Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, February 22, 2005

Surga Bernama Keluarga

Malam belum larut saat langkah menapaki teras rumah, perlahan membuka pintu yang belum terkunci berharap orang-orang terkasih di dalam tak terbangun. Ternyata, kehadiran saya senantiasa ditunggu oleh isteri dan anak-anak saya yang rela menahan kantuk untuk sekadar mendaratkan ciuman hangat mereka. Satu persatu dua bidarari kecil itu menubruk tubuh lelahku, hilang semua kantuk mereka bersamaan dengan sirnanya lelahku.

Saya terbaring di sofa dan serta merta anak-anak menyerbu kaki saya untuk melepaskan kaus kaki. Lalu tangan-tangan kecil itu memijat kaki saya, “capek ya?” Sesaat kemudian tangan kecil itu beralih ke kening, “pusing ya?”. Memang tak seperti pijatan seorang tukang pijat, tapi sentuhan tangan-tangan mungil itu terasa jauh lebih menenteramkan, membasuh peluh dan mengangkat lelahku.

Giliran isteri cantikku datang dengan teh hangatnya, satu kecupan penuh cinta mampir sejenak di keningku. Sambutan yang tak pernah absen dilakukannya semenjak hari pertama pernikahan kami. Sambil menunggu makanan yang tengah dipanaskan, kalimat yang teramat sering saya dengar, “Bagaimana hari ini? Ada masalah? Berbagilah…” Kemudian hati dan kedua telinganya terbuka luas untuk menampung semua keluhku sepanjang hari.

Makanan tersaji, anak-anak ikut mengitari hidangan lesehan khas keluarga kami. Sesekali tangan mungil si bungsu mencomot lauk, sementara si sulung menyeruput teh hangat milikku. Sebenarnya mereka hanya ingin mendapatkan satu kalimat dari saya, “Ya, nanti kita lihat bintang ya”. Maka bubarlah mereka dan kembali sibuk dengan mainannya.

Adalah sebuah kenikmatan tersendiri mendengar suara-suara lucu berteriak mengamini bacaan Al-Fatihah saat sholat berjamaah. Biasanya mereka mengikuti bacaan Fatihah maupun surat pendek yang saya baca, lumayan membuat saya terhibur dan tenang berharap mereka lebih menyukai lantunan itu ketimbang lagu-lagu yang banyak diputar televisi.

Beruntung, langit cerah malam itu sehingga kami bisa menggelar tikar di halaman depan. Berempat kami berbaring memandang langit untuk menghitung bintang dan menikmati indahnya rembulan. Kupandang langit penuh bintang bertaburan/ berkelap-kelip seumpama bintang ceria/ … senandung itu yang kerap keluar dari mulut mungil kedua bintang kecilku.

Malam telah larut, saatnya saya menemani dua bidadari kecil itu beristirahat. Biasanya, takkan terpejam mata mereka sebelum dua atau tiga dongeng kuhantarkan sebagai pengiring tidur keduanya. Dongeng penuh hikmah yang kan membuai mereka hingga ke alam mimpi. Akhirnya mereka pun tidur dengan wajah berseri, kuduga mereka tengah bermimpi menjadi putri cantik berkereta kencana, berkuda gagah yang siap mengantarkan sang putri menuju istana. Ah, indahnya…

Selanjutnya, adalah waktu bagi sepasang suami isteri untuk berbagi, kasih, cinta, duka, gembira. Bercerita apa pun sepanjang malam, hingga terangkat semua beban hari itu, hingga terobati semua luka, hingga tersingkirkan semua kerikil penghambat, hingga keduanya kembali menjelang pagi dengan hati yang ringan.

***

Pagi belum beranjak, ayam jantan pun belum lama berkokok. Kecupan hangat dan seuntai doa mengiringi langkahku keluar rumah. Sejuta harap dari dua bidadari kecilku agar kembali dengan selamat berjinjing oleh-oleh berupa makanan kecil atau buah kesukaan mereka. Saya sering merasa berdosa ketika melihat wajah kecewa mereka saat mendapati tangan saya tak berbuah apa pun. Mereka sudah hapal dengan jawabanku sehingga mereka pun segera mengambil kesimpulan, “nanti kalau punya rezeki beliin buah ya”.

