Tugas kemanusiaan ke Palestina bukan sembarang tugas, siapapun yang diberi amanah untuk berangkat ke Palestina mesti jauh-jauh hari menyiapkan diri, membersihkan hati dan meluruskan niatnya agar tak terbersit sedikitpun hal-hal yang mengotori hati sehingga mengurangi keberkahan tugas itu. Buang jauh-jauh perasaan bahwa kita orang pilihan –baca; orang terbaik- di lembaga sehingga layak diberi amanah yang luar biasa seperti ini. Singkirkan pikiran bahwa kita ini hebat, sehingga tugas berat memang hanya untuk yang hebat. Bukan, bukan karena itu kawan. Bukan karena Anda orang terbaik atau terhebat sehingga diberi amanah ini, semuanya rahasia Allah. Bisa jadi justru sebaliknya, Allah tengah menguji orang-orang yang sesungguhnya lemah untuk menjadi kuat dengan tugas ini, memberi pelajaran bagi orang-orang yang selama ini kurang mengambil banyak hikmah di muka bumi ini.
Maka wajar ketika saya dan mas Imam ditunjuk untuk mengemban amanah ini, muncul keyakinan bahwa ini bukan karena kami yang terbaik, justru sebaliknya ini merupakan ujian buat kesabaran dan keyakinan kami. Beberapa pekan yang kami lakukan sebelum keberangkatan misi ke Palestina adalah memerbaiki diri, membersihkan hati, menguatkan mental dan senantiasa meluruskan niat. Kita bukan hendak menjadi pahlawan penolong rakyat Palestina, bukan, bukan itu kawan! Allah yang akan menentukan apakah kita bisa memasuki Gaza atau tidak sama sekali, meski sudah beberapa kali kita mencoba menembus blokade. Bukan Israel atau Pemerintah Mesir yang berkuasa, sangat mudah bagi Allah untuk mengatur semua yang ada di bumi ini, terlebih sekadar membuka pintu perbatasan di Rafah. Itu perkara sepele bagi Allah.
Allah yang akan menilai apakah orang-orang berlabel “relawan kemanusiaan” ini pantas atau tidak memasuki tanah suci Palestina. Pandangan Allah pasti menangkap sebutir debu yang mengotori hati para relawan, dan jika pada akhirnya perbatasan tetap tertutup boleh jadi karena Allah belum ridha tanah suci-Nya dimasuki oleh orang-orang yang hatinya kotor dan niatnya tidak lurus. Apakah setiap orang yang berhasil memasuki Gaza boleh dibilang hatinya bersih? Tidak juga, ini semua rahasia Allah semata. Nalar kita tidak akan pernah sampai untuk menganalisa kehendak Allah. Allah menghendaki siapa yang berhak dan siapa yang tidak, yang terpenting adalah berupaya tetap membuat Allah tersenyum dan akhirnya memberikan ridha-Nya untuk memasuki Gaza.
Salah satu cara Allah membersihkan niat dan hati saya adalah, dengan Allah memberi saya dua kesakitan dalam perjalanan menuju Palestina ini. Pertama ketika masih di Abu Dhabi, penyakit asam urat yang sudah lebih satu tahun tidak saya rasakan tiba-tiba terasa. Sehingga saya harus pincang-pincang ketika turun di Kairo. Bahkan sakitnya tidak tanggung-tanggung, kaki saya semakin bengkak dan belum pernah sebesar kali ini. “Ya Allah ini sakit sekali, saya ikhlas ya Allah jika ini untuk mencuci dosa-dosa saya,” gumam saya.
