Diro, sebut saja begitu nama lelaki bujangan asli Jawa ini. Diro dikenal sebagai lelaki yang sopan, hanif, dan punya ciri khas, yakni senang mengucapkan salam "Assalaamu'alaikum" kepada siapa pun -muslim- yang dijumpainya di manapun.
Suatu ketika, Diro ditugaspindahkan ke kota X, untuk jangka waktu dua tahun. Setibanya di kota X itu, lelaki bujangan ini langsung mencari tempat kos/kontrakan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Setelah tiga hari di kota tersebut, Diro baru menyadari bahwa ada gadis cantik dan shalihah yang tinggal hanya beberapa meter dari kos-nya. Seperti biasa, tanpa maksud buruk, tanpa niat menggoda, Diro pun mengucapkan salam kepada gadis itu, saat keduanya bersama-sama menunggu bis di tepi jalan.
Sekali lagi, Diro tidak punya niat apapun ketika mengucapkan salam. "Dia berjilbab, jadi sudah pasti muslim, maka saya ucapkan salam kepadanya. Lagi pula gadis itu tetangga saya, kan wajar sama tetangga saling menyapa," alasannya.
Ucapan salam Diro dibalas delikkan mata tidak suka dari gadis tetangganya itu. Namun Diro tidak peduli, karena niatnya sangat tulus. Begitu pun sore harinya, ketika berpapasan di jalan, Diro kembali mengucapkan, "Assalaamu'alaikum Dik..." Jawabannya tidak berbeda dengan pagi hari, wajah tidak suka.
Mungkin pikir si gadis itu, Diro tidak ubahnya lelaki iseng yang senang menggoda. Sudah lazim diketahui, lelaki-lelaki iseng dan kurang kerjaan senang menggoda wanita. Dan bila yang digoda adalah wanita berjilbab, ucapan "Assalaamu'alaikum" biasa dijadikan andalan mulut-mulut lelaki ini.
Berbeda dengan Diro. Dia tidak sakit hati ketika salamnya tidak dibalas, atau bahkan dibalas dengan tatap mata sinis. Setiap hari, setiap kali bertemu dengan gadis itu tetap mengucapkan salam. Diro tidak bosan meski salamnya selalu mendapat jawaban yang serupa, dan sesekali makian, "maunya apa sih?".
Diro hanya membalasnya dengan senyum seraya menjelaskan, "maaf, salam itu hanya doa untuk adik". Belakangan, Diro mengetahui bahwa nama gadis itu, Dian, sebut saja demikian.
Dua bulan bertugas di kota itu, Diro mendapat panggilan dari kantor pusat untuk memberikan laporan tugasnya. Diro pun kembali ke Jakarta untuk waktu dua pekan.
Sementara di kota X, pagi harinya. Dian belum merasakan apa pun. Namun keesokan harinya, gadis itu baru menyadari ada yang ganjil dengan hari-harinya, baik pagi maupun sore. Ya, Dian merasa ada yang hilang. Setelah berpikir sejenak, barulah ia sadar, tidak ada lagi lelaki yang selama ini mengucapkan "Assalaamu'alaikum" kepadanya. Bahkan keesokan harinya, Dian mulai celingak-celinguk mencari lelaki pengucap salam itu. Satu-dua bis yang biasa ditumpanginya sengaja dibiarkan berlalu, "mungkin dia terlambat" pikirnya. Namun hingga hampir satu jam, yang dinanti tak kunjung tiba.
Sepekan sudah Dian tak melihat lelaki pengucap salam. Sepekan pula telinganya tak mendengar suara khas lelaki itu berucap, "Assalaamu'alaikum Dik..." Rupanya Dian mulai kangen dengan ucapan salam itu. Jika mulanya ia merasa ucapan salam Diro itu sebagai godaan lelaki iseng, ternyata kini ia merindukan ucapan salam itu.
Dian hampir putus asa, hingga satu pekan berikutnya tak kunjung terdengar ucapan salam khas nan lembut itu. Sampai di satu pagi, dari arah belakang terdengar suara khas itu lagi, "Assalaamu'alaikum Dik..." Kali ini giliran Diro yang terheran-heran, karena jawaban lembut dari wajah manis yang diterimanya, "Wa'alaikum salam kak... apa kabar? kemana saja? lama tidak berjumpa... ... ..."
Sejak hari itu, keduanya menjadi akrab. Hari-hari setelah itu, diisi dengan keriangan keduanya dalam setiap perjumpaannya. Sebuah bukti nyata, bahwa ucapan salam jika diberikan secara ikhlas kepada siapa pun, akan membawa kedamaian bagi yang menerimanya. Hanya beberapa bulan setelah itu, belum satu tahun Diro tinggal di kota X itu, Diro dan Dian sepakat untuk menyatukan hati dalam bingkai rumah tangga.
Maha suci Allah dan Rasulullah, yang mengajarkan kalimat "Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu"...
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Thursday, April 12, 2007
Pernah Tawar Barang di Mall?
Tidak sedikit orang, kelompok, komunitas maupun berbagai golongan yang sering berteriak menyatakan keberpihakannya kepada kaum kecil atau lebih sering terdengar dengan kata wong cilik. Namun nyatanya, belum tentu kita benar-benar memposisikan diri pada sisi orang kecil, belum nyata-nyata kita duduk sama rendah bersama orang-orang lemah, dan belum terbukti juga kita menjadi sahabat wong cilik. Oops, saya ralat, bukan kita, tetapi saya. Sekali lagi saya...
Dalam banyak kesempatan berbelanja di tukang sayur, di toko buah pinggir jalan, naik ojeg, naik becak, atau penjual apa pun yang tidak memiliki bandrol harga, dengan berbagai cara begitu mudahnya kita menawar harga yang ditawarkan. Tujuannya jelas, mendapatkan harga semurah-murahnya.
Beragam gaya dan cara yang kita lakukan, kalau kepada tukang sayur atau tukang buah sering menggunakan wajah memelas. Jika wajah itu tidak mempan meluluhkan hati si abang sayur, senyum pun digulirkan. Biasanya tidak sedikit abang-abang penjual yang langsung luluh hatinya. Terlebih jika ditambah dengan sedikit colak-colek dari ibu-ibu pembeli, harga sebuah semangka pun langsung turun drastis. Sebungkus cabai dan tomat bisa dibeli dengan harga seribu rupiah, atau tidak jarang seliter minyak goreng gratis untuk si pencolek yang genit...
Bagaimana dengan laki-laki? mungkin tidak memelas, tetapi dengan suara tegas dan sedikit naik. "Tiga ribu ya seikat? Dikasih nggak?" untuk harga seikat rambutan. Kalau tidak dikasih, pakai cara klasik, yakni meninggalkan si tukang buah, padahal dalam hati berharap dipanggil kembali oleh tukang buah. Cara-cara ini kadang berhasil, terlebih jika hari sudah malam, barang dagangan belum banyak yang terjual, dan belum cukup uang untuk bisa dibawa pulang. Jadilah si tukang buah itu yang mengalah dan membiarkan dagangannya dibeli dengan harga pas, tanpa biaya transportasi, tanpa biaya lelah menunggu, tanpa biaya angkut, tanpa biaya apa pun untuk kaki yang pegal berputar-putar seharian, atau untuk untuk pundak yang bengkak memikul beban berat.
Pedagang buah, tukang sayur, atau penjual apa pun yang keliling atau di pinggir jalan yang tidak pernah memasang bandrol harga itu, adalah orang-orang kecil. Kepada mereka kita bisa merayu bahkan memaksa untuk menurunkan harga, bahkan semurah-murahnya. Tanpa peduli apakah para pedagang kecil itu mendapatkan untung atau tidak. Lebih buruknya lagi, kita melakukannya setiap hari, setiap saat.
