Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Friday, December 02, 2005

Tiga Belas Tahun Tergolek di Tempat Tidur, Nur Azizah yang Terlupakan

Seolah tak percaya, saat melihat kondisi Nur Azizah, seorang gadis
berusia 13 tahun tergolek lemas tak berdaya di tempat tidur. Gadis
bertubuh kurus dengan berat badan yang tidak sampai 20 kg itu
menderita kelumpuhan sejak usia 6 bulan setelah mendapatkan
imunisasi. Sapri, 40 tahun, ayah Nur Azizah, hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh
bangunan dengan penghasilan yang tak menentu itu mengaku tak memiliki cukup uang untuk biaya berobat Nur Azizah. "Untuk kebutuhan pokok sehari-hari pun, penghasilan saya belum bisa dibilang cukup. Dari mana uang untuk biaya rumah sakit?" tanyanya penuh harap.

Di tepi keputusasaannya, Kholis, 37 tahun, sang ibunda masih menyimpan secercah harapan kelak anaknya akan membaik kondisinya. Namun dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, Kholis hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kesembuhan buah hatinya itu.

Nur Azizah, puteri kedua dari tiga bersaudara, yang tinggal di Kampung Pugur, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang itu, hanya bisa menggerakkan wajahnya untuk berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Anak-anak seusianya, umumnya sudah duduk di bangku kelas satu SLTP. Tidak demikian dengan Nur Azizah, gadis malang itu harus terus menerus tergolek di tempat tidur selama 13. Praktis, seluruh aktivitas hidupnya, seperti mandi, makan, minum, sangat bergantung kepada ibunya.

Sebenarnya, kondisi Nur Azizah pernah diketahui oleh aparat desa bahkan para pejabat di Kecamatan Pagedangan. Bahkan pada saat pemerintah setempat tengah giat menangani kasus polio, Kholis dan anaknya diminta datang ke Kecamatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kedatangan Kholis yang membawa anaknya itu disaksikan
juga oleh aparat MUSPIKA (Musyawarah Pimpinan Kecamatan). Terbersit kegembiraan di wajah Kholis membayangkan anaknya dapat segera sembuh. Apalagi ketika ia mendapatkan kartu Gakin (keluarga miskin) dan rekomendasi dari kecamatan untuk berobat gratis ke RSUD Tangerang.

Berbekal kartu Gakin dan surat keterangan dari Kepala Desa, Kholis memapah anaknya dan menumpang angkutan umum menuju RSUD Tangerang. Wanita yang sehari-harinya hanya menjaga dan melayani Nur Azizah itu berpikir seluruh biaya pengobatan anaknya akan benar-benar gratis. Akan tetapi, setelah diperiksa oleh dokter RSUD, Kholis diminta membawa Nur Azizah untuk dilakukan scanning pada bagian kepalanya di rumah sakit lain. Ditambah, ia pun harus menebus beberapa resep obat di apotik. Tak sepeser pun uang di kantongnya untuk biaya scanning dan resep obat. Maka sejak itu, Kholis tak lagi membawa Nur Azizah ke rumah sakit.

7 Oktober 2005, Absor, relawan ACT dari Kecamatan Pagedangan, melaporkan kepada ACT perihal kondisi Nurul Azizah. Dari laporan tersebut, Sabtu, 8 Oktober 2005, Eko Yudho, Koordinator ACT Rescue didampingi Absor, segera meluncur menuju rumah keluarga Nur Azizah.

Binar mata Kholis tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat menuturkan kisah perjalanan anak kedua yang dicintainya itu kepada Tim ACT. Tak berapa lama, Kholis pun tak mampu lagi membendung tangisnya. Kehadiran Tim ACT baginya, seperti doa yang terijabah. Sebab, usai sholat Maghrib sehari sebelumnya, Kholis berdo'a untuk kesembuhan Nur Azizah, juga agar dirinya diberi kesabaran dalam menjalani ujian dalam kehidupan ini.

Untuk membangun kembali rasa optimisme ibunda Nur Azizah, Tim ACT memberikan semangat dan motivasi agar tidak berputus asa dalam mengupayakan kesembuhan anaknya. Disamping memberikan bantuan biaya transportasi untuk berobat ke rumah sakit, Tim ACT juga secara paralel melakukan advokasi agar hak Nur Azizah sebagai anggota masyarakat yang tidak mampu mendapatkan pengobatan secara gratis dari pemerintah.