Sampai hari kedua di Kairo, kaki saya masih terasa sakit meskipun saya sudah mengonsumsi obat herbal yang dititipkan seorang sahabat di komplek rumah. Jika bukan karena tekad kuat untuk melakukan banyak hal di Kairo sebagai persiapan menuju perbatasan Rafah, mungkin saya hampir tidak kuat berjalan. “Saya tidak boleh kalah dengan rasa sakit ini, rakyat di Palestina jauh lebih menderita dari sekadar yang saya rasakan, bismillah…”
Saya baru tersadar, selain berharap rasa sakit itu bisa mengurangi dosa-dosa saya sebelum berangkat, saya pernah berkata, “Alhamdulillah, sudah satu tahun lebih saya tidak pernah lagi merasakan sakit asam urat berkat obat herbal tersebut,” beberapa teman pasti pernah mendengar ucapan saya ini. Sehingga saya merasa yakin penyakit ini tidak akan mengganggu perjalanan tugas kemanusiaan ke Palestina. Tetapi Allah Maha Berkuasa, tiba-tiba sakitnya datang disaat saya harus mengemban tugas ini. Masya Allah, ampuni hamba ya Allah…
Kedua, di hari kedua di Kairo, Jumat menjelang sore matahari terasa menyengat hingga hampir 50 derajat celcius, tiba-tiba saya merasa kedinginan. Saya panas dingin dan bilang ke mas Imam soal keadaan ini. Boleh jadi, menurut mas Imam, karena faktor cuaca. Tapi bagi saya tidak ketika saya menyadari ucapan saya yang lain ketika masih di tanah air jauh hari sebelum ada rencana keberangkatan ke Palestina. “Alhamdulillah sudah lebih empat tahun saya tidak pernah sakit, paling-paling hanya flu biasa”.
Di hari itu, saya demam, kepala pusing dan saya minta ke mas Imam agar kita kembali ke Wisma saja untuk beristirahat, meskipun saat itu sudah hampir pukul 19.00 waktu Kairo. Sampai di Wisma saya mencari obat yang dibekali Rini Maryani, salah satu tim program ACT dan langsung istirahat. Meski semalaman kedinginan, namun menjelang tengah malam berangsur pulih. Disaat itulah saya sadar, bahwa sakit demam ini juga teguran dari Allah atas ‘kesombongan’ saya semasa di tanah air.
Kepada diri saya sendiri saya menegur keras, “Jangan sombong kawan!”, ini pelajaran berharga buat saya yang tanpa sadar meski tipis dan tidak kelihatan namun tetap sombong, padahal sombong itu hak prerogatif Allah. Wallaahu ‘a’lam
Gaw, Kairo 11 Juli 2010
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Sunday, July 18, 2010
ACT Road to Paletine; Tidak Semua Bisa Berangkat, Tapi Semua Bisa Ambil Peran
Sebagai warga negara yang baik tentu saja kami wajib melaporkan kedatangan tim ke pihak Kedutaan Besar RI di Kairo di 13 Aisha El Taimouria Street, Garden City, Cairo, sekaligus ingin bertemu dengan Pak Badruzzaman Burhanuddin, yang sudah sering kontak dengan kami semasa masih di tanah air. Rupanya Pak Burhan inilah yang sangat berperan membantu agar visa dari berbagai lembaga kemanusiaan, termasuk ACT, bisa segera dikeluarkan. Namun di hari itu, Rabu sore, 8 Juli 2010, Pak Burhan belum bisa ditemui karena tengah melakukan pertemuan yang penting.
Setelah batal bertemu dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kairo pada tanggal 8 Juli 2010, karena Pak Burhanuddin Badruzzaman, Minister Counsellor, maka dibuat janji untuk bisa bertemu esok hari. Malam harinya, Pak Burhan yang sangat ramah itu menelepon mas Imam bahwa kita bisa bertemu besok –Jum’at, 9 Juli 2010- di acara aqiqah putra salah satu staf KBRI di Masjid Indonesia Cairo di Kota Al Dokki, tentu saja sekaligus sholat jumat berjamaah.
Jum’at, 9 Juli 2010, sebelumnya kami berniat mencari sarapan di daerah Ashir, satu daerah yang banyak ditempati masyarakat –terutama mahasiswa- Indonesia dan Malaysia, sebab hanya di tempat itulah kita bisa mendapatkan makanan khas Indonesia seperti nasi goreng, bubur ayam, lontong sayur, sate padang, pempek dan masih banyak lagi. Namun karena waktu sudah agak menipis, kami putuskan langsung ke rumah Pak Burhanuddin sebelum ke Masjid Indonesia Cairo. Oya, seperti halnya di beberapa negara timur tengah lainnya, Jum’at adalah hari libur seperti halnya hari minggu di Indonesia. Jadi hampir semua kantor pemerintah dan juga swasta tutup pada hari itu, karena itulah Pak Burhan meminta kami bertemu di rumahnya.
Rupanya rumah tinggal Pak Burhan berada tepat di seberang Masjid Indonesia Cairo, tentu bukan karena itu beliau diamanahkan sebagai Ketua Masjid, jelas karena keshalehan dan kemampuannya memegang amanah yang tak ringan itu. Setelah bertemu, ternyata kesan ramah yang kami rasa saat di telepon lebih terasa lagi ketika berada di ruang tamu rumah Pak Burhan. Kami berbincang layaknya sudah sering bertemu sebelumnya dan sudah saling akrab seolah sahabat yang bertahun-tahun tidak bertemu. Yang menarik, jika tidak melihat ke luar jendela, serasa berada di tanah air. Sebab, makanan yang disajikan untuk kami khas Indonesia sekali, yakni bakwa, kerupuk gendar dan kwaci.
Pada kesempatan tersebut, Pak Burhan menyampaikan bahwa ia telah mengontak pihak Kementrian Luar Negeri Mesir terkait rencana tim ACT dan beberapa tim kemanusiaan Indonesia lainnya yang hendak memasuki Gaza melalui Rafah. Mulanya, memang hanya berkas tim ACT yang akan diserahkan ke pihak Kemelu Mesir, namun sebelum berkas itu diserahkan, baru berdatangan beberapa permintaan baru dari lembaga kemanusiaan lainnya dari Indonesia. Akhirnya beliau menunggu sampai terkumpul semua, baru dijadikan satu dan diserahkan semuanya ke pihak Kemenlu Mesir. “Mereka tidak suka kalau kita masukan satu, besok masuk lagi, besoknya masuk lagi. Bisa-bisa tidak diurus semuanya oleh mereka, atau bahkan hanya yang masuk terakhir yang diurus. Kasihan ACT nanti yang sudah lebih dulu malah tidak bisa masuk…” terang Pak Burhan.
Kabar ini tentu melegakan, sebab maksud kedatangan tim ke Kedubes dan bertemu Pak Burhan tidak lain memang untuk meminta kesediaan pihak KBRI untuk menghubungi pihak Kemenlu Mesir terkait rencana kami memasuki Gaza melalui Rafah. Sebab sesuai arahan dari Palestinian Red Crescent dalam surat yang kami terima sebelum kami tiba di Cairo mengatakan, bahwa mereka bisa membantu tim ACT memasuki Gaza dengan terlebih dulu ada kontak dari KBRI di Cairo kepada Kemenlu Mesir dan Misr Red Crescent (bulan sabit merah Mesir).
Jika demikian, maka KBRI secara proaktif telah mendaftarkan berkas-berkas kami dan mengontak pihak Kemenlu Mesir. KBRI pun akan membantu pertemuan kami dengan Bulan Sabit Merah Mesir dan Bulan Sabit Merah Palestina di Cairo. “Nanti saya temukan dengan Pak Iwan, dia yang akan membantu mengontak pihak-pihak terkait, insya Allah kami bantu semaksimal mungkin” ujar Pak Burhan.
Menurut Pak Burhan, pada dasarnya peluang untuk pihak Mesir membuka pintu perbatasan di Rafah pada kondisi saat ini masih terbuka. Salah satunya tekanan dunia yang terus berdatangan pasca kasus Mavi Marmara beberapa waktu lalu. Pemerintah Mesir sekarang diyakini Pak Burhan lebih kooperatif, bila dibandingkan sebelum ada kasus Mavi Marmara. Dalam kesempatan itu Pak Burhan juga sedikit menceritakan tentang masuknya anggota Parlemen Indonesia ke Gaza yang ditemani juga oleh staf KBRI di Cairo. Ada sedikit kekhawatiran beliau terkait kunjungan tersebut yang diharapkan tidak membuat pemerintah Mesir ‘kapok’ memberi izin masuk bagi siapa saja yang hendak ke Gaza. Namun intinya, kunjungan Parlemen Indonesia ke Gaza itu sebuah sejarah, belum pernah sebelumnya ada anggota parlemen dari negara lain yang diberi izin melewati Rafah. “Bahkan sesaat setelah parlemen Indonesia masuk, parlemen dari Jordania tidak diizinkan masuk. Padahal Jordania punya hubungan bilateral dengan Israel…” cerita Pak Burhan.
