Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Friday, October 13, 2006

Bang Dollie dan Pelajaran Tentang Kejujuran

Ada yang bilang, kepercayaan dan kejujuran bagai dua sisi mata uang, satu sisi kepercayaan, sisi lainnya berupa kejujuran. Maksudnya, jika seseorang menanamkan sebuah kepercayaan kepada orang lain, maka yang diberi kepercayaan itu semestinya senantiasa bersikap jujur. Namun nyatanya, seringkali kepercayaan dibalas dengan ketidakjujuran. Atau sebaliknya, ada saja orang yang sudah mati-matian jujur, tetap saja tidak mendapat kepercayaan.

Bicara soal kepercayaan dan kejujuran. Sebuah pelajaran menarik justru ditunjukkan oleh Bang Dollie, sebut saja begitu namanya. Dia seorang kondektur Metro Mini -sebuah angkutan umum dalam kota Jakarta- yang selain bertugas berkoar-koar memanggil penumpang, juga mendapat kepercayaan memegang uang ongkos para penumpang.

Sepanjang hari, sejak keluar jam 05.00 WIB sampai tengah malam hingga waktunya menghitung setoran dan laba. Uang yang terkumpul pun dihitung, kemudian ada kewajiban untuk membayar setoran ke pemilik angkutan umum. Namun, diakui Bang Dollie, tak sekali pun ia pernah berniat untuk menilep -menyembunyikan uang untuk keuntungan pribadi- beberapa lembar uang dari setumpuk uang ongkos penumpang digenggamannya. Padahal, kalau ia mau, tentu saja ia bisa. Meski jika ia nakal, sangat mungkin baginya melakukannya.

Tapi ia tak melakukannya. Bukan karena takut kepada Allah, bukan pula lantaran ia tak tertarik. Dalam logat bataknya yang kental, "Mana mungkin aku bisa nilep, jangankan Tuhan, sopirku pun pasti tahu kalau aku nilep".

Obrolan pun mengalir. Menurut Bang Dollie, rekannya yang menjadi sopir memang tak akan pernah tahu kapan dan berapa yang bisa ditilep olehnya. Tapi secara umum si sopir bisa tahu, sebab pekerjaan mereka berdua selain menuntut saling percaya, juga didasari atas pengalaman. Pertama, sebelum naik pangkat menjadi sopir, si sopir pernah mengenyam beberapa tahun pengalaman sebagai kondektur. Kedua, melalui jalur yang sama berulang-ulang, dan melakoni pekerjaan yang sama setiap hari, membuat si sopir tahu persis berapa banyak penumpang yang naik kendaraannya dalam sehari. Sepi atau ramai penumpang pun dia bisa menghitungnya, sehingga sangat sulit bagi sang kondektur berdalih, "penghasilan hari ini sedikit, sebab penumpang sepi" untuk mengelabui si sopir.

Sebenarnya, terpenting dari soal ketidakberanian Bang Dollie untuk nilep uang adalah karena rekannya yang bertugas dibalik kemudia telah memberikan kepercayaan penuh kepadanya. "Sekali kau berbuat curang, kau tidak akan pernah bisa bekerja di mana pun. Karena kau akan dikenal sebagai orang tidak jujur". Tentu saja yang dimaksud bekerja di mana pun itu, menjadi kondektur di angkutan mana pun.

Pelajaran yang sama juga diperoleh dari seorang sopir angkot cadangan. Ia memang bukan sopir asli dari angkot yang dibawanya, tetapi si sopir asli sering berbaik hati dengan memberinya kesempatan beberapa jam untuknya. Si sopir cadangan ini pun takkan pernah bisa berbohong soal penghasilannya selama beberapa jam itu. Sebab, sopir asli bukanlah orang yang tak tahu berapa yang biasa ia dapatkan dalam beberapa jam. Sebab, ia sangatlah pengalaman untuk pekerjaannya.

So, sebenarnya kedekatan antara kepercayaan dengan kejujuran masih bisa dipakai. Asalkan memenuhi dua saratnya. Kesatu, si pemberi kepercayaan tetap melakukan pengawasan. Kedua, yang mendapat kepercayaan betul-betul menyadari bahwa dirinya pun dalam pengawasan. Kalau semua bisa berlaku seperti ini, bukankah indah negeri ini? Wallaahu 'a'lam.

Bayu Gawtama

Tuesday, October 03, 2006

Khasiat Sedekah: Penerima Berdaya, Anda Bahagia

Siapa yang lebih bahagia, pemberi sedekah atau penerima sedekah? Sekilas, nampak kebahagiaan hanya terpancar dari raut wajah penerima. Ia terlihat sumringah saat menggenggam uang sedekah dari yang memberi. Tak lupa, sekelumit doa dan rasa syukur dihaturkan untuk orang yang memberinya sedekah sebagai ungkapan terima kasih. Beberapa penerima, bahkan tak sungkan mencium punggung tangan orang yang telah menyisihkan hartanya untuk mereka. Beginilah pemandangan yang senantiasa tampak dalam setiap episode sedekah berlangsung.

