Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Sunday, April 30, 2006

Mbah Marijan, Lelaki Shalih dari Dusun Kinahrejo

Tanyakan kepada orang Jogyakarta, siapa yang tak kenal Mbah Marijan? Jika ia memang orang asli Jogyakarta, Insya Allah tak mungkin tak mengenal tokoh satu ini. Terlebih kini namanya sedang hangat-hangatnya diperbincangkan seiring hangatnya udara malam di Kaliurang karena sang Merapi tengah bergejolak. Mbah Marijan, menjadi tokoh yang tak kalah tenarnya dengan Sri Sultan Hamengkubuwono selaku Gubernur Kota pelajar ini.

Gunung Merapi, memang diperkirakan akan meletus dan menumpahkan lahar panasnya dalam hitungan hari. Hiruk pikuk warga dan pemerintah terlihat dengan semakin meningkatnya status dan aktivitas gunung merapi paling aktif di Indonesia ini. Riuh rendah dan hingar bingar di 'bawah' ternyata tak membuat Mbah Marijan ikut sibuk. Ia tetap tenang seolah Merapi tak tengah mengancamnya.

Aneh. Kesan itu yang terbawa ketika hendak menemuinya Sabtu sore (29/4) di rumahnya di Dusun Kinahrejo. Banyak berita yang menyebut lelaki tua ini sangat sakti, memiliki 'ilmu' yang sangat tinggi sehingga puluhan tahun sudah mengemban tugas berat dari Sri Sultan untuk menjadi juru kunci Merapi. Jalan menuju rumah Mbah Marijan terus menanjak mendekati Gunung Merapi, namun sepanjang jalan tak sedikit pun ditemui jalan rusak, sepanjang jalan semenjak dari Palemsari hingga rumah Mbah Marijan jalannya mulus tak berlubang. Mungkin karena Sultan kerap mengunjungi kuncen Merapi itu.

Sekitar pukul 17.00, setibanya di rumah Mbah Marijan, tokoh yang saat ini menjadi "most wanted person" bagi para pencari berita itu sedang duduk berdzikir di Masjid di depan rumahnya. Perawakannya kecil, jalannya sudah mulai lamban walau pun ia masih mampu menempuh puncak Merapi dengan berjalan kaki. Kesan pertama ketika bertemunya, jauh dari cerita yang sering tertulis di beberapa media massa. Sosoknya amat sederhana, sesederhana rumahnya yang tak berbeda dengan rumah kebanyakan warga di Dusun Kinaherjo. Padahal, 'jabatan' yang disandangnya dari Sultan bukanlah jabatan sepele dan tidak sembarang orang bisa dipercaya menjadi juru kunci.

Mbah Marijan tetap tenang, tak menganggap kepulan asap di puncak Merapi sebagai ancaman. Meski demikian ia tetap meminta warganya untuk waspada, namun ia belum menganjurkan seluruh warga yang tinggal di lereng merapi untuk mengungsi. Menurut mbah Marijan, Merapi sudah biasa 'batuk-batuk' seperti saat ini. Dan belum warga belum perlu mengungsi.

Lelaki yang tak mau berbahasa Indonesia ini tak ingin menjawab secara tegas ketika pertanyaan mengarah kepada kemungkinan meletusnya gunung Merapi. Baginya, Allah belum memberi petunjuk berupa tanda-tanda akan meletusnya Merapi sehingga ia tak meminta warganya untuk turun dan mengungsi. Kenyataan ini sungguh berlawanan dengan pernyataan Sultan yang meminta warga di lereng gunung segera mengungsi. "Jika Sultan meminta warga turun, berarti itu yang bicara bukan Sultan, melainkan Gubernur," ujar Mbah Marijan.

Dalam pembicaraan yang terekam handycam yang kami bawa itu, Mbah Marijan justru berharap Sultan dan pemerintah daerah mengizinkannya melakukan doa bersama mohon keselamatan agar Merapi tak 'marah'. "Masalahnya, saya diizinkan atau tidak oleh pemerintah kalau saya berdoa kepada Gusti Allah..." tanya Mbah berharap.

Pertanyaan yang sesungguhnya tak perlu jawaban dari Sultan atau pun pemerintah setempat. Karena bagi Mbah Marijan, yang dimaksud doa bersama itu tidak mesti membuat acara besar seperti layaknya acara 'selamatan' di kampung-kampung dengan mengundang banyak orang. "Cukup semua masyarakat bersama-sama berdoa, boleh dari rumahnya masing-masing, meminta kepada Allah agar Merapi tak jadi meletus," tambah Mbah.

