Sejak kecil saya mengenal ulang tahun identik dengan lilin, kue tart dan balon. Ada tepuk tangan meriah dan nyanyian selamat kepada yang berulang tahun, kemudian, ffiuuhh... lilin pun padam disambut tepuk tangan yang jauh lebih meriah dari sebelumnya. Peluk cium pun bersarang di kening, pipi dan kepala yang hari itu tengah berbahagia memperingati hari jadinya.
Beranjak remaja, ulang tahun yang saya saksikan masih tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih ada lilin, kue tart, balon, tepuk tangan dan lagu yang sudah sangat dihapal luar kepala bahkan oleh anak usia tiga tahun sekali pun. Bedanya mungkin pada pestanya yang lebih beragam, makanannya yang tak lagi dibungkus plastik berisi permen dan makanan kecil. Musiknya pun berbeda, dan kali ini dibarengi acara yang saya sendiri tak pernah mengerti kaitannya dengan makna ulang tahun itu sendiri. seperti ketika seorang teman memperingati hari jadi ketujuhbelasnya kala itu, kebebasan menjadi tema pesta hari itu sehingga beragam acara dibuat sesuai dengan tema itu. Ada peluk cium, tapi bukan dari orang tua, kakak atau adik dan saudara yang berulang tahun, melainkan dari rekan sebaya, teman sekolah, dan pasti seseorang yang menjadi tamu spesial di pesta itu.
Saya yang sejak kecil tak pernah merayakan hari jadi dengan pesta, tak pernah ada lilin, kue tart, balon, dan segala yang saya saksikan di berbagai pesta teman-teman, hanya ingat satu hari saat orang tua saya mengumpulkan kami dalam sebuah jamuan makan alakadarnya. Duduk bersila seluruh anggota mengelilingi sajian makan malam yang sedikit lebih istimewa dari biasanya. Kemudian saya diminta bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan selama sekian tahun menjalani kesempatan yang diberikannya. Ada pertanyaan yang teramat sulit terjawab oleh lidah ini kala itu, "kebaikan apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun ini?" dan "sebanyak apa keburukan yang terjadi sepanjang tahun ini?"
Kelu lidah ini untuk menuturkan seberapa banyak kebaikan yang sudah dilakukan, terlebih ketika harus membeberkan berbagai salah dan keburukan yang sadar maupun tidak terjadi begitu ringan, tanpa beban, tanpa penyesalan, dan tanpa takut akan balasan yang kan menimpa. Bukankah setiap keburukan yang dilakukan sekecil apa pun ada ganjarannya? seperti halnya Allah juga akan seringan hembusan angin menghadiahi sebesar atom pun kebaikan kita, terlihat maupun tidak, dalam keadaan mudah maupun sulit.
Sejak lima belas tahun yang lalu saya dan segenap sahabat pun mentradisikan sebuah ulang tahun dengan cara yang sederhana. Tanpa lilin, kue tart, balon, tepuk tangan dan pesta meriah dengan musik yang hingar bingar. Sebuah ulang tahun yang dibingkai dengan satu makna, bahwa ulang tahun adalah sebuah terminal pemberhentian untuk melihat kembali jalan yang sudah ditempuh agar mampu menutup setiap celah yang ada, memperbaiki kesalahan yang tercipta. Satu persatu sahabat menyebutkan kesalahan, kealpaan, keburukan yang pernah dilakukan oleh yang berulang tahun hari itu. Tidak ada pujian, tidak ada kata selamat, bahkan sahabat yang berulang tahun hari itu hanya boleh berucap "terima kasih" untuk semua masukan, kritikan, dan evaluasi yang bisa jadi terasa pedas dan perih. Mungkin tak lagi terasa perih semua masukan itu jika ia lebih bijak memandangnya sebagai bentuk kasih dan cinta sahabat akan kebaikan sahabatnya di masa datang.
Acara pun ditutup dengan bersimpuh bersujud bersyukur kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Menangislah ia menyadari bahwa teramat banyak salah yang terbuat dari goresan lidahnya, gerak tangan, ayunan langkah, bahkan kerling mata dan sunggingan senyum tak tulusnya terhadap orang terkasih itu.
Saat ini, semakin sadar diri ini bahwa memperingati hari jadi terasa lebih khidmat saat mengingat kembali masa lalu, menapaki satu persatu jalan yang pernah terlewati, memperbaiki yang salah, menambal yang berlubang, menutupi setiap celah keburukan, agar mampu menatap masa depan yang lebih cemerlang.
Bayu Gawtama
hadiah istimewa untuk yang berulang tahun pertama hari ini, delta siesta
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Tuesday, August 30, 2005
Berubah atau Mati
Alam mengajarkan banyak ilmu kepada manusia, dengan catatan, manusia itu sendiri yang mau menggali ilmu yang terdapat di alam ini. Penjelasan bahwasannya hanya orang-orang berakal yang mau mengamati dan belajar dari tanda-tanda alam sepanjang silih-ganti siang dan malam adalah sebuah petunjuk yang sangat membantu manusia untuk memahami maksud alam tersebut. Dan menjadi kepastian mereka yang tak mampu mengambil pelajaran yang diberikan alam akan lebih cepat tergusur. Mulanya hanya tergeser hingga ke pinggiran, kemudian menghilang dan musnah.
Siapa pun manusianya, hendaknya memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di setiap detik berjalan. Detik ini dengan detik sebelumnya terdapat banyak perubahan yang terjadi. Arah mata angin, dedaunan yang terus bergerak seirama hembusan angin yang tak pernah sama besarannya, air sungai yang mengalir mencari kerendahan, terik matahari yang menyerap air dari bumi agar kemudian awan menumpahkannya kembali sebagai hujan. Dan langit sebagai atap yang tak pernah berwarna yang sama setiap harinya, selalu berubah biru, putih, merah, jingga, kuning bahkan hitam.
Perhatikanlah malam, bintang yang menghiasi langit malam hari tak pernah sama jumlahnya. Bisa jadi di satu malam tak satu pun yang menampakkan diri, padahal malam sebelumnya tak satu pun makhluk di muka bumi ini yang sanggup menghitungnya. Hangat mentari pagi berganti panas di siang hari, kemudian perlahan sejuk seiring memerahjingganya langit senja menjemput malam. Tak pernah siang selamanya, tak pernah pula malam seterusnya, pergantiannya senantiasa seiring dengan kekuasaan Tuhan atas apa-apa yang pernah diciptakannya.
Adakah manusia juga berubah? Secara fisik manusia pun berubah semenjak pertama kali matanya menatap dunia sampai ia menutup matanya di hari ajalnya. Semenjak huruf pertama yang mampu terucap hingga kalimat terakhir yang diucapkannya saat meregang nyawa. Semenjak belum mampu kakinya menahan tubuh, kemudian belajar berdiri, berjalan, berlari, hingga ia benar-benar terbaring kembali di tanah sempit sedalam satu meter. Semenjak ia belum mengenal apa pun, kemudian belajar, tahu, memiliki, dan mencintai sesuatu hingga Tuhan berkehendak pasti disaat manusia harus meninggalkan semua yang pernah dimilikinya, semua yang dicintainya. Semua perubahan itu tak sekadar mengiringi perubahan yang berlaku pada alam tempat manusia hidup, tetapi juga bagian dari kekuasaan Allah.
Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca kisah tujuh pemuda yang masuk ke dalam gua untuk mempertahankan keimanannya. Kemudian Allah membuat mereka tertidur selama tiga ratus sembilan tahun lamanya. Tak terbilang perubahan yang terjadi di luar gua tempat mereka bersembunyi, namun atas kuasa Allah tubuh mereka tidak berubah tetap seperti sediakala saat pertama masuk ke gua sehingga sebagian mereka menganggap hanya satu dua hari tertidur dalam gua.
Saat mereka tertidur Allah membalik-balikkan tubuh ketujuh pemuda itu ke kanan dan ke kiri? Dan itu berlangsung selama tiga ratus sembilan tahun. Di satu sisi bahwa mereka tetap hidup dan tak menua adalah kekuasaan Allah, tapi cara Allah membalik-balikkan tubuh tujuh pemuda itu tak lain untuk menunjukkan kepada kita tentang hakikat perubahan. Dari sudut pandang keilmuan, andai tubuh yang merebah itu tak dibalik-balikkan ke kanan dan ke kiri untuk bergantian mendapat sinar matahari terdapat kemungkinan bagian yang menempel tanah itu akan membusuk dan akhirnya mati. Allah berkenan membuat tujuh pemuda itu tetap hidup dengan dua cara, kekuasaan untuk memberi umur panjang dan mengubah ke kanan dan kiri posisi tidur mereka agar berganti mendapat sinar matahari.
Inilah semestinya yang menjadi pelajaran manusia diluar tujuh pemuda yang beriman itu, bahwasannya perubahan menuju perbaikan itu adalah sebuah keharusan. Menjadi orang baru setiap hari dengan memperbaiki kesalahan, menutupi kekurangan hari kemarin adalah kewajiban. Seperti halnya daun yang telah jatuh ke tanah, ia tak lagi mengikuti irama angin bersama jutaan daun lain yang masih menyatu di dahan. Berarti ia mati. Manusia yang tak berubah, yang tak memperbaiki kesalahannya, tak menutupi kekurangannya, tak menambah nilai prestasi dalam hidupnya, mereka hanya tengah menunggu saat matinya.
Setiap manusia pasti mati, tapi setiap manusia juga punya kesempatan meng-create kematiannya apakah berakhir dengan indah atau sebaliknya. Mengakhiri hidup dengan segunung prestasi, selaut amal kebaikan, dan sebaris senyum para penghuni langit. Ini mimpi sederhana saya. Semoga.
Bayu Gawtama
Siapa pun manusianya, hendaknya memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di setiap detik berjalan. Detik ini dengan detik sebelumnya terdapat banyak perubahan yang terjadi. Arah mata angin, dedaunan yang terus bergerak seirama hembusan angin yang tak pernah sama besarannya, air sungai yang mengalir mencari kerendahan, terik matahari yang menyerap air dari bumi agar kemudian awan menumpahkannya kembali sebagai hujan. Dan langit sebagai atap yang tak pernah berwarna yang sama setiap harinya, selalu berubah biru, putih, merah, jingga, kuning bahkan hitam.
Perhatikanlah malam, bintang yang menghiasi langit malam hari tak pernah sama jumlahnya. Bisa jadi di satu malam tak satu pun yang menampakkan diri, padahal malam sebelumnya tak satu pun makhluk di muka bumi ini yang sanggup menghitungnya. Hangat mentari pagi berganti panas di siang hari, kemudian perlahan sejuk seiring memerahjingganya langit senja menjemput malam. Tak pernah siang selamanya, tak pernah pula malam seterusnya, pergantiannya senantiasa seiring dengan kekuasaan Tuhan atas apa-apa yang pernah diciptakannya.
Adakah manusia juga berubah? Secara fisik manusia pun berubah semenjak pertama kali matanya menatap dunia sampai ia menutup matanya di hari ajalnya. Semenjak huruf pertama yang mampu terucap hingga kalimat terakhir yang diucapkannya saat meregang nyawa. Semenjak belum mampu kakinya menahan tubuh, kemudian belajar berdiri, berjalan, berlari, hingga ia benar-benar terbaring kembali di tanah sempit sedalam satu meter. Semenjak ia belum mengenal apa pun, kemudian belajar, tahu, memiliki, dan mencintai sesuatu hingga Tuhan berkehendak pasti disaat manusia harus meninggalkan semua yang pernah dimilikinya, semua yang dicintainya. Semua perubahan itu tak sekadar mengiringi perubahan yang berlaku pada alam tempat manusia hidup, tetapi juga bagian dari kekuasaan Allah.
Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca kisah tujuh pemuda yang masuk ke dalam gua untuk mempertahankan keimanannya. Kemudian Allah membuat mereka tertidur selama tiga ratus sembilan tahun lamanya. Tak terbilang perubahan yang terjadi di luar gua tempat mereka bersembunyi, namun atas kuasa Allah tubuh mereka tidak berubah tetap seperti sediakala saat pertama masuk ke gua sehingga sebagian mereka menganggap hanya satu dua hari tertidur dalam gua.
