Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, August 08, 2006

Dukungan untuk ACT: Dari Menteri Sampai Ulama

30 Menit menjelang keberangkatan Tim ACT-Aksi Cepat Tanggap ke Libanon dan Palestina, telepon berdering dan tertera nama yang tak asing di layar telepon seluler, "Yusuf Mansur" Seorang ustadz muda pimpinan pesantren Daarul Qur`an Wisatahati berkesempatan memberikan dukungan penuh kepada tim ACT yang segera berangkat ke Libanon dan Palestina. "Subhanallah, Allaahu Akbar," kalimat itu mengawali suara Ustadz Yusuf kepada Bayu Gawtama, ketua tim ACT untuk Palestina dan Libanon. Kepada Bayu, Ustadz Yusuf menyatakan dirinya dan seluruh santri Daarul Qur`an mendukung keberangkatan tim ACT.

Menurutnya, meski yang diusung Tim ACT adalah misi kemanusiaan melalui program "Food for Palestina" juga merupakan langkah jihad dalam arti yang sesungguhnya, yakni menjalankan tugas kemanusiaan di jalan Allah dengan sungguh-sungguh guna membantu saudara-saudara mukmin di Palestina dan Libanon. Bahkan, beberapa menit kemudian sebuah pesan singkat masuk dan, "Berapa lama ACT di Palestina? Insya Allah mulai malam ini, santri-santri Tahfidz di Daarul Qur`an Wisatahati, bangun malamnya, tahajjud dan munajatnya buat kawan-kawan relawan ACT. Selamat berjihad. Kami mendukung lewat bangun malam dan munajat."

Tak hanya dari Ustadz Yusuf, ratusan pesan singkat maupun telepon langsung juga masuk ke telepon seluler tiga anggota tim ACT. Seluruh isinya mendukung, mendoakan, dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas keberangkatan tim ACT ke Palestina dan Libanon. Tentu saja semua pesan singkat itu menambah semangat anggota tim. Terlebih keberangkatan tim pada Sabtu (5/8) malam, pukul 23.45 dihantar langsung oleh keluarga besar ACT dan keluarga masing-masing anggota tim. Rasa haru tercipta ketika harus berpisah di depan pintu gerbang keberangkatan. Anggota tim saling berpelukan, baik kepada keluarga besar ACT maupun anggota keluarga masing-masing. Para isteri dan anak-anak anggota tim pun tak kuasa menahan haru, ada bening air yang ditahan untuk tak tumpah malam itu. Agar terlihat sangat tegar menjalani missi mulia ini.

Yang tak kalah pentingnya, Jum`at (4/8) pagi sebelum acara pelepasan tim di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebuah telepon juga diterima anggota tim dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, HM. Adhyaksa Dault. Dalam telepon itu, Adyhaksa berkali-kali mengucap takbir dan rasa syukurnya atas rencana keberangkatan Tim ACT. Bahkan, Adhyaksa yang pagi itu sedang berada di Bandara menjelang keberangkatannya bersama Presiden SBY ke sidang OKI, mengatakan, "Saya mendukung tim ACT. Seharusnya semua muslim di Indonesia mendukung perjuangan Palestina dan Libanon."

Beragam dukungan terus mengalir melalui pesan singkat, telepon, maupun email. Ini semakin menunjukkan bahwa keberangkatan tim ACT ke Palestina dan Libanon mendapat dukungan penuh dari masyarakat Indonesia. Ya, memang dukungan itulah yang diharapkan, selain juga doa dan uluran tangan yang tak henti untuk saudara-saudara di Palestina dan Libanon. (Gaw/saat transit di Doha, Qatar)

No comments: