Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Saturday, October 18, 2008

Seseorang Di Sisimu

Saya menghentikan motor tiba-tiba ketika melihat sosok tua berjalan tertatih-tatih di depan gerbang perumahan Griya Asri Depok. Setelah parkir motor di tempat aman, saya pun menghampirinya.

"Mbah, mau kemana?”

Tatapannya kosong, bibirnya bergetar berusaha menjawab, “ke sana…” ia menunjuk ke arah perempatan jalan.

"Mau ngapain kesana?” tanya saya lagi.

“Ngamen…” suaranya makin bergetar.

Gemuruh hati saya lebih keras kali ini. Saya tatap secermat mungkin lelaki tua itu, mulai dari wajahnya hingga ke kaki. Namanya Mbah Dalim, ia asal Cirebon dan kini tinggal di Stasiun Depok Baru. Perhatian, yang dimaksud bukan ngontrak atau punya rumah di dekat stasiun, melainkan benar-benar tinggal di stasiun, ya di stasiun!

Usianya 88 tahun, ia tak punya isteri terlebih anak. Sebatang kara menyusuri jalan setiap hari dengan menjual suara parah nan lemahnya, mencoba berbisik kepada para pejalan kaki yang melintas sekadar bermimpi dilemparkan koin dan receh.

Jalannya tertatih-tatih, nampak sekali ia butuh perjuangan berat untuk mengangkat kakinya. Rupanya di kaki kanannya terdapat penyakit eksim, “sudah bertahun-tahun, saya tidak punya uang untuk berobat” kata Mbah Dalim tentang penyakitnya itu. Setiap 3-5 meter, ia berhenti melangkah, mungkin mengumpulkan tenaga dan mengambil nafas.

Suaranya sangat parau dan lemah, apa mungkin ia mengamen? Tetapi kotak karaoke besar yang dipanggulnya di punggung belakang sangat menjawab pertanyaan saya itu. Saya sempat mengangkat sebentar kotak itu, lumayan berat untuk saya, pastilah teramat berat untuknya.

"Kalau ada milik, sehari dapat enam ribu…” terang Mbah Dalim, menjawab pertanyaan saya, berapa yang didapatnya dengan mengamen. Ya, katanya, kalau ada milik, bagaimana jika tidak? Apa yang dimakannya? Pun ia mendapatkan uang ‘segitu’, bagaimana ia bisa hidup dengan uang yang teramat kecil bagi sebagian orang.

Langit bagai runtuh saat itu, mendung pekat terbanding. Banjir sudah air mata saya, seperti hujan terlebat yang pernah Allah turunkan, “kemana saja saya selama ini?”

Saya pun merogoh kantong, menyisakan sekadar untuk mengisi perut siang nanti, “Mbah, segera ke rumah sakit ya, obati kakinya. Juga ini ada sedikit untuk makan siang dan malam nanti”.

Mbah Dalim pun melanjutkan langkahnya, saya masih belum bisa bergerak dan mata ini terus mengikuti tubuhnya yang bergerak lamban. Bahkan saya terus mengikutinya dengan memperlambat laju motor, sempat saya menawarkan untuk memboncengnya sampai ke tujuan, “terima kasih, saya jalan saja”.

Hhh… saya menghela nafas panjang menyaksikan episode kehidupan ini.

***

Memiliki seseorang, entah itu suami, isteri atau sahabat, adalah anugerah terindah dalam kehidupan. Sayangilah ia, sebab kita akan merasakan arti kehadirannya tidak hanya saat ini, juga nanti disaat seperti yang tengah dijalani mbah Dalim.

