Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, September 22, 2004

Bayaran Langsung

Beberapa tahun lalu, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana menjadikan hidup ini menyenangkan. Punya pekerjaan bagus, posisi lumayan dengan penghasilan yang memuaskan. Maka, jadilah hidup yang ingin aku jalani hanya berputar dari mencari uang dan menghabiskannya dengan memanjakan diri sendiri. Entahlah, waktu itu tidak pernah ada dalam benakku untuk memikirkan kesulitan orang lain.

Namun kenyataan yang aku dapatkan lain dari bayangan, karena begitu sulitnya mencari pekerjaan. Alhasil, jangankan untuk memanjakan diri, sekadar untuk mencari sesuap nasi pun terasa begitu berat. Namun demikian kondisi tersebut mampu merubah kepribadianku hingga menjadi orang yang sedikit peduli sesama orang lain. Hanya saja, pemahamanku yang minim tentang agama tidak membuatku giat bersedekah. “Kalau lagi ada ya ngasih, kalau nggak ada ya buat sendiri dulu”. “Orang lain nanti dululah, aku sendiri sedang kesusahan”. Selain juga aku selalu beranggapan bahwa setiap amal dan sedekah merupakan bekal kita di akhirat nanti.

Yang masih kuingat, terakhir aku mengajak seorang peminta-minta tua untuk makan bersamaku. Waktu itu aku di sebuah warung nasi, tak sengaja mataku menangkap orangtua tersebut menelan ludah saat menatapku yang begitu bersemangat melahap santapan siangku. Segera aku turunkan kakiku yang naik bersilah di atas bangku warung dan menghampirinya. Kuajak dia masuk dan memesankan sepiring nasi beserta lauk untuknya kepada penjual nasi. Seperti halnya aku, ia pun tak kalah gesitnya melahap makanan itu, hingga kami berdua seolah tengah berlomba makan. “Biar saya yang bayar pak” tak lupa kuselipkan uang seribu perak ke kantong bajunya. Kemudian kuperhatikan orangtua itu berdo’a yang isinya samar-samar kudengar agar aku diberikan rizki yang banyak atas kebaikanku padanya. Bukan aku tak senang dengan do’anya, tapi kupikir, kenapa ia tidak mendo’akan dirinya saja agar bisa hidup lebih baik lagi tanpa harus menjadi peminta-minta.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar bahwa uangku tidak cukup untuk membayar dua piring nasi. Aku ingin lari saja seperti dulu sewaktu masih di sekolah, tapi, “Ah tidaklah, itu dosa masa lalu” pikirku. Aku mencari cara dan alasan bagaimana caranya agar bisa berhutang dan besok-besok kalau sudah punya uang baru aku bayar. Namun nampaknya mbok penjual warung sudah menangkap gelagat tidak baik yang akan aku lakukan sehingga akhirnya kutitipkan arloji kesayanganku. “Besok saya tebus mbok, dompet saya hilang nih,” aku ngeloyor pergi setelah berpura-pura kehilangan dompet. “ndak punya duit aja sok-sok-an mbayarin orang makan” kata-kata itu sempat tertangkap sesaat sebelum aku pergi meninggalkan malu di warung itu.

Satu hari, dua hari, sampai satu minggu aku tak kembali ke warung itu. Gajian masih enam belas hari lagi … ya sudahlah, nanti saja setelah gajian aku bayar, kalau perlu berikut dendanya, pikirku. Pas hari gajian tiba, segera aku ke warung hendak menebus arloji antik pemberian dari mendiang ayahku itu. Namun, kecewanya aku karena barang itu sudah dijual oleh simbok penjual nasi. “Sampean janjinya besok, ini sudah lebih dua minggu. Jadinya arloji itu milik saya”. Inginnya sih marah-marah, tapi sudahlah, wong aku yang salah kok.

Hidup terkadang harus dijalani apa adanya, kalau lagi senang ya tersenyumlah sewajarnya. Kalau kesulitan melanda, hadapi dengan ikhlas dan sabar. Toh, aku pikir masih banyak orang yang jauh lebih susahnya ketimbang aku. Hingga suatu ketika aku mengalami kesulitan yang begitu memberatkan, ibuku sakit dan harus segera dibawa ke dokter. Sebenarnya ia sudah lama sakit hanya saja selama ini dipaksakan untuk tidak memeriksakan ke dokter karena kami tak punya biaya. Disaat kebingungan itulah, Allah mengirimkan seorang ‘malaikat’ ke rumah kami. Kamil, sahabat lama yang entah sudah sekian tahun tak bertemu. Sudah hebat dia, bermobil pula.

Allah memang Maha Adil. Disaat orang lain kesulitan, Dia mengirimkannya kepadaku. Dan kini disaat aku yang kebingungan, ia kirimkan seorang penunjuk jalan. Kejadian yang baru saja kualami, kembali memberikan satu hikmah kepadaku. Kini, meski juga masih dalam kekurangan aku akan selalu menebar kebaikan kapanpun dan kepada siapapun. Karena kini aku yakini, amal yang sekarang kita kerjakan tidak hanya menjadi bekal di akhirat. Allah bayarkan juga kebaikan kita di dunia. Ini seperti menebar benih yang hasilnya bisa langsung dipetik di kemudian hari, seperti menabung yang isinya bisa kita dapatkan kapan saja, namun tak mengurangi jumlahnya. Malah bertambah dan terus bertambah ratusan kali lipat. Mungkin bukan untuk kita, tapi bisa untuk orang yang kita cintai. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti disaat kita begitu membutuhkannya. Dan mungkin tidak langsung dari orang yang pernah merasakan kebaikan kita, tapi bayaran langsung dari-Nya itu bisa datang melalui tangan siapa saja yang tidak diduga kedatangannya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (2:261)

23/09/2002 -
Bayu Gautama, terima kasih kepada semua yang telah memberikan kesempatan untukku berbuat kebaikan

Tuesday, September 21, 2004

Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memaruh daunnya.

Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat ke kantor meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga melihat anaknya di wisuda.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering meraih ranking kelas bergantian.

Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak dua putri cantik saya ke depan istana Bogor untuk melihat dan memberi makan rusa dari balik pagar besi istana itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kebun raya dan membiarkan dua peri cantik itu berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun.

Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku.

Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang semalam meneleponku.

Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a’lam.

Bayu Gautama.
Mengenang seorang sahabat. “Rid, mungkin hari ini, besok atau lusa kita bertemu”

Virus Berbagi*

Senja, menjelang maghrib, kesibukanku dimulai lagi. Seperti biasa setiap sore ibu telah menyiapkan beberapa mangkuk penganan berbuka puasa untuk dibagikan kepada para tetangga terdekat. Berbeda dengan kemarin, sore ini ibu membuat kacang hijau. Hmm, dari aromanya pastilah nikmat sekali. Tapi, apapun makanan buatan ibu sudah pasti saya suka.

Hantaran pertama, ke rumah bu Citro, tetangga sebelah rumah yang temboknya jadi satu dengan tembok rumah kami. Kalau malam, bu Citro –nenek berusia 74 tahun- pasti sering terganggu oleh suara gaduhku dan adik-adik yang hiruk pikuk bercanda hingga larut malam.

Mangkuk kedua, saya yang ditemani adik mengantarkan kacang hijau buatan ibu ke rumah pak Mamo. Pak Mamo itu dulu bekas sopir ayah yang kini sudah tak lagi menjadi sopir karena matanya tak lagi seawas dulu ketika masih muda. Ia kini tinggal bersama anaknya. Istrinya,sudah empat belas tahun yang lalu berpulang.

Setelah dari rumah pak Mamo, mangkuk berikutnya kami hantarkan ke rumah bu Lastri, tetangga kami yang rumahnya paling besar di kampung. Bu Lastri ini sebenarnya termasuk yang paling pelit, dan kepelitannya itu bahkan sudah terkenal pula warga RW sebelah. Saya sempat bertanya, “Ibu kok ngirim ke bu Lastri sih, kan bu Lastri nggak pernah ngasih apa-apa ke kita.”

Kata ibu, “Memberi ya memberi saja, nggak perlu harus dilihat dia itu siapa dan pernah ngasih apa ke kita, nanti disangkap pamrih.” Untuk anak usia 6 tahun sepertiku, kata-kata ibu itu hanya ditanggapi dengan kata, “Ooh gitu”.

Mangkuk berikutnya, ini sebenarnya yang paling berat, karena saya harus mengantarnya ke rumah bu Iyak. Pasalnya, Sakti, anak bu Iyak itu adalah musuh bebuyutanku. Dibilang musuh bebuyutan bukan dalam artian bahwa kami ini selalu berkelahi kalau bertemu. Hanya saja, dalam setiap permainan Sakti tidak akan pernah mau satu tim denganku, begitupun juga denganku, lebih senang untuk beradu jago dengannya. Rasanya, ada kepuasan tersendiri jika bisa mengalahkan Sakti dengan timnya, misalnya dalam permainan bola sepak.

“Kamu aja deh dik yang nganter ya, abang tunggu di luar,” kataku kepada adikku yang mengangguk saja memenuhi permintaanku. Tapi, suara ibu dari dapur menggagalkan niatku, “Abang langsung temuin bu Iyak ya, bilang nanti malam ibu ada perlu dengannya sepulang sholat tarawih”.

Tibalah untuk waktunya mengantar mangkuk terakhir ke rumah bu Asih. Sampai di rumahnya, ibu Asih tidak ada di tempat. Hanya ada mbok Sumi pembantunya. Diikuti langkah kecil adikku, saya urung memberikan kacang hijau itu ke mbok Sumi. Dan kembali ke rumah.

“Loh, kok dibawa pulang?” tanya ibu.

“Bu Asih-nya nggak ada bu, yang ada cuma mbok Sumi. Makanya abang bawa pulang lagi…”

“Ya nggak apa-apa abang, kasih aja ke mbok Sumi, kan sama aja,” lanjut ibu.

“Abang nggak mau. Abang kan harus bilang langsung ke bu Asih kalau kacang hijau ini dari ibu…”

“Ya ampuun abang. Kalau memberi itu ya nggak perlu pake nyebut-nyebut nama segala dong. Kalau kita ikhlas, Allah lebih senang,” terang Ibu.

“Ooh gitu…”

***

Saya tidak pernah menyadari, bahwa kenangan bulan Ramadhan 24 tahun yang lalu itu masih membekas hingga sekarang. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa ibu selalu repot-repot setiap sore menyediakan beberapa mangkuk makanan berbuka untuk para tetangga. Kini, saya mengerti, saat itu ibu tengah menanamkan semangat berbagi kepada anak-anaknya.

Dulu, 24 tahun yang lalu, saya juga tak mengerti kenapa bu Iyak keesokan harinya mengantarkan semangkuk sup ke rumah. Atau ketika bu Lastri tiba-tiba datang membawakan sekantong es campur buatannya sendiri.

Atau ketika bu Asih mengetuk pintu dan berkata, “Terima kasih ya kiriman bubur kacang hijaunya. Dari rasanya, dan mangkuknya, saya tahu itu kiriman dari ibu. Tidak ada yang bisa membuat kacang hijau seenak buatan ibu”.

Bayu Gautama
Special for Relawan 1001buku dan KKS Melati
*
judul awal, Semangat Berbagi, tapi atas saran Rini KKS Melati diganti jadi Virus Berbagi