Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, April 30, 2008

Iri Kepada Si Fakir?

Ketika mobil berhenti di sebuah traffic light, berhamburanlah para pengemis, pedagang asongan, dan anak jalanan, menghampiri setiap mobil yang antri menunggu lampu hijau menyala. Tak lama kemudian, seorang pengemis mengetuk kaca jendela mobil saya sambil menengadahkan tangannya. Wajahnya pucat, lumayan kumal dan terlihat sangat menderita. “Ah biasa pengemis, memang harus berpenampilan seperti itu bukan ?”

Kurang beruntung baginya, karena saya tak mendapatkan uang receh di mobil. Biasanya, selalu ada beberapa lembar uang ribuan berserakan di sekitar dashboard mobil, yang sengaja disediakan entah untuk pengemis maupun parkir. Tangan saya pun terangkat mengisaratkan penolakan kepada pengemis itu. Wajahnya terlihat semakin memelas, gurat kekecewaan sangat jelas tergambar. Tetapi lagi-lagi hati ini berkata, “Kalau nggak begitu, nggak akan ada yang bakal merasa iba …”

Meski akhirnya saya memberinya selembar uang lima ribuan, namun sepanjang beberapa menit menunggu di traffic light itu pula saya sempat menghitung jumlah mobil di depan, juga beberapa mobil yang terlihat dari kaca spion di belakang mobil saya. Kisarannya, tak kurang dari empat puluh mobil dari tiga ruas jalan dan sepanjang antrian siang itu. Hitungan pun berlanjut, dengan asumsi seperempat dari jumlah mobil itu memberi minimal seribu rupiah saja, berarti sepuluh ribu yang di dapat pengemis itu untuk sekali putaran traffic light. Berapa pun jumlah pengemis di situ, akan lebih menakjubkan lagi menghitung berapa kali traffic light menyala sepanjang hari, berapa ribu jumlah mobil yang berhenti dan melintasi jalan itu, “Wah wah wah… , banyak sekali uang yang bakal diperoleh para pengemis itu setiap harinya. Pantas saja mereka tetap bertahan dengan profesi itu, mungkin karena mereka bisa mendapatkan uang begitu mudahnya. Wajar saja mereka rela menggantang matahari dan menerjang hujan jika hasil yang diperolehnya lumayan besar … “

Sambil memacu mobil selepas lampu hijau menyala, saya tak henti berpikir, “enak juga ya jadi pengemis, nggak pakai mikir, nggak perlu beli baju bagus, nggak bayar pajak pula, tapi penghasilannya besar”.

Tetapi tak lama kemudian saya tersadar ketika melihat wajah saya di kaca spion dalam. Mobil pun saya hentikan sejenak, kembali saya berkaca lagi. Ah, dengan wajah seperti ini, dengan pakaian yang senantiasa rapih, apalagi dengan mobil bagus yang tidak semua orang mampu memilikinya, kenapa saya harus iri kepada para pengemis itu? Pantaskah saya mempermasalahkan berapa banyak uang yang akan didapat oleh seorang pengemis?

Belum tentu mereka benar-benar mendapatkan jumlah uang sesuai dengan hitungan matematis saya di atas. Pun mereka mendapatkan jumlah yang banyak pada hari ini, apakah besok masih bisa mendapatkan jumlah yang sama atau lebih? Buktinya, bertahun-tahun mereka mengemis tak ada yang berubah nasibnya, tetap saja menjadi pengemis. Bahkan kalau perlu, bakat dan profesinya itu diturunkan kepada anak-anaknya.

Astaghfirullah… terlepas bahwa mereka tak memiliki pengetahuan mengelola keuangan, tak pernah merancang visi agar di tahun-tahun yang akan datang tak lagi menjadi pengemis, tetap saja tak pantas saya merasa iri terhadap mereka. Justru sebaliknya, saya harus bersyukur memiliki segalanya. Bersyukur karena yang mengetuk-ngetuk jendela kaca itu bukan saya, bukan anak-anak saya.

Maafkan saya ya Allah … hamba sering lupa bersyukur atas nikmat-Mu.

Gaw
(sebuah inspirasi dari cerita seseorang di Jakarta)

4 comments:

Anonymous said...

baru aja kemaren aku punya pemikiran yang hampir sama, tentang pengemis juga yang ngebikin aku berhenti ngasih duwit ke mereka, n than aku tersadar satu hal, bagimanapun kita layak memberi, paling nggak demi kemanusiaan, pernah bayangin nggak? mereka berterik-terik sangat berjam-jam dan bersusah payah memasang muka memelas, cuman buat ngantongin paling kurang dari 100 ribu sehari? that's why aku kembali ngasih duwit, angkat topi untuk keprofesionalan mereka di sebuah hari yang membosankan, hahaha
-salam kenal-

Anonymous said...

Saya pribadi baru akan memberi manakala yang meminta adalah orangtua renta, atau betul-betul cacat. Kalau yang muda tidak akan saya beri sama sekali. Sedangkan kalau anak-anak, sebisa mungkin saya beri makanan saja.

Kalau begini, bagaimana akh Gaw? Saya juga tidak mau pemuda dan anak-anak itu jadi terbiasa mengemis.

Mas Gaw juga pernah menulis mengenai lansia yang masih tetap berjualan untuk mencari nafkah, dan memilih tidak mengemis. Ini betul-betul inspirasi bagi saya :) Makanya sebal liat pemuda sehat, kok ngemis :D

Anonymous said...

memang rumput di ladang selalu terlihat lebih hijau. basa jawane urip iku sawang pinawang bisa saja kita iri sama sang fakir seperti iri sang fakir kepada orang kaya.

pupuk organik said...

pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik