Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, September 09, 2003

Tamu Terakhir

Pagi ini aku sudah tiba di kantor bahkan sebelum office boy tiba, sesaat setelah Pak Satpam membukan pintu gerbang depan. Sejak semalam sudah kusiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan oleh tamu yang akan datang ke kantor pagi ini. Mereka adalah klien baru yang semoga saja bisa mendatangkan keuntungan lumayan besar jika terdapat kesepakatan diantara kami. Kupilih kemeja yang paling bagus dengan setelan celana dan sepatu yang match, tidak lupa dasi, agar lebih terlihat profesional. Semua proposal dari mereka sudah kupelajari sehingga ada keyakinan aku bisa menguasai seluruh pembicaraan selama pertemuan nanti.

***

Begitulah satu contoh persiapan yang mungkin pernah kita lakukan ketika hendak menerima tamu. Banyak contoh lain yang bisa diketengahkan, misalkan, biasanya kita akan segera merapihkan semua hal berantakan dan membenahi apapun yang nampak tak sedap dipandang di sekitar ruang tamu saat seseorang hendak bertamu ke rumah. Kesibukan akan lebih terlihat jika tamu yang datang tak terlebih dulu mengkhabari kedatangannya. Bisa jadi, saat mereka tiba, kita belum mandi, masih banyak sisa makanan dan sampah yang tercecer bekas malam tadi, termasuk lantai yang kotor dan belum sempat dibersihkan. Tentu saja, sebagai tuan rumah, kita akan malu jika kedapatan belum mempersiapkan apapun untuk menyambut tamu tersebut.

Fenomena lain bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Soal makanan misalnya, seorang tuan rumah akan menyediakan makanan, bisa membuat atau membeli, yang terasa spesial buat tamu. Setidaknya, makanan yang biasanya tak pernah tersaji di rumah, jika ada tamu yang akan datang, begitu cepat tersedia. Dan bahkan, tidak jarang tuan rumah harus berhutang untuk sekedar memberikan pelayanan lebih atau biasa disebut dengan ‘menghormati’ tamu. Adalah hal wajar seseorang menerima dengan penuh sukacita dan kebaikan setiap tamu yang datang bersilaturahim ke rumahnya.

Namun tentu tidak semua tamu bisa dilayani seperti itu. Kita tentu pernah mendengar istilah ‘tamu tak diundang’. Mereka bisa jadi, tukang kredit, penagih hutang, atau cuma seorang teman yang biasa meminjam uang. “Bapak tidak ada di rumah,” atau “Bapak sedang istirahat” adalah basa-basi yang biasa terlontar lewat pembantu atau anak kita kepada mereka yang mungkin masih berdiri di luar pagar. Jika di kantor, sekretaris atau resepsionis akan berkata sopan, “Bapak sedang keluar kantor”, bila yang datang adalah tamu atau klien yang tidak diharapkan. Intinya, sikap dan pelayanan yang diberikan oleh seorang tuan rumah akan tergantung siapa dan tujuan apa yang dibawa oleh tamunya. Ia bisa saja menerima dengan tulus dan senang hati, menunda dan memintanya menunggu beberapa saat agar kita bisa bersiap dan berbenah, atau menolak kedatangannya, bila perlu dengan bantuan Satpam.

Tamu. Siapapun dia, adalah mereka yang pasti berniat atau mempunyai kepentingan tertentu dengan kita. Yang paling sederhana adalah sekedar bersilaturahim dan menyambung-eratkan hubungan persaudaraan. Semestinya, sebagai tuan rumah yang baik kita menyambutnya dengan hati yang senang, dan tak memperlihatkan ketidaksukaan, menutupi ketidaksiapan dalam penerimaannya. Jika perlu, konflik maupun pertengkaran yang tengah berlangsung antara anggota keluarga, antara suami dengan istri, dihentikan agar tamu tak menjadi penonton peperangan. Semestinya diupayakan agar mereka tak pernah tahu ada perselisihan, konflik, atau ketidakakuran di keluarga kita. Itulah sekelumit hal yang biasa terjadi. Kita berupaya tampil sebaik mungkin menyambut kedatangan tamu. Terlebih jika yang datang adalah tamu yang dihormati, bisa pejabat, atasan di kantor, atau siapapun yang posisinya lebih diatas kita.

Sejak kecil, bahkan sejak baru terlahir, seorang manusia sudah terbiasa menerima tamu. Bisa jadi, hampir setiap hari tamu tak henti-hentinya mengetuk pintu rumah. Khabar yang dibawa tentu bermacam-macam, sekali lagi, bisa hal baik atau hal buruk, sesuatu yang sudah biasa didengar, atau mungkin berita yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Jadi, adalah hal biasa kita mendengar ketukan di pintu rumah untuk menerima kedatangan tamu.

Namun, pernahkah kita sadar jika siang nanti, esok pagi atau mungkin sedetik setelah membaca pesan ini, ada ketukan yang terdengar di depan, dan ketika kita tahu bahwa yang datang dan berdiri di hadapan kita adalah ‘tamu terakhir’? tamu yang sama yang pernah hadir di hadapan orang-orang yang telah mendahului kita. Tamu yang datang dengan kabar baik atau buruk tergantung seberapa banyak persiapan dan bekal yang terkumpul untuk hidup di hari kemudian. Tamu terakhir yang tak mungkin kita memintanya untuk menunggu meskipun sedetik agar kita bisa bersiap dan membenahi diri. Tamu terakhir yang mungkin tidak pernah diharapkan kehadirannya, tetapi tak seorang pun bisa membantu kita untuk menolak kehadirannya. Tentu saja, kita akan tersenyum menerima kehadirannya, jika saat tamu terakhir itu datang, semua bekal yang diperlukan sudah dipersiapkan. Bagaimana jika belum? (Bayu Gaw)

thx to Mr. Mirza about tamu terakhir-nya