Terkait soal kunjungan parlemen Indonesia ke Gaza dengan segala pernak-perniknya, nanti saya ceritakan di kesempatan lain ya. (insya Allah di buku yang akan diterbitkan usai perjalanan kemanusiaan ini selesai, tentu saja ini hanya versi beberapa orang KBRI di Cairo).
Menjelang sholat Jum’at Pak Burhan mengajak kami ke masjid. “Insya Allah nanti di masjid kita bisa bertemu Pak Dubes dan staf KBRI lainnya,” ujarnya. Sebelumnya mas Imam memang sempat mengatakan bahwa kami ingin sekali bertemu dengan Pak Dubes, sebab pada kesempatan awal tahun 2009 lalu tidak sempat bertemu.
Di mata orang Mesir, Indonesia terkenal keramahan dan sopan santun yang disuguhkan setiap individunya yang berada di negeri pyramid ini. Tidak hanya orang-orang di KBRI, para pekerja ahli, juga sekitar lima ribu mahasiswa yang tersebar di beberapa kampus seperti Al Azhar, Kairo University dan Universitas Liga Arab. Oleh karena itu, meski pendatang baru di Mesir, kesan ramah itulah yang ingin kami hadirkan setiap kali bertemu dengan orang-orang Mesir, siapapun dan dimanapun.
Di masjid, usai sholat Jum’at dilangsungkan acara aqiqah untuk putra kedua salah satu staf KBRI, Ali Wardhana. Putranya diberi nama Abdurrahman Akhtar Wardhana yang lahir pada 17 Maret 2010 di Kairo. Duta Besar RI untuk Mesir, Abdurrahman Muhammad Fahir, pada saat sambutannya sempat menyatakan dukungannya untuk tim kemanusiaan ACT untuk Palestina. “Pada saat ini kita juga kedatangan tamu dari lembaga kemanusiaan ACT, yang datang jauh dari tanah air untuk membantu saudara-saudara kita yang belum beruntung di tanah Palestina yang hingga saat ini belum memeroleh kemerdekaannya,” papar beliau.
Pak Dubes meminta semua pihak di KBRI untuk mendukung penuh langkah tim kemanusiaan ACT yang akan menyampaikan bantuan bagi rakyat Palestina. Beberapa pihak terkait menyatakan siap membantu kelancaran proses memasuki Gaza. Inilah yang dimaksud dengan semua pihak bisa mengambil peran sesuai porsinya terkait persoalan Palestina. Tidak semua memang bisa berangkat ke Palestina, namun semua orang boleh dan bisa mengambil peran, apapun itu, tidak peduli besar atau kecil. Terima kasih untuk Pak Dubes, Pak Burhanuddin, Pak Iwan, Pak Thomas Siregar, Pak Ali Wardhana, Pak Nurus Syamsi dan semua pihak di KBRI yang terus membantu perjuangan tim ACT menuju Palestina. (Gaw, masih di kairo)
Setelah batal bertemu dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kairo pada tanggal 8 Juli 2010, karena Pak Burhanuddin Badruzzaman, Minister Counsellor, maka dibuat janji untuk bisa bertemu esok hari. Malam harinya, Pak Burhan yang sangat ramah itu menelepon mas Imam bahwa kita bisa bertemu besok –Jum’at, 9 Juli 2010- di acara aqiqah putra salah satu staf KBRI di Masjid Indonesia Cairo di Kota Al Dokki, tentu saja sekaligus sholat jumat berjamaah.
Jum’at, 9 Juli 2010, sebelumnya kami berniat mencari sarapan di daerah Ashir, satu daerah yang banyak ditempati masyarakat –terutama mahasiswa- Indonesia dan Malaysia, sebab hanya di tempat itulah kita bisa mendapatkan makanan khas Indonesia seperti nasi goreng, bubur ayam, lontong sayur, sate padang, pempek dan masih banyak lagi. Namun karena waktu sudah agak menipis, kami putuskan langsung ke rumah Pak Burhanuddin sebelum ke Masjid Indonesia Cairo. Oya, seperti halnya di beberapa negara timur tengah lainnya, Jum’at adalah hari libur seperti halnya hari minggu di Indonesia. Jadi hampir semua kantor pemerintah dan juga swasta tutup pada hari itu, karena itulah Pak Burhan meminta kami bertemu di rumahnya.
Rupanya rumah tinggal Pak Burhan berada tepat di seberang Masjid Indonesia Cairo, tentu bukan karena itu beliau diamanahkan sebagai Ketua Masjid, jelas karena keshalehan dan kemampuannya memegang amanah yang tak ringan itu. Setelah bertemu, ternyata kesan ramah yang kami rasa saat di telepon lebih terasa lagi ketika berada di ruang tamu rumah Pak Burhan. Kami berbincang layaknya sudah sering bertemu sebelumnya dan sudah saling akrab seolah sahabat yang bertahun-tahun tidak bertemu. Yang menarik, jika tidak melihat ke luar jendela, serasa berada di tanah air. Sebab, makanan yang disajikan untuk kami khas Indonesia sekali, yakni bakwa, kerupuk gendar dan kwaci.
Pada kesempatan tersebut, Pak Burhan menyampaikan bahwa ia telah mengontak pihak Kementrian Luar Negeri Mesir terkait rencana tim ACT dan beberapa tim kemanusiaan Indonesia lainnya yang hendak memasuki Gaza melalui Rafah. Mulanya, memang hanya berkas tim ACT yang akan diserahkan ke pihak Kemelu Mesir, namun sebelum berkas itu diserahkan, baru berdatangan beberapa permintaan baru dari lembaga kemanusiaan lainnya dari Indonesia. Akhirnya beliau menunggu sampai terkumpul semua, baru dijadikan satu dan diserahkan semuanya ke pihak Kemenlu Mesir. “Mereka tidak suka kalau kita masukan satu, besok masuk lagi, besoknya masuk lagi. Bisa-bisa tidak diurus semuanya oleh mereka, atau bahkan hanya yang masuk terakhir yang diurus. Kasihan ACT nanti yang sudah lebih dulu malah tidak bisa masuk…” terang Pak Burhan.
Kabar ini tentu melegakan, sebab maksud kedatangan tim ke Kedubes dan bertemu Pak Burhan tidak lain memang untuk meminta kesediaan pihak KBRI untuk menghubungi pihak Kemenlu Mesir terkait rencana kami memasuki Gaza melalui Rafah. Sebab sesuai arahan dari Palestinian Red Crescent dalam surat yang kami terima sebelum kami tiba di Cairo mengatakan, bahwa mereka bisa membantu tim ACT memasuki Gaza dengan terlebih dulu ada kontak dari KBRI di Cairo kepada Kemenlu Mesir dan Misr Red Crescent (bulan sabit merah Mesir).
Jika demikian, maka KBRI secara proaktif telah mendaftarkan berkas-berkas kami dan mengontak pihak Kemenlu Mesir. KBRI pun akan membantu pertemuan kami dengan Bulan Sabit Merah Mesir dan Bulan Sabit Merah Palestina di Cairo. “Nanti saya temukan dengan Pak Iwan, dia yang akan membantu mengontak pihak-pihak terkait, insya Allah kami bantu semaksimal mungkin” ujar Pak Burhan.
