Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Thursday, August 03, 2006

Allah Ganteng Nggak?

Anak-anak, kadang dengan keluguannya melontarkan kalimat-kalimat luar biasa. Baik berupa pertanyaan mau pun pernyataan singkat. Sering kali kita yang dewasa tak mampu mencerna kalimat-kalimat polos yang keluar dari mulut mungil mereka. Bukan karena ketidakmampuan mereka melafazkan kata-kata secara benar, misalnya lantaran lidahnya belum mampu mengucap “R” atau ada kata-kata yang sering diucapkan terbalik seperti Gajah yang terucap Jagah, putih jadi tupih, dan murah untuk rumah.

Seringkali yang membuat orang dewasa terperangah, lucu, dan terheran-heran tidak tahu bagaimana menjawabnya adalah pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendasar yang justru sebenarnya kosa kata itu pernah ia dapatkan dari orangtuanya di hari-hari sebelumnya. Ingat, ketika kita –orang tua- sudah lupa dengan apa yang pernah kita ajarkan, kita ucapkan kepada mereka, justru mereka sudah melekatkan semua kalimat yang terdengar secara lengkap berikut titik koma, penekanan, bahkan mimik kita ketika berbicara. Otak mereka seperti kaset perekam super canggih yang tak melewatkan satu huruf pun, tidak error, dan mampu bertahan sangat lama.

Ini juga salah satu makna kenapa setiap bayi muslim yang dilahirkan dianjurkan untuk diperdengarkan suara adzan dan iqomat di kedua telinganya. Agar suara-suara itu akrab di telinga mereka, dan kemudian suara-suara kebaikan lainnya –seperti lantunan ayat suci alquran- sangat disarankan untuk terus diperdengarkan. Jadi, hati-hati untuk bertutur, berkomentar, berkata-kata di depan anak-anak. Apa pun yang keluar dari mulut orang tua, mereka pasti mendengar, merekam dan –ini yang wajib diperhatikan- ditirunya. Kata-kata yang baik, lembut, sopan dan benar, membuat anak-anak bertutur yang sama. Jika kalimat kasar, sarkas, kotor dan dusta yang sering didengarnya, itu pula yang akan terucap dari bibirnya. Jadi jangan heran kalau suatu saat Anda mendengar anak-anak berucap kalimat yang membuat Anda terperanjat –bisa kaget, bisa kagum. Boleh jadi kalimat itu berasal dari Anda atau lingkungan sekitar. Karenanya, perhatikan juga lingkungan sekitar Anda. Mungkin saja Anda sudah berhati-hati, namun tetangga Anda sangat kasar dalam berkata-kata. Di sini pentingnya untuk selalu mendampingi dan memberitahu anak-anak tentang kata-kata ‘baru’ yang mereka dapatkan sepulang bermain.

Sekedar berbagi. Dongeng tentang ketuhanan, kebenaran, kehabatan, kebaikan dan banyak hal yang sering saya hantarkan kepada anak-anak menjelang tidurnya ternyata membuat mereka sering melontarkan pernyataan dan pertanyaan yang mengejutkan.

Satu malam sepulang dari Pantai Pangandaran –mereka tahu saya tugas ke Pangandaran untuk membantu korban tsunami- si kecil Iqna (4 tahun) bertanya, “emang Abi nggak kena ombak di Pangandaran?”

Saya jawab, “Alhamdulillah nggak”

“Ooh… emang kalau Abi item dan kepalanya botak, Abi jadi kuat?” saya ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Tapi jujur saya tidak bisa menjawabnya, kecuali “kan ada Allah yang melindungi…”

“Kan Allah ada di langit, emangnya Allah turun ke Pangandaran terus nolongin Abi?” lagi-lagi saya kesulitan menjawabnya. Saya hanya mengangguk.

“Berarti Abi kuat dong, Abi hebat dong… kuat mana sama Allah?” Waddooh, pertanyaannya makin berat, tapi mudah jawabnya, “Ya jelas kuat Allah dong…”

“Abi, dede mau dong naik pesawat kayak Abi… biar dede bisa lihat Allah. Abi kan sering naik pesawat sampe ke langit, udah pernah ketemu Allah?” Nah lho, ada yang bisa bantu jawab?

Lalu saya Tanya, “emang kenapa dede mau lihat Allah?”
Mau tau jawabnya???

“pengen lihat, Allah itu ganteng nggak. Gantengan mana sama Abi…” saya hampir menelan ludah dengan pernyataannya. Bayangkan kalau saya sampai menjawab “gantengan Allah”, nanti akan ada pertanyaan lainnya, “emang Allah laki-laki?” makin bingung kan?

Semalam sehabis maghrib saat belajar baca Iqro’, Iqna protes ke umminya. “baca ‘A’udzu billaah dulu mi, biar ketemu Allah,” ha ha.

Si kecil memang beda dengan tetehnya, Hufha. Tetehnya sudah lebih tahu bahwa Allah tidak bisa dilihat –walau Ia sangat dekat dan selalu melihat kita- dan Allah bisa ada di mana-mana, di mana pun kita berada, kemana pun kita menghadap. Tidak mesti jawabannya, Allah itu di langit.

Ya, namanya juga anak-anak. Dialog-dialog kecil dengan mereka sangatlah bermanfaat, mengharukan, menggelikan, namun kadang membuat kita terperangah tidak menyangka akan apa yang mereka lontarkan. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bijak dengan kata-kata kita.

Bayu Gawtama

2 comments:

Anonymous said...

*ikut senyum baca pertanyaan cerdas Iqna*

Btw, jadi ke Palestina pak? Semoga dilancarkan perjalanan serta tugas selama di sana ya. Amin

farahPutri said...

anak2 jaman sekarang memang mudah nyerap ya Pak,bisa jadi hal yang baik kalo hal-hal yang diserapnya itu berguna,tapi kalo tidak,,berabe deh..saya juga peunya pengalamn menarik dengan anak2 kecil..bikin kaget mendengarnya..
mungkin Bapak bisa menyempatkan waktu membancanya di blog saya..":)