Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Thursday, August 07, 2003

I Don't Want To Miss A Thing Aerosmith

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you is a moment I treasure
Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Lying close to you feeling your heart beating
And I'm wondering what you're dreaming
Wondering if it's me you're seeing
Then I kiss your eyes
And thank God we're together
I just want to stay with you in this moment forever
Forever and ever

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't want to miss one smile
I don't want to miss one kiss
I just want to be with you
Right here with you, just like this
I just want to hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
I don't want to miss a thing

Wednesday, August 06, 2003

Yakinlah

Nyanyikanlah lagu indah
hanyalah untukku
waktu temaram datang ketuk hati
Tolong kau dendangkan usaplah nurani
Agar tak kelam

Sekali lagi kuminta coba kau nyanyikan
Semoga dapat kurasa ikhlas mu
Pasti kan kudengar
pasti ku resapi
kasih yakinlah

Bukan ku tak mau mengalunkan laguku
kutakut menyakiti telingamu
Bukan aku enggan memainkan gitarku
sebab cinta bukan hanya nada

Kalau kita saling percaya
Tak perlu nada tak perlu irama
Berjalanlah hanya dengan diam

Monday, August 04, 2003

About Love, Episode: Energi Kecupan

Hari belum dimulai. Jarum pendek pada jam dinding mengarah ke angka 2. Masih terlalu gelap. Tiba-tiba aku terbelalak kaget. Istriku, Ryan, tengah menahan rasa sakit di perutnya. Geriginya saling beradu, sesekali gigi atasnya menangkap bibir bawah untuk mencoba menghilangkan sakit yang takkan pernah aku mengerti kadarnya. Sementara aku menyiapkan mobil, kudengar erangan Ryan semakin keras, si kecil di dalam perutnya mungkin sudah tak sabar hendak melihat dunia. Nakalnya aku, masih sempatnya sedikit nyengir karena senang akan segera menjadi seorang ayah. Terbayang tak lama lagi akan terdengar suara mungil memanggil, Ayah…

Kupacu mobilku secepat mungkin. Masih 2 kilometer lagi rumah sakit bersalin tempat biasa istriku memeriksakan kandungannya setiap bulan. Semakin cepat roda berputar semakin cemas perasaanku, terlebih melihat istriku yang mulai melemah. Tak lagi terdengar erangan dari mulutnya, yang ada hanya desahan buangan nafas dengan sedikit tersengal. Kuyakinkan dia untuk sedikit bersabar, Tinggal dua kelok lagi dik…

Sesaat sebelum turun, diluar halaman depan rumah sakit, kubopong Ryan menuju ruang tengah rumah sakit. Beberapa detik sebelum para suster menyodorkan tempat tidur beroda untuk istriku, sempat Ryan membisikkan sesuatu …. Tak terasa sebulir air mata mengalir dari sudut mataku …

Bagaimana mungkin, disaat kritis dan tengah menahan sakit yang teramat seperti itu ia masih sempat memikirkan kebahagiaan suaminya jika Tuhan berkehendak lain atas sebuah ajal. Memang yang kutahu, saat-saat seperti ini adalah saat mempertaruhkan hidup dan mati bagi seorang ibu. Tapi bagaimana mungkin Ryan masih bisa membagi ruang dalam pikirannya untukku disaat genting seperti saat ini.

Detik demi detik, menit pun berlalu. Tapi masih saja terngiang kata-kata istriku, Mas harus menikah lagi, jika Allah menghendaki ajalku berakhir hari ini….

Hhhhhh … kuhela nafasku panjang. Aku mengutuk-ngutuk diri ini sendirian. Sementara di dalam sana istriku tengah berjuang antara hidup dan mati demi memberikan kebahagiaan berupa sesosok malaikat kecil yang sebentar lagi hadir bersama dalam kehidupan kami, tapi aku masih saja berdiri di sini, di ruang tunggu ditemani tembok putih yang membisu.

Kududuk sejenak, tak sengaja pikiranku melayang. Terbayang wajah istriku yang cantik. 2 tahun menikah, tak terasa sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Berarti juga, bukan hanya satu kecupan yang akan menyemangatiku sebelum berangkat kerja, tapi akan ada lagi satu kecupan dari bibir mungil malaikat kecilku. Kecupan… ya, satu kecupan di pagi hari yang memberikan energi luar biasa setiap kali memulai hari dengan rutinitas kantor. Dan satu kecupan hangat menyambutku di depan pintu sepulang bekerja, yang membasuh semua peluh, yang menghilangkan segala letih dan kepenatan. Kecupan …

Sedetik kemudian …
Aku berlari, membuka pintu ruang persalinan, kulihat istriku masih terus berusaha mengatur nafasnya. Tak percaya aku seberani ini, padahal sebelumnya sudah kuyakini aku takkan sanggup menemaninya bersalin. Aku tak kuasa melihat istriku menderita, bahkan sudah terbayang dalam benakku sejak bulan-bulan terakhir menjelang persalinan ini, sesuatu yang terpahit yang aku tak ingin terjadi pada istriku, termasuk anakku.

Tetapi di menjelang pagi ini,
Kudekati Ryan, kugenggam tangannya erat. Kurasakan jemarinya seperti baru saja menemukan pegangan kuat setelah sebelumnya menggapai-gapai hampir terlelap dalam lautan peluh. Dan sesaat kemudian, kecupan hangat dariku mendarat di keningnya, menyingkirkan semua peluhnya. Mataku terpejam sementara bibirku terus bertengger di kening basahnya. Terlintas energi dahsyat yang selama ini dialirkan oleh Ryan sebelum aku berangkat kerja. Kali ini aku berharap, energi itu bisa diperolehnya dari hangat bibirku di keningnya …

Akhirnya, diiringi segurat do'a …
Sebuah tangis yang kurindu sekian bulan lamanya terdengar. Yang pasti, kulihat juga senyum Ryan menyambut kehadiran malaikat kecil kami itu. Terima kasih Allah. Kupercaya, Engkau turut andil sewaktu energi kecupan itu kualiri kepadanya. Karena juga, aku masih ingin selalu mendapatkan energi itu esok hari, bukan cuma dari satu kecupan, ditambah kecupan mungil itu. (Bayu Gaw)