Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, June 22, 2005

Hingga Detik Terakhir

Pernah suatu hari saya berangkat ke kantor hanya dengan sepuluh ribu rupiah di kantong. Jika dihitung untuk ongkos pulang pergi dari dan ke kantor, jumlah itu hanya lebih seribu rupiah saja. Jelas dan sudah pasti tak ada makan siang hari ini. Dalam perjalanan menuju kantor, ada seorang ibu yang mengamen sambil menggendong bayinya. Entah kenapa saya pun tergerak untuk memberinya barang sedikit meski uang milik saya amat terbatas. "Pasti ada gantinya," hati pun bergumam yakin.

Selang satu setengah jam di kantor, seorang rekan menyodorkan map sumbangan anak yatim. Lirih saya menatap map kumal itu, sementara saya tahu seorang ibu menunggu harap di depan gerbang. Saya keluarkan sedikit dari sedikit yang saya punya. Lagi-lagi saya berkeyakinan, "pasti ada gantinya". Saya hanya tak ingin orang lain tahu saya benar-benar dalam keterbatasan, disisi lain lega rasanya masih ada yang bisa diberikan untuk orang yang lebih membutuhkan.

Tinggallah saya berpikir bagaimana pulang nanti dengan sisa uang yang tak mencukupi. Bahkan hati ini pun bertambah lirihnya mengingat uang yang saya tinggalkan untuk isteri di rumah tak jauh berbeda jumlahnya dengan yang saya bawa ke kantor. Entah apa yang ada dalam benaknya, saya hanya menduga bahwa ia teramat penuh harap suaminya membawa pulang rezeki yang cukup walau sekadar untuk masak besok pagi. Dugaan itu lah yang sempat membuat tangan saya terasa berat untuk mengulurkan pemberian ke ibu pengamen di bis tadi, juga ketika map anak yatim disodorkan di meja saya.

Tidak ada yang benar-benar bisa merasakan manisnya buah kesabaran sampai seseorang benar-benar yakin dan teguh diatas gapura kesabaran yang dibangunnya. Saya terus menerus mengukir kalimat itu dalam hati sepanjang hari di kantor meski bayang-bayang sesal memberi terus menghantui, "Siapa suruh memberi? Sekarang bingung kan nggak punya ongkos untuk pulang?", hilir mudik bayang sesal itu terus menari-nari. Berkali-kali ditepis, berkali-kali pula ia mengganggu. Berat memang.

Selepas ashar nyaris runtuh keyakinan saya bahwa Allah akan mengganti setiap infak yang kita keluarkan dengan yang lebih besar. Walau buru-buru saya kesampingkan pikiran itu dengan satu kalimat, "Mungkin tidak hari ini Dia menggantinya". Saya juga mulai mengira-ngira siapa rekan di kantor yang masih punya sedikit uang untuk saya pinjam.

***

Menjelang jam pulang kantor, seseorang memberi tahu bahwa uang royalti buku saya sudah keluar dan bisa diambil saat itu juga. Maha benar Allah atas semua janji-Nya. Saya yakin, kabar ini akan menambah manis senyum isteri di rumah.

Bayu Gawtama

5 comments:

hadikofuji said...

Mas bayu saya mendengar tentang mas bayu di delta kemarin saya terkesan .
mas saya adalah seorang pelajar sma yang baru saja ingin bergabung dengan situs ini .dan saya ingin cerita sama mas ,bahwa pada saya masih kelas stu dulu sebelum datangnya sunami saya pernah bercerita tentang kaedaan alam di bumi ini .cerita itu tarjadi karena pada saat itu saya sedang ada tugas dari ibu guru saya untuk berpidatodengan teks yang saya tulis tetapi teks yang saya tulis sudah ada yang membuatnya dan saya bingung ingin menyampaikan apa ,lalu saya berdiri di depan kelas dan saya sangat bingung sekali lalu tiba -tiba saya teringat dengan catatan ainin najib yang menceritakan tentang nabi musa dan nabi idrisya ya langsung aja saya keluarkan ide itu dengan mengaitkannya peda teks pidato saya .
pada saat saya berpidato , saya menceritakan tentang kondisi lingkungan di indonesia ini ,ntah dari mana ide itu tiba- tiba muncul lalu saya mengaitkannya dengan keadaan yang terjadi di jepang , us , dan indonesia dan saya mengaitkannya dengan tsunami dan setelah beberapa bulan tsunami itupun muncul. saya bergetar dan saya pernah berkata kepada teman saya satu kelas didepan ibu guru yang dengan intonasi yang khusus saya katakan bahwa saya bukan seorang peramal , masya allah apakah ini hidayah mas, dan lagi mas , saya memiliki nasib yang mungkin lebih sedih dari mas,
terima kasih mas ,mas memunculkan inspirasi saya

hadikofuji said...

Mas bayu saya mendengar tentang mas bayu di delta kemarin saya terkesan .
mas saya adalah seorang pelajar sma yang baru saja ingin bergabung dengan situs ini .dan saya ingin cerita sama mas ,bahwa pada saya masih kelas stu dulu sebelum datangnya sunami saya pernah bercerita tentang kaedaan alam di bumi ini .cerita itu tarjadi karena pada saat itu saya sedang ada tugas dari ibu guru saya untuk berpidatodengan teks yang saya tulis tetapi teks yang saya tulis sudah ada yang membuatnya dan saya bingung ingin menyampaikan apa ,lalu saya berdiri di depan kelas dan saya sangat bingung sekali lalu tiba -tiba saya teringat dengan catatan ainin najib yang menceritakan tentang nabi musa dan nabi idrisya ya langsung aja saya keluarkan ide itu dengan mengaitkannya peda teks pidato saya .
pada saat saya berpidato , saya menceritakan tentang kondisi lingkungan di indonesia ini ,ntah dari mana ide itu tiba- tiba muncul lalu saya mengaitkannya dengan keadaan yang terjadi di jepang , us , dan indonesia dan saya mengaitkannya dengan tsunami dan setelah beberapa bulan tsunami itupun muncul. saya bergetar dan saya pernah berkata kepada teman saya satu kelas didepan ibu guru yang dengan intonasi yang khusus saya katakan bahwa saya bukan seorang peramal , masya allah apakah ini hidayah mas, dan lagi mas , saya memiliki nasib yang mungkin lebih sedih dari mas,
terima kasih mas ,mas memunculkan inspirasi saya

hanum said...

Keikhlasan memberi seringkali benar-benar diuji manakala kita sedang berada dalam kesempitan. Ini juga untuk menguji sejauh mana kepedulian kita thd sesama. Banyak pelejaran yg saya petik ttg hal ini, terutama ketika menonton acara TOLOOONG di tv. Yang tergerak menolong kebanyakan adalah mereka yg juga uangnya pas2an. Semoga Pak Bayu...dan orang2 itu..istiqomah dlm keikhlasan membantu sesama. amiin.

Nita Sellya said...

Happens to me Gaw..many times..mengajarkan gue untuk percaya pada Yang Di Atas.... :) Love your writings, kapan jadi tamu gue di radio? :)

putri said...

Keikhlasan dari seorang hamba 4JJI akan membawa hambanya makin semakin dekat dan taqwa...semoga aku juga bisa menjadi hamba 4JJI yg sedemikian kaya dlm membelanjakan harta di jalan 4JJI...syukron atas artikel nya...keep in touch to get ridho 4JJI