Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, January 22, 2007

30 Menit Tanpa Ponsel

Dalam satu kelas pelatihan, saya meminta sekitar 30 peserta yang hadir untuk mengumpulkan telepon seluler milik mereka di meja depan kelas. Perlu diketahui, para peserta ini termasuk mereka yang super sibuk dan menjadikan ponsel sebagai salah satu alat kerja andalannya. Kemudian satu persatu maju untuk meletakkan teleponnya, namun sebelumnya saya meminta tak satu pun yang mematikan atau men-silent-kannya.

Tak lebih dari lima menit, ponsel berbagai merk dan tipe pun teronggok di meja depan kelas. Aturan mainnya, tidak satu pun peserta boleh mengambil ponselnya selama 30 menit. Tidak peduli apakah mereka mendapat panggilan penting, mendapat puluhan kali SMS atau lainnya. Beberapa peserta mulai bertanya, apa maksud dari simulasi ini. Beberapa lainnya mulai melirik ponsel mereka yang berdering mendapat panggilan atau SMS. Sementara lainnya nampak tenang mengikuti permainan tersebut.

Baru lima menit, beberapa ponsel yang terkumpul di meja depan berdering. Beberapa lainnya menandakan SMS yang masuk. Deringnya beragam, tentu saja masing-masing pemilik tahu persis ponsel siapa yang berdering. Dari gerak tubuhnya, terlihat mereka sangat ingin mengambil ponsel dan menjawab panggilan telepon atau melihat SMS yang masuk. Namun tentu saja mereka harus menahan keinginannya itu selama tiga puluh menit.

Nampak beberapa peserta agak ‘tersiksa’ mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Terdengar pelan suara dari salah seorang peserta, “Itu Bos saya yang telepon, pasti penting”. Namun lagi-lagi ia hanya bisa bersabar menunggu waktu tiga puluh menit yang sudah disepakati. Beragam panggilan yang masuk ke ponsel para peserta itu, ada yang dari isterinya, dari suaminya, dan dari pacarnya. Ada juga panggilan dari klien bisnisnya, dari atasannya, atau dari bawahannya yang tengah menunggu instruksi darinya. Beberapa peserta men-set dering ponsel berdasar kategori; keluarga, rekan kantor, sahabat, dan lain-lain. Sehingga mereka tahu dari mana panggilan berasal.

Tiga puluh menit berlalu. Dan berhamburan lah para peserta ke depan untuk mengambil ponsel mereka. Nyaris seluruhnya langsung menelepon balik semua orang yang selama tiga puluh menit meneleponnya. Sebagian lainnya sibuk menekan tombol menjawab SMS-SMS yang masuk.

***

Handphone atau telepon seluler sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang, terutama masyarakat perkotaan. Untuk sebagian lainnya, bahkan keberadaannya mengalahkan kebutuhan lainnya seperti makan, dan juga seks. Misalnya saja, ada saja orang yang rela kembali lagi ke rumah setelah perjalanan ke kantor menempuh seperempat jam hanya untuk mengambil handphone yang tertinggal. Padahal sebelum berangkat, sarapan yang disediakan sang isteri tidak disentuhnya dengan alasan; sudah kesiangan!

Tiga puluh menit saja waktu yang diminta untuk tidak menjawab telepon atau SMS. Mereka mengaku begitu tersiksa, beberapa bahkan mengaku rugi lantaran tidak segera menjawab atau membalasnya.

Sebegitu ‘tersiksa’kah mereka hanya tiga puluh menit tak menyentuh telepon seluler? Bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Jika mereka tak makan selama 24 jam? Tidak menonton televisi selama sepekan? Tidak tidur selama beberapa hari? Dan tidak bisa melakukan berbagai aktivitas yang merupakan kebutuhan primer mereka? Seperti halnya orang-orang fakir miskin yang kesulitan mencari makan? Seperti anak-anak yatim yang sering menahan lapar belum makan seharian? Seperti para korban bencana yang berhari-hari menggantang harapan menunggu datangnya bantuan?

Gaw

1 comment:

nYam said...

apa cuma saya aja ya yang suka sengaja ga bawa HP, ga charge batere HP. pokoke dalam seminggu, pasti ada sehari di mana HP saya tinggal di rumah kala bepergian. alhamdulillah ga ada apa2. mungkin karena belum termasuk golongan supersibuk