Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Saturday, October 18, 2008

Gawat! Saya Nggak Bisa Nulis Lagi

Sudah berjam-jam saya berhadapan dengan notebook, memelototi layarnya dengan posisi jari-jari siap menekan tuts keyboard. Satu judul coba diketik, kemudian dihapus lagi. Ketik lagi delete lagi, terus begitu. Saya seperti kehilangan akal untuk mulai menulis, layaknya orang yang tidak pernah menulis sama sekali.

Ide-ide yang biasanya berseliweran, bahkan mengejar-ngejar untuk segera ditulis, kali ini entah terbang kemana. Tak satupun yang mampir, dicari-cari juga tidak ketemu. Saya coba sedikit memaksa menemukan ide, tetapi tak satupun nampak batang hidungnya si ide itu. Nah, cara pamungkas pun harus dilakukan, yakni mampir dan merenung di toilet! Namun hasilnya tetap nihil, perut sudah kosong, ide tetap saja tak muncul.

Kembali ke notebook, mencoba mengetik apa saja. Hasilnya adalah barisan kata-kata dan kalimat tanpa makna. Ini aneh, sungguh aneh. Sangat tidak biasa. Biasanya saya hanya perlu waktu kurang dari dua puluh menit untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Kadang hanya sepuluh menit, satu karya selesai ditulis. Tetapi ini sudah tiga jam lebih! Belum satupun tulisan selesai dibuat.

Haruskah saya menggebrak-gebrak notebook? Tentu saja tidak. Sebab masalahnya bukan pada perangkat yang setia menemani hari-hari saya itu. Melainkan pada otak ini yang sepertinya belum mau bekerja.

Buntu, otak ini seperti tidak bisa diajak berpikir sama sekali. Saya bahkan tidak tahu mau menulis apa, bahkan juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mengambil notebook. Begitu sudah berhadapan dengan layar notebook, malah tidak tahu harus menulis apa. Padahal rasanya otak ini sudah penuh dan harus ditumpahkan ke dalam tulisan, tetapi kenapa setiap kali dicoba untuk menumpahkannya hanya sedikit yang keluar.

“Hey….” saya berteriak kepada otak sendiri, agar mau sedikit mencair dari kebekuan. Beberapa detik kemudian, kepala ini pun saya pukul-pukul sendiri agar ide-ide berjatuhan, kemudian saya punguti satu persatu untuk ditulis. Sudah pusing kepala ini dikeplak-keplak, dan nyaris saya hantamkan kepala ke dinding, namun saya urungkan. Saya sadar, ada yang tidak beres dengan diri ini, otak ini, hati ini sehingga tidak satupun tulisan bisa dihasilkan pagi ini.

Saya berdiri, mencoba cari udara segar di luar. Kembali lagi, melihat layar notebook yang masih kosong melompong. Keluar lagi, kali ini bukan cuma udara segar yang dicari, siapa tahu ide-ide yang biasanya dekat sedang bermain di luar dan tidak tahu jalan pulang. Ternyata, di luar juga tidak ada ide. Ujung-ujungnya, saya pun bengong di depan pintu menunggu ide. “Siapa tahu ada ide orang nyasar ke sini, salah alamat…”

Disaat bengong dan melamun tidak karuan, isteri saya menegur, “daripada bengong begitu, mending sholat dhuha bi…”

***

Air wudhu mencairkan kebekuan otak ini. Sholat dhuha bisa melunturkan dosa-dosa pagi, kalimat takbir membuka cakrawala, sujud panjang di pagi hari mencerahkan pikiran.

Bodoh sekali saya, saking buntunya kenapa sampai lupa sholat dhuha? Sumpah, habis sholat dhuha, beberapa tulisan pun berhasil saya buat hanya dalam waktu satu jam saja. Produktivitas dan kreativitas meningkat usai sholat dhuha. Buktikan sendiri! (gaw)

RI-1 Mau Datang ke Rumah Saya!

Suara dering telepon selular mengagetkan saya di pagi hari,

“Benar saya berbicara dengan bapak … ?” suara di seberang telepon menyebut nama saya. Saya pun mengiyakan tanpa basa-basi.

Kemudian, suara yang terdengar tegas itu mengaku mengatasnamakan Bapak RI-1, alias presiden negeri ini dan menjelaskan bahwa atasannya itu hendak berkunjung ke rumah saya.

“Bapak becanda kali… mana mungkin presiden mau ke rumah saya? Lagi pula beliau kan tidak kenal saya dan ada urusan apa orang penting seperti beliau ke rumah saya,” kata saya.

“Tidak perlu banyak cakap pak, sebutkan alamat lengkap bapak, kami akan datang sore ini juga, Presiden mau berbuka puasa bersama Anda…” suaranya makin tegas, mungkin ia mantan tentara, oh, atau malah masih aktif.

