Seorang kader partai tengah memanggul beberapa bilah bambu panjang yang di ujungnya sudah terpasang bendera partai tersebut. Sendirian ia menancapkan satu persatu bambu itu dan mengikatkannya pada pohon atau tiang listrik. Seorang teman saya berkomentar, “kader militan…”
Ia, pemuda itu, satu dari sekian juta kader-kader partai di negeri ini yang rela melakukan apapun untuk partai yang dicintainya, demi nilai-nilai yang diperjuangkan partainya meskipun tidak mendapatkan bayaran, insentif atau bonus sepeser pun. Sekadar makan siang dan sebotol air mineral, ditambah sebuah doktrin guru mengajinya, “Berjuang harus ikhlas, ini bagian dari dakwah. Biarlah Allah yang membalas semua jerih payah kita. Bayaran Allah jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini”
Di tempat berbeda, seorang pemuda dari partai yang lain terlihat tengah memasang spanduk seorang calon anggota legislatif, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB. Rupanya, puluhan bahkan ratusan spanduk yang bertebaran di jalan raya itu hasil kerja kerasnya bersama dengan beberapa kader partai lainnya. Yang menarik, ternyata ia dan rekan-rekannya tak benar-benar mengenal foto-foto yang terpasang di berbagai spanduk yang dipasangnya itu. Namun jawaban soal mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu jauh lebih menarik untuk disimak, “Saya percaya orang-orang ini akan berjuang mengusung aspirasi rakyat. Mereka orang-orang bersih, berdedikasi dan punya kapabilitas untuk menduduki kursi parlemen”.
“Tapi Anda kan tidak benar-benar mengenal mereka, bagaimana bisa punya penilaian seperti itu?”
“Mmm… itu yang disampaikan para pimpinan kami di partai,” ujarnya.
Nanti, jelang waktu pemilu semakin dekat. Kita akan melihat jutaan orang rela berkumpul di sebuah lapangan meneriakkan yel-yel, slogan-slogan partai, juga mengelu-elukan jagonya, mengibarkan bendera partai. Sebagian anak-anak muda bahkan rela mengecat wajahnya dengan lambang partai, kaum ibu sambil menggendong anak-anak bayinya di terik panas, bersedia mengenakan baju, jas, jilbab sampai kaus kaki berlogo partai yang diyakininya itu. Jangan aneh pula bila menemukan beragam kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua sampai mobil-mobil yang tergolong mahal rela dicat atau ditempeli stiker logo partai, dari ukuran kecil sampai yang menutupi hampir seluruh body kendaraannya.
Dan ketika sang jagoan naik ke atas podium, serentak menyambutnya dengan tepuk tangan layaknya artis, eh bukan, lebih tepatnya pahlawan. Padahal mereka baru memulai perjuangan dengan mencalonkan atau dicalonkan sebagai anggota dewan, tetapi inilah gambaran harapan rakyat di bawah akan perubahan yang diusung oleh partai dan para calon legislatifnya.
Teriakan “Allahu Akbar” membahana membelah langit, kalimat yang sama juga yang terdengar dari calon anggota parlemen lainnya, dari partai yang berbeda. Entah kenapa, ini seperti kalimat sakti yang bisa menyihir semua pendukung partai untuk meyakini bahwa orang yang barusan berteriak “Allahu Akbar” di atas podium itu benar-benar orang baik, shalih dan dianggap amanah, bersih, bahkan diyakini tidak akan mencederai kepercayaan yang disematkan di pundaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti korupsi atau tindakan tak pantas lainnya yang kerap kita dengar dan lihat terjadi di Senayan.
Percaya atau tidak, sampai detik ini masih ada kader-kader partai yang meyakini sampai ke tulang, bahwa orang-orang yang diusung sebagai anggota dewan ini jujur dan tak mungkin korupsi. “Mereka dibina bertahun-tahun, punya banyak jamaah pula. Kapasitas mereka mumpuni, dan mereka dikenal bersih”. Ada pula yang berkata, “Mereka orang-orang yang dekat dengan masyarakat, dikenal baik oleh tetangganya sebagai tokoh masyarakat atau pengurus masjid”. Ada lagi yang berkomentar seperti ini, “Rajin beribadah, juga rutin menghadiri kajian. Saya dengar sholat malamnya juga rajin. Masak sih dia akan korupsi?”. Bahkan pendapat yang lebih bombastis, “Bab korupsi itu materi pengajian yang selalu diulang-ulang dalam kelompok kami. Jadi mereka sudah tahu persis hukumnya…”
Calon anggota dewan, juga yang sekarang sudah menjadi anggota dewan, layaknya dewa yang diyakini selalu bersih dan tidak mungkin berbuat salah. Ini fakta, nyata, realita alias benar-benar ada.
Keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan dan loyalitas yang ditunjukkan para kader partai adalah cermin hebatnya sebuah sistem dibangun. Sebuah kondisi yang memerlukan waktu bertahun-tahun, dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang dibina hingga menjadi sebuah komunitas besar dengan keseragaman ciri dan kebiasaan. Kader-kader partai tertentu misalnya, bisa sangat mudah dikenali dari cara berpakaiannya, bahasa dan istilah yang dipakainya, pergaulannya, kehidupan sehari-harinya, juga aksesoris di tubuhnya.
Hanya saja, patut disayangkan ketika keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan, dan loyalitas yang mereka berikan seutuhnya untuk partai dan para petinggi partai ini justru dimanfaatkan secara tak tepat. Kader-kader partai ini sudah cukup silau dengan prestasi, portofolio dan bahkan label “Ustadz” atau “Da’i” yang ada pada para calon penghuni Senayan itu. Terlebih jika guru mengaji mereka yang mengeluarkan fatwa, diselipi dalil-dalil. Sikap mereka pun seragam, “kami dengar dan kami taat”.
Ummat, paling dicari ketika musim pemilu tiba. Rakyat adalah komoditas paling laku untuk dijual di musim ini. Seseorang bisa menjadi calon anggota legislatif karena dianggap memiliki jamaah atau pengikuti yang setia. Tidak hanya itu, nilai seorang calon legislatif ini pun bisa terdongkrak ke puncak bila ia diyakini mampu menjadi vote getter bagi partainya. Berbekal janji manis, ummat pun rela mengeluarkan uang, tenaga dan pikirannya untuk memuluskan jalan jagoannya melenggang ke Senayan.
Para calon anggota legislatif ini berani bertarung berebut kursi parlemen lantaran merasa memiliki dukungan yang cukup signifikan dari ummatnya, rakyatnya, warganya atau pengikut yang mengenalnya. Pimpinan partai pun harus jeli menyusun nomor urut para calon legislatifnya, nomor urut satu sudah pasti yang paling dianggap mampu meraih sebanyak-banyaknya suara ummat.
Ketika waktunya tiba, para dewa dan jagoan berhasil digelandang menuju Senayan. Teriakan takbir kembali membahana, sebagai ungkapan syukur atas kesuksesan yang diraih. Jerih payah, peluh, bahkan darah yang tumpah selama masa kampanye hilang sudah, terbasuh oleh senyum ceria para politisi yang baru saja dilantik dan resmi menyandang gelar anggota parlemen. Kader-kader partai ini pun kembali ke rumah masing-masing, masih dengan membawa rasa syukur atas kesuksesan partainya meraih suara signifikan, yang artinya lebih banyak calon legislatif yang berhasil dihantarkan ke gedung DPR.
Sedih rasanya melihat nasib ummat yang hanya laku dijual pada saat musim kampanye menjelang pemilu ini. Sementara mereka terus berjuang bertahan hidup dengan segala keterbatasan, para anggota dewan yang diusungnya tengah menikmati hidup berlebihan. Disaat sebagian kader yang berjuang dengan bayaran “ikhlas karena Allah” terseok-seok di jalan mencari sesuap nasi, para dewa di parlemen tengah menikmati makan siang di sebuah restoran mewah bersama para kolega atau pejabat pemerintah. Ketika kader-kader militan ini dilanda kebingungan harus membayar kontrakan yang sudah menunggak empat bulan, yang duduk di parlemen justru sibuk menambah rumah dan kendaraan mereka.
Yang lebih menyedihkan, sampai detik ini masih banyak ummat yang mau dan rela diperdagangkan. Mereka tidak menyadari bahwa disaat menjelang pemilu, satu suara mereka sangat mahal harganya. Namun usai pemilu, berteriak sampai urat leher putus pun suara mereka takkan pernah mampu menembus dinding tebal gedung parlemen.
