasih sayang. Semua alasan itu menjadi penyemangat seseorang untuk berkorban, apa pun bentuknya. Apa pun akan dilakukannya untuk meraih apa yang diinginkannya.

Adalah Siti Hajar, ibunda Ismail, salah satu guru cinta terbaik sepanjang masa. Ketika Ismail masih dalam susuannya, Ibrahim alaihi salam mengajak Hajar dan Ismail berpindah dari Palestina ke Makkah yang saat itu tandus dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kemudian keduanya ditempatkan di suatu tempat, yang sekarang dekat dengan Ka'bah, dan saat itu tidak ada seorang pun yang menetap di tempat tersebut. Siti Hajar dan Ismail hanya berdua, dengan dibekali satu kantong berisi kurma dan sekantong air. Sementara Ibrahim bergegas kembali ke Palestina.

"Wahai Ibrahim, mengapa meninggalkan kami berdua di negeri yang tandus dan tak ada teman seorang pun?" tanya Siti Hajar. Nabi Ibrahim tidak menoleh, pun tidak menjawab. Siti Hajar terus membuntuti langkah Ibrahim dan mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Ibrahim tetap tidak menoleh dan membungkam.

"Apakah Allah menyuruhmu berbuat demikian?" tanya Siti Hajar. "Ya", jawab Nabi Ibrahim singkat.
"Kalau begitu, kami yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan kami berdua," yakin Siti Hajar. Ibrahim pun bergegas meninggalkan isteri dan anak tercintanya, tanpa memberi bekal yang lebih untuk hidup barang sehari atau dua hari saja.

Atas nama cinta, kekuatan, ketabahan dan keyakinannya akan pertolongan Allah, Siti Hajar membesarkan dan mendidik Ismail yang kelak menjadi anak yang baik, bijaksana dan sabar. Setelah Ismail beranjak remaja, sang Ayah pernah dua kali menjenguk isteri dan anaknya.

Dalam Surat Ash Shaffat ayat 104-107, bahwa ibadah qurban berawal dari sebuah mimpi Nabi Ibrahim alaihi salam yang menggambarkan dirinya menyembelih putra tercintanya, Ismail sebagai bentuk persembahan dan bukti cinta kepada Allah SWT. Ibrahim sangat cemas, tetapi sang putra justru sangat bersemangat dan ikhlas bersedia menjadi qurban untuk disembelih. Meski pada akhirnya Allah tidak memperkenankan pengorbanan manusia, dan Ismail diganti dengan seekor domba yang dibawa langsung oleh malaikat Jibril.

Dialog tentang cinta dan ketabahan pengorbanan Ismail yang direkam surat Ash Shaffat tersebut, tak lepas dari peran ajaran cinta dari Bunda Hajar. Bukan Ibrahim yang mengajarkan tentang cinta dan pengorbanan terhadap Ismail, melainkan sang bunda, karena Ibrahim tak bersama mereka sepanjang masa anak-anak hingga masa remaja putranya.

Kini, masih adakah semangat cinta dan pengorbanan itu menjadi milik kita? Sudahkah kita menjadikan Bunda Hajar guru cinta, yang mengajarkan makna cinta sebenarnya. Akankah anak-anak kita memiliki ruang cinta di jiwanya seluas ruang yang dimiliki Ismail? yang menjadikan pengorbanan adalah bentuk paling nyata menunjukkan cinta ketimbang untaian sejuta kata?

Terima kasih Bunda Hajar, atas pengajaran cintamu.

Monday, November 20, 2006

School of Life, Chapter 2: Berjiwa Besar

Seorang anak mendatangi Ayahnya dan bertanya, bagaimana Ayahnya bisa bersikap tenang dan selalu tersenyum padahal begitu banyak orang yang sering membuatnya kecewa.

Sang Ayah pun tersenyum dan menunjukkan sebuah batu seukuran kepalan tangan. “Kantongi sebuah batu sebesar ini setiap kali kamu bertemu dengan orang yang mengecewakanmu. Kembali lagi ke Ayah dalam beberapa hari” pinta sang Ayah.

Kemudian, baru setengah hari si anak berjalan ia sudah mengantongi beberapa batu. Satu hari terlalui, semakin banyak batu yang membebani anak tersebut dan memberatkan langkahnya. Dengan tertatih ia mendatangi Ayahnya dan berkata, “berat sekali Ayah, saya tak sanggup melakukannya. Ini pun baru satu hari, bagaimana dengan esok dan hari-hari selanjutnya?”