Titip salam saya untuk seseorang di sisimu, katakan sekarang juga, “Saya bersyukur memilikimu”

Gaw
ttp://warnaislam.com

Perbaiki Subuh Kita

“Siapa yang ingin berjihad di jalan Allah, saya tunggu di bukit ini ba’da subuh”

Kalimat di atas sangat melekat di benak saya, meski sudah lebih dua puluh tahun silam saya mendengarnya di sebuah film epik berjudul Cut Nyak Dien. Kisah kepahlawanan para pejuang Aceh yang gagah perkasa melawan penjajah Belanda ketika itu. Kalimat penuh semangat dan mengandung ruh jihad itu diucapkan oleh seorang panglima perang Aceh, Teuku Umar di hadapan para pejuangnya.

Bertahun-tahun saya sempat bertanya, “kenapa ba’da subuh?”

Kala itu, jawaban yang saya dapat sangat polos, lumayan masuk akal, namun cukup menggelikan kalau dipikir-pikir. “Orang-orang Belanda itu nggak sholat subuh, jadi kalau pasukan Aceh menyerbu ba’da subuh, pasukan Belanda masih tidur dan tidak siap menghadapi serangan”.

Seiring dengan waktu, saya mendapatkan jawaban yang mudah-mudahan lebih tepat untuk pertanyaan, “kenapa ba’da subuh?”

Diantara lima waktu sholat wajib, subuh dianggap paling berat meskipun jumlah rakaatnya paling sedikit. Bangun subuh, mendirikan sholat dan berjamaah di masjid adalah perjuangan berat bagi sebagian orang. Bangunnya saja perlu perjuangan, beberapa mata tak sanggup terbuka, sebagian bangun dengan bermalas-malasan, ada yang terbangun kemudian terlelap lagi, ada yang bergerak hanya untuk menarik selimut dan melanjutkan mimpi, dan ada pula yang sama sekali tak bergerak dan terus mendengkur.

Ada orang-orang yang memerlukan bantuan orang lain untuk bangun subuh. Kalau pun sudah bangun, ada yang menunda-nunda sholatnya. Ada pula berdiri sholat dalam keadaan malas, itu terlihat dari gerakan sholatnya yang terburu-buru atau dari sikap berdirinya yang tidak tegap. Dan ada loh yang sholat sambil matanya terpejam atau sholat sambil berkali-kali menguap.

Sampai disini sebenarnya sudah lumayan bagus, yang penting masih mau sholat subuh. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, ketika adzan berkumandang ia semangat bergegas membasuh muka. Bahkan sebagian lainnya menyesal jika hanya terbangun pada saat adzan, sebab ia biasanya bangun di sepertiga malam dan tak tertidur lagi sampai waktu subuh. Orang-orang ini, rela mengorbankan kenikmatan tidurnya serta meminimalkan istirahatnya.

Kesungguhannya semakin teruji ketika ia memilih untuk membelah fajar, menerobos udara dingin menuju masjid untuk sholat berjamaah. Orang-orang yang bersungguh-sungguh diwaktu subuh inilah yang dipilih, seperti Muhammad yang terpilih untuk mengangkat Hajar Aswad karena tiba di Ka’bah lebih dulu.

Maka wajar jika Teuku Umar meminta para pejuangnya berkumpul persis ba’da subuh, karena ia hanya ingin berjuang bersama orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan, yang jiwanya dipenuhi kesungguhan diatas rata-rata kebanyakan orang lainnya. Mereka yang tak bangun subuh, bukan saja tertinggal tak ikut berjuang, melainkan memang tak dibutuhkan sama sekali dalam perjuangan karena dianggap tak bersungguh-sungguh.

Semangat dan kesungguhan yang diperoleh dari kebiasaan sholat subuh, bisa kita terapkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Seberat apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya adalah, apakah kita memiliki semangat dan kesungguhan diatas rata-rata untuk mencari jalan keluarnya? Jika belum, mungkin ada baiknya kita mulai dengan sama-sama memperbaiki subuh kita. Mau? (gaw)

http://warnaislam.com

Miskin Sebenarnya

Orang yang berpakaian lusuh, kusam, atau bahkan sobek di beberapa bagiannya. Mereka yang tak memiliki pakaian selain yang melekat di tubuhnya, bahkan orang-orang yang memanfaatkan bekas karung terigu untuk dijadikan pakaian, apakah mereka yang dikategorikan orang miskin?