Maka tidak heran ketika seorang teman bertanya, “dagang apa nih yang bagus sekarang?” Teman lain di sebelahnya ketus menjawab, “dagang ummat”. Wallaahu a’lam (gaw)
http://warnaislam.com
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Wednesday, October 29, 2008
Dagang Ummat
Seorang kader partai tengah memanggul beberapa bilah bambu panjang yang di ujungnya sudah terpasang bendera partai tersebut. Sendirian ia menancapkan satu persatu bambu itu dan mengikatkannya pada pohon atau tiang listrik. Seorang teman saya berkomentar, “kader militan…”
Ia, pemuda itu, satu dari sekian juta kader-kader partai di negeri ini yang rela melakukan apapun untuk partai yang dicintainya, demi nilai-nilai yang diperjuangkan partainya meskipun tidak mendapatkan bayaran, insentif atau bonus sepeser pun. Sekadar makan siang dan sebotol air mineral, ditambah sebuah doktrin guru mengajinya, “Berjuang harus ikhlas, ini bagian dari dakwah. Biarlah Allah yang membalas semua jerih payah kita. Bayaran Allah jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini”
Di tempat berbeda, seorang pemuda dari partai yang lain terlihat tengah memasang spanduk seorang calon anggota legislatif, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB. Rupanya, puluhan bahkan ratusan spanduk yang bertebaran di jalan raya itu hasil kerja kerasnya bersama dengan beberapa kader partai lainnya. Yang menarik, ternyata ia dan rekan-rekannya tak benar-benar mengenal foto-foto yang terpasang di berbagai spanduk yang dipasangnya itu. Namun jawaban soal mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu jauh lebih menarik untuk disimak, “Saya percaya orang-orang ini akan berjuang mengusung aspirasi rakyat. Mereka orang-orang bersih, berdedikasi dan punya kapabilitas untuk menduduki kursi parlemen”.
“Tapi Anda kan tidak benar-benar mengenal mereka, bagaimana bisa punya penilaian seperti itu?”
“Mmm… itu yang disampaikan para pimpinan kami di partai,” ujarnya.
Nanti, jelang waktu pemilu semakin dekat. Kita akan melihat jutaan orang rela berkumpul di sebuah lapangan meneriakkan yel-yel, slogan-slogan partai, juga mengelu-elukan jagonya, mengibarkan bendera partai. Sebagian anak-anak muda bahkan rela mengecat wajahnya dengan lambang partai, kaum ibu sambil menggendong anak-anak bayinya di terik panas, bersedia mengenakan baju, jas, jilbab sampai kaus kaki berlogo partai yang diyakininya itu. Jangan aneh pula bila menemukan beragam kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua sampai mobil-mobil yang tergolong mahal rela dicat atau ditempeli stiker logo partai, dari ukuran kecil sampai yang menutupi hampir seluruh body kendaraannya.
Dan ketika sang jagoan naik ke atas podium, serentak menyambutnya dengan tepuk tangan layaknya artis, eh bukan, lebih tepatnya pahlawan. Padahal mereka baru memulai perjuangan dengan mencalonkan atau dicalonkan sebagai anggota dewan, tetapi inilah gambaran harapan rakyat di bawah akan perubahan yang diusung oleh partai dan para calon legislatifnya.
Teriakan “Allahu Akbar” membahana membelah langit, kalimat yang sama juga yang terdengar dari calon anggota parlemen lainnya, dari partai yang berbeda. Entah kenapa, ini seperti kalimat sakti yang bisa menyihir semua pendukung partai untuk meyakini bahwa orang yang barusan berteriak “Allahu Akbar” di atas podium itu benar-benar orang baik, shalih dan dianggap amanah, bersih, bahkan diyakini tidak akan mencederai kepercayaan yang disematkan di pundaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti korupsi atau tindakan tak pantas lainnya yang kerap kita dengar dan lihat terjadi di Senayan.
Percaya atau tidak, sampai detik ini masih ada kader-kader partai yang meyakini sampai ke tulang, bahwa orang-orang yang diusung sebagai anggota dewan ini jujur dan tak mungkin korupsi. “Mereka dibina bertahun-tahun, punya banyak jamaah pula. Kapasitas mereka mumpuni, dan mereka dikenal bersih”. Ada pula yang berkata, “Mereka orang-orang yang dekat dengan masyarakat, dikenal baik oleh tetangganya sebagai tokoh masyarakat atau pengurus masjid”. Ada lagi yang berkomentar seperti ini, “Rajin beribadah, juga rutin menghadiri kajian. Saya dengar sholat malamnya juga rajin. Masak sih dia akan korupsi?”. Bahkan pendapat yang lebih bombastis, “Bab korupsi itu materi pengajian yang selalu diulang-ulang dalam kelompok kami. Jadi mereka sudah tahu persis hukumnya…”
Calon anggota dewan, juga yang sekarang sudah menjadi anggota dewan, layaknya dewa yang diyakini selalu bersih dan tidak mungkin berbuat salah. Ini fakta, nyata, realita alias benar-benar ada.
Keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan dan loyalitas yang ditunjukkan para kader partai adalah cermin hebatnya sebuah sistem dibangun. Sebuah kondisi yang memerlukan waktu bertahun-tahun, dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang dibina hingga menjadi sebuah komunitas besar dengan keseragaman ciri dan kebiasaan. Kader-kader partai tertentu misalnya, bisa sangat mudah dikenali dari cara berpakaiannya, bahasa dan istilah yang dipakainya, pergaulannya, kehidupan sehari-harinya, juga aksesoris di tubuhnya.
Hanya saja, patut disayangkan ketika keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan, dan loyalitas yang mereka berikan seutuhnya untuk partai dan para petinggi partai ini justru dimanfaatkan secara tak tepat. Kader-kader partai ini sudah cukup silau dengan prestasi, portofolio dan bahkan label “Ustadz” atau “Da’i” yang ada pada para calon penghuni Senayan itu. Terlebih jika guru mengaji mereka yang mengeluarkan fatwa, diselipi dalil-dalil. Sikap mereka pun seragam, “kami dengar dan kami taat”.
Ummat, paling dicari ketika musim pemilu tiba. Rakyat adalah komoditas paling laku untuk dijual di musim ini. Seseorang bisa menjadi calon anggota legislatif karena dianggap memiliki jamaah atau pengikuti yang setia. Tidak hanya itu, nilai seorang calon legislatif ini pun bisa terdongkrak ke puncak bila ia diyakini mampu menjadi vote getter bagi partainya. Berbekal janji manis, ummat pun rela mengeluarkan uang, tenaga dan pikirannya untuk memuluskan jalan jagoannya melenggang ke Senayan.
Para calon anggota legislatif ini berani bertarung berebut kursi parlemen lantaran merasa memiliki dukungan yang cukup signifikan dari ummatnya, rakyatnya, warganya atau pengikut yang mengenalnya. Pimpinan partai pun harus jeli menyusun nomor urut para calon legislatifnya, nomor urut satu sudah pasti yang paling dianggap mampu meraih sebanyak-banyaknya suara ummat.
Ketika waktunya tiba, para dewa dan jagoan berhasil digelandang menuju Senayan. Teriakan takbir kembali membahana, sebagai ungkapan syukur atas kesuksesan yang diraih. Jerih payah, peluh, bahkan darah yang tumpah selama masa kampanye hilang sudah, terbasuh oleh senyum ceria para politisi yang baru saja dilantik dan resmi menyandang gelar anggota parlemen. Kader-kader partai ini pun kembali ke rumah masing-masing, masih dengan membawa rasa syukur atas kesuksesan partainya meraih suara signifikan, yang artinya lebih banyak calon legislatif yang berhasil dihantarkan ke gedung DPR.
Sedih rasanya melihat nasib ummat yang hanya laku dijual pada saat musim kampanye menjelang pemilu ini. Sementara mereka terus berjuang bertahan hidup dengan segala keterbatasan, para anggota dewan yang diusungnya tengah menikmati hidup berlebihan. Disaat sebagian kader yang berjuang dengan bayaran “ikhlas karena Allah” terseok-seok di jalan mencari sesuap nasi, para dewa di parlemen tengah menikmati makan siang di sebuah restoran mewah bersama para kolega atau pejabat pemerintah. Ketika kader-kader militan ini dilanda kebingungan harus membayar kontrakan yang sudah menunggak empat bulan, yang duduk di parlemen justru sibuk menambah rumah dan kendaraan mereka.
Yang lebih menyedihkan, sampai detik ini masih banyak ummat yang mau dan rela diperdagangkan. Mereka tidak menyadari bahwa disaat menjelang pemilu, satu suara mereka sangat mahal harganya. Namun usai pemilu, berteriak sampai urat leher putus pun suara mereka takkan pernah mampu menembus dinding tebal gedung parlemen.
Maka tidak heran ketika seorang teman bertanya, “dagang apa nih yang bagus sekarang?” Teman lain di sebelahnya ketus menjawab, “dagang ummat”. Wallaahu a’lam (gaw)
Ia, pemuda itu, satu dari sekian juta kader-kader partai di negeri ini yang rela melakukan apapun untuk partai yang dicintainya, demi nilai-nilai yang diperjuangkan partainya meskipun tidak mendapatkan bayaran, insentif atau bonus sepeser pun. Sekadar makan siang dan sebotol air mineral, ditambah sebuah doktrin guru mengajinya, “Berjuang harus ikhlas, ini bagian dari dakwah. Biarlah Allah yang membalas semua jerih payah kita. Bayaran Allah jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini”
Di tempat berbeda, seorang pemuda dari partai yang lain terlihat tengah memasang spanduk seorang calon anggota legislatif, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB. Rupanya, puluhan bahkan ratusan spanduk yang bertebaran di jalan raya itu hasil kerja kerasnya bersama dengan beberapa kader partai lainnya. Yang menarik, ternyata ia dan rekan-rekannya tak benar-benar mengenal foto-foto yang terpasang di berbagai spanduk yang dipasangnya itu. Namun jawaban soal mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu jauh lebih menarik untuk disimak, “Saya percaya orang-orang ini akan berjuang mengusung aspirasi rakyat. Mereka orang-orang bersih, berdedikasi dan punya kapabilitas untuk menduduki kursi parlemen”.