Lagi-lagi Ayahnya tersenyum dan membasuh peluh di kening anaknya. “Begitulah yang kita rasakan jika setiap hari harus menanam sakit hati, iri, dengki, dan berbagai perasaan menderita lainnya di dalam hati. Berat nak, berat rasanya. Apalagi jika harus terus menerus membawa beban berat itu sepanjang hidup kita…”

Kini, giliran sang anak yang tersenyum. Tentu setelah ia membuang semua batu yang seharian membebani pundaknya.

-------

Ada orang yang betah bertahun-tahun bermusuhan, ada lagi yang mengaku sulit memaafkan orang yang telah pernah menyakitinya. Selain itu, ada orang-orang yang tak pernah dalam sehari tak iri, tak dengki terhadap tetangga, sahabat, atau bahkan saudaranya sendiri.

Sulitkah memaafkan? bukankah hidup akan lebih ringan hanya jika tak banyak yang membebani ruang jiwa ini?

School of Life, Chapter 2: Berjiwa Besar
MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya No. 72, Jakarta Selatan
Minggu, 10 Desember 2006, pukul 13.30 WIB s/d 16.30 WIB

Persyaratan:
1. Register ke: school.of.life@hotmail.com , peserta hanya 20 orang/kelas
2. infak Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah), transfer ke rek. 1260004272786 Bank Mandiri atas nama Ahmad Bayu Gautama (bukti transfer attach ke email : school.of.life@hotmail.com)
3. Registrasi paling lambat tanggal 6 Desember 2006.

Info lebih lanjut:
Andhika P Swasono (02168545401)
http://schooloflife.multiply.com

Tuesday, November 14, 2006

Kisah Etty Karyati tentang School of Life, Chapter 1: Mind Power

Assalaamu'alaikum wr.wb. Rekan-rekan member SOL yang saya cintai, Pertemuan kita selama kurang lebih 3 jam kemarin memang terasa singkat tapi saya yakin ada hal-hal yang dapat kita petik dan bawa pulang dari perjumpaan pertama kita.

Bagi saya, idea tentang orbit dan cakrawala merupakan hal baru yang tidak saya sadari sebelumnya. Bisa dikatakan terlalu banyak cakrawala dalam kehidupan saya sehari-hari dan saya sangat kurang memaksimalkan orbit saya.

Hari ini Alhamdulillah, saya telah berusaha memperbaiki satu hal yang menjadi orbit saya ( yang kemarin saya tulis dalam catatan saya, yaitu hadir di Majelis Taklim ). Lebih dari 2 tahun sudah saya meninggalkan dunia kantoran, karena pekerjaan dapat saya lakukan dari rumah. Tapi tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk datang ke majelis taklim ibu-ibu yang cuma berjarak 100 meter dari rumah saya. Ibu saya, yang tergolong paling aktif mengaji di kampung, berulang kali mengajak saya untuk datang ke majelis taklim tapi saya selalu beralasan mau pergi kesana, mau pergi kesitu, banyak kerjaanlah dsb-dsbnya. Alhasil selama 2 tahun sejak berhenti kerja kantoran saya belum pernah datang ke pengajian tsb. Padahal saya sudah mengoleksi banyak baju-baju muslim, jilbab dan kerudung pun sudah memenuhi lemari saya, tetap saja belum ada keinginan untuk datang ke majelis taklim. Tapi pagi ini, dengan membaca Bismillah, saya datang berdua dengan ibu ke pengajian kebetulan hari ini adalah acara pembukaan kembali majelis taklim setelah vakum selama bulan ramadhan dan juga acara halal bi halal. Alhamdulillah saya disambut dengan gembira oleh semua yang hadir, beberapa diantaranya adalah teman-teman sepengajian saya sewaktu kecil kira-kira 25 tahun yang lalu, selebihnya adalah ibu-ibu lanjut usia dan kerabat dekat keluarga saya. Ketika berada di pengajian baru saya sadar mestinya saya sudah datang kesini setidaknya sejak 2 tahun yang lalu.... Hari ini saya bersyukur atas rahmat yang telah diberikan Allah kepada saya, atas penerimaan yang tulus dari Ibu-Ibu dan teman-teman saya di majelis taklim tsb. Insya Allah besok pagi saya akan datang kembali di Majelis Taklim yang lain dalam acara yang sama.

Masih banyak orbit-orbit lain yang harus saya jalankan, perbaiki dan maksimalkan. Saya menyadari semuanya pastilah memerlukan proses. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-NYA kepada kita semua. Amiin.

Wassalaam,
etty
salah seorang peserta School of Life, Chapter 1; Mind Power

kisah lainnya bisa didapat di http://schooloflife.multiply.com