Orang sepenting RI-1 mau ke rumah saya? Ahh, saya tidak percaya, ini pasti orang mau menipu saya. Maka saya pun mencoba melakukan verifikasi, seperti halnya saya ketika ditelepon pihak bank.

“Maaf, boleh sebutkan tanggal lahir bapak presiden? Nama ibu kandung beliau? Alamat lengkapnya?”

“Anda menghina saya? Tidak hormat pada presiden?” gertaknya. Nampaknya ia mulai tidak sabar berhadapan dengan saya.

“Ya kalau Anda memang mengatasnamakan bapak presiden, jawab saja pertanyaan saya, Anda pasti tahu kan? Ini sekadar meyakinkan saya bahwa Anda tidak hendak menipu saya,” jawab saya lagi tak mau kalah. Sebenarnya, kalau dia mau menipu, apa sih yang diharapkan dari saya? Toh saya tidak punya apa-apa…

Tiba-tiba, “Assalaamu’alaikum…” suara yang berbeda dari sebelumnya. Namun kali ini, saya rasa mengenal suaranya. Sangat tidak asing karena kerap saya dengar di televisi. Masya Allah…!!! Nyaris tertahan nafas saya, sementara dada ini berdegup kencang sekali.

Suara itu… ya, suara RI-1. Rupanya orang tadi benar dan tidak hendak menipu saya. Mungkin Pak Presiden tidak sabar dan mau berbicara langsung dengan saya. Eh, tapi… bukannya banyak pelawak yang bisa menirukan suara beliau?
“Ini benar bapak presiden? Coba sebutkan tanggal lahir Anda, nama ibu kandung dan alamat lengkap…” verifikasi lagi.

Sebenarnya, kalau dia sebutkan pun saya juga tidak tahu apa-apa soal data itu, selain alamat lengkapnya. tetapi intinya, saya percaya ini benar dan semakin membuat dada saya berdegup. Mau apa? Memangnya beliau kenal saya? Siapa saya? Sudah bikin dosa apa saya, sehingga orang nomor satu negeri ini mau ke rumah saya?

Langsung saya panggil isteri saya, tanya di rumah ada persediaan makan apa. “Beras sih ada, sama tempe sisa kemarin…” jawab isteri saya.

Panik saya. langsung saya perintahkan –biasanya minta tolong- isteri untuk belanja semua makanan yang lezat, daging, sayuran terbaik, dan jangan lupa buah-buahan yang beraneka ragam. Tentu kepanikan saya membuat isteri bingung, “Siapa yang mau datang sih? Kok segitu repotnya?”

“Presiden!” jawab saya singkat.

“Becanda ah…”tuh kan, isteri saya saja tidak percaya, saya juga sebenarnya.

“Buat beli segala macam tadi, uangnya mana?” isteri saya masih bingung, masalahnya memang tidak ada cukup uang untuk beli semua keperluan tadi. Saya pun terduduk lemas, tidak tahu harus mencari pinjaman dari mana untuk menyambut tamu mulia sore nanti.

Yang mau datang ini orang terhormat, mulia dan disegani. Maka menyambutnya pun tidak boleh asal dan sembarangan. Saya harus membersihkan rumah, tidak boleh ada setitik debu pun menempel di lantai. Dinding harus bersih dari coretan, sudut-sudut ruangan jangan ada ramat-ramat. Kamar mandi harus disikat dan wangi, biar Presiden nyaman berlama-lama di kamar mandi saya.

Bagaimana kalau beliau mau menginap? Wah, ganti seprei, bantal guling beli yang baru kalau perlu. Kasur pun harus dijemur dulu, biar empuk dan hangat saat dipakai.

Seluruh isi rumah jadi kelabakan, sampai anak-anak saya pun ikut sibuk membantu bersih-bersih, setidaknya kamar mereka sendiri. Karena kamar di rumah kami hanya dua, berarti malam nanti saya dan isteri harus tidur berdesak-desakan bersama anak-anak. Tidak apa-apa, yang penting presiden merasa nyaman selama berada di rumah saya.

***

Untungnya …

Cerita di atas tadi tidak sungguh-sungguh terjadi. Tetapi kalau benar-benar terjadi, benarkah saya sepanik itu memersiapkan kedatangan seorang pemimpin Negara? Seperti itulah kiranya saya memuliakan seseorang yang dianggap terhormat.

Bagaimana jika telepon saya berbunyi dan suara di seberang berkata, “Pak, nanti sore ada beberapa anak yatim akan datang ke rumah untuk berbuka puasa…”

Sepanik itukah saya? serepot ketika hendak menyambut presiden kah saya? apakah saya akan menyiapkan semua yang terbaik untuk anak-anak yatim? Bahkan rela meminjam uang dari tetangga untuk membeli makanan?