Mbah Marijan bukan sosok penuh misteri, bukan tokoh klenik, bukan pula seperti yang banyak diberitakan di media massa tentang kesaktian dan ilmu-ilmu aneh yang dimilikinya. Lelaki berumur lebih dari 80-an itu adalah orang yang shalih, taat beribadah dan senantiasa merasa dekat dengan Tuhannya. Begitu juga dengan keluarganya, istri dan lima anaknya adalah orang-orang shalih.

Soal keengganannya berbahasa Indonesia, mbah Marijan berkomentar, "Saya ini orang kecil, hanya berbahasa menggunanakan bahasa orang kecil. Karena itu, omongan saya didengar oleh orang kecil. Bahasa Indonesia itu hanya dipakai oleh orang besar. Dan bahasa Indonesia itu terkesan sombong, saya tak mau dibilang sombong."

Subhanallah, suatu anugerah luar biasa bisa berkunjung ke rumah mbah Marijan. Teramat banyak pelajaran dari tutur kata lembutnya yang terasa sangat 'dalam'. Tak terasa persinggahan di rumah sederhana itu hingga pukul 20.00. Kekhawatiran akan meletusnya Merapi pada saat kami berada di rumah itu, seolah sirna oleh ketenangan yang memancar dari wajah lelaki mengagumkan itu.

Bayu Gawtama

32 comments:

Mustansyir said...

anugerahi mbah Marijan Doktor honoris causa, karena ia memang layak, dan kecermatan dan kematangannya dlm mengamati Merapi tanpa bantuan alat teknologi canggih, melainkan dengan mata hati mrpkn suatu tingkatan metodologis yg sulit tertandingi oleh ilmuwan mana pun di dunia ini.

Anonymous said...

Ajari pemimpin kami kearifan lokal macam mbah......

Anonymous said...

Coba, kalau di Indonesia punya 3/4 dari 120 jt penduduknya seperti Mbah Marijan, Slamet Ndonya Akhirat , Insya Allah

Jokonet said...

Wah..., terkadang manusia modern harus mendengarkan mata batin bukan hanya mengandalkan teknologi semata.

Anonymous said...

foto simbah layak divektor dan disablon di kaos oblong. biar anak-anak muda seumuran saya mengidolakan orang-orang bijak indonesia daripada che guevara. simbah pantas disebut filsuf, sufi, guru, dan apalah yang pantas menggambarkan kebijakannya. sepertinya bangsa indonesia juga butuh juru kunci seperti simbah yang betul-betul memahami negaranya...

Myr said...

trimakasih utk tulisan2nya ttg merapi dan mbah maridjan. bagi saya beliau adalah contoh hidup yg indah. salam kenal.

myr @france

aifreti said...

mbah maridjan hanyalah orang yang sangat mencintai negaranya dengan tulus merawat gunung merapi seperti sahabatnya sendiri .

Anonymous said...

aku wong cangkringan bangga sam mbah maridjan.

Anonymous said...

Istirahat dulu usul ...Ayo dukung dulu Taman Nasional Komodo untuk jadi salah satu TUJUH KEAJAIBAN DUNIA di http://pastibisa-online.blogspot.com

Ahmad Amin said...

Istirahat dulu usul ...Ayo dukung dulu Taman Nasional Komodo untuk jadi salah satu TUJUH KEAJAIBAN DUNIA di http://pastibisa-online.blogspot.com

reoggal said...

dialah sesungguhnya orang yang banyak ilmunya,,,tanpa bangga diri dan selalu berpijak di bumi yang nyata.semoga alloh memberi gantinya jika beliau menghadap yang esa satu hari nanti.(jangan sampai mbah marijan dah tak ada terus gunungnya mbledosss)

reoggal said...

dialah sesungguhnya orang yang banyak ilmunya,,,tanpa bangga diri dan selalu berpijak di bumi yang nyata.semoga alloh memberi gantinya jika beliau menghadap yang esa satu hari nanti.(jangan sampai mbah marijan dah tak ada terus gunungnya mbledosss)

Anonymous said...

kearifan lokal yang ada di negeri ini terbukti mampu membuat harmonis antara alam dan penghuninya... mbah marijan yang dikesankan banyak klenik namun dalam kesehariannya benar-benar dekat dengan Gusti Allah

Anonymous said...

kami ikut berduka semoga Alloh SWT menerima mbah dan ditempatkan disisiNya sebagaimana orang yang mendapat kebahagiaan disisiNya.

Rad said...

Bahasa Indonesia itu bahasa nasional yang mempersatukan bangsa. Kok bisa2nya dianggap bahasa sombong. Bukannya yang sombong itu yang tetap mau "eksklusif" dengan hanya berbicara bahasa daerah biarpun sekitarnya tidak ada yang mengerti? = =

Nancy said...

