Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, October 11, 2005

Nurul Hanifah, Potret Buram Anak Bangsa

Tercekat leher ini, nyaris tak ada kata-kata yang bisa terucap saat melihat kondisi Nurul Hanifah, balita berusia 1,3 tahun yang menderita kekurangan gizi dan kelainan pada saluran pencernaan. Dayani (40 tahun), Ayah Nurul yang bekerja sebagai buruh tidak tetap dengan penghasilan yang jauh dari cukup, tak memiliki uang yang cukup untuk membawa anaknya ke dokter, bahkan untuk sekadar ke Puskesmas. Sedangkan sang Ibu, Watina (40 tahun), hanya pasrah melihat kondisi anaknya yang semakin hari semakin terlihat menderita.

Penderitaan Nurul Hanifah yang tinggal di Jl. Tipar Raya, Gg. Jaya Sakti, Jakarta Utara, langsung terlihat dari fisiknya yang sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat dengan mata yang menerawang, dan dengan berat badan yang tidak lebih dari 3500 gram di usia 1,3 tahun, Nurul terlihat amat menderita, tidak ceria dan tampak menahan sakit di bagian perutnya. Mungkin akibat penyakit di saluran pencernaannya yang tidak pernah tertangani oleh dokter.

Sebenarnya, kondisi Nurul yang memprihatinkan itu sudah diketahui oleh Lurah Sukapura, Jakarta Utara. Watina, ibunda Nurul, membawa serta gadis kecilnya itu saat turut serta dalam aksi demonstrasi di Depot Plumpang beberapa waktu lalu. Pak Lurah, tutur Watina, sempat melihat dan menanyakan kondisi Nurul, namun tidak ada tindakan apa pun setelah itu selain meminta sang ibu segera membawanya ke puskesmas. Namun apa daya, bagi Dayani maupun Watina, ke Puskesmas juga bukan tempat gratisan. Artinya, mereka harus tetap mengeluarkan uang, yang meski kecil tetap sulit bagi orang seperti Dayani yang bekerja sebagai buruh tidak tetap dengan penghasilan yang juga tidak tetap.

Ibu Evi, seorang kader Posyandu Desa Sukapura, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang melihat kondisi Nurul merasa prihatin. Ia mengetahui ada lembaga kemanusiaan yang dianggapnya bisa membantu, ia pun menghubungi ACT (Aksi Cepat Tanggap). Seorang relawan ACT yang menerima telepon pengaduan Ibu Evi tentang kondisi seorang balita di Cilincing yang mengalami gizi buruk, segera meneruskan laporan tersebut ke staf ACT yang lain.

5 Oktober 2005, hari pertama bulan Ramadhan, dua relawan ACT mendatangi rumah Ibu Evi untuk diantar ke rumah Nurul Hanifah. Menurut Ibu Evi, ia melihat kondisi Nurul yang mengenaskan itu pada saat aksi demonstrasi kenaikan BBM di Depot Plumpang. Nahas bagi Dayani dan Watina, mereka tidak memiliki kartu GaKin (Keluarga Miskin) lantaran tidak punya KTP dan Kartu Keluarga DKI Jakarta. Anak mereka pun tak bisa dibantu untuk ditangani rumah sakit. “Pak Lurah merekomendasikan untuk segera mengurus KTP dan KK,” ujar Bu Evi.

Tim ACT pun bereaksi cepat, tak bisa menunggu proses pembuatan KTP dan KK yang biasanya memakan waktu hingga dua pekan. Tindakan emergency terhadap Nurul mesti dilakukan, mengingat kondisi balita itu yang menderita gizi buruk sangat parah dengan ditandai semakin menurunnya berat badan yang sangat tidak sebanding dengan usianya.

Malam itu, sekitar pukul 20.00, di dalam rumah yang kumuh dan sanitasi yang buruk, kondisi Nurul terlihat lemah. Tim ACT membawa Nurul dan ibunya ke dokter spesialis anak terdekat, didampingi ibu Evi. Dr. Andrian yang menanangi Nurul mengaku tidak banyak yang bisa dilakukannya mengingat kondisi Nurul yang sangat parah. Ia pun merekomendasikan agar Nurul segera dibawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif.

Sebelumnya, untuk memperbaiki kualitas ASI sang ibu, Tim ACT memberikan makanan bergizi dan juga susu khusus untukmenambah jumlah dan kualitas ASI. Selain itu, susu tambahan untuk Nurul juga diberikan. Tim ACT juga menitipkan uang seadanya kepada keluarga Nurul untuk tambahan biaya ke rumah sakit.

Malam semakin larut saat Tim ACT meninggalkan rumah kumuh itu, Dayani dan isterinya sangat berterima kasih atas kedatangan dan bantuan yang diberikan Tim ACT. Menurut mereka, jangankan memikirkan kesehatan, untuk makan sehari-hari pun keluarga mereka sering mendapat bantuan dari tetangga, yang sebenarnya kondisinya juga tidak jauh berbeda. Saat Tim ACT pergi, sekelumit harap masih bisa kami tangkap, andai masih ada yang mau membantu anak mereka, agar sesehat dan seceria anak-anak lainnya.

Bayu Gawtama (laporan dari Eko Yudho, ACT)