Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Tuesday, February 26, 2008

Ibu; Jauhnya Pun Menenangkan Hati

Senin siang, isteri saya mengirim pesan singkat, “Iqna sakit, badannya panas”. Kemudian saya membalasnya, “sudah minum obat? Satu jam lagi kasih kabar ya…”

Tak ada kabar lagi sampai lewat satu jam, saya berpikir Iqna –putri kedua saya- pasti sudah diberi obat penurun panas. Jadi saya agak sedikit tenang dan tetap melanjutkan pekerjaan di kantor. Namun menjelang ashar, sebuah SMS masuk lagi, “suhunya masih tinggi, belum turun”.

Saya pun bergegas pamit menuju rumah. Iqna harus segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Motor pun terpacu lumayan cepat, jarak antara rumah dan kantor yang biasanya memakan waktu hingga 30 menit saya buat kurang dari 25 menit. Adrenalin sedikit meningkat, mungkin karena pacuan motor yang meningkat, ditambah pikiran saya terus kepada Iqna yang sedang sakit.

Sesampainya di rumah, saya sedikit tenang. Sebab, si sakit yang membuat saya memacu cepat motor sedang asik bermain boneka. Tidak seperti yang saya bayangkan beberapa menit sebelumnya, bahwa ia sedang terkulai lemah di tempat tidurnya. Begitu masuk dan mengucapkan salam, ia pula yang pertama membalas salam saya dan memperlihatkan barisan gigi-gigi putihnya. Saya segera menyentuh tubuhnya, dan, panasnya sudah turun. Alhamdulillah.

Tetapi entah kenapa, sejak siang di kantor hati ini terasa berbeda. Ada gusar, gelisah dan keresahan yang menyelimuti diri ini sepanjang hari. Sampai selepas maghrib, segenap rasa tak nyaman itu tetap tak mau pergi meskipun saya sudah mencoba menenangkannya dengan membaca ayat-ayat al quran.

Malam terus bergulir, waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun mata ini belum mau terpejam. Tentu karena hati ini pun masih gundah, belum tenang dan belum mau diajak istirahat. Saya terus memikirkan gerangan apa yang membuat saya merasa seperti ini. Mungkin pekerjaan di kantor yang belum selesai? Atau beberapa tagihan yang belum terbayarkan? Ah, bukan, pasti bukan itu.

Akhirnya, entah jam berapa saya tak sadar sudah terlelap. Namun tak berapa lama, sekitar pukul tiga dini hari saya kembali terbangun. Masih saja semua rasa tak nyaman itu masih menggelayuti hati. Saya pun berwudhu, menghadap Allah bersujud kepada-Nya. Tidak cukup tenang, saya pun melanjutkannya dengan tilawah quran. Beberapa lembar terbaca, hati pun terasa sedikit lega.

Waktu sudah beranjak ke pukul empat dini hari. Empat puluh lima menit lagi adzan subuh, tetapi masih ada yang terasa mengganjal di hati ini. Tiba-tiba, isteri saya menyodorkan telepon genggam, “Telepon Mama bi, mungkin Mama kangen”.

Ya Allah, saya istighfar berkali-kali. Mungkin ini yang diinginkan Allah dari saya, berbicara dengan ibu meski sebentar saja akan menenangkan jiwa. Sekarang baru pukul empat pagi, waktu yang tepat berbicara dengannya. Saya tahu ia tak pernah absen sholat malam lengkap dengan doa-doa untuk semua anaknya.

“Assalaamu’alaikum ma…” baru saja suara saya menyapanya. Ibu langsung berkata, “Wa’alaikum salam, mama tahu kamu akan telepon. Mama baru saja membayangkan wajah kamu di sholat mama. Mama minta sama Allah, kamu, juga anak-anak mama yang lain diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalani hidup”

“Ma…” belum selesai kalimat saya, ibu memotongnya, “Kamu kangen mama kan? Makanya kamu telepon mama pagi-pagi begini” Ia seperti sudah tahu perasaan berat yang terpendam, yang selama seharian membuat hati tak tenang. Terima kasih ya Allah, masih Kau beri saya kesempatan menyapanya pagi ini.

“Kapan mau ke rumah?” Duh ibu, saya belum bisa berjanji. Malu rasanya, ibu bisa menembus jarak dan waktu setiap kali ia merasa rindu kepada anak-anaknya. Setiap detik waktunya terisi sebongkah rindu. Setiap hela nafasnya, menyebut nama orang-orang yang dicintainya. Dan di setiap pintanya kepada Allah di pertiga malam, nama anaknya lah yang tak pernah alpa disebut.

Sedangkan saya, rindu ini sering terhalang jarak dan waktu. Kesibukan pekerjaan sering membuat saya lupa mengeja namanya. Dan kecintaan saya kepada isteri dan anak-anak, kadang menyamarkan wajah teduhnya yang dilukis Allah dengan tinta cinta. Saya yakin, setiap tetes darahnya mengalir butiran-butiran kasih yang tak pernah sebanding dengan mutiara termahal di dunia mana pun.

Dalam tidur dan terjaganya, ia selalu menanti sapa sayang anak-anaknya yang sering kali berbuah hampa. “Maaf ma…” Tetapi seolah telunjuk ibu menutup rapat bibir ini agar tak melanjutkan kata. “Ssstt… anak-anak tidak pernah salah di mata mama. Mama tunggu akhir pekan ya, jangan lupa bawa cucu-cucu mama ya…”.

Telepon pun ditutup, bersama dengan turunnya hujan, ketenangan pun hinggap merayapi hati ini. Suara adzan subuh sayup-sayup membelah keheningan pagi. “Terima kasih Allah…”

Gaw
Yang sedang kangen ibu, kupandangi fotomu kini

7 comments:

meli said...

so touchy.....

biaca said...

Assalamu'alaikum. ww.wb.

Haru.....jadi nangis, ingat ibu di kampung......

aku ingin pulang......ibuuuuuuu.....

makasih mas, atas pencerahannya.

salam kenal dari sy.

Ita said...

Salam kenal mas Gaw .. tulisan2nya sangat membumi dan menyentuh .. jadi pengen nangis .. thanks for your beautiful sharing.

Anonymous said...

Kisah yang sarat makna..
sederhana..
namun 'menggerakkan'.
Salam kenal maz..
Maz, tulisan2nya kapan lagi mau diterbitkan?!

Dolles JIMMKI

sartono said...

Good ente Yu, sangat produktif, walaupun dari segi bahasa dan alur cerita harus dikemas lebih baik lagi, biar lebih enak and layak untuk dibaca. Sekali lagi salut buat ente, special from pondok gede.

Nunik 'n Family said...

kasih ibu sepanjang jalan...
Blog ini sudah lama kami link, tapi baru ijin sekarang....maaf ya, Pak.
Masih boleh kami link kan, Pak??

pupuk organik said...

pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik , pupuk organik