Sampai detik ini saya masih ingat kasus seorang ibu yang digelandang petugas keamanan sebuah Mal di Jakarta, karena kedapatan mencuri beberapa pasang pakaian anak dan menyembunyikannya di balik pakaiannya. Ketika ditanya motif pencurian yang dilakukannya, sambil menangis minta ampun, si ibu berkata, "Anak saya menangis setiap hari minta baju lebaran, orang miskin seperti saya, punya uang dari mana untuk membelinya?".
Itu kasus tiga atau empat tahun yang lalu, di hari-hari terakhir Ramadhan. Bahwa kemudian di sebuah harian nasional, kasus serupa diberitakan kembali setahun kemudian, lagi-lagi terjadi di beberapa hari terakhir Ramadhan, menjelang lebaran.
Tahun ini, saya belum mendengar atau membaca berita yang sama, dan semoga saja tidak ada kasus demikian. Walau pun saya harus bersiap kemungkinan mendapati berita serupa, bahkan mungkin tidak satu kasus. Bisa dua, empat, atau tak terbilang kasus serupa di berbagai tempat. Kasus empat tahun lalu, dan setahun kemudian saja, saya duga itu hanya sebuah contoh. Artinya, ada banyak kasus serupa dengan motif yang tidak berbeda terjadi di banyak tempat, di banyak Mal, di banyak kota di Indonesia. Mungkin, kebetulan kasus lainnya itu tidak tertangkap media. Atau justru banyak pencuri-pencuri dadakan itu -terpaksa mencuri karena anak mereka minta baju lebaran- tidak tertangkap.
Lebaran memang sebuah fenomena. Bagi orang-orang mampu, lebaran layaknya pameran status sosial. Rumah mereka kembali seperti baru menjelang lebaran, seluruh anggota keluarga mengenakan pakaian serba baru dan mahal, hidangan di meja makan pun beraneka ragam dan bentuk. Tak cukup satu lauk, bisa disebutkan hingga empat macam lauk siap disantap. Belum lagi makanan kecil, kue lebaran, dan jenis es segar menemani kehangatan silaturahim hari raya. Dan yang tak pernah ketinggalan, anak-anak kecil mereka berlomba mengumpulkan uang "salam tempel" atau "hadiah lebaran". Tak jarang mereka menghitung bersama, untuk menunjukkan jumlah yang mereka dapat lebih banyak dari anak lainnya.
Bagaimana dengan orang-orang di luar mereka? kelas menengah, masihlah boleh berbahagia. Meski tak semahal dan sebanyak pakaian orang-orang kelas atas, mereka masih bisa berbaju baru, bersepatu baru. Kue-kue masih tersedia di ruang tamu, begitu juga ketupat lebaran dan rendang daging. "Setahun sekali," ujar mereka beralasan.
Termasuk soal "angpaw" lebaran, meski sedikit, tetap saja mampu membuat anak-anak itu tersenyum. Setidaknya mereka bisa membeli mainan yang sudah lama diidamkan, tidak perlu merengek dan menggelendoti kantong orang tua mereka. Dengan uang yang tak seberapa itu, seolah mampu membeli semua keinginan mereka yang selama ini sekadar mimpi.
Bagaimana nasib orang-orang miskin? Anak yatim?. Ada yang terpaksa mencuri dan mengambil resiko berlebaran di balik jeruji demi keceriaan anak mereka di hari raya. Bagi mereka yang tetap sederhana dan menerima kenyataan, cukuplah nasi dan air putih tetap tersedia. Kalau pun boleh berharap, seikat ketupat kiriman dari tetangga akan menghiasi dapur mereka. Setidaknya, ada nuansa lebaran di rumah mereka dengan hadirnya tiga-empat belah ketupat di dapur.
Kue lebaran? Nanti dulu. Justru mereka yang akan mendatangi rumah-rumah orang mampu. Gayung bersambut karena biasanya orang-orang kaya akan menggelar "open house" untuk para tetangganya. Di saat seperti inilah, orang-orang miskin akan merasa lebaran juga diperuntukkan bagi mereka. Untuk anak-anak, selain mencicipi, dan sedikit memenuhi kantong-kantong mereka dengan aneka kue lebaran, bolehlah berharap ada jatah "angpaw" dari tuan rumah. Jadilah mereka rajin mencium tangan para dermawan hari raya itu, "ya, setahun sekali".