Hidup pun terus berputar, berbaring di sofa menunggu tangan-tangan kecil melepaskan kaus kaki kemudian memijatinya. Segelas teh hangat membasuh penat, dan hati yang terbuka luas siap menampung semua keluh sepanjang hari. Mendengarkan suara-suara lucu dari mulut-mulut mungil mencoba melafazkan doa sehari-hari atau mengeja huruf-huruf Alquran. Berbaring bersama di halaman depan memandangi langit, menghitung bintang dan menikmati indahnya rembulan.

Inilah yang saya sebut surga bernama keluarga. Adakah yang lebih indah dari keluarga?

Bayu Gautama

9 comments:

rara said...

Kalau keadaan dibalik, istri yg bekerja dan suami menunggu di rumah, menyiapkan minum dan memijat, akankah keluarga masih terasa seperti surga oleh suami/lelaki?

Kenapa 'surga keluarga' menurut suami masih sering berupaya pelayanan dari istri? hah, dunia

Gawtama said...

saya tidak memandangnya sesempit itu. Suami dan isteri semestinya saling melayani, saling mendengarkan keluhan masing-masing, misalnya saya juga senantiasa mendengarkan keluhan isteri selama di rumah.

Apakah mencari nafkah seharian di luar bukan merupakan "pelayanan" suami terhadap keluarga?

mungkin apa yang saya gambarkan terdengar ideal. dan bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah mimpi. tapi itulah kenyataannya yang saya rasakan, alhamdulillah

rara said...

Thx jawabannya, tapi pertanyaan saya belum dijawab tuh, kalau keadaan dibalik apakah suami masih merasa itu adalah surga?

Gawtama said...

Sesuatu yang berjalan tidak sesuai fitrahnya, apakah bisa terasa seperti surga? tugas dan tanggung jawab laki2 itu bekerja dan mencari nafkah dan tidak ada kewajiban seorang isteri bekerja mencari nafkah, sejatinya seperti ini.

Akankah ada seorang pria yang merasa 'comfort' yang "hanya" melakukan pekerjaan isteri di rumah, sementar isterinya bekerja?

kalau soal suami menyediakan makan/minum atau bahkan memijati isteri sih itu soal biasa, saya bahkan teramat sering melakukannya.

Anonymous said...

Ravi :
Iya, mbak Rara. bagaimanapun juga tanggung jawab utama suami memberi nafkah keluarga. Tapi kalau seandainya istri juga mencari nafkah dan ngamalin ilmunya kenapa engga? Seperti halnya kalau suami mau nyuciin baju mbantuin ngepel atau masak. Asal semua ikhlas dan tahu kewajiban utamanya ya ...tetep surga. Nggak harus dipertentangkan bukan ?

-ari- said...

iya rara, kebahagiaan suatu keluarga kan memang layaknya surga bagi kita di dunia, bukan masalah siapa melayani dan dilayani.

dan yang penting semua tau porsi tanggungjawab masing-masing. juga haknya. jadinya nantinya juga saling melayani kok. apalagi penuh bumbu kasih sayang...take and give selalu

buat kang bayu..salam kenal. saya sering mampir ke sini. tulisan kang bayu banyak mengingatkan saya. dankeeee

Anonymous said...

Terima kasih karena sudah mengingatkan mas...

Subhanallah..alangkah luas jalan bagi wanita untuk mencapai SurgaMu...
Bunda Shafiya
http://keluargazulkarnain.blogspot.com

lita said...

ah... akur deh sama jawaban pak gaw buat mbak rara. laki2 (yang hatinya masih hidup) pasti tersiksa kalau melihat istrinya yg menafkahi.

ngomong2 pak, lagunya itu "berkelap-kelip seumpama intan berlian" dan bukan "bintang ceria" :)

Adi said...

numpang mencari dukungan Mengembalikan Jati Diri Bangsa dalam kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Meskipun terasa Beratnya Mengembalikan Jati Diri Bangsa namun tetap Semangat Mengembalikan Jati Diri Bangsa.

Salam Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Terima kasih.