Bandingkan jika kita belanja di Mall, pusat perbelanjaan, atau toko grosir dan tempat-tempat lainnya yang memasang harga pas dengan bandrolnya. Pernahkah kita menawar setiap barang di trolly kepada kasir, seperti yang kita lakukan kepada para pedagang kecil?
***
Bukan berarti tidak boleh menawar. Karena boleh jadi tidak semua pedagang jujur dalam menjajakan barangnya, baik kualitas maupun harganya. Tetapi kita juga bisa merasai, batas mana si pedagang itu sudah menurunkan harganya. Jika sudah sampai batas terakhir ia memberikan harga, jangan lagi memaksanya untuk terus menurunkan harga. Biarkan ia tersenyum dengan apa yang bisa didapatnya. Lagi pula, sebenarnya kita juga tahu harga sebenarnya untuk satu kilo jeruk kan? (Gaw)
Dalam banyak kesempatan berbelanja di tukang sayur, di toko buah pinggir jalan, naik ojeg, naik becak, atau penjual apa pun yang tidak memiliki bandrol harga, dengan berbagai cara begitu mudahnya kita menawar harga yang ditawarkan. Tujuannya jelas, mendapatkan harga semurah-murahnya.
Beragam gaya dan cara yang kita lakukan, kalau kepada tukang sayur atau tukang buah sering menggunakan wajah memelas. Jika wajah itu tidak mempan meluluhkan hati si abang sayur, senyum pun digulirkan. Biasanya tidak sedikit abang-abang penjual yang langsung luluh hatinya. Terlebih jika ditambah dengan sedikit colak-colek dari ibu-ibu pembeli, harga sebuah semangka pun langsung turun drastis. Sebungkus cabai dan tomat bisa dibeli dengan harga seribu rupiah, atau tidak jarang seliter minyak goreng gratis untuk si pencolek yang genit...
Bagaimana dengan laki-laki? mungkin tidak memelas, tetapi dengan suara tegas dan sedikit naik. "Tiga ribu ya seikat? Dikasih nggak?" untuk harga seikat rambutan. Kalau tidak dikasih, pakai cara klasik, yakni meninggalkan si tukang buah, padahal dalam hati berharap dipanggil kembali oleh tukang buah. Cara-cara ini kadang berhasil, terlebih jika hari sudah malam, barang dagangan belum banyak yang terjual, dan belum cukup uang untuk bisa dibawa pulang. Jadilah si tukang buah itu yang mengalah dan membiarkan dagangannya dibeli dengan harga pas, tanpa biaya transportasi, tanpa biaya lelah menunggu, tanpa biaya angkut, tanpa biaya apa pun untuk kaki yang pegal berputar-putar seharian, atau untuk untuk pundak yang bengkak memikul beban berat.
Pedagang buah, tukang sayur, atau penjual apa pun yang keliling atau di pinggir jalan yang tidak pernah memasang bandrol harga itu, adalah orang-orang kecil. Kepada mereka kita bisa merayu bahkan memaksa untuk menurunkan harga, bahkan semurah-murahnya. Tanpa peduli apakah para pedagang kecil itu mendapatkan untung atau tidak. Lebih buruknya lagi, kita melakukannya setiap hari, setiap saat.
Bandingkan jika kita belanja di Mall, pusat perbelanjaan, atau toko grosir dan tempat-tempat lainnya yang memasang harga pas dengan bandrolnya. Pernahkah kita menawar setiap barang di trolly kepada kasir, seperti yang kita lakukan kepada para pedagang kecil?
