Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, October 03, 2005

Setetes Embun Jelang Ramadhan

“Tak tahu bagaimana nanti ramadhan kami bisa beribadah dengan baik, tak ada air bersih di sini,” ucap Ibu Uun (55 tahun). Beberapa bulan terakhir, air bersih teramat sulit didapat. Hanya air kotor yang ada, itu pun tidak bisa digunakan untuk air mandi, apalagi untuk dikonsumsi. Meski demikian, bagaimana pun keberadaan air bersih tetap menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Untuk mendapatkan air bersih, tak kurang satu dari 1000 meter jarak yang harus ditempuhnya untuk mencapai sumur tempat ia biasa mengambil air. “Itu pun kalau hari ini hujan, kalau tidak ada hujan, tidak ada air di sumur itu,” lirihnya.

Ibu Uun tidak sendiri, setidaknya puluhan kepala keluarga di desa Pasir Kupa, Kampung Leweung Lojor, Kabupaten Lebak, Rangkas Bitung, Banten, mendambakan air bersih di kampungnya. Tanah kering, debu berterbangan yang dihempas angin panas, dan batang-batang pohon yang kekeringan, semakin menjelaskan harapan warga desa itu akan adanya air bersih. Dan keresahan mereka semakin terasa saat bulan suci ramadhan semakin dekat, “Kami berharap sebelum ramadhan, air itu sudah ada”

Hari itu, Ahad, 25 September 2005, relawan ACT dan LSM Gema Rasa, menemani rombongan PT. Sustraco Adikreasi yang membawa paket sembako untuk lima desa di kabupaten Lebak, Rangkas Bitung, Banten. Desa Pasir Kupa tempat Ibu Uun dan ratusan keluarga lainnya menetap adalah titik pertama desa yang dikunjungi. Jalan panjang dan berdebu yang harus ditempuh, serta sengatan matahari yang terik memaksa setiap anggota rombongan berkali-kali membasahi tenggorokan dengan air mineral. Padahal, hanya satu dari iring-iringan enam mobil yang menyambangi desa itu yang tak dilengkapi pengatur udara. Satu mobil dimaksud adalah mobil box yang membawa tidak kurang dari 200 paket sembako berisi antara lain, beras, kacang hijau, susu, sirop, telur, gula dan mie instant. Masing-masing paket senilai 70 ribu rupiah. Total dana yang dikeluarkan PT. Sustraco Adikreasi untuk pembagian paket sembako itu sebanyak Rp. 14.032.000,-

Ibu Uun dan segenap warga desa Pasir Kupa patut bersyukur, sebab Bapak Luhung Kushonggo, Direktur PT. Sustraco Adikreasi, yang mengajak serta isteri dan anaknya dalam rombongan itu tak sekadar membawa paket sembako, melainkan juga berencana membuat pompa untuk saluran air bersih yang akan bisa dinikmati seluruh penduduk desa itu. Kedatangan rombongan pada hari itu sekaligus mencari titik lokasi pembangunan sumur pompa. Setelah berkeliling desa, akhirnya disepakati titik pengeboran berada empat meter di sisi selatan mushola di desa itu.

Rencananya, pengerjaan sumur air segera dilakukan setelah kunjungan hari itu. Dan ditargetkan sebelum masuk bulan suci ramadhan sudah tersedia air bersih yang memadai. Sehingga warga desa Pasir Kupa tidak perlu khawatir lagi tak mendapatkan air bersih, baik untuk keperluan sehari-hari maupun juga untuk kelancaran beribadah. Seluruh biaya pengerjaan sumur air bersih itu ditanggung penuh oleh PT. Sustraco Adikreasi, sedangkan proses pengerjaannya akan dikoordinir oleh relawan-relawan Gema Rasa, Lembaga Swadaya Masyarakat lokal yang selama ini bekerjasama dengan ACT dalam beberapa kegiatan di Kabupaten Lebak. Program yang telah dilakukan bersama antara lain penanganan masalah gizi buruk yang melanda warga setempat.

Ternyata tidak hanya desa Pasir Kupa yang mendambakan air bersih. Begitu mendengar ada rombongan PT. Sustraco, ACT dan Gema Rasa yang berencana membangun sumur dan pompa air bersih di Desa Pasir Kupa, beberapa warga dari desa yang bersebelahan dengan desa Pasir Kupa berdatangan dan meminta agar desa mereka juga dibangunkan fasilitas yang sama. “Desa kami juga kekeringan pak, susah mendapatkan air bersih, bantu kami pak,” harap mereka.

Yang unik dari seluruh perjalanan membawakan paket sembako hari itu, menurut beberapa relawan Gema Rasa, justru Bupati Lebak pun tak pernah tahu kondisi masyarakat desa-desa yang hari itu dikunjungi. “Bupati bilang tidak satu pun warga desa di seluruh Kabupaten Lebak yang menderita gizi buruk. Tetapi nyatanya, kami banyak menemukan kasus gizi buruk di beberapa desa di sini,” tandas Rani, bendahara Gema Rasa.

Selain membawa paket sembako, ACT dan Gema Rasa memanfaatkan kunjungan hari itu untuk mengetahui dan mendata anak-anak penderita gizi buruk di Kabupaten Lebak. Program penanganan masalah gizi buruk di Kabupaten Lebak adalah salah satu program yang sudah dan terus dilakukan bersam-sama oleh ACT dan Gema Rasa.

Paket sembako yang diberikan kepada masing-masing keluarga di lima titik desa di Kabupaten Lebak hari itu menciptakan keceriaan di wajah-wajah penduduk desa. Dan rencana pembangunan pompa dan sumur air bersih di desa Pasir Kupa, seolah menjadi setetes embun di tengah kegersangan menjelang ramadhan. Ramadhan memang selalu membawa berkah, kehadirannya begitu dinanti, kepergiannya akan dirindui.Keberkahan ramadhan sejatinya akan terus mengalir, dan aliran keberkahan itu semestinya bermula dari tangan kita. Semoga akan ada tangan lain yang memulainya lagi.

Bayu Gawtama

1 comment:

Kang Nur said...

wah, di mana2 masih ada saja yg kena kekeringan ya? berbahagilah orang yg sempat membantu mereka..