Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, March 21, 2006

Cinta yang Takkan Pernah (Mampu) Terbayar

Lutfia, bukan siapa-siapa. Tapi ia menjadi seseorang yang akan disebut namanya di Surga kelak oleh Yusuf, anak tercintanya. Dan ia akan menjadi satu-satunya yang direkomendasikan Yusuf, seandainya Allah memperkenankannya menyebut satu nama yang akan diajaknya tinggal di Surga, meski Lutfia sendiri nampaknya takkan membutuhkan bantuan anaknya, karena boleh jadi kunci surga kini telah digenggamnya.

Bagaimana tidak, selama dua hari Lutfia menggendong anaknya yang berusia belasan tahun mengelilingi Kota Makassar untuk mencari bantuan, sumbangan dan belas kasihan dari warga kota, mengumpulkan keping kebaikan dan mengais kedermawanan orang-orang yang dijumpainya, sekadar mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi anaknya yang menderita cacat fisik dan psikis sejak lahir.

Tubuh Yusuf, anak tercintanya yang seberat lebih dari 40 kg tak membuat lelah kaki Lutfia, juga tak menghentikan langkahnya untuk terus menyusuri kota. Tangannya terlihat gemetar setiap menerima sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan, sambil sesekali membetulkan posisi gendongan anaknya. Sementara Yusuf yang cacat, takkan pernah mengerti kenapa ibunya membawanya pergi berjalan kaki menempuh ribuan kilometer, menantang sengatan terik matahari, sekaligus ratusan kali menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering sekering air matanya yang tak lagi sanggup menetes.

Ribuan kilo sudah disusuri, jutaan orang sudah dijumpai, tak terbilang kalimat pinta yang terucap seraya menahan malu. Sungguh, sebuah perjuangan yang takkan pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini kecuali seorang makhluk Tuhan bernama; Ibu. Ia tak sekadar menampuk beban seberat 40 kg, tak henti mengukur jalan sepanjang kota hingga batas tak bertepi, tetapi ia juga harus menyingkirkan rasa malunya dicap sebagai peminta-minta, sebuah predikat yang takkan pernah mau disandang siapapun. Tetapi semua dilakukannya demi cintanya kepada si buah hati, untuk melihat kesembuhan anak tercinta, tak peduli seberapa besar yang didapat.

Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan di setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan untuk setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.

Lutfia, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Lutfia, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Yusuf, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.

Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu? Wallaahu 'a'lam

Bayu Gawtama
jelang hari ulang tahun ibu

Tuesday, March 14, 2006

Lebih Baik Dari Kesan Orang Lain

Selama ini Anda sudah dikenal sebagai seorang suami yang setia, jujur, di hadapan isteri. Atau sebaliknya, seorang isteri yang senantiasa memegang amanah suaminya. Tak pernah ingkar janji, bahkan selalu menepatinya. Tak henti kalimat sayang dan cinta terhadiahkan untuk pasangan terkasih. Hingga pada satu kesimpulan, pasangan Anda menganggap Anda-lah sosok terbaik anugerah terindah dari Tuhan yang pernah dimilikinya. Jika sudah demikian, Anda sudah mendapatkan kesan baik dari orang terdekat Anda, yakni dari pasangan Anda sendiri. Jadi, buatlah tetap demikian. Kalau perlu jadilah diri ini lebih baik dari kesan yang ada sekarang.

"Ibuku, ibu terbaik sedunia. Ayahku lah yang terhebat". Tak salah jika anak-anak lantang menyatakan perasaan bangganya terhadap Anda. Sebagai ibu, kasih sayang selalu tercurah kepada mereka. Cinta adalah bahasa sehari-hari Anda terhadap mereka, kasih sayang adalah perilaku yang selalu didapat anak-anak dari Anda. Kenakalan anak-anak dibalas dengan kesabaran, tangis mereka selalu mereda di pelukan Anda, egoisme dan amarah anak-anak terjawab dengan kata manis Anda. Sebagai Ayah, Anda tak pernah mengingkari janji, meski sekadar untuk menemaninya tidur tadi malam. Tak ada makian, delikkan mata, atau bahkan pukulan yang akan melukai fisik dan hati mereka. Jika sudah demikian, kesan baik sudah Anda peroleh dari anak-anak. Buatlah tetap demikian, dan bila perlu jadilah lebih baik dari kesan yang ada saat ini.

Anda sekeluarga dikenal sebagai tetangga yang baik, yang tidak pernah terlibat konflik dengan warga di sekitar tempat tinggal Anda. bahkan tak sedikit yang menjadikan keluarga Anda tauladan bagi keluarga lain, tak sedikit pula yang iri dengan keharmonisan keluarga Anda. Orang lain tak pernah mendengar suara pertengkaran di rumah Anda, tak terkecuali tetanggap satu dinding dengan rumah Anda. tak sekalipun ada catatan buruk mengenai keluarga Anda, sekalipun hanya berbentuk gosip atau kabar burung. Semua kesan tetangga dan masyarakat tentang Anda dan keluarga bernilai positif. Buatlah tetap demikian, dan sangat perlu untuk menjadi lebih baik dari kesan orang lain tersebut.

Seluruh jajaran di kantor, dari Direksi hingga office boy menyukai kepribadian Anda. Anda adalah karyawan yang jujur, menghormati atasan, mencitai rekan kerja sekaligus menghargai bawahan. Tak pernah Ada atasan yang marah akibat sikap tidak disiplin Anda, tak satupun rekan kerja yang kecewa karena ketidakprofesionalan Anda, bahkan office boy pun balik menghargai Anda yang tak pernah membuatnya merasa rendah. Tak hanya itu, rekan-rekan bisnis pun mengenal Anda sebagai sosok yang bisa dipercaya. Jika demikian, Anda sudah menciptakan kesan baik di tempat kerja. Buatlah tetap demikian, dan jadilah lebih baik dari kesan yang Anda dapatkan itu.