***
Bukan berarti tidak boleh menawar. Karena boleh jadi tidak semua pedagang jujur dalam menjajakan barangnya, baik kualitas maupun harganya. Tetapi kita juga bisa merasai, batas mana si pedagang itu sudah menurunkan harganya. Jika sudah sampai batas terakhir ia memberikan harga, jangan lagi memaksanya untuk terus menurunkan harga. Biarkan ia tersenyum dengan apa yang bisa didapatnya. Lagi pula, sebenarnya kita juga tahu harga sebenarnya untuk satu kilo jeruk kan? (Gaw)
Wednesday, April 11, 2007
Sekarang Kecil, Besar Kemudian
Iwan, sahabat jaman sekolah dulu, saya bertemu lagi dengannya beberapa waktu lalu di tempat parkir mobil sebuah pusat perbelanjaan. Ada yang lain dengannya kali ini. Enam tahun lalu saat kali terakhir bertemu dengannya, ia masih berseragam biru sebagai petugas pengisi BBM di pom bensin. Waktu itu saya berniat mengisi BBM untuk motor saya dan Iwan menyapa hangat, “Wah hebat, motor kamu bagus. Kapan ya saya bisa punya motor bagus seperti ini…”
Sungguh, Iwan yang sekarang saya temui setelah enam tahun lalu telah jauh berbeda. Ia mampu melampaui keinginannya untuk sekadar memiliki motor sebagus yang saya miliki saat itu. Kali ini, ia memperlihatkan kepada saya, sebuah mobil miliknya yang belum lama ia miliki, disaat saya masih tetap mengendarai sepeda motor.
Saya akui, bahwa saya benar-benar harus mengatakan, “hebat kamu Wan, dulu cuma ingin punya motor. Hari ini saya bertemu lagi, Iwan bahkan sudah mengendarai mobil, lebih dari sekadar motor”.
Dan yang lebih mengagumkan adalah dimana ia bekerja saat ini, “Saya punya bengkel dan salon motor cukup besar, mampirlah suatu waktu,” ujarnya sambil menyerahkan selembar kartu nama.
Ya, Iwan. Jika dulu ia hanya bermimpi memiliki sebuah sepeda motor, kini ia memiliki sebuah tempat untuk banyak pemiliki motor mendandani motornya. Kalaulah dulu ia terkagum dengan motor yang saya miliki, kini ia boleh berbangga dengan mobil baru miliknya. Semuanya, kata Iwan, adalah hasil kerja kerasnya dan keinginan yang kuat menjadi besar. “Siapa sih yang mau selamanya jadi orang kecil?” semangatnya.
Lain Iwan lain lagi seorang tukang sampah yang saya pernah saya temui di sebuah jalan raya. Belajar dari contoh keberhasilan Iwan, saya yakin sekali bahwa tidak semua tukang sampah yang saya lihat hari ini masih mengais sampah di sepanjang jalan Ibukota, beberapa tahun lagi akan tetap mengaih sampah. Boleh jadi, lima atau sepuluh tahun yang akan datang, si tukang sampah yang kita lihat hari ini memungut sampah yang kita buang ke jalan, akan mengendarai mobil yang sama mewahnya dengan yang kita pakai. Mungkin saja, pekerjaannya saat ini masih di bidang yang sama dengan sepuluh tahun lalu, seputar sampah. Hanya saja, kali ini ia menjadi bos dari puluhan bahkan ratusan tukang sampah di Jakarta.
Hidup itu berputar, dan akan selalu seperti itu. Tak selamanya tukang sampah akan tetap selamanya menjadi tukang sampah. Tidak selamanya pengisi BBM di pom bensin bertahun-tahun melulu sekadar bermimpi memiliki kendaraan sebagus yang selalu ia lihat setiap harinya saat mengisi bensin. Kuncinya adalah keinginan kuat untuk mengubah nasib, kemauan untuk menjadi besar, keengganan untuk tak selamanya menjadi orang kecil. Dan yang terpenting, seperti kata Iwan sahabat saya itu, “Kerja keras dan berdoa,” sebuah rumus yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.