Demikiankah sesungguhnya? Benarkah penerima sedekah jauh lebih berbahagia tinimbang yang bersedekah? bukankah justru seharusnya penyedekah itu yang berbahagia?

Setidaknya ada dua tingkatan tujuan sedekah bagi para penerimanya. Pertama, diharapkan setelah menerima sedekah, mereka mencapai tingkatan berdaya. Setidaknya, dalam rentang beberapa waktu mereka tidak lagi menjadi orang-orang menerima sedekah. Orang-orang yang biasa menerima sedekah ini, seharusnya di waktu tertentu sudah bisa memberdayakan diri mereka sendiri. Tak perlu menengadahkan tangan, meminta-minta dan berharap belas kasihan para penderma. Mereka tak lagi menerima sedekah karena sudah tidak membutuhkan. Meski demikian, dalam tingkatan ini mereka belum menjadi penyedekah. Tingkatan kedua, yakni mereka berubah status dari penerima menjadi pemberi sedekah. Ini yang paling diharapkan, kalau satu tahun lalu -misalnya- mereka masih menjadi penerima sedekah, seharusnya di tahun berikutnya merekalah para penyedekah yang berniat memberdayakan orang-orang yang disedekahinya.

Karenanya, sedekah bukan sekadar menaruh uang di kotak amal. Atau mengumpulkan para fakir miskin, anak yatim, kemudian membagi-bagikan amplop, lantas selesai. Para penyedekah tak selesai kewajibannya hanya sampai sebatas memberi. Ada kewajiban lainnya, yakni tak membiarkan penerima sedekah menjadi orang-orang yang berketergantungan dengan sedekah. Jangan sampai ada orang yang 'menikmati' hidup dengan pemberian orang lain. Ada kewajiban bagi para penyedekah, yakni membuat penerima sedekah itu menjadi orang-orang yang berdaya. Setidaknya hingga mereka sanggup mencapai tingkatan tak lagi bergantung pada sedekah dan bisa menghidupi diri dan keluarganya sendiri.

Sedekah itu tanpa batas. Nilai dan jumlahnya tak dibatasi, penerima sedekahnya juga tidak terbatas. Artinya, penyedekah bisa memberikannya kepada siapa saja, dari yang terdekat hingga terjauh sekali pun. Tak hanya itu, waktu untuk bersedekah pun tak pernah dibatasi. Tak hanya di bulan-bulan tertentu saja, melainkan sepanjang waktu. Selama seseorang mampu untuk bersedekah, baik di waktu sempit mau pun lapang, maka bersedekah dianjurkan.

Nah, lantaran sedekah itu tanpa batas, maka tidak pernah dibatasi jumlah yang boleh disedekahkan. Tidak ada nisab untuk sedekah, selama ia mampu maka teruslah bersedekah. Tidak pernah ada ketentuan seseorang sudah boleh bebas tak bersedekah karena sudah terlalu sering bersedekah. Dan yang terpenting, tidak pernah tertulis dalam sejarah ada orang yang jatuh miskin lantaran bersedekah.

Sebab, semua orang yang pernah dan selalu bersedekah tahu betul, bahwa sedekah membuat mereka kaya dan bahagia. Siapa yang tak bahagia berniaga dengan Allah? Kita mendapatkan modal dari Allah, berupa diri dan harta yang kita miliki saat ini. Kemudian dari modal yang dipinjamkan Allah itu, kita diajak berniaga oleh-Nya dengan tawaran keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh pedagang terbesar mana pun di dunia ini. Tak tanggung-tanggung, keuntungan berniaga dengan Allah adalah mendapatkan ampunan dari Allah, kemudian Allah akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Padahal, yang diminta Allah kepada kita adalah, beriman kepada-Nya dan rasul-Nya, kemudian Allah juga meminta kita berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kita. Bayangkan, Allah meminta kita menukar harta dan jiwa ini –yang keduanya milik Allah dan hanya dipinjamkan kepada manusia- dengan balasan surga-Nya. Perniagaan indah nan menguntungkan ini Allah gambarkan dalam Qur'an Surat Ash Shaaf (61) ayat 10-12.

Adakah yang mampu memberikan keuntungan lebih besar dari Allah? Tak bahagiakah orang-orang yang mau berniaga dengan Allah. Bukankah seharusnya orang-orang yang bersedekah jauh lebih bahagia, karena ia telah melakukan perniagaan dengan Allah?

