Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, December 08, 2004

Mendengarkan Dengan Hati

Pekan lalu, satu lagi sahabat saya menikah. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang sempat memberatkannya, dengan penuh keyakinan ia jalani dengan mantap tekadnya untuk mengakhiri masa sendirinya.

Sore hari beberapa bulan yang lalu, saya menemuinya dalam keadaan tak bersemangat. Pasalnya, orang tua, kakak, adik, tante dan nyaris semua orang yang sejak awal diharapkan memberikan dukungan dan restunya atas rencana pernikahannya justru menentang dengan berbagai alasan.


“Dengan penghasilan yang masih pas-pasan, mau dikasih makan apa isteri kamu nanti …” satu pertanyaan pamungkas dari ibunya. Sebelumnya, ayahnya menilai sahabat saya itu belum waktunya menikah, masih ada beberapa adiknya yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Belum lagi alasan lain yang terlontar dari anggota keluarga yang lain. Semua itu membuatnya semakin bingung, resah sekaligus merasa tertekan, sementara di sisi lain hasratnya untuk menikah semakin kuat.

Tidak hanya pada saat seperti yang dialami sahabat saya tersebut. Setiap orang, sebagian dari mereka bahkan orang-orang terdekat kita, pernah mengalami satu posisi dimana ia berdiri di bibir jurang sementara di belakangnya juga terdapat bibir jurang yang tak kalah lebar ternganganya. Segunung keraguan bertengger di pundaknya. Segunung keraguan yang sebagian kecil datang dari dalam dirinya, sebagian besarnya justru ia dapati dari orang-orang maupun keadaan sekitarnya.


Bayang-bayang kegagalan dari sejarah masa lalu yang pernah tercatat, yang terus menerus ia dapati dari seluruh referensi, cemoohan dan setumpuk kata juga alasan negatif dari orang-orang yang semestinya memberikan dukungan, seperti merantai kuat kedua kakinya sehingga tak mampu melangkah sedikit pun untuk maju. Di saat seperti itu, ada dua kemungkinan yang akan dipilih, mundur –yang artinya ia mungkin akan jatuh lebih dalam dari jurang yang ada di depannya- atau mengurungkan niatnya, duduk terdiam dan menunggu mukjizat datang menghampirinya. Sementara kekuatan untuk melangkah lebih jauh tak berani dicobanya.


Saya pernah mengalami masa seperti itu, dan dalam hati terbersih saya, saya yakin sebagian besar orang di atas bumi ini juga pernah menghadapi situasi yang demikian. Tak berani maju karena jurang menganga, mundur pun berarti terjerumus lebih dalam. Di detik-detik terakhir sebelum akhirnya setiap kita kehabisan energi di ambang putus asa, di saat itulah kita berpasrah kepada Allah berharap ia mengirimkan seseorang yang bisa membantunya keluar dari masalah.

Di detik terakhir, seorang sahabat menepuk pundak saya dan meminta saya duduk menenangkan diri menceritakan semua yang saya alami. Tidak ada yang ia lakukan kecuali mendengarkan setiap huruf yang keluar dari mulut saya. Tak ada bantahan, tak ada selaan, tak ada kernyit dahi, juga mata yang melengah darinya. Yang ada hanya tatapan mata penuh perhatian, telinga yang terbuka seluas langit dan senyum yang menyiratkan kasih.


Tahukah Anda apa yang terjadi setelah itu? Sebuah jembatan seperti terbentang antara bibir jurang di sedepa langkah saya dengan tanah pijakan di seberang yang sebelumnya tak mampu tertangkap oleh mata. Ya, ternyata yang saya butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan –sekali lagi, mendengarkan- dengan hatinya. Dan saya yakin, dia lah sahabat yang dikirimkan Allah dari sepenggal doa saya di ambang keputusasaan.

Kepada sahabat saya yang tampak murung menghadapi kesulitan dengan rencana pernikahannya, saya hanya menyediakan hati saya untuk mendengarkannya. Saya ingin membangun sebuah jembatan baginya. Sungguh, saya hanya menepuk pundaknya dan mendengarkan apa pun yang keluar dari mulutnya hingga tak satu pun huruf tersisa. Wallaahu ‘a’lam.

Bayu Gautama

1 comment:

L. Pralangga said...

Dear Bayu,

Nuhun pisan udah sempetin mampir, senang sekali bisa membaca ulasan/entry yang satu ini, hanya seorang sahabat yang mau dan mampu mendengarkan dengan hati, juga si empunya mimpi dan harapan itu seharusnya terus fokus dengan pencapaian2-nya, dan tidak membiarkan impian-nya itu tercuri karena cemoohan dan discouragement lainya :)

Dulu (dan masih sampai sekarng) saya punya cita2 utk settle-down di Kanada, dari mulai karib kerabat dan kebanyakan sahabat selalu mencemooh dan re-emphasize kalau itu hanya sebuah mimpi belaka aja.. namun dengan tekad yang kuat dan impian yang besar dan terus dikuatkan dalam kalbu, dibarengi doa memohon kemudahan, alhamdulillah dibuktikan baik kepada mereka dan juga diri sendiri, bhw sahabat yg mendengarkan dgn hati, meski sedikit itu adalah asset dipadu dengan sedikit campuran unsur bonek, maka tercapailah saya di New York, yg notabene hanya tinggal 7 jam lagi ke Kanada.

Jangan selalu: "ntar gimana ya?.. Mau dikasih makan apa, dan ngak-ngek-ngok lainya", tapi gimana ntar aja deh.. Allah maha kuasa dan pemberi rejeki.. kita usaha aja dan tetep doa.

Meski panjang, saya tetp kasih semangat, for those the undicided.. go forward! Winner never quits!

Regards from West Africa!