Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, April 05, 2005

Alhamdulillah Ia Isteriku...

Minggu sore, saya mengantar rombongan orang tua dan adik-adik yang hendak pulang ke Bogor. Sebuah angkot berpenumpang dua orang berhenti di depan kami dan menawarkan untuk mengantarkan sampai ke tempat tujuan. Setelah menghitung jumlah orang dan melihat tempat yang tersedia, saya isyaratkan kepada sopir angkot bahwa kita tak jadi menaiki kendaraannya karena tak cukup. Dan kami akan menunggu angkot berikutnya.

Tetapi angkot tersebut tetap tak mau jalan dan lagi-lagi sopirnya memaksa agar kami tetap menumpang kenadaraannya dengan meminta penumpang yang ada untuk turun mencari angkot berikutnya. Saya lantas marah dan meminta sopir itu tidak melakukan tindakan yang merugikan penumpang itu. Saya juga meminta kepada penumpang yang ada untuk tidak turun dan biarlah kami yang menunggu angkot berikutnya. Entah kenapa tiba-tiba penumpang yang di dalam angkot itu turun sambil menggendong anaknya dan mempersilahkan kami masuk. Karuan saja saya tambah marah kepada sopir angkot itu dan meminta penumpang sebelumnya naik kembali. Walau akhirnya, kami pun terpaksa naik angkot tersebut setelah sebelumnya bapak yang menggendong anak itu langsung naik angkot yang tiba berikutnya. Sepanjang perjalanan saya hanya diam dan jujur saja, hati ini masih 'panas' oleh sikap sopir itu. Sementara isteri saya memandangi sikap saya dengan senyum.

Sepulang dari terminal mengantar rombongan naik bis ke Bogor, saya ditemani isteri mengendarai motor menuju ATM. Malam itu sedikit gerimis dan jalanan mulai becek sehingga saya mengendarai motor sedikit hati-hati. Tapi tiba-tiba sebuah angkot melaju kencang dekat perempatan yang baru saja saya lewati dan nyaris menyerempet motor saya seandainya saya tidak segera benting stir ke bahu jalan. Saya marah dan saya kejar angkot tersebut. Kebetulan ia sedang menurunkan penumpang sehingga tak sulit bagi saya mengejarnya. Yang membuat saya kesal, sopir itu tak menunjukkan rasa bersalahnya dan juga tak minta maaf. Saya tak sempat memakinya dengan kata-kata kasar karena isteri saya segera berbisik, “sudah lah, bang”

Sesampainya di rumah, saya tanyakan kepada isteri saya kenapa satu hari ini saya tidak seperti biasanya. Tidak sabar. Biasanya saya tak pernah ambil pusing dengan sikap sopir angkot yang seenaknya menurunkan penumpang demi mendapatkan penumpang yang lebih banyak. Saya juga selalu menurut kalau kebetulan metromini yang saya tumpangi memindahkan saya dan beberapa penumpang lainnya ke metromini di belakangnya dengan berbagai alasan. Saya kadang hanya berpikir, inilah cara mereka mencari rezeki dan saya harus memakluminya.

Dahulu saya teramat mudah memaafkan sopir angkot yang menyebabkan kecelakaan atas diri saya. Motor saya hancur dan saya harus masuk UGD gara-gara sopir angkot yang berhenti mendadak persis sepersekian detik di depan motor saya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saya menabrak bagian belakang mobil hingga kaca mobil itu pecah. Motor saya hancur dan saya pun terbang hingga jatuh ke selokan. Anehnya, setelah sembuh saya tak dendam terhadap sopir angkot tersebut, saya luluh dengan permintaan maafnya yang tulus.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, isteri saya berujar singkat, “ibadahnya kurang kali…” Astaghfirullaah…

Inilah yang selalu membuat saya semakin cinta kepadanya. Kadang saya acapkali terlupa bahwa penasihat terbaik sekaligus terbijak itu ada dan selama ini berdiri mendampingi di samping. Terima kasih ya Allah, alhamdulillah ia isteriku.

Bayu Gautama

buat redaksi eramuslim, kalo mau dimuat buat artikel keluarga, judulnya diganti: Penasihat Terbijak

6 comments:

jamil said...

mas gau,

salam hangat untuk isteri tercinta, yah...

*senyum*

sennopati said...

Tidak ada hubungan antara ugal-ugal pengemudi angkot dengan ibadah. Cara mengemudi angkot yang sembarangan bukti kebodohan pemerintah dalam mengelola transportasi umum. Saya sering bergumam transportasi umum kita sama dengan transportasi umum rimba!!!!. Tidak ada standar keamanan, kenyamanan, ukuran tempat duduk, tingkah laku pengemudi dan hal lainnya.
Tentu Anda tahu, ada hadist yang menyatakan "bila menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang tidak menguasi maka tunggu akibatnya".
Kita sudah sering merasakan akibatnya, antara lain Polusi makin meningkat, lalu lintas tidak terkontrol.
Masyarakat dilecehkan imbal balik yang diberikan pemerintah. Masyarakat diperas keringatnya berkali-kali.

Intinya Apa yang abadi di dunia ini? jawaban : "kebodohan pemerintah dalam mengelola negara"
Mereka hanya bisa mengawetkan kotoran binatang. Mengawetkan sesuatu yang seharusnya dihancurkan.

salam revolusi,
SennopatI

Gawtama said...

Mas Senopati, saya suka banget dengan semangat Anda. dan saya juga setuju banget dengan apa yang Anda utarakan. Tapi sebenarnya yang saya maksud itu kurangnya ibadah saya, yang menyebabkan akhir-akhir ini saya jadi gampang emosi. bukannya ibadahnya si sopir, he he.

Soal ibadah si sopir, itu mah urusan dia-dia pade, bukan begitu?? ... hmm, bisa jadi mereka jadi ugal2an karena nggak ibadah kali ya? :)

salam kenal.

Luigi said...

Dear Mas Gaw,

Kadang kita acapkali terlupa bahwa penasihat terbaik dan sekaligus terbijak itu ada dan selama ini berdiri mendampingi disamping.. sebuah "kind reminder" juga buat saya untuk menelpon-nya dan mengucapkan terima kasih.. ;-)

Namun sulit buat saya untuk bisa ingat dengan istri saya, tiap kali di-salip/diserobot oleh taksi reyot di Monrovia ;-), yang ada malah ngomel duluan, sambil tekan klakson keras-keras.

Mudah2an, entry blog ini bisa jadi hikmah buat kita berdua, terutama saya yang sedang berjauhan ini.

Warm regards from Liberia, West Africa!

Cheers,
;-)

Gawtama said...

Kang Luigi di Monrovia, emang sopir di sana gak kalah ugal2annya ya? kalo gitu mending para sopir ugal2an itu dipaketin ke monrovia aja deh, kayaknya mereka lebih pantas tinggal di Afrika kali ya, ;)

btw, kalimat teratas kang Luigi saya ambil ya, thx.

Gaw

Ozzan said...

Kok sama kayak saya pak..
saya juga pernah nabrak belakang angkot dari belakang yg sama persis berhenti mendadak buat ngambil penumpang.
Hasilnya, motor hancur dan pelipis saya harus dijahit 3 jahitan :(
Jadi orang sabar sulit yah pak?
Insya Alloh kita bisa!