“Tapi Anda kan tidak benar-benar mengenal mereka, bagaimana bisa punya penilaian seperti itu?”
“Mmm… itu yang disampaikan para pimpinan kami di partai,” ujarnya.
Nanti, jelang waktu pemilu semakin dekat. Kita akan melihat jutaan orang rela berkumpul di sebuah lapangan meneriakkan yel-yel, slogan-slogan partai, juga mengelu-elukan jagonya, mengibarkan bendera partai. Sebagian anak-anak muda bahkan rela mengecat wajahnya dengan lambang partai, kaum ibu sambil menggendong anak-anak bayinya di terik panas, bersedia mengenakan baju, jas, jilbab sampai kaus kaki berlogo partai yang diyakininya itu. Jangan aneh pula bila menemukan beragam kendaraan, mulai dari kendaraan roda dua sampai mobil-mobil yang tergolong mahal rela dicat atau ditempeli stiker logo partai, dari ukuran kecil sampai yang menutupi hampir seluruh body kendaraannya.
Dan ketika sang jagoan naik ke atas podium, serentak menyambutnya dengan tepuk tangan layaknya artis, eh bukan, lebih tepatnya pahlawan. Padahal mereka baru memulai perjuangan dengan mencalonkan atau dicalonkan sebagai anggota dewan, tetapi inilah gambaran harapan rakyat di bawah akan perubahan yang diusung oleh partai dan para calon legislatifnya.
Teriakan “Allahu Akbar” membahana membelah langit, kalimat yang sama juga yang terdengar dari calon anggota parlemen lainnya, dari partai yang berbeda. Entah kenapa, ini seperti kalimat sakti yang bisa menyihir semua pendukung partai untuk meyakini bahwa orang yang barusan berteriak “Allahu Akbar” di atas podium itu benar-benar orang baik, shalih dan dianggap amanah, bersih, bahkan diyakini tidak akan mencederai kepercayaan yang disematkan di pundaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti korupsi atau tindakan tak pantas lainnya yang kerap kita dengar dan lihat terjadi di Senayan.
Percaya atau tidak, sampai detik ini masih ada kader-kader partai yang meyakini sampai ke tulang, bahwa orang-orang yang diusung sebagai anggota dewan ini jujur dan tak mungkin korupsi. “Mereka dibina bertahun-tahun, punya banyak jamaah pula. Kapasitas mereka mumpuni, dan mereka dikenal bersih”. Ada pula yang berkata, “Mereka orang-orang yang dekat dengan masyarakat, dikenal baik oleh tetangganya sebagai tokoh masyarakat atau pengurus masjid”. Ada lagi yang berkomentar seperti ini, “Rajin beribadah, juga rutin menghadiri kajian. Saya dengar sholat malamnya juga rajin. Masak sih dia akan korupsi?”. Bahkan pendapat yang lebih bombastis, “Bab korupsi itu materi pengajian yang selalu diulang-ulang dalam kelompok kami. Jadi mereka sudah tahu persis hukumnya…”
Calon anggota dewan, juga yang sekarang sudah menjadi anggota dewan, layaknya dewa yang diyakini selalu bersih dan tidak mungkin berbuat salah. Ini fakta, nyata, realita alias benar-benar ada.
Keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan dan loyalitas yang ditunjukkan para kader partai adalah cermin hebatnya sebuah sistem dibangun. Sebuah kondisi yang memerlukan waktu bertahun-tahun, dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang dibina hingga menjadi sebuah komunitas besar dengan keseragaman ciri dan kebiasaan. Kader-kader partai tertentu misalnya, bisa sangat mudah dikenali dari cara berpakaiannya, bahasa dan istilah yang dipakainya, pergaulannya, kehidupan sehari-harinya, juga aksesoris di tubuhnya.
Hanya saja, patut disayangkan ketika keikhlasan, keyakinan, kecintaan, pengorbanan, dan loyalitas yang mereka berikan seutuhnya untuk partai dan para petinggi partai ini justru dimanfaatkan secara tak tepat. Kader-kader partai ini sudah cukup silau dengan prestasi, portofolio dan bahkan label “Ustadz” atau “Da’i” yang ada pada para calon penghuni Senayan itu. Terlebih jika guru mengaji mereka yang mengeluarkan fatwa, diselipi dalil-dalil. Sikap mereka pun seragam, “kami dengar dan kami taat”.