Seolah terbayang harapan cerah membentang di depan, Kholis kembali bersemangat untuk membawa Nur Azizah berobat. Ternyata pada saat akan ke rumah sakit, masa berlaku kartu Gakin sudah habis. Kholis pun segera mengurus kembali di Kantor Desa Lengkong Kulon. Namun, pengurusan kartu Gakin tersebut seperti dipersulit oleh salah seorang staf Kepala Desa. Kholis menangis di kantor Kepala Desa, mengiba agar dibuatkan surat keterangan untuk memperoleh kartu Gakin. Alhamdulillah, setelah sempat bersitegang dengan staf Kepala Desa itu, akhirnya Kholis mendapatkan kartu Gakin tersebut.

Namun, lagi-lagi Kholis harus tetap mengeluarkan sejumlah uang untuk menebus beberapa resep obat di apotik, karena obat dimaksud tidak tersedia di rumah sakit. Bisa dibayangkan, sambil berpuasa ibu Kholis memapah anaknya menuju rumah sakit dengan menumpang angkutan umum. Untuk sampai ke rumah sakit, ibu dan anak itu harus berganti kendaraan dua kali.

Sabtu, 29 Oktober 2005, empat hari sebelum lebaran, kembali Tim ACT mendatangi rumah Nur Azizah untuk memantau perkembangan kesehatannya. Puji Syukur bagi Allah, kondisi Nur Azizah tampak membaik, ia menyambut kami dengan senyuman dan lambaian tangan. Padahal sebelumnya, gadis itu tak mampu, bahkan untuk sekadar mengepalkan tangannya. Kini, Nur Azizah sudah sudah mampu menggenggam sesuatu.

Sebelumnya, Nur Azizah yang hanya tergolek di tempat tidur, kini ia sudah bisa merayap di lantai dan menggerakkan sedikit demi sedikit kakinya untuk berpindah. Melihat perkembangan kondisi Nur Azizah yang menggembirakan ini, Tim ACT memberikan bantuan makanan bergizi berupa susu bubuk instan untuk penguatan tulang dan pertumbuhan.

Untuk kelanjutan pengobatan anaknya, Kholis masih mengeluhkan ongkos transportasi ke rumah sakit yang semakin mahal, terlebih setelah kenaikan harga BBM. Perlu diketahui, keluarga Nur Azizah tidak terdaftar untuk mendapatkan Bantuan Tunai Langsung (BTL) kompensasi kenaikan BBM. Kholis berharap masih ada yang peduli untuk meringankan kesulitan hidupnya.

Ketika kasus polio menjadi kasus nasional, seluruh perhatian pemerintah di bidang kesehatan dan masyarakat tertuju kepada para korban penderita polio. Bahkan berita tentang penderita polio ini mendominasi sebagian besar media massa. Namun seiring berjalannya waktu, kasus polio ini mulai berangsur-angsur hilang dari pemberitaan dan pembicaraan. Menyusul kasus penyakit lainnya yang melanda negeri ini. Bisa jadi, kasus polio ini pun dilupakan. Berapa banyak anak-anak yang bernasib sama dengan Nur Azizah?

Gaung pengobatan gratis di tingkat implementasi belum menjadi kenyataan. Namun kita sebagai anggota masyarakat tidak boleh hanya menyalahkan keadaan.. Harus ada tindakan nyata untuk meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang nasibnya belum beruntung.

Ingat, bisa jadi, rezeki kita saat ini karena doa mereka. Orang-orang yang pernah kita bantu. (Eko Yudho P)

Bayu Gawtama
Communication Team
Aksi Cepat Tanggap (ACT)
021-7414482
0852 190 68581

2 comments:

z said...

Hi Blogger ! You cannot explain better your thoughts about Tiga Belas Tahun Tergolek di Tempat Tidur, Nur Azizah yang Terlupakan . Congratulations for your blog, it's really nice! Continue to keep it updated! If you wanna visit my website about scommesse sportive click on this link: here you'll find just scommesse sportive !

k said...

Ciao Blogger ! Non potevi esprimere meglio il tuo pensiero riguardo a Tiga Belas Tahun Tergolek di Tempat Tidur, Nur Azizah yang Terlupakan . Complimenti per il tuo blog, รจ davvero bello! Continua a tenerlo aggiornato! Se ti va di visitare il mio sito che riguarda scommesse sportive clicca su questo link: qui troverai solo scommesse sportive !