Mbah Marijdan, seorang yang perlu diteladani atas kesetiaanya menjadi juru kunci merapi hingga akhir hayat.

Greeta said...

Menilai bukan dari sekedar kata,tapi makna..krn bahasa apapun yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam..penuh ketulusan tanpa pretensi dan tendensi pasti dapat dipahami oleh siapapun..seperti bahasa anak kecil yg tetap bisa bermain bersama meskipun berasal dari suku bangsa yang berbeda..Mbah Maridjan,engkaulah juru kunci merapi..meski dikau tahu bhw kunci hidup ini adl Allah..semoga Allah senantiasa memberkati..amiiin..

Anonymous said...

rad=> di beberapa daerah di jawa memang ada kebiasaan kecil yg mengatakan bahwa menggunakan bahasa indonesia di kalangan yg berada di"daerah/lingkungan" sendiri adalah perbuatan orang yg arogan. jd saya maklum dg maksud perkataan mbah maridjan yg mengatakan tidak mau berbahasa indonesia karena tidak mau di katakan sombong.

Anonymous said...

setuju... di jawa tengah (termasuk daerah saya, Tegal) bicara menggunakan bahasa indonesia di lingkungan sendiri memang terkesan sombong dan arogan, karena biasanya yg pake bhs indonesia itu orang yg br balik dr kota besar dan bertingkah sok "ngota"..
makanya kalo di lingkungan daerah sendiri, biasanya menggunakan bhs daerah saja biar lebih merakyat.. :)

Anonymous said...

Itulah makanya indonesia ini gampang terpecah belah...karena pola pikirnya sempit kuno...bahasa indonesia itu bahasa nasional (bisa dibilang bahasa persatuan)..Karena terlalu mementingkan daerah sendiri...cacad kalian yang masih beranggapan bahwa bahasa indonesia bahasa org sok kota..

fathul said...

Like this Buat Mbah Maridjan !!

Kaos Bali said...

Innalillahi wa innailaihi rojiun
Semoga arwah mbah maridjan diterima disisi Allah SWT…. Amiiiiiiinnnn

Nunun Bratawidjaja said...

Innalillahi wa innailaihi rojiun... Semoga Allah memberikan nikmat dan rahmat kubur bagi Mbah Marijan, diampuni dosa2nya, dilapangkan jalannya, diterima iman islamnya sesuai dengan amal ibadahnya dan diberikan tempat yang layak disisi-Nya .... Amiin Ya Rabb.

andi said...

MBAH marijan mengabdi juru kunci tahun 82 setelah 28t ahun mengabdi beliau wafat, ditemukan tanggal 28 dirumahnya..total huruf di nama lengkap mbah marijan 28. gugur 1 pahlawan tua di hari sumpah pemuda...MAri Jga AmaNat...selamat Hari Sumpah pemuda.

fery irawan said...

turut berduka gan, BTW blognya bgs bgt dan bisa jadi inspirasi nich,,ajarin donk gan biar blog saya bisa juga,heheheheh http://abecede123.blogspot.com/
http://www.feryirawan.co.cc/
jangan lupa kunjungan balik yaa

car pictures said...

pria yang mendapatkan bayaran 15ribu rupiah perbulan ini sangat setia kepada jabatan yang diembannya hingga ajal menjemputnya, beda banget ma oknum2 pemerintahan...

timor said...

Buat saya....Simbah adalah orang tua, guru dan sahabat. Ingat ketika saya mampir dan menanyakan "gimana kondisi merapi Mbah?".....lha gimana....bukankah harusnya nak Mas-nak Mas guru ini yang lebih tahu".....bukannya gejala alam itu bisa dibaca dimana saja" kata simbah.
SELAMAT JALAN MBAH....

Bali Hotels Booking said...

kami turut berduka cita atas wafatnya Mbah Marijan. Seorang abdi yang patut ditauladani oleh setiap pemimpin Bangsa Indonesia. Kerendahan hati serta keiklasan Beliau hendaknya menjadi cerminan Pemimpin untuk melayani rakyat Indonesia

fans mbah maridjan said...

semoga arwah mbah maridjan diterima di sisiNya

sena said...

smoga mbah marijan husnul khatimah. Siapa yang bisa mengalahkan nyali mag marijan hayo ? Kunjungi : www.islam-waylife.blogspot.com. penting lho isinya.

mybalicarrental said...

kami semua turut berduka yang dalam atas musibah yang menimpa indonesia khususnya. Profil Mbah Marijan semoga dapat diikuti oleh pemimpin bangsa

akirazee said...

mbah mardijan memang hebat!!
ttp://sangperegrine.wordpress.com/2010/11/09/mbah-maridjan-vs-anggota-dpr/