Orang-orang yang tak memiliki cukup makanan untuk disantap setiap hari, yang kebingungan setelah sarapan pagi siang nanti tidak tahu harus makan apa, atau mereka yang tidak yakin apakah esok hari masih ada makanan untuk disantap. Orang-orang yang hanya bertemu makanan satu kali dalam sehari, atau mereka yang terpaksa berpuasa berhari-hari karena tidak ada uang untuk membeli sedikit makanan. Inikah yang disebut miskin?

Anak-anak yatim dan terlantar di banyak panti asuhan, atau anak-anak yang berkeliaran di jalanan mencari makan di usia mereka yang masih belia. Para pengamen jalanan, tukang koran, tukang semir sepatu, pedagang asongan, yang penghasilan mereka lebih kecil dari uang jajan anak-anak di sekolah elit dan terpadu. Miskinkah mereka?

Tukang gali, buruh bangunan, buruh angkut di pasar, penyapu jalanan, pengais dan tukang angkut sampah, tukang becak, tukang ojeg, supir angkot, kondektur bis, serta semua pekerja kasar lainnya, benarkah mereka komunitas orang-orang miskin?

Anak-anak penderita gizi buruk, orang-orang yang sakit bertahun-tahun tak kunjung sembuh karena tak pernah bisa membeli obat, orang-orang yang memiliki banyak hutang dan tak sanggup membayarnya meski harus menyicil, mereka yang kerap mengantri pembagian jatah sembako, atau warga yang masuk dalam daftar penerima dana bantuan langsung tunai (BLT), miskin sesungguhnya?

Sebuah keluarga yang puluhan tahun berpindah-pindah kontrakan lantaran terlalu sering diusir pemilik kontrakan karena tak sanggup membayar, keluarga lainnya yang bahkan untuk mengontrak pun tak sanggup, atau mereka yang memilih mendirikan gubuk-gubuk di daerah kumuh atau tempat pembuangan sampah. Layakkah disebut miskin?

Yang tidak punya handphone, tidak pernah makan pizza, tidak tahu rasanya ayam crispy merk terkenal, yang tak pernah tahu jenis makanan terdaftar di restoran karena nama dan bentuknya sangat asing, tidak pernah ke bioskop, bahkan tidak punya televisi di rumah mereka, ini yang dibilang miskin?

Orang-orang yang tak memiliki satu jenis pun kendaraan meski hanya sebatang sepeda, yang setiap hari mengukur jalan terpanggang matahari, tak pernah merasakan sejuknya pengatur udara (air conditioner) di dalam mobil, yang celingak-celinguk jika masuk ke gedung bertingkat atau hotel, yang cuma bisa bengong di dalam Mall atau pusat perbelanjaan karena mereka hanya bisa bermimpi memiliki barang-barang yang terpajang di etalase, yang seperti inikah miskin itu?

***

Bukan. Sepanjang mereka tak merasa miskin, selama mereka selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki, semasa rasa syukur selalu menjadi kekuatan utama dalam menjalani kehidupan, dan menjadikan Allah satu-satunya tempat bergantung dan meminta, mereka adalah orang-orang kaya.

Tidak. Selagi mereka tak cepat putus asa, tak selalu mengeluh dan menangisi nasib, tak mengemis dan selalu berharap belas kasihan dari orang lain, tak menjadikan dirinya beban bagi orang lain, mereka justru sangat kaya.

Miskin sebenarnya, mereka yang tak bersyukur atas setiap nikmat yang didapatinya, yang tak pernah merasa cukup dan selalu ingin hidup berlebih. Teramat banyak, mereka yang terlihat berlimpah harta tetapi sesungguhnya jauh lebih miskin dari orang-orang yang sering disebut miskin. (gaw)

http://warnaislam.com