Ummat, paling dicari ketika musim pemilu tiba. Rakyat adalah komoditas paling laku untuk dijual di musim ini. Seseorang bisa menjadi calon anggota legislatif karena dianggap memiliki jamaah atau pengikuti yang setia. Tidak hanya itu, nilai seorang calon legislatif ini pun bisa terdongkrak ke puncak bila ia diyakini mampu menjadi vote getter bagi partainya. Berbekal janji manis, ummat pun rela mengeluarkan uang, tenaga dan pikirannya untuk memuluskan jalan jagoannya melenggang ke Senayan.
Para calon anggota legislatif ini berani bertarung berebut kursi parlemen lantaran merasa memiliki dukungan yang cukup signifikan dari ummatnya, rakyatnya, warganya atau pengikut yang mengenalnya. Pimpinan partai pun harus jeli menyusun nomor urut para calon legislatifnya, nomor urut satu sudah pasti yang paling dianggap mampu meraih sebanyak-banyaknya suara ummat.
Ketika waktunya tiba, para dewa dan jagoan berhasil digelandang menuju Senayan. Teriakan takbir kembali membahana, sebagai ungkapan syukur atas kesuksesan yang diraih. Jerih payah, peluh, bahkan darah yang tumpah selama masa kampanye hilang sudah, terbasuh oleh senyum ceria para politisi yang baru saja dilantik dan resmi menyandang gelar anggota parlemen. Kader-kader partai ini pun kembali ke rumah masing-masing, masih dengan membawa rasa syukur atas kesuksesan partainya meraih suara signifikan, yang artinya lebih banyak calon legislatif yang berhasil dihantarkan ke gedung DPR.
Sedih rasanya melihat nasib ummat yang hanya laku dijual pada saat musim kampanye menjelang pemilu ini. Sementara mereka terus berjuang bertahan hidup dengan segala keterbatasan, para anggota dewan yang diusungnya tengah menikmati hidup berlebihan. Disaat sebagian kader yang berjuang dengan bayaran “ikhlas karena Allah” terseok-seok di jalan mencari sesuap nasi, para dewa di parlemen tengah menikmati makan siang di sebuah restoran mewah bersama para kolega atau pejabat pemerintah. Ketika kader-kader militan ini dilanda kebingungan harus membayar kontrakan yang sudah menunggak empat bulan, yang duduk di parlemen justru sibuk menambah rumah dan kendaraan mereka.
Yang lebih menyedihkan, sampai detik ini masih banyak ummat yang mau dan rela diperdagangkan. Mereka tidak menyadari bahwa disaat menjelang pemilu, satu suara mereka sangat mahal harganya. Namun usai pemilu, berteriak sampai urat leher putus pun suara mereka takkan pernah mampu menembus dinding tebal gedung parlemen.
Maka tidak heran ketika seorang teman bertanya, “dagang apa nih yang bagus sekarang?” Teman lain di sebelahnya ketus menjawab, “dagang ummat”. Wallaahu a’lam (gaw)
Thursday, October 23, 2008
Peduli Sahabat
Tahun 1993, sehari menjelang ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Seorang remaja berinisial DK, jatuh sakit. Sebenarnya, sakit adalah keseharian DK, sehingga setiap kali mendengar ia sakit, sahabat-sahabatnya menganggap lumrah, “Kalau DK sakit itu biasa, tapi kalau ia sehat, baru luar biasa” ungkap sahabat-sahabatnya.
Tetapi malam itu berbeda, sakitnya lebih parah dari biasanya. Beberapa pekan sebelumnya ia menderita sakit tipus selama hampir tiga bulan. Kemudian ia kembali jatuh sakit dengan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Padahal esok pagi ia harus mengikuti ujian masuk di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah yang sekarang bernama Universitas Islam Negeri (UIN) di Ciputat.
Kuliah di IAIN adalah impian seorang DK, sejak di bangku SLTA ia sudah bercita-cita ingin masuk kampus tersebut. Para sahabatnya tahu persis impian itu, bagi DK segala kemampuan akan dikerahkannya untuk bisa mendapatkan satu kursi di kampus yang telah lama diidamkannya itu. Namun malam itu ia terpaksa berkata lain, “Nampaknya saya harus mengubur impian ini, jangankan untuk mengikuti ujian, bangun dari tempat tidur pun saya tidak kuat”. Beberapa sahabat yang menemani tertunduk lesu, tak tega melihat sahabatnya terpuruk dalam kesedihan yang berlipat, sedih karena menderita sakit, ditambah tidak bisa mengikuti ujian esok pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, seorang sahabat mencoba menyemangati DK agar tak lekas menyerah. “Tapi mana mungkin? Saya sih yakin bisa menyelesaikan soal-soal ujian besok, tetapi malam ini saja saya masih tergolek lemah di tempat tidur…” DK tak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menghela nafas panjang. Bisa terlihat oleh para sahabatnya, DK tengah mencoba melupakan impiannya kuliah di IAIN.