Ah, lebaran memang fenomenal. Berbagai lapisan masyarkat merayainya dengan caranya masing-masing. Ya si kaya, juga si miskin. Jadi, kata siapa orang miskin dilarang lebaran? Mereka tak terima THR, tak berbaju baru, tak punya kue lebaran, tak ada ketupat, tapi mereka punya harapan bertemu orang-orang yang akan membagi keceriaan hari raya. Semoga, harapan itu mampu terjawab di hari raya ini.
Bayu Gawtama
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Friday, October 28, 2005
Sunday, October 23, 2005
Salam Sejahtera bagi Pak Muslim
Adzan maghrib berkumandang, waktu berbuka puasa pun tiba. Tapi sore itu saya masih berada di angkot, duduk di pojok berhadapan dengan lelaki paruh baya. Lelaki itu, serta merta mengeluarkan sebuah minuman kemasan rasa jeruk dari dalam tasnya. Untuknya berbuka puasa, pikir saya. Tapi ternyata, “Silahkan berbuka, sudah masuk waktunya,” sambil menyodorkan minuman itu ke arah saya. Belum sempat saya menolaknya, ia sudah mengeluarkan beberapa gelas minuman kemasan yang sama, kemudian dibagikan kepada seluruh penumpang dalam angkot, termasuk seorang mahasiswa di sebelahnya.
Mahasiswa itu, seorang non muslim. Dengan sangat sopan ia menolak pemberian lelaki paruh baya itu. “Saya bukan muslim, saya tidak berpuasa, terima kasih,” ujarnya sopan. Lelaki itu tak mau kalah, ia tetap menyodorkan minuman itu, dan, “Ini bulan berkah, keberkahan puasa bukan hanya untuk kami yang muslim, bahkan juga untuk orang diluar muslim,” kata-kata itu teramat menyentuh batin saya, dan saya yakin juga bagi mahasiswa itu.
“Nama saya Muslim” begitu ia memperkenalkan dirinya kepada saya. Nama yang sangat mewakili perbuatannya. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, dan seorang muslim semestinya menjadi rahmat bagi semua orang, tidak terkecuali. Seorang muslim ialah yang senantiasa menebar kasih sayang kepada sesama, tak peduli ia berbeda agama. Dan Pak Muslim telah mengajarkan langsung kan hal-hal yang selama ini masih sering menjadi materi dasar di berbagai pengajian dan forum keagamaan yang kita ikuti. Pak Muslim bukan seorang ustadz, bukan ulama, dia juga tidak banyak berbicara di atas mimbar, di televisi, tapi apa yang baru saja dilakukannya di hadapan saya, jauh lebih mengagumkan dari sekadar kata-kata indah yang terumbar di berbagai mimbar dan corong pengeras suara.
Sungguh saya malu, terlalu sering berbicara dan tak berupaya mengimbanginya dengan amal nyata. Kalau mau dihitung, sedikit sekali yang sudah saya kerjakan untuk membuktikan betapa Islam itu benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, bagi semua umat, tidak terkecuali.
Jati diri seorang muslim bukan ditunjukkan dengan simbol, bendera dan kata-kata. Sesungguhnya, jati diri itu tertanam dalam jiwa yang kemudian tercermin dalam perilaku dan perbuatannya sehar-hari. Pakaian yang kita kenakan hanya menunjukkan fisik kemusliman kita, tapi kesejatian seorang muslim lebih dipancarkan dari kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan. Pakaian seorang muslim yang sebenarnya, adalah kata-kata baik penuh hikmah dan perbuatan yang mengandung keberkahan bagi siapa saja, tidak terkecuali.
Nama saya bukan Muslim, tapi saya seorang muslim. Semoga saya bisa seperti Pak Muslim.
Bayu Gawtama
Mahasiswa itu, seorang non muslim. Dengan sangat sopan ia menolak pemberian lelaki paruh baya itu. “Saya bukan muslim, saya tidak berpuasa, terima kasih,” ujarnya sopan. Lelaki itu tak mau kalah, ia tetap menyodorkan minuman itu, dan, “Ini bulan berkah, keberkahan puasa bukan hanya untuk kami yang muslim, bahkan juga untuk orang diluar muslim,” kata-kata itu teramat menyentuh batin saya, dan saya yakin juga bagi mahasiswa itu.