Di manapun, kapan pun Anda berada, di mata siapa pun Anda dikenal baik. Diam, duduk, berdiri, berjalan, bersikap serta cara Anda bertutur kata memberikan kesan baik diri Anda. Maka buatlah tetap demikian, jadilah lebih baik dari kesan yang Anda terima saat ini. Dan hindari berbuat kesalahan yang menjadikan Anda lebih buruk dari kesan orang lain terhadap Anda.

Jadilah lebih baik dari kesan orang lain, dan jangan menjadi lebih buruk dari kesan orang lain... semoga.

Bayu Gawtama
kalimat terakhir saya dapatkan dari seorang sahabat, terima kasih atas nasibatnya

Thursday, March 09, 2006

Masih Senang Buang Nasi?

Masih senang buang nasi? saya selalu teringat kalimat ini dan rasanya takkan pernah lupa. Adalah ibu yang pernah mengutarakannya dulu saat saya kecil. Setiap kali waktu makan tiba, ibu menyediakan kelima anaknya untuk makan masing-masing sepiring. Dan saya, salah satu dari dua anak ibu yang gemar membuang-buang nasi pada saat makan. Maksudnya, setiap kali ibu luput mengawasi makan kami, saya membuang nasi ke selokan, atau ke tempat sampah dengan berbagai alasan; kenyang, makanan tidak enak, sedang tidak selera makan, atau sekadar mengejar ketinggalan dari saudara-saudara yang lain yang tumpukan nasi di piringnya sudah hampir habis.

Tapi ibu selalu tahu kalau saya melakukan itu, seketika kalimat itu pun terdengar, "masih terus membuang nasi?". Tak hanya itu, seperti penceramah di masjid pada saat sholat Jum'at -begitu saya menilai ibu saat menasehati kami dulu-, tak berhenti bicara sebelum anaknya ini benar-benar menunjukkan penyesalan. Keluarnya khotbah ibu tentang anak-anak terlantar yang bertemu nasi seperti menanti matahari di musim penghujan, mereka yang tak pernah bermasalah soal rasa makanan. Karena masalah mereka bukan pada rasa, tetapi pada wujud fisik makanan yang jarang mereka dapatkan. Berceritalah ibu tentang kaum fakir yang untuk bisa makan sekali sehari, selaut peluh harus terkucur deminya, segunung doa tak henti dipanjatnya untuk sesuap nasi di hari itu, lelah pun tak pernah ada dalam perjalanan panjang mereka mengganjal perut kosongnya.

Lagi-lagi saya membuang nasi, juga diwaktu makan siang bersama abang dan adik. Si bungsu manis dari keluarga kami pun berteriak, "bu, abang buang nasi lagi...". Tiba-tiba saya mendelik dan menampar piring milik si manis. Lalu saya bilang ke ibu, "abang cuma dikit kok, itu buktinya adik yang lebih banyak membuang nasinya," kilah saya tak mau kalah.

Tapi ibu tetap tahu siapa yang bersalah sebenarnya. Saya mendapat hukuman tak mendapatkan makanan untuk malam hari. Di waktu makan malam, saya tak diperkenankan berada di ruang makan. Anak nakal ini diminta untuk merenungi perbuatannya siang hari. Tak banyak yang bisa direnungkan anak sekecil saya waktu itu, selain satu hal yang bisa dirasa; "begini rasanya telat makan..." benar-benar menderita. Saya juga mendapati pelajaran berharga, tidak enak rasanya hanya menjadi penonton orang-orang yang sedang nikmat menyantap makanan, terlebih jika yang dimakan adalah penganan kegemaran saya. Terbersit harap, abang dan adik-adik berbaik hati tak melahap habis semua makanan dan menyisakan sedikit saja untuk saya. Semoga

Ternyata hukuman ibu tak sekejam yang saya kira. Ibu tetaplah manusia paling baik sedunia. Usai waktu makan malam ibu memanggil dan mempersilahkan saya duduk di meja makan. Nasi pun tersedia, semur tahu nikmat buatan ibu yang tadi membuat tenggorokan ini sempat tergelegak pun lahap disantap. Nikmatnya. Ternyata, nasi lebih nikmat untuk dimakan ketimbang dibuang. Dan sungguh, teramat banyak saudara kita yang nyaris tak pernah menikmati makanan senikmat yang kami punya.

***

Sungguh saya tak henti menangis, setiap kali mendengar dan melihat banyak orang membuang makanan yang tak termakan. Setiap kali mendengar bahwa teramat banyak restoran dan hotel yang lebih rela membuang sisa makanan ketimbang membagi-bagikannya kepada orang yang lebih membutuhkan. Setiap kali mendengar berita di televisi tentang orang-orang yang mulai menyantap nasi bekas (aking), atau anak-anak yang menjadikan batang pohon sebagai santapannya, lantaran tak ada lagi yang bisa dimakan.

Miris hati ini, ketika mendengar sekeluarga di Indramayu keracunan setelah menyantap jamur yang diambil dari kebun belakang rumah mereka. Mereka terpaksa makan jamur karena tak lagi ada yang bisa dimakan, dan jamur menjadi pilihan terakhir untuk mengganjal perut kerontang mereka.

Masihkah kita senang membuang nasi?

Bayu Gawtama