Sahabat-sahabatnya tahu persis, DK salah seorang pelajar yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata, sehingga mereka pun percaya DK mampu menyelesaikan soal-soal ujian. Setelah berembuk sejenak dan memahami pokok masalahnya hanya pada masalah fisik, para sahabat itu pun menawarkan bantuan. “Begini kawan, bagaimana kalau kami berlima ini mengantar DK ke Ciputat malam ini juga. Biar cukup istirahat dan besok bisa ikut ujian…”
Rupanya tawaran sahabat-sahabatnya itu disambut antusias oleh DK. Ia seolah tak peduli lagi dengan sakit yang dideritanya. Malam itu juga, segala perlengkapan disiapkan, mulai dari buku-buku, pakaian untuk ujian, juga jaket untuk menahan dinginnya malam. Lewat pukul 21.00 WIB, mereka bergegas menuju Ciputat. Perjalanan dari Perumnas Tangerang ke Ciputat diperkirakan memakan waktu kurang lebih dua jam dengan menumpang tiga kali angkutan umum.
Sahabat-sahabat itu bergantian membopong tubuh lemah DK, satu orang bertugas membawa barang-barang milik DK. Di perjalanan, sahabat-sahabat itu merasa khawatir dengan kondisi kesehatan DK, “kalau tidak kuat, kita kembali saja ya…” ujar salah seorang sahabat.
Namun yang keluar dari mulut DK, “Bersama kalian, saya merasa kuat dan sehat”. Para sahabat pun tersenyum bertambah semangat meski tersengal-sengal membopong tubuh DK. Maklum, tubuh ke enam sahabat itu sama kecilnya, dengan usia yang masih remaja, relatif sama dan sama-sama baru lulus SLTA.
Selang hampir dua jam, mereka pun tiba di sebuah kamar kos milik seorang teman di belakang kampus IAIN. Para sahabat itu menitipkan DK kepada teman-teman di kamar kos, agar mau menjaganya sekaligus mengantar DK ke lokasi ujian esok hari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika para sahabat itu berpamitan pulang. DK sempat mengucapkan terima kasih, “Saya tidak akan pernah lupa apa yang sahabat-sahabat lakukan malam ini. Saya akan membayarnya dengan berhasil lulus ujian besok,” janji DK.
DK berhasil lulus ujian dan kuliah di kampus impiannya itu. Ia cukup dikenal sebagai salah satu mahasiswa cerdas dan penggerak kegiatan dakwah di IAIN kala itu. Selain menjadi redaktur di sebuah majalah Islam, kini ia mengabdikan diri dan ilmunya dengan membuka RUMAH AUTIS, sebuah klinik terapi bagi anak-anak autis.
***
Ketika kekuatan mulai tergerus dan melemahkan semangat, sahabat mampu mengalirkan energi yang bersumber dari cinta dan kasih sayang. Sahabat peduli sahabat, sebuah kebajikan yang terus berbalas, ibarat sebuah mata rantai baja yang tak lekang dipanggang api. Semakin panas apinya, semakin rantai itu, semakin kokoh pula ikatannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti, School of Life (SOL), Bersama Gaw
Chapter “Sahabat Peduli Sahabat”
Ahad, 9 November 2008
Pukul 08.30 – 11.30 WIB,
Sari Melayu Resto, Jl. KH. Ahmad Dahlan (depan Labschool Kebayoran), Jakarta Selatan
Joining Fee; Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah)
Reservasi;
Balisdjadi 0813 999 80000 – 999 80000 atau email ke; bayugautama@yahoo.com
Program ini didukung oleh http://warnaislam.com
Tetapi malam itu berbeda, sakitnya lebih parah dari biasanya. Beberapa pekan sebelumnya ia menderita sakit tipus selama hampir tiga bulan. Kemudian ia kembali jatuh sakit dengan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Padahal esok pagi ia harus mengikuti ujian masuk di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah yang sekarang bernama Universitas Islam Negeri (UIN) di Ciputat.