Menurut Pak Burhan, pada dasarnya peluang untuk pihak Mesir membuka pintu perbatasan di Rafah pada kondisi saat ini masih terbuka. Salah satunya tekanan dunia yang terus berdatangan pasca kasus Mavi Marmara beberapa waktu lalu. Pemerintah Mesir sekarang diyakini Pak Burhan lebih kooperatif, bila dibandingkan sebelum ada kasus Mavi Marmara. Dalam kesempatan itu Pak Burhan juga sedikit menceritakan tentang masuknya anggota Parlemen Indonesia ke Gaza yang ditemani juga oleh staf KBRI di Cairo. Ada sedikit kekhawatiran beliau terkait kunjungan tersebut yang diharapkan tidak membuat pemerintah Mesir ‘kapok’ memberi izin masuk bagi siapa saja yang hendak ke Gaza. Namun intinya, kunjungan Parlemen Indonesia ke Gaza itu sebuah sejarah, belum pernah sebelumnya ada anggota parlemen dari negara lain yang diberi izin melewati Rafah. “Bahkan sesaat setelah parlemen Indonesia masuk, parlemen dari Jordania tidak diizinkan masuk. Padahal Jordania punya hubungan bilateral dengan Israel…” cerita Pak Burhan.
Terkait soal kunjungan parlemen Indonesia ke Gaza dengan segala pernak-perniknya, nanti saya ceritakan di kesempatan lain ya. (insya Allah di buku yang akan diterbitkan usai perjalanan kemanusiaan ini selesai, tentu saja ini hanya versi beberapa orang KBRI di Cairo).
Menjelang sholat Jum’at Pak Burhan mengajak kami ke masjid. “Insya Allah nanti di masjid kita bisa bertemu Pak Dubes dan staf KBRI lainnya,” ujarnya. Sebelumnya mas Imam memang sempat mengatakan bahwa kami ingin sekali bertemu dengan Pak Dubes, sebab pada kesempatan awal tahun 2009 lalu tidak sempat bertemu.
Di mata orang Mesir, Indonesia terkenal keramahan dan sopan santun yang disuguhkan setiap individunya yang berada di negeri pyramid ini. Tidak hanya orang-orang di KBRI, para pekerja ahli, juga sekitar lima ribu mahasiswa yang tersebar di beberapa kampus seperti Al Azhar, Kairo University dan Universitas Liga Arab. Oleh karena itu, meski pendatang baru di Mesir, kesan ramah itulah yang ingin kami hadirkan setiap kali bertemu dengan orang-orang Mesir, siapapun dan dimanapun.
Di masjid, usai sholat Jum’at dilangsungkan acara aqiqah untuk putra kedua salah satu staf KBRI, Ali Wardhana. Putranya diberi nama Abdurrahman Akhtar Wardhana yang lahir pada 17 Maret 2010 di Kairo. Duta Besar RI untuk Mesir, Abdurrahman Muhammad Fahir, pada saat sambutannya sempat menyatakan dukungannya untuk tim kemanusiaan ACT untuk Palestina. “Pada saat ini kita juga kedatangan tamu dari lembaga kemanusiaan ACT, yang datang jauh dari tanah air untuk membantu saudara-saudara kita yang belum beruntung di tanah Palestina yang hingga saat ini belum memeroleh kemerdekaannya,” papar beliau.
Pak Dubes meminta semua pihak di KBRI untuk mendukung penuh langkah tim kemanusiaan ACT yang akan menyampaikan bantuan bagi rakyat Palestina. Beberapa pihak terkait menyatakan siap membantu kelancaran proses memasuki Gaza. Inilah yang dimaksud dengan semua pihak bisa mengambil peran sesuai porsinya terkait persoalan Palestina. Tidak semua memang bisa berangkat ke Palestina, namun semua orang boleh dan bisa mengambil peran, apapun itu, tidak peduli besar atau kecil. Terima kasih untuk Pak Dubes, Pak Burhanuddin, Pak Iwan, Pak Thomas Siregar, Pak Ali Wardhana, Pak Nurus Syamsi dan semua pihak di KBRI yang terus membantu perjuangan tim ACT menuju Palestina. (Gaw, masih di kairo)
Sunday, July 11, 2010
ACT Road to Palestine; Anda Tidak Pernah Berjuang Sendirian (bag 3)
Pada dasarnya, kita tidak pernah sendirian di dunia ini, menjalani kehidupan, begitu juga berjuang melawan tantangan kehidupan. Meskipun pada saat kita secara fisik benar-benar sendiri, sesungguhnya tetap ada ‘orang’ yang menemani perjalanan Anda. Doa orang-orang yang mengasihi Anda misalnya, sepanjang jalan terus mengiringi. Walaupun secara fisik isteri, suami atau anak-anak tidak hadir, namun doa yang tak pernah putus dari mereka itulah sahabat perjalanan Anda yang setia. Tidak hanya itu, bagi seorang mukmin, tentu saja harus merasa yakin dimana pun dan kemanapun melangkah pasti Allah mengikuti, juga dengan para malaikat-Nya.