Saat mereka tertidur Allah membalik-balikkan tubuh ketujuh pemuda itu ke kanan dan ke kiri? Dan itu berlangsung selama tiga ratus sembilan tahun. Di satu sisi bahwa mereka tetap hidup dan tak menua adalah kekuasaan Allah, tapi cara Allah membalik-balikkan tubuh tujuh pemuda itu tak lain untuk menunjukkan kepada kita tentang hakikat perubahan. Dari sudut pandang keilmuan, andai tubuh yang merebah itu tak dibalik-balikkan ke kanan dan ke kiri untuk bergantian mendapat sinar matahari terdapat kemungkinan bagian yang menempel tanah itu akan membusuk dan akhirnya mati. Allah berkenan membuat tujuh pemuda itu tetap hidup dengan dua cara, kekuasaan untuk memberi umur panjang dan mengubah ke kanan dan kiri posisi tidur mereka agar berganti mendapat sinar matahari.
Inilah semestinya yang menjadi pelajaran manusia diluar tujuh pemuda yang beriman itu, bahwasannya perubahan menuju perbaikan itu adalah sebuah keharusan. Menjadi orang baru setiap hari dengan memperbaiki kesalahan, menutupi kekurangan hari kemarin adalah kewajiban. Seperti halnya daun yang telah jatuh ke tanah, ia tak lagi mengikuti irama angin bersama jutaan daun lain yang masih menyatu di dahan. Berarti ia mati. Manusia yang tak berubah, yang tak memperbaiki kesalahannya, tak menutupi kekurangannya, tak menambah nilai prestasi dalam hidupnya, mereka hanya tengah menunggu saat matinya.
Setiap manusia pasti mati, tapi setiap manusia juga punya kesempatan meng-create kematiannya apakah berakhir dengan indah atau sebaliknya. Mengakhiri hidup dengan segunung prestasi, selaut amal kebaikan, dan sebaris senyum para penghuni langit. Ini mimpi sederhana saya. Semoga.
Bayu Gawtama
Wednesday, August 24, 2005
Ia Hadir untuk Dicinta
Jika masih tertahan kelopak mata ini untuk tetap terbuka hingga larut, atau saat terjaga di pertengahan malam selalu saya sempatkan untuk menyambangi kamar anak-anak. Saya hampiri dan tatap wajah mereka bergantian sambil menghalau nyamuk yang hinggap di tubuh mereka. Wajah indah yang terlelap itu menyibakkan kejujuran dalam hati, bahwa mereka hadir sebagai amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Mereka ada untuk dicinta.
Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan mereka siang tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka. Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan. Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar sebuah kesalahan.
Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka. Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.
Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu yang tengah menimang dan membuai penuh kasih, tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri mereka. Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil mereka.
Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang masih berusia empat tahun –dari posturnya seukuran anak saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan yang sempat mampir di kepalanya. “goblok lu ya, kalau jatuh mampus luh,” hanya karena ia sempat melongok ke arah pintu angkot. Sebuah kesalahan kecil yang mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah nasihat lembut. Atau ketika isteri saya bercerita tentang seorang ibu dari teman sekolah anak kami di TK. Anaknya terjatuh saat berlari, “Nyungsep sekalian biar bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari,” itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.
Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam mimpi. Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya. Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan. Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasan dan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.
Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untukmenyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu. Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur, itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah terbaring di pangkuan bidadari.
Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan Ibunya tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru di sekolah.
Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketika Tuhan mencabut amanah itu dari kita. Menangiskah kita?
Bayu Gawtama
teramat banyak yang merindukan kehadiran mereka dengan cinta yang teramat tulus
Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan mereka siang tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka. Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan. Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar sebuah kesalahan.
Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka. Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.
Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu yang tengah menimang dan membuai penuh kasih, tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri mereka. Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil mereka.
Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang masih berusia empat tahun –dari posturnya seukuran anak saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan yang sempat mampir di kepalanya. “goblok lu ya, kalau jatuh mampus luh,” hanya karena ia sempat melongok ke arah pintu angkot. Sebuah kesalahan kecil yang mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah nasihat lembut. Atau ketika isteri saya bercerita tentang seorang ibu dari teman sekolah anak kami di TK. Anaknya terjatuh saat berlari, “Nyungsep sekalian biar bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari,” itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.
Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam mimpi. Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya. Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan. Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasan dan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.
Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untukmenyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu. Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur, itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah terbaring di pangkuan bidadari.
Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan Ibunya tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru di sekolah.
Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketika Tuhan mencabut amanah itu dari kita. Menangiskah kita?
Bayu Gawtama
teramat banyak yang merindukan kehadiran mereka dengan cinta yang teramat tulus
Subscribe to:
Posts (Atom)