Bukankah kita diperintahkan memuliakan anak yatim? Bukan sekadar menyayangi atau mencintai. Jika saya sebegitu sibuk saat hendak menyambut presiden, bagaimana sikap saya menyambut tamu mulia anak-anak yatim?

Astaghfirullaah… (gaw)

Lebih Baik (Tak) Sendiri

Hal paling menakutkan dalam hidup adalah berada dalam kesendirian, dan kesulitan terbesar dalam hidup yakni ketika kita tak memiliki seseorang pun untuk berbagi.

***

Waktu kecil, saya paling takut dengan anjing. Saya lebih memilih berputar arah dan rela mencari jalan yang lebih jauh ketimbang melintasi rumah yang ada anjingnya. Mungkin karena saya pernah melihat langsung teman saya, Kun, digigit anjing sampai menangis. Tak hanya itu, saya sendiri pernah dikejar anjing, berlari sekencang-kencangnya sambil menangis, berteriak minta tolong.

Perasaan trauma itu yang terus menghantui, sehingga setiap kali berpapasan dengan anjing saya langsung gemetar. Biasanya, saya tunggu sampai anjing itu menyingkir atau saya menunggu orang dewasa atau anak lain yang tidak takut anjing yang hendak melintasi jalan yang sama.

Kadang, saya berdua dengan teman sepermainan melewati jalan yang sama. Kami sama-sama takut kepada hewan itu. Ketika menyalak, bulu kuduk pun berdiri. Tapi karena berdua, perasaan takutnya sedikit berkurang dibanding saat sendiri. Setidaknya kami bisa bilang, “Sama-sama lari, kalau pun digigit ya sama-sama digigit”. Meskipun hukum yang berlaku berkata lain, “siapa cepat dia selamat!”

Sama halnya ketika di malam hari saya bertemu atau melintasi rumah yang dianggap angker, ada hantunya. Beberapa meter sebelum rumah tersebut, saya sudah berancang-ancang mengambil langkah seribu. Tetapi kalau berdua, jangankan melintas, kadang kami berani menyambangi rumah angker itu. Meski sebenarnya sama-sama takut, tetapi jika ada yang menemani perasaan itu bisa berkurang.

Dalam kesedihan pun demikian. Menjalani lara sendiri, seolah sepanjang hari berwarna kelabu. Tetapi ketika kita menemukan seseorang yang mau menyediakan bahunya untuk bersandar, terbagilah kesedihan itu. Saat menangis, ada yang mengusap bulir air mata kita dengan jemari atau punggung tangannya. Bulir-bulir air mata yang jatuh sebelumnya, seketika berubah menjadi bunga berwarna-warni yang membuat hidup begitu indah.

Tak hanya perasaan takut dan sedih, sebaliknya di waktu-waktu bahagia pun kita memilih tak sendiri. Merayakan hari kelahiran, sebagian kita kerap menunggu orang-orang tercinta mengirim pesan singkat atau menelepon sekadar berucap, “Selamat ulang tahun…”

Bayangkan, kalau sampai tengah hari belum satupun yang kirim ucapan selamat? Belum ada doa dari suami, isteri, anak-anak, orang tua, kakak, adik, sahabat, mungkin kita akan bertanya-tanya, “Kemana semua orang?” atau “Lupa hari ini saya ulang tahun?”

Ketika seseorang merasa senang, mungkin karena mendapat hadiah kejutan, rezeki yang tak disangka-sangka, dilamar calon suami, naik pangkat, naik gaji, punya mobil baru, memenangkan pertandingan, misalnya. Ia akan mencari orang lain untuk meluapkan kegembiraannya. Ia memerlukan seseorang yang mau ikut berteriak histeris merayakan kesenangannya itu.

Andai tak seorang pun peduli dengan kegembiraan Anda itu. Misalkan tak satupun menanggapi atau menyadari betapa hari itu Anda tengah berbahagia, membiarkan Anda senyum-senyum atau berteriak kegirangan sendirian, ada sesuatu yang kurang dalam kebahagiaan itu.

Ya, kita selalu memerlukan orang lain baik dalam keadaan takut, sedih, maupun bahagia. Seseorang yang mau berlari bersama dalam ketakutan, menggigil bersama dalam kedinginan, menangis bersama dalam kesedihan, juga tertawa bersama merayakan kemenangan dan kebahagiaan.

Sobat, jika pun Anda tak sendirian menjalani kehidupan, mungkin sahabat Anda tidak demikian. Sapalah sahabat yang sudah lama tak disapa, temuilah mereka sekarang juga, mungkin ia tengah sendiri menjalani segala rasanya. Katakan kepadanya, “Sobat, saya ada untukmu”. (gaw)