Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Sunday, February 19, 2006

Janda Tua di Gubuk Tak Berjendela

Jika diantara Anda ada yang menderita penyakit aneh sulit menangis, tak bisa menitikkan air mata, dan sudah terlalu lama kelopak mata Anda kering tak terbasahi air mata sendiri, datanglah ke Kampung Pugur, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Carilah rumah Ibu Laeni, janda berusia 64 tahun yang tinggal di sebuah gubuk berdinding bilik seluas 5x7 meter. Bangunan beralas tanah tak berpenerangan itu memiliki jendela, namun tak ada penutup jendela sehingga angin maupun cipratan air hujan leluasa masuk ke dalamnya.

Di dalam gubuk tersebut, tinggallah Ibu Laeni, seorang janda tua yang ditemani dua anak gadisnya, Neneng dan Jumriah. Neneng, sang kakak berusia 26 tahun, belum menikah dan tak bekerja. Neneng menderita gizi buruk sejak kecil, sedangkan Jumriah sang adik menjanda justru setelah memiliki 2 (dua) putra. Jadi, terdapat 2 janda dan seorang pesakitan di rumah tersebut, ditambah 2 anak kecil yang belum mengerti apa-apa.

Sehari-hari, Ibu Laeni, Neneng, dan Jumriah beserta 2 anaknya hanya berharap belas kasihan para tetangganya untuk bisa mendapatkan makan. Bila malam tiba, kadang mereka harus menjalani sepanjang malam tak berpenerangan, beruntung bila ada tetangga yang datang membawa setitik lilin yang hanya mampu bertahan tak lebih dari satu jam. Selebihnya, seisi gubuk pun kembali gulita.

Neneng yang menderita gizi buruk sering sakit-sakitan. Untuk wanita seusianya, seharusnya berperawakan besar dan tinggi, namun ia lebih mirip remaja baru tumbuh yang terhambat pertumbuhannya. Kemiskinan yang dialami keluarganya, membuat Neneng semakin menderita. Ternyata, tak hanya balita yang menderita gizi buruk, bahkan wanita dewasa seperti Neneng pun mengalaminya. Sang adik, Jumriah tak kalah menderita. Entah apa kesalahan yang dibuatnya sehingga sang suami tega meninggalkan ia bersama dua buah hatinya. Padahal, dua anak hasil pernikahannya itu sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian dan perlindungan seorang Ayah. Sang suami yang diharapkan menjadi tulang punggung menghilang tanpa jejak. Jumriah pun tak pernah sanggup menjawab pertanyaan dua anaknya, "Mana bapak bu...?"

Laeni tak pernah berharap hidup semenderita saat ini, ia pun tak pernah meminta diberikan umur panjang jika harus terus menjadi beban orang lain. Tapi ia masih punya iman untuk tak mengakhiri hidupnya dengan jalannya sendiri, selain itu wanita tua itu tak pernah tega meninggalkan dua anak dan dua cucunya yang tak kalah menderitanya. Baginya, anak-anak dan cucunya adalah harta berharga yang masih dimilikinya.

Gubuk berdinding yang sebagian atapnya rusak itu, di musim hujan air leluasa masuk, disaat terik matahari bebas menerobos. Tak ada barang berharga di dalamnya, hanya kompor dekil yang sering tak terpakai lantaran tak ada bahan makanan yang dimasak. Mereka menyebutnya rumah, tapi siapapun yang pernah melihatnya, menyebut gubuk pun masih jauh dari pantas. Tetapi di dalamnya, ada dua janda, satu pesakitan, dan dua anak kecil yang terus menerus menunggu belas kasihan.

Bayu Gawtama

7 comments:

Anonymous said...

Ini sangat mengharukan, Mas Gaw. Seringkali, dengan menangis pun, kita sebagai bangsa tetap saja gagal melakukan sesuatu yang berarti. Bayangkan kalau hati sudah pejal, tak lagi tahu bagaimana bersedih atas penderitaan rakyat sendiri.

Salam, Anwar

Abi ZIF said...

Bikin sedih ya... Pasti ada jalan agar kita bisa meringankan penderitaannya...

Anonymous said...

mas gaw... saya serius pengen banget mbantu ibu itu... gimana caranya?
bisa lewat mas gak? kalo bisa hub. saya di agustme@yahoo.com
terima kasih

Anonymous said...

mas gawtama,

saya ingin sekali bisa meringankan beban ibu ini, bagaimana caranya ?
Bisa hubungi saya di rwahab@yahoo.com

Wassalam,
Ridwan

Anonymous said...

Salam,
kelopak mata ku sudah kering karena airmata ku telah sering dikuras dgn melihat penderitaan saudara2 kita ini di seluruh tanah air.

Akan lebih baik sekiranya Mas Gawtama dapat memberikan alamat2 saudara2 kita yg memerlukan uluran tangan kami yg masih mendapatkan rezeki dari Allah swt.

Seandainya para pemimpin2 di tanah air ini masih mempunyai sensitivity, keadaan saudara2 kita yg hidup dlm kesengsaraan ini akan berkurang.

Cerita2 ini harus ada "follow up" yg konkrit karena kalau tidak , cerita ini hanya sekedar cerita dari negeri dongeng saja.

Salam,

Anonymous said...

saya ingin membantu tapi bagaimana caranya? kirim info ya di nana_thea@yahoo.com

Anonymous said...

ini adalah realita yg ada disekitar kita, & mungkin msh banyak lagi keluarga2 yg perlu uluran tangan para dermawan. mudah2an mas Gaw bisa menjd koordinator unt rekan2 yg akan memberikan bantuannya. salam mas Gaw