Seperti perjalanan tim ACT menuju Palestine di tahun 2010 ini. Saya memang tidak sendiri, berdua dengan mas Imam Akbari. Namun yang dimaksud terkait dengan judul diatas adalah kami berdua harus merasa yakin bahwa tim ini tidak berjuang sendirian. Ada berbagai pihak yang mendukung penuh perjuangan ini, serta menemani perjalanan tim ketika mulai berangkat dari rumah, ke kantor sampai ke bandara, dan terus menembus batas negara menuju Palestina.
8 Juli 2010, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Cairo International Airport pada pukul 12.45 waktu lokal, terdapat perbedaan waktu sekitar empat jam lebih dulu di Jakarta. Satu hal yang ingin segera saya dapatkan adalah tas ransel besar di bagasi untuk mengambil obat andalan, yakni Habbatussauda (jintan hitam), sebab sejak masih di Abu Dhabi kaki kiri saya terasa sakit karena asam urat kambuh. Ini lantaran saya sudah beberapa hari sebelum keberangkatan tidak mengonsumsi obat ini karena kehabisan.
Di hari keberangkatan, usai sholat subuh berjamaah di masjid di lingkungan tempat tinggal saya, saya bertemu Arif, salah seorang jamaah masjid yang saya tahu menjual obat-obat herbal. Segera saya memesannya satu untuk dibawa dalam perjalanan ke Palestina. Pagi hari sebelum saya berangkat ke kantor, Arif datang ke rumah dengan Habbatussauda pesanan saya. Karena tahu obat itu akan saya bawa dalam perjalanan ke Palestina, Arif tidak mau dibayar. “Ini cara saya ikut bersama mas Bayu ke Palestina,” itu ucapannya.
Maka dari itu, ketika tas ransel sudah di tangan saya langsung segera mengambil obat itu dan meminumnya beberapa butir dengan harapan sakit di kaki saya segera hilang, minimal berkurang. Pada saat meminumnya, saya terkenang wajah tulus Arif dan kata-katanya yang menyemangati, “Ini cara saya ikut…”… Hmm, Arif benar, ia memang tengah ikut dalam perjalanan kami ke Palestina melalui Habbatussauda-nya ini.
Hal lain yang semakin membuat kami merasa bahwa dukungan dan ‘sahabat’ perjuangan ini begitu banyak adalah, ketika masih di Abu Dhabi saya memanfaatkan fasilitas internet gratis di Bandara Abu Dhabi untuk menulis artikel dan juga meng-update status facebook. Saya tulis dengan singkat, “Teman-teman di Jakarta, isiin pulsa ya…” karena pada saat itu baik saya maupun mas Imam sudah kehabisan pulsa, padahal kami tetap perlu memberi informasi setiap saat perjalanan kami ini. Sebenarnya yang saya tuju adalah teman-teman di kantor ACT, agar segera mengirimkan pulsa. Memang benar tim di kantor langsung mengirimkan pulsa, namun ternyata tidak hanya orang di kantor yang merespon, melainkan teman-teman di jejaring Facebook.
Subhanallah, indah sekali perjuangan ini karena kita memang tidak pernah berjuang sendirian. Arif dengan Habbatussauda-nya, teman-teman di Facebook dengan kiriman pulsanya, dan masyarakat di seluruh Indonesia dengan dukungan moril, materil dan doa yang terus mengalir, keluarga di rumah yang tak pernah berhenti mendoakan adalah bukti bahwa kita memang tak sendirian. Seperti yang saya tulis juga di bagian pertama tulisan seri perjalanan ini, bahwa kami ini tim besar, bukan hanya dua orang yang berangkat ke Palestina, namun sebuah tim besar yang terdiri dari jutaan orang yang mendukung perjalanan ini. Tim besar dengan kepedulian yang terus membesar inilah yang kelak menjadi andil dalam kemerdekaan saudara-saudara kita di bumi Palestina. Allahu Akbar!
