Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, May 24, 2006

Airmata untuk Abang

Entah sudah berapa tahun tak pernah terlihat ia menangis. Tapi sore itu, ia menjadi seperti karang yang rapuh. Badannya yang tegap dan tinggi tak ubahnya lelaki renta yang lemah. Ia terus sesenggukkan di sudut ruang jeruji besi di atas sajadahnya. Tak pernah terbayang dalam benaknya harus mendekam di ruang sempit itu, berkali-kali mulutnya bergumam, “Ya Allah, kenapa Kau berikan cobaan ini kepadaku?”

Tak henti tangisnya meski tangan lembut ibu berulang membasuh air matanya. Tangan lembut yang sudah lama ia rindui kehangatannya itu tak juga menghentikan gemetar tubuhnya. “Abang berdosa bu, abang berdosa,” tangis ia sambil membenamkan wajah tampannya di dada ibu.

Abang hanyalah seorang pengemudi bis jalur khusus atau Busway. Minggu siang itu, adalah hari kelabu baginya. Setelah berpesan singkat kepada teman-temannya, “Selamat bertugas, hati-hati di jalan dan utamakan keselamatan penumpang,” kendaraan besar itu pun melaju. Adalah seorang pedagang asongan bersepeda berada di jalur terlarang –jalur cepat yang hanya diperuntukkan bagi Busway- terlihat dari kejauhan. Abang memperlambat laju kendaraannya sambil memperhatikan pedagang tersebut. Ketika ia yakin pedagang tersebut hanya di tepi jalan, ia pun menancap gas sambil terus memperhatikan pedagang asongan di depannya. Betapa kagetnya ia ketika pedagang itu tiba-tiba menyeberang jalan sambil mengendarai sepedanya, padahal jarak bis hanya sekitar empat meter.

Langit mendung, awan pun kelabu, aspal panas berwarna merah. Abang turun berharap orang yang ditabraknya segera keluar dari kolong bis. Namun yang diharap tak juga muncul, lemaslah ia. Tak digubrisnya tembakan kamera wartawan yang mengelilinginya, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia kehilangan seluruh tenaganya saat mengetahui pedagang asongan yang ditabraknya tak lagi bernyawa.

Jeruji besi pun menjadi tempat persinggahannya kini. Ia lebih banyak diam dan terpekur sambil menutup wajahnya di atas sajadah. Lagi-lagi kalimat, “Ya Allah, kenapa Kau berikan cobaan ini kepadaku,” yang terucap. Ia berupaya menjelaskan kepada siapa pun yang menjenguknya bahwa ia tak bersalah lantaran pedagang asongan itu berada di jalur khusus Busway yang terlarang bagi siapa pun. Ia juga telah memberikan peringatan dengan klakson dari jauh agar orang tersebut berhati-hati. Tetapi Allah berkehendak lain, Minggu siang yang nahas itu pun terjadi.

Air mata ini tak terbendung lagi, saya menangis untuk Abang. Bukan karena ia harus mendekam di penjaran demi mempertanggungjawabkan peristiwa yang kini harus dipikulnya. Bukan juga lantaran uang sebesar lima puluh juta rupiah yang dituntut pihak keluarga kepadanya, meski itu teramat berat untuk kami memikulnya. Tangis itu, lebih karena ucapannya saat saya memeluknya, “Seberat inikah ujian bagi orang beriman?”

Ya, kami sekeluarga baru saja bersyukur atas perubahan yang terjadi padanya. Belum lama ia menikmati hari-hari dengan ibadah yang rajin, belum terlalu lama ia menghiasi bibirnya dengan senantiasa membaca Al Quran. Sekian tahun lamanya Abang meninggalkan berbagai kewajibannya kepada Allah. Ibu yang tak pernah henti berdoa agar Allah mengabulkan mimpinya melihat putra sulungnya mau bertaubat dan rajin sholat. Ibu yang di setiap pertengahan malamnya lebih banyak menyebut nama Abang dalam doanya, ibu juga yang selalu merindukan melihatnya bersujud di atas sajadah. Setelah lama tak bertemu, rindu ibu terbayar sudah. Walau harus melihatnya di dalam ruang jeruji besi.

Semoga Abang tahu, bahwa setiap orang beriman akan selalu mendapat ujian. Dan semoga ia tegar menghadapinya. Harapan kami terjawab sudah, ketika ia mengungkapkan hal yang membuatnya menangis sepanjang hari, “Abang telah membuat seorang isteri menjanda, dan anak-anak kehilangan Ayahnya.”

Bayu Gawtama
adik yang menangis
0852 190 68581 - 0888 190 2214

5 comments:

defalogy said...

la tahzan... jangan bersedih

Anonymous said...

Kang Gaw apakah ini Abang kandung kang Gaw ? karena saya lihat beritanya di TV moga2 diberikan kesabaran dan hikmah dari-Nya

Abu Ammar

ak said...

semoga tabah, selalu ada hikmah

Ferry Zuljanna said...

Subhanallah. Amat menyentuh kisahnya.

Rahasia Allah itu luar biasa. Semoga hikmah dari kisah ini membawa kita semua menjadi lebih baik.

maskus said...

assalaamu'alaikum wr. wb.
mas bayu (walau mas bayu belum pernah kenal saya, tapi saya merasa kenal mas bayu meski sekadar lewat tulisan)...tetap tegar dan semangat ya sebagaimana tulisan2 mas bayu yang selalu memberikan semangat pada saya dan melatih hati saya untuk selalu peduli pada semua...juga untuk abangnya, bahwa ALLAH SWT sangat menyayangi abang mas bayu... semoga semakin dekat dengan ALLAH SWT...

wassalaamu'alaikum wr. wb.

maskus-jakarta