Sedekah itu membahagiakan. Siapakah yang dimaksud? Tentu saja yang bersedekah, sebab selain ia telah mendapatkan kesempatan mengenyam surga Allah, kebahagiaan pula bisa melihat senyum orang-orang yang mendapat sedekah. Tak hanya itu, sedekah masih memberikan banyak manfaat bagi pelakunya, antara lain dilipatgandakannya harta kita, dijauhkan dari bahaya, diberikan kesehatan, dan tentu saja menenangkan jiwa.

Adakah yang tak menginginkan kebahagiaan seperti itu? Sungguh, khasiat sedekah hanya satu bagi penerima. Namun terdapat jutaan khasiat yang diperoleh bagi pelakunya. Maka, bersegeralah meraihnya. (gaw)

------------------------------------------------------

Sedekah melalui ACT-Aksi Cepat Tanggap, untu korban bencana

Bank Central Asia
Acc. No. 676 030 0860
Bank Permata Syariah
Acc. No. 0971 001224

Bayu Gawtama
Communication Manager ACT

email: bayu.gawtama@aksicepattanggap.com

Sunday, October 01, 2006

Jejak Volunteer: Totalitas ala Fahmi

Ia datang sebagai relawan, suatu saat jika kembali pun tetap relawan. Fahmi namanya, usianya baru menginjak 23 tahun. Namun, banyak hal yang patut diteladani dari pemuda ini, terutama soal makna totalitas dan loyalitas sebagai relawan (volunteer) kemanusiaan.

Fahmi datang ke Jogja hari ke-empat pasca gempa Jogja 27 Mei 2006, dan semenjak itu hingga kini ia masih di Jogja bersama-sama dengan korban bencana. Dunia kemanusiaan memang baru buatnya, namun sekali ia menceburkan diri ke dalamnya, ia seperti tak pernah puasnya berenang dalam kenikmatan bekerja sebagai volunteer. Sejak masa emergency, hingga kini memasuki fase recovery, tak berkurang semangat yang dimilikinya untuk membantu sesama.

"Setiap kita, mungkin hanya diberi satu kesempatan untuk melakukan hal terbaik. Dan hal terbaik bagi saya adalah ketika saya bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Ini adalah kesempatan saya, saya tak akan pernah melepaskannya," ungkap Fahmi pemuda yang sangat pendiam ini. Ya, Fahmi memang menganut sikap tak banyak bicara, namun warga Dusun Kedaton Kidul, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, bisa memberikan kesaksian tentang apa yang dikerjakan Fahmi.

Sejak hari pertama kedatangannya membantu korban gempa Jogja, Fahmi tinggal ditenda bersama-sama dengan relawan ACT-Aksi Cepat Tanggap lainnya. Bahkan saat ACT membuka kantor untuk program recovery Jogja, Fahmi tetap memilih tinggal di tenda bersama-sama dengan pengungsi. Bahkan saat ini, susah membedakan, Fahmi itu volunteer atau pengungsi. Sebab, sehari-hari Fahmi sangat menyatu dengan pengungsi.

"Dia sangat dekat dengan kami, totalitasnya terbukti dengan tetap memilih tinggal bersama kami di tenda pengungsi," ujar Pak Ngadimin, salah satu pengungsi di Kedaton Kidul.

"Wah, dia sih jangan ditanya deh. Ya sudah seperti warga Kedaton. Tinggal di sini, makan, mandi semuanya dilakukan di sini. Sepertinya dia ingin ikut merasakan penderitaan warga korban bencana," ungkap Bidan Endang, warga Kedaton lainnya.

Kini, Fahmi sama lusuhnya dengan pengungsi. Sama-sama makan seadanya seperti yang dimakan pengungsi. Bahkan ketika ditanya, kapan rencana kembali ke Jakarta, ia hanya menjawab singkat, "belum tahu mas, mungkin nanti kalau sudah tidak dibutuhkan".

Fahmi tahu betul, seperti diketahui pula oleh seluruh relawan kemanusiaan di mana pun berada, di lokasi bencana mana pun mereka pernah bekerja. Bahwa relawan tak pernah tidak dibutuhkan. Kehadirannya senantiasa dinanti. Pun ketika tidak ada bencana, mereka tetap diminta siap siaga jika sewaktu-waktu bencana memanggil. Negeri ini banyak berhutang jasa kepada relawan-relawan kemanusiaan. Totalitas dan loyalitas ala Fahmi, benar-benar patut diacungi jempol.

Tentu Fahmi tidak sendiri, teramat banyak relawan sepertinya di berbagai lokasi bencana. Meski relawan tak pernah meminta, tapi layaklah kita berucap, "Terima kasih atas baktimu, relawan". (gaw)