“Nama saya Muslim” begitu ia memperkenalkan dirinya kepada saya. Nama yang sangat mewakili perbuatannya. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, dan seorang muslim semestinya menjadi rahmat bagi semua orang, tidak terkecuali. Seorang muslim ialah yang senantiasa menebar kasih sayang kepada sesama, tak peduli ia berbeda agama. Dan Pak Muslim telah mengajarkan langsung kan hal-hal yang selama ini masih sering menjadi materi dasar di berbagai pengajian dan forum keagamaan yang kita ikuti. Pak Muslim bukan seorang ustadz, bukan ulama, dia juga tidak banyak berbicara di atas mimbar, di televisi, tapi apa yang baru saja dilakukannya di hadapan saya, jauh lebih mengagumkan dari sekadar kata-kata indah yang terumbar di berbagai mimbar dan corong pengeras suara.
Sungguh saya malu, terlalu sering berbicara dan tak berupaya mengimbanginya dengan amal nyata. Kalau mau dihitung, sedikit sekali yang sudah saya kerjakan untuk membuktikan betapa Islam itu benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, bagi semua umat, tidak terkecuali.
Jati diri seorang muslim bukan ditunjukkan dengan simbol, bendera dan kata-kata. Sesungguhnya, jati diri itu tertanam dalam jiwa yang kemudian tercermin dalam perilaku dan perbuatannya sehar-hari. Pakaian yang kita kenakan hanya menunjukkan fisik kemusliman kita, tapi kesejatian seorang muslim lebih dipancarkan dari kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan. Pakaian seorang muslim yang sebenarnya, adalah kata-kata baik penuh hikmah dan perbuatan yang mengandung keberkahan bagi siapa saja, tidak terkecuali.
Nama saya bukan Muslim, tapi saya seorang muslim. Semoga saya bisa seperti Pak Muslim.
Bayu Gawtama
Tuhan Masih Ada kok...
“Ternyata Tuhan itu ada,” kalimat itu saya dengar hanya beberapa jam setelah seluruh stasiun televisi menayangkan bencana tsunami di Aceh hingga menewaskan ratusan ribu orang, akhir Desember 2004. Begitu pula ketika beberapa bulan kemudian, Allah kembali menggetarkan bumi dan menghancurkan Nias. Tidak sedikit korban yang meninggal, dan teramat banyak airmata yang tumpah, karena belum lagi kita lupa akan bencana tsunami sebelumnya. Rupanya belum cukup sampai di Nias, badai Katrina pun menyerang Amerika, Negara dengan berbagai sarana dan fasilitas terlengkap itu pun terlihat tidak siap kedatangan teguran Allah itu. Masih belum puas Allah mengingatkan ummatnya, Pakistan pun dihantam gempa, sedikitnya lima puluh ribu orang meninggal akibat bencana itu. Kali ini, mulut kita pun berucap, “Tuhan benar-benar masih ada”.
Beberapa hari lalu saya mengantar seorang teman ke rumah anak yatim. Dia ingin mengantarkan sendiri sedekahnya agar lebih bisa melihat langsung orang yang menerimanya. “Lebih puas jika langsung menyerahkannya,” akunya. Ada yang membuat saya tergelitik untuk terus memikirkannya sampai di rumah, yakni kalimat yang keluar dari mulut ibu si anak yatim yang mendapat santunan dari teman saya. “Duh Gusti, akhirnya Engkau mendengar juga doa orang kecil seperti kami”. Selama ini, aku ibu itu, ia tak pernah alpa berdoa, tak pernah meninggalkan sholat, tapi ia selalu bertanya kenapa nasibnya tidak berubah, selalu menjadi orang miskin. “Sejak kecil, orang tua saya miskin. Sampai saya punya keluarga sendiri, almarhum suami saya juga miskin. Sampai sekarang tetap jadi orang miskin,” keluhnya. Saya menangkap satu keluhan secara tidak langsung dari ibu itu kepada Allah, kenapa tak berkenan mengubah nasibnya.