Kuliah di IAIN adalah impian seorang DK, sejak di bangku SLTA ia sudah bercita-cita ingin masuk kampus tersebut. Para sahabatnya tahu persis impian itu, bagi DK segala kemampuan akan dikerahkannya untuk bisa mendapatkan satu kursi di kampus yang telah lama diidamkannya itu. Namun malam itu ia terpaksa berkata lain, “Nampaknya saya harus mengubur impian ini, jangankan untuk mengikuti ujian, bangun dari tempat tidur pun saya tidak kuat”. Beberapa sahabat yang menemani tertunduk lesu, tak tega melihat sahabatnya terpuruk dalam kesedihan yang berlipat, sedih karena menderita sakit, ditambah tidak bisa mengikuti ujian esok pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, seorang sahabat mencoba menyemangati DK agar tak lekas menyerah. “Tapi mana mungkin? Saya sih yakin bisa menyelesaikan soal-soal ujian besok, tetapi malam ini saja saya masih tergolek lemah di tempat tidur…” DK tak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menghela nafas panjang. Bisa terlihat oleh para sahabatnya, DK tengah mencoba melupakan impiannya kuliah di IAIN.
Sahabat-sahabatnya tahu persis, DK salah seorang pelajar yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata, sehingga mereka pun percaya DK mampu menyelesaikan soal-soal ujian. Setelah berembuk sejenak dan memahami pokok masalahnya hanya pada masalah fisik, para sahabat itu pun menawarkan bantuan. “Begini kawan, bagaimana kalau kami berlima ini mengantar DK ke Ciputat malam ini juga. Biar cukup istirahat dan besok bisa ikut ujian…”
Rupanya tawaran sahabat-sahabatnya itu disambut antusias oleh DK. Ia seolah tak peduli lagi dengan sakit yang dideritanya. Malam itu juga, segala perlengkapan disiapkan, mulai dari buku-buku, pakaian untuk ujian, juga jaket untuk menahan dinginnya malam. Lewat pukul 21.00 WIB, mereka bergegas menuju Ciputat. Perjalanan dari Perumnas Tangerang ke Ciputat diperkirakan memakan waktu kurang lebih dua jam dengan menumpang tiga kali angkutan umum.
Sahabat-sahabat itu bergantian membopong tubuh lemah DK, satu orang bertugas membawa barang-barang milik DK. Di perjalanan, sahabat-sahabat itu merasa khawatir dengan kondisi kesehatan DK, “kalau tidak kuat, kita kembali saja ya…” ujar salah seorang sahabat.
Namun yang keluar dari mulut DK, “Bersama kalian, saya merasa kuat dan sehat”. Para sahabat pun tersenyum bertambah semangat meski tersengal-sengal membopong tubuh DK. Maklum, tubuh ke enam sahabat itu sama kecilnya, dengan usia yang masih remaja, relatif sama dan sama-sama baru lulus SLTA.
Selang hampir dua jam, mereka pun tiba di sebuah kamar kos milik seorang teman di belakang kampus IAIN. Para sahabat itu menitipkan DK kepada teman-teman di kamar kos, agar mau menjaganya sekaligus mengantar DK ke lokasi ujian esok hari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika para sahabat itu berpamitan pulang. DK sempat mengucapkan terima kasih, “Saya tidak akan pernah lupa apa yang sahabat-sahabat lakukan malam ini. Saya akan membayarnya dengan berhasil lulus ujian besok,” janji DK.
DK berhasil lulus ujian dan kuliah di kampus impiannya itu. Ia cukup dikenal sebagai salah satu mahasiswa cerdas dan penggerak kegiatan dakwah di IAIN kala itu. Selain menjadi redaktur di sebuah majalah Islam, kini ia mengabdikan diri dan ilmunya dengan membuka RUMAH AUTIS, sebuah klinik terapi bagi anak-anak autis.
***
Ketika kekuatan mulai tergerus dan melemahkan semangat, sahabat mampu mengalirkan energi yang bersumber dari cinta dan kasih sayang. Sahabat peduli sahabat, sebuah kebajikan yang terus berbalas, ibarat sebuah mata rantai baja yang tak lekang dipanggang api. Semakin panas apinya, semakin rantai itu, semakin kokoh pula ikatannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti, School of Life (SOL), Bersama Gaw
Chapter “Sahabat Peduli Sahabat”
Ahad, 9 November 2008
Pukul 08.30 – 11.30 WIB,
Sari Melayu Resto, Jl. KH. Ahmad Dahlan (depan Labschool Kebayoran), Jakarta Selatan
Joining Fee; Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah)
Reservasi;
Balisdjadi 0813 999 80000 – 999 80000 atau email ke; bayugautama@yahoo.com
Program ini didukung oleh http://warnaislam.com
Subscribe to:
Posts (Atom)