Satu hal lagi sekadar renungan untuk kita, jangan pernah menilai orang lain dari apa yang kita lihat hari ini. Boleh jadi, suatu saat ia lebih bernilai dari kita. Di saat orang lain berusaha keras mengubah nasibnya, kita masih terlena dan merasa puas dengan apa yang kita nikmati hari ini. Sungguh, orang di luar sana tengah berlari mengejar mimpi, sementara kita masih terus bermimpi dalam tidur panjang sendiri. (Gaw)
Sungguh, Iwan yang sekarang saya temui setelah enam tahun lalu telah jauh berbeda. Ia mampu melampaui keinginannya untuk sekadar memiliki motor sebagus yang saya miliki saat itu. Kali ini, ia memperlihatkan kepada saya, sebuah mobil miliknya yang belum lama ia miliki, disaat saya masih tetap mengendarai sepeda motor.
Saya akui, bahwa saya benar-benar harus mengatakan, “hebat kamu Wan, dulu cuma ingin punya motor. Hari ini saya bertemu lagi, Iwan bahkan sudah mengendarai mobil, lebih dari sekadar motor”.
Dan yang lebih mengagumkan adalah dimana ia bekerja saat ini, “Saya punya bengkel dan salon motor cukup besar, mampirlah suatu waktu,” ujarnya sambil menyerahkan selembar kartu nama.
Ya, Iwan. Jika dulu ia hanya bermimpi memiliki sebuah sepeda motor, kini ia memiliki sebuah tempat untuk banyak pemiliki motor mendandani motornya. Kalaulah dulu ia terkagum dengan motor yang saya miliki, kini ia boleh berbangga dengan mobil baru miliknya. Semuanya, kata Iwan, adalah hasil kerja kerasnya dan keinginan yang kuat menjadi besar. “Siapa sih yang mau selamanya jadi orang kecil?” semangatnya.
Lain Iwan lain lagi seorang tukang sampah yang saya pernah saya temui di sebuah jalan raya. Belajar dari contoh keberhasilan Iwan, saya yakin sekali bahwa tidak semua tukang sampah yang saya lihat hari ini masih mengais sampah di sepanjang jalan Ibukota, beberapa tahun lagi akan tetap mengaih sampah. Boleh jadi, lima atau sepuluh tahun yang akan datang, si tukang sampah yang kita lihat hari ini memungut sampah yang kita buang ke jalan, akan mengendarai mobil yang sama mewahnya dengan yang kita pakai. Mungkin saja, pekerjaannya saat ini masih di bidang yang sama dengan sepuluh tahun lalu, seputar sampah. Hanya saja, kali ini ia menjadi bos dari puluhan bahkan ratusan tukang sampah di Jakarta.
Hidup itu berputar, dan akan selalu seperti itu. Tak selamanya tukang sampah akan tetap selamanya menjadi tukang sampah. Tidak selamanya pengisi BBM di pom bensin bertahun-tahun melulu sekadar bermimpi memiliki kendaraan sebagus yang selalu ia lihat setiap harinya saat mengisi bensin. Kuncinya adalah keinginan kuat untuk mengubah nasib, kemauan untuk menjadi besar, keengganan untuk tak selamanya menjadi orang kecil. Dan yang terpenting, seperti kata Iwan sahabat saya itu, “Kerja keras dan berdoa,” sebuah rumus yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.
Satu hal lagi sekadar renungan untuk kita, jangan pernah menilai orang lain dari apa yang kita lihat hari ini. Boleh jadi, suatu saat ia lebih bernilai dari kita. Di saat orang lain berusaha keras mengubah nasibnya, kita masih terlena dan merasa puas dengan apa yang kita nikmati hari ini. Sungguh, orang di luar sana tengah berlari mengejar mimpi, sementara kita masih terus bermimpi dalam tidur panjang sendiri. (Gaw)
Subscribe to:
Posts (Atom)