Gaw, Kairo 9 Juli 2010
Seperti perjalanan tim ACT menuju Palestine di tahun 2010 ini. Saya memang tidak sendiri, berdua dengan mas Imam Akbari. Namun yang dimaksud terkait dengan judul diatas adalah kami berdua harus merasa yakin bahwa tim ini tidak berjuang sendirian. Ada berbagai pihak yang mendukung penuh perjuangan ini, serta menemani perjalanan tim ketika mulai berangkat dari rumah, ke kantor sampai ke bandara, dan terus menembus batas negara menuju Palestina.
8 Juli 2010, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Cairo International Airport pada pukul 12.45 waktu lokal, terdapat perbedaan waktu sekitar empat jam lebih dulu di Jakarta. Satu hal yang ingin segera saya dapatkan adalah tas ransel besar di bagasi untuk mengambil obat andalan, yakni Habbatussauda (jintan hitam), sebab sejak masih di Abu Dhabi kaki kiri saya terasa sakit karena asam urat kambuh. Ini lantaran saya sudah beberapa hari sebelum keberangkatan tidak mengonsumsi obat ini karena kehabisan.
Di hari keberangkatan, usai sholat subuh berjamaah di masjid di lingkungan tempat tinggal saya, saya bertemu Arif, salah seorang jamaah masjid yang saya tahu menjual obat-obat herbal. Segera saya memesannya satu untuk dibawa dalam perjalanan ke Palestina. Pagi hari sebelum saya berangkat ke kantor, Arif datang ke rumah dengan Habbatussauda pesanan saya. Karena tahu obat itu akan saya bawa dalam perjalanan ke Palestina, Arif tidak mau dibayar. “Ini cara saya ikut bersama mas Bayu ke Palestina,” itu ucapannya.
Maka dari itu, ketika tas ransel sudah di tangan saya langsung segera mengambil obat itu dan meminumnya beberapa butir dengan harapan sakit di kaki saya segera hilang, minimal berkurang. Pada saat meminumnya, saya terkenang wajah tulus Arif dan kata-katanya yang menyemangati, “Ini cara saya ikut…”… Hmm, Arif benar, ia memang tengah ikut dalam perjalanan kami ke Palestina melalui Habbatussauda-nya ini.
Hal lain yang semakin membuat kami merasa bahwa dukungan dan ‘sahabat’ perjuangan ini begitu banyak adalah, ketika masih di Abu Dhabi saya memanfaatkan fasilitas internet gratis di Bandara Abu Dhabi untuk menulis artikel dan juga meng-update status facebook. Saya tulis dengan singkat, “Teman-teman di Jakarta, isiin pulsa ya…” karena pada saat itu baik saya maupun mas Imam sudah kehabisan pulsa, padahal kami tetap perlu memberi informasi setiap saat perjalanan kami ini. Sebenarnya yang saya tuju adalah teman-teman di kantor ACT, agar segera mengirimkan pulsa. Memang benar tim di kantor langsung mengirimkan pulsa, namun ternyata tidak hanya orang di kantor yang merespon, melainkan teman-teman di jejaring Facebook.
Subhanallah, indah sekali perjuangan ini karena kita memang tidak pernah berjuang sendirian. Arif dengan Habbatussauda-nya, teman-teman di Facebook dengan kiriman pulsanya, dan masyarakat di seluruh Indonesia dengan dukungan moril, materil dan doa yang terus mengalir, keluarga di rumah yang tak pernah berhenti mendoakan adalah bukti bahwa kita memang tak sendirian. Seperti yang saya tulis juga di bagian pertama tulisan seri perjalanan ini, bahwa kami ini tim besar, bukan hanya dua orang yang berangkat ke Palestina, namun sebuah tim besar yang terdiri dari jutaan orang yang mendukung perjalanan ini. Tim besar dengan kepedulian yang terus membesar inilah yang kelak menjadi andil dalam kemerdekaan saudara-saudara kita di bumi Palestina. Allahu Akbar!
Gaw, Kairo 9 Juli 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)