Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, March 09, 2005

Rumah Baru

Sabtu siang (5/3) akhirnya kami tiba di rumah baru. Sebuah rumah sederhana yang akan menjadi persinggahan selanjutnya. Butuh waktu dua setengah jam dari Bogor menuju ke Tangerang, karena tiga mobil kami harus berjalan beriringan. Dua mobil untuk mengangkut rombongan keluarga, sementara hanya satu mobil box kecil untuk mengangkut barang-barang kami.

Cuma satu box kecil? Ya, karena kami memang belum punya apa-apa. Rumah (kontrakan) kami sebelumnya di Bogor terbilang kecil, bahkan bisa dibilang teramat kecil. Sehingga ketika kami menempati rumah baru (juga kontrakan) yang sedikit lebih besar, semakin bertambah terasa lah bahwa kami memang tidak memiliki apa pun.

Mau tahu barang apa yang paling berat yang kami bawa? Satu dus besar yang berisi buku! Ya, semua isinya buku dan itu adalah barang yang paling berat yang kami miliki. Tidak ada tempat tidur, tidak ada sofa, tidak ada lemari besar, tidak ada lemari es. Buku-buku yang sudah saya kumpulkan sejak saya masih bujangan itu terus setia mengikuti kemana pun kami berpindah kontrakan.

Perlu Anda ketahui, buku-buku itu pula yang membuat isteri saya sempat terbengong-bengong pada hari-hari pertama pernikahan kami. Saya hanya membawa satu tas kecil pakaian, sementara satu dus berukuran sedang dan satu tas traveling penuh terisi dengan buku. “Inilah harta paling berharga yang saya miliki, dan hanya ini yang saya bawa,” ujar saya waktu itu.

Kini, di rumah baru anak-anak saya bisa lebih leluasa bermain, berlari kesana kemari tanpa harus khawatir menabrak tembok. Rumah yang lapang memang merupakan bagian dari empat kebahagiaan yang disebutkan Rasulullah, yakni; rumah yang lapang, isteri shalihah, kendaraan yang baik dan tetangga yang baik. Alhamdulillah, setidaknya saya sudah mendapatkan tiga dari empat hal tersebut. Walaupun statusnya masih mengontrak. Kedua, soal tetangga yang baik, saya akan memulainya dengan menjadi tetangga yang baik buat para tetangga saya.

Tentang rumah yang lapang, saya pesankan kepada isteri saya. Ini semua tidaklah penting, jika hati kita tidak lapang. Apa yang ada di dalam dada ini, semestinya harus jauh lebih lapang dari kelapangan rumah. Selapang apa pun tempat tinggal kita, takkan pernah terasa damai dan lapang jika hati kita begitu sempit. Seyogyanya, kita bisa menciptakan hati kita senantiasa terbuka seluas-luasnya agar kita tetap merasa lapang meski tempat tinggal kita tidak lapang, agar orang-orang yang berada di sekitar kita pun terimbas kelapangan hati yang terpancar dari kita.

Jauh lebih penting dari semua itu, satu doa yang terus saya ucapkan bersama dengan isteri dan anak-anak saya, agar kelak Allah memberikan kelapangan ketika kami menempati rumah abadi kami, alam kubur dan alam akhirat. Jika Allah mengabulkan, tentu saja ini jauh lebih membahagiakan kami. Semoga.

Bayu Gautama

6 comments:

abhirhay said...

alhamdulillah... mudah2an dimanapun kaki menjejak...ridha dan barakah Alloh SWT senantiasa yang mengatapinya...pak, bukankah buku itu kawan yang terbaik?... dan ilmu adalah harta yang paling baik?... dan melalui buku insyaAlloh terpahat ilmu. dan melalui ilmu yang terpahat, mudah2an semoga derajat turut bersijingkat... salam pak!

ilalangliarku said...

Pertama membaca saya kurang tertarik dengan topik ini. Tapi di bagian selanjutnya, banyak menyadarkan saya tentang 'makna' hakiki dari 'kepemilikan'.
Postingan yg bagus pak. Selamat menempati 'rumah' baru.. :)

Anonymous said...

Barokallah akh, semoga Alloh selalu memberi kelapangan dimanapun antum tinggal.. amin.

HYI
KRL bojonggede-cawang

Ummi Nida said...

setuju Pak!
namun demikian seandainya diberikan Allah kemudahan utk menempati rumah yg luapaaang...semoga bisa dimanfaatkan utk kemaslahatan keluarga dan ummat:)

yentri said...

Barakallah Pa' Bayu atas kepindahannya.. semoga lebih banyak membawa manfaat bagi ummat. aamiin..
Btw, pindah ke Tangerang sebelah mana nih Pa'? (yentriii kayak yang ngerti Tangerang aja..)

Adi said...

numpang mencari dukungan Mengembalikan Jati Diri Bangsa dalam kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Meskipun terasa Beratnya Mengembalikan Jati Diri Bangsa namun tetap Semangat Mengembalikan Jati Diri Bangsa.

Salam Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Terima kasih.