Saya terus merenung, hingga kemudian teringat dengan kalimat “ternyata Tuhan itu ada” yang pernah saya dengar ketika bencana dahsyat melanda Aceh. Kalimat itu, ditambah perkataan ibu si anak yatim, “… Engkau mendengar juga doa kami” itu memunculkan satu anggapan, bahwa selama ini terlalu sering kita menganggap nihil keberadaan Tuhan. Dan ketika Allah benar-benar menunjukkan keberadaannya, baik dengan bencana maupun nikmat dan anugerah, barulah bibir ini menyebut namanya dan mengakui keberadaannya. Walaupun harus diakui, nama Tuhan lebih sering terucap di waktu sengsara, saat bencana dan ketika manusia berada di pintu mati. Saat sehat dan hidup senang, kita lebih banyak lupa akan-Nya.
Mungkin selama ini kita lupa bahwa Allah senantiasa terlibat dalam berbagai urusan hidup manusia. Kita tak sadar, bahwa Allah tak pernah memejamkan matanya untuk merekam setiap gerak kita dalam menjalani kehidupan. Seluruh gerak kita perinci, semua perkataan kita perhuruf, tercatat dengan sempurna di tangan-Nya. Kita lupa semua itu, sehingga Dia mengingatkannya kembali dengan tsunami, gempa dan bencana lainnya. Allah menguji seorang hamba tidak hanya dengan bencana, seseorang diberi kelebihan harta, atau sebaliknya dibuat miskin terus menerus itu juga bagian dari ujian dari-Nya. Siapakah yang lebih mampu bersabar dengan ujian itu, itulah yang membuat Allah tersenyum. Namun sekali lagi kita lupa, lupa ketika terlalu banyak nikmat Allah berikan. Kita juga ragu, ragu apakah Allah itu mendengar doa yang setiap hari kita ucapkan sambil menangis.
Sebenarnya, keraguan akan Tuhan dan berbagai ketentuan-Nya seperti yang ditunjukkan dengan bencana, juga oleh ibu si anak yatim , sama dengan keraguan yang ada pada diri kita. Janji Allah melipatgandakan ganjaran untuk setiap sedekah, infak dan zakat yang kita keluarkan dari harta kita, sering tergantung di benak kita, “Benarkah?” Terlebih ketika teramat sering kita berinfak dan bersedekah tapi kita merasa rezeki kita biasa-biasa saja, tidak berlipatganda seperti yang dijanjikan Allah. Muncullah keraguan akan janji Allah itu, dan karenanya, keesokan harinya kita mengurangi jumlah infak atau sedekah kita. Hingga di pekan berikutnya, tak ada lagi yang tersisihkan dari harta kita untuk diinfakkan, karena kita semakin ragu. Padahal, sudah pasti Allah menambahkan rezeki kita, buktinya, kita masih mampu berinfak.
Sungguh, Allah menguji kita dengan cara yang seringkali tidak bisa kita mengerti. Disaat sengsara, hidup susah, kita bertanya, “Tuhan dimana Engkau?” dan memerintah Tuhan, “Tuhan, dengarkan doa kami”. Ketika bencana datang, bibir ini berucap, “Tuhan benar-benar ada dan sedang marah”. Sama halnya dengan kita yang tiba-tiba mendapatkan rezeki yang tidak diduga-duga, padahal baru kemarin kita bersedekah. “Terima kasih Tuhan, Engkau Maha menepati janji”. Lalu, ketika dahulu sekian lama kita menunggu ganjaran berlipatganda itu kita merasa tak pernah mendapatkannya, akankah mulut ini lancang berkata, “Tuhan, janjimu palsu”?
Percayalah, Tuhan masih ada kok…
Bayu Gawtama
Beberapa hari lalu saya mengantar seorang teman ke rumah anak yatim. Dia ingin mengantarkan sendiri sedekahnya agar lebih bisa melihat langsung orang yang menerimanya. “Lebih puas jika langsung menyerahkannya,” akunya. Ada yang membuat saya tergelitik untuk terus memikirkannya sampai di rumah, yakni kalimat yang keluar dari mulut ibu si anak yatim yang mendapat santunan dari teman saya. “Duh Gusti, akhirnya Engkau mendengar juga doa orang kecil seperti kami”. Selama ini, aku ibu itu, ia tak pernah alpa berdoa, tak pernah meninggalkan sholat, tapi ia selalu bertanya kenapa nasibnya tidak berubah, selalu menjadi orang miskin. “Sejak kecil, orang tua saya miskin. Sampai saya punya keluarga sendiri, almarhum suami saya juga miskin. Sampai sekarang tetap jadi orang miskin,” keluhnya. Saya menangkap satu keluhan secara tidak langsung dari ibu itu kepada Allah, kenapa tak berkenan mengubah nasibnya.
Saya terus merenung, hingga kemudian teringat dengan kalimat “ternyata Tuhan itu ada” yang pernah saya dengar ketika bencana dahsyat melanda Aceh. Kalimat itu, ditambah perkataan ibu si anak yatim, “… Engkau mendengar juga doa kami” itu memunculkan satu anggapan, bahwa selama ini terlalu sering kita menganggap nihil keberadaan Tuhan. Dan ketika Allah benar-benar menunjukkan keberadaannya, baik dengan bencana maupun nikmat dan anugerah, barulah bibir ini menyebut namanya dan mengakui keberadaannya. Walaupun harus diakui, nama Tuhan lebih sering terucap di waktu sengsara, saat bencana dan ketika manusia berada di pintu mati. Saat sehat dan hidup senang, kita lebih banyak lupa akan-Nya.
Mungkin selama ini kita lupa bahwa Allah senantiasa terlibat dalam berbagai urusan hidup manusia. Kita tak sadar, bahwa Allah tak pernah memejamkan matanya untuk merekam setiap gerak kita dalam menjalani kehidupan. Seluruh gerak kita perinci, semua perkataan kita perhuruf, tercatat dengan sempurna di tangan-Nya. Kita lupa semua itu, sehingga Dia mengingatkannya kembali dengan tsunami, gempa dan bencana lainnya. Allah menguji seorang hamba tidak hanya dengan bencana, seseorang diberi kelebihan harta, atau sebaliknya dibuat miskin terus menerus itu juga bagian dari ujian dari-Nya. Siapakah yang lebih mampu bersabar dengan ujian itu, itulah yang membuat Allah tersenyum. Namun sekali lagi kita lupa, lupa ketika terlalu banyak nikmat Allah berikan. Kita juga ragu, ragu apakah Allah itu mendengar doa yang setiap hari kita ucapkan sambil menangis.
Sebenarnya, keraguan akan Tuhan dan berbagai ketentuan-Nya seperti yang ditunjukkan dengan bencana, juga oleh ibu si anak yatim , sama dengan keraguan yang ada pada diri kita. Janji Allah melipatgandakan ganjaran untuk setiap sedekah, infak dan zakat yang kita keluarkan dari harta kita, sering tergantung di benak kita, “Benarkah?” Terlebih ketika teramat sering kita berinfak dan bersedekah tapi kita merasa rezeki kita biasa-biasa saja, tidak berlipatganda seperti yang dijanjikan Allah. Muncullah keraguan akan janji Allah itu, dan karenanya, keesokan harinya kita mengurangi jumlah infak atau sedekah kita. Hingga di pekan berikutnya, tak ada lagi yang tersisihkan dari harta kita untuk diinfakkan, karena kita semakin ragu. Padahal, sudah pasti Allah menambahkan rezeki kita, buktinya, kita masih mampu berinfak.
Sungguh, Allah menguji kita dengan cara yang seringkali tidak bisa kita mengerti. Disaat sengsara, hidup susah, kita bertanya, “Tuhan dimana Engkau?” dan memerintah Tuhan, “Tuhan, dengarkan doa kami”. Ketika bencana datang, bibir ini berucap, “Tuhan benar-benar ada dan sedang marah”. Sama halnya dengan kita yang tiba-tiba mendapatkan rezeki yang tidak diduga-duga, padahal baru kemarin kita bersedekah. “Terima kasih Tuhan, Engkau Maha menepati janji”. Lalu, ketika dahulu sekian lama kita menunggu ganjaran berlipatganda itu kita merasa tak pernah mendapatkannya, akankah mulut ini lancang berkata, “Tuhan, janjimu palsu”?
Percayalah, Tuhan masih ada kok…
Bayu Gawtama
Subscribe to:
Posts (Atom)