Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, June 23, 2008

Maaf Sobat, Saya Harus Memilih

Sungguh sebuah keputusan tersulit dalam hidup. Dan saya bisa membaca reaksi sebagian sahabat ketika saya memberi tahu keputusan ini, "kenapa? kerja sosial dan kemanusiaan itu kan sudah melekat dalam jiwamu?"

Beberapa sahabat -saya cenderung menganggapnya saudara- di ACT pun mencoba merajuk, meminta saya melakukan istikharah, atau bahkan memberi saya waktu cuti untuk berlibur, agar setelah liburan nanti pikiran jernih dan mampu mengambil keputusan yang terbaik. "Mungkin Anda sedang stress, banyak pikiran, atau jenuh. Berliburlah, mungkin akan membantu memberikan keputusan yang lebih baik".

"Atau ada masalah dengan lembaga ini?" Oh, inilah pertanyaan terbanyak yang datang bertubi-tubi hingga detik ini. Puluhan pesan singkat isinya tak jauh dari kalimat tersebut. Inilah saat saya kembali menegaskan, tak ada masalah apapun yang terjadi antara saya dengan lembaga ini, juga antara saya dengan person-person di lembaga ini. Mereka semua saudara saya, saya mencintainya. Dalam persaudaraan, friksi pasti terjadi. Tetapi hal itu tidak akan pernah menjadi alasan untuk membuat keputusan besar ini. Coba bayangkan, sepasang suami isteri pun kerap bertengkar, namun bukan berarti harus bercerai kan?

Lalu kenapa resign?

Jawabannya; saya harus mengembangkan program SOL (School of Life) yang saya gagas dari hasil pikiran saya sendiri. Saya sudah mengkomunikasikannya dengan beberapa sahabat yang antusias mendukung program ini dan melihat potensi yang besar dari program ini.

Saudara dan sahabat, bantu saya dengan doa. Maaf, sekali lagi maaf, saya memang harus memilih jalan ini. Dan yang pasti, saya tetap menjadi relawan ACT

Wassalaam

Gaw

10 comments:

Anonymous said...

di mana pun kita berada,
apa pun profesi kita,
kita 'kan masih bisa beramal
dan berbuat sesuatu yang terbaik
dalam hidup ini.

gie said...

Bung Gawtama, saya adalah penggemar tulisan-tulisan anda yang selalu inspiratif. Saya hanya berdoa smoga anda bisa mendapatkan yang terbaik...saya berharap untuk tetap bisa membaca artikel-artikel anda berikutnya....(Rizki Rohmat)

gie said...

Bung Gawtama, saya adalah penggemar tulisan-tulisan anda yang selalu inspiratif. Saya hanya berdoa smoga anda bisa mendapatkan yang terbaik...saya berharap untuk tetap bisa membaca artikel-artikel anda berikutnya....(Rizki Rohmat)

heningsept said...

school of life-nya di mana kak?

fathy said...

semoga dimanapun ladangnya, sang petani bisa menjadi manfaat yang menyuburkannya :)
smg keputusannya berkah ya bang.
btw, udah sempat mengkader kan? ;)

tuteh said...

kalo pilihan itu sesuai dengan kata hati kita, sesuai dengan dasarnya keinginan kita... why not? maybe di mata orang lain pilihan itu nggak membawa keberuntungan apa-apa untuk kita... but let think about it from the other side... kenapa bukan kita yang membawa keberuntungan dalam pilihan itu? :) iya nggak bang?! :P

Anonymous said...

Sudah keluar dari ACT? tapi diprofil jabatannya masih di ACT? mungkin belum diedit ya?

lix_carubanagari said...

masih inget korsa ga mas?

lix_carubanagari said...

masih inget korsa ga mas?

pupuk organik said...

pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik