Sahabat saya, Hesti atau biasa dipanggil Titi, 17 tahun harus mendekam di kamarnya tanpa banyak yang bisa diperbuatnya, kecuali hal-hal sederhana seperti sholat, makan dan nonton tv. Selebihnya, ia harus dibantu oleh keponakannya. Titi menderita penyakit radang sendi yang menyebabkan kelumpuhan total.
Lebih lengkap tentang Titi, bisa dilihat cerita di URL berikut: http://gawtama.multiply.com/journal/item/96 dan http://gawtama.multiply.com/journal/item/98/Nabi_Ayub_Pun_Tersenyum
Lain halnya dengan RD, saya tak mendapat izin untuk menyebut langsung namanya. Status RS sebagai isteri kedua. Hampir selama pernikahannya ia kerap mendapat perlakuan memalukan dan kasar, baik dari isteri pertama suaminya dan juga suaminya. Padahal, mulanya sang isteri pertama itulah yang meminta sambil menangis-nangis agar RD mau menikah dengan suaminya.
RD pernah didatangi isteri pertama suaminya di kantornya, dijambak jilbabnya hingga lepas dan semua orang termasuk laki-laki di kantornya melihatnya tanpa jilbab. Ia juga pernah dihajar hingga babak belur oleh isteri pertama suaminya itu dan juga keluarga isteri pertama itu.
Masih menurut RD, sepanjang 2003-2006, ia sangat kenyang dengan caci maki, bentakan, amarah dan pukulan serta tendangan dari sang suami. Ia pernah ditalak oleh suaminya, namun sang suami kembali kepadanya dan tetap dilayani dengan baik oleh RD.
RD tak pernah mengerti, kenapa ia mengalami peristiwa ini. Apakah Allah sedang menguji kesabarannya?
Hesti/Titi dan RD akan menjadi Life Inspirator -sebutan di SOL untuk bintang tamu- pada kelas SOL khususnya di Chapter "Sabar Itu Nikmat". Di Jakarta, akan digelar di Hotel Sofyan Cikini, dekat Taman Ismail Marzuki, Sabtu 2 Agustus 2008, pukul 09.00 - 12.00. Sedangkan di Bandung, Sabtu 9 Agustus 2008, pukul 15.30 - 18.00 WIB, di Hotel Panghegar. Hesti akan menjadi Life Inspirator di Hotel Sofyan, Jakarta, 2 Agustus. Sementara RD di Bandung.
Jangan ketinggalan untuk belajar tentang kesabaran dari dua makhluk Allah yang luar biasa ini. Daftarkan segera ke email: schooloflife.gaw@gmail.com atau hubungi Andips 0856 111 5545, Bambang 0852 843 80000 dan Novi 02202372700 (bandung). http://bayugawtama.net
Tempat terbatas, hanya untuk 50 orang per kelas, baik di Jakarta dan Bandung
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Tuesday, July 29, 2008
Monday, July 28, 2008
[SOL] Bandung; Jujur, Saya menangis untuk perjuangan Ibu N
Speechless, saya kehilangan kata-kata, dan mata ini langsung berkaca-kaca mendengar kisah mengharukan dari Ibu N -maaf saya belum mendapat izin menyebut namanya di publik- pada kelas School of Life (SOL) Chapter "Mudahnya Memaafkan", 26 Juli 2008 di Hotel Panghegar, Bandung.
Tanpa harus merinci detil kisahnya seperti yang dituturkannya pada sore itu, N menghadapi sebuah masalah yang sangat serius dalam perjalanan hidupnya berkenaan dengan sang buah hati dan keluarga besarnya. Intinya, kurang lebih satu tahun lalu ia dan suaminya merelakan anak sulungnya, sebut saja Kaka, "dipinjam" oleh saudara dari suaminya dengan alasan sebagai pemancing agar keluarga itu segera diberi momongan oleh Allah.
Mulanya N dengan berat hati melepas Kaka, namun karena ia merasa kasihan dengan saudaranya itu, maka ia pun membolehkan dengan catatan diperbolehkan menjenguk anaknya setiap bulan. Kaka pun dibawa dan tinggal bersama keluarga barunya di salah satu kota di pinggiran Jakarta.
Bagaimanapun, ibu tetaplah ibu, ia akan tetap menjadi ibu bagi anaknya. Ia berdiskusi kepada suaminya untuk mengambil kembali Kaka untuk dibawa ke Bandung. Suaminya setuju dan mulai melakukan pendekatan kepada keluarganya agar diizinkan mengambil kembali anaknya. Terlebih setelah N dan suaminya mengetahui bahwa isteri dari saudaranya itu positif mengidap Miom dan hampir tidak mungkin mendapatkan anak. Tetapi yang terjadi berbeda, dari niatnya "meminjam", berubah ada rasa ingin memiliki. Sisi positifnya, mereka memang sangat menyayangi Kaka seperti anaknya sendiri. Tetapi N dan suaminya tetap merasa lebih berhak mendidik anaknya sendiri.
Masalah ini pun menjadi masalah besar antar dua keluarga. N sempat dilarang untuk sering-sering menjenguk Kaka. "Nanti Kaka ingat terus sama ibunya", begitu alasannya. N makin bingung kenapa ia sebagai ibunya dilarang menengok anaknya sendiri.
Berat bagi N dan suaminya menyelesaikan masalah ini, karena ancaman terburuk jika ia memaksa mengambil Kaka adalah perpecahan keluarga. Ia dan suaminya terus berupaya sambil memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam menyelesaikan masalah tersebut. N sempat merasa sangat marah dan merasa tak mudah memaafkan sikap saudaranya yang tak mau melepas Kaka.
Tetapi perlahan masalah ini pun bisa terselesaikan dengan komunikasi yang baik dan kesabaran yang luar biasa dari N dan suaminya. Ia sangat ingin Kaka kembali tanpa harus membuat perpecahan di keluarganya. Alhamdulillah setelah melalui proses panjang, akhirnya Kaka pun kembali. Dan hari Sabtu 26 Juli itulah hari bahagia N dan Kaka, karena di hari itulah Kaka dijemput Ayahnya.
"Apakah saya tak berhak marah?" tanya N kepada kelas SOL
Sekali lagi, saya tak mampu berkata apapun. Begitu juga dengan peserta lainnya.
Sobat, Al Gazhali berkata, Seseorang dibolehkan marah jika memiliki alasan yang tepat untuk marah. Terpenting dari itu adalah, bagaimana ia melampiaskan amarahnya itu dengan cara yang wajar, sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan orang lain yang menjadi objek marahnya. Sebab kebanyakan yang terjadi, kita kerap mencari-cari alasan untuk marah dan ketika melampiaskannya sangat berlebihan, sangat tidak seimbang dengan tingkat kesalahan orang itu.
Tetapi, tetaplah memaafkan lebih baik bukan?
Masih ada kisah lanjutan dari Bandung. Ditunggu, atau daripada menunggu, bergabunglah dengan kelas SOL.
Hubungi Andips, 0856 1115545
email: schooloflife.gaw@gmail.com
http://bayugawtama.net/?p=19
Tanpa harus merinci detil kisahnya seperti yang dituturkannya pada sore itu, N menghadapi sebuah masalah yang sangat serius dalam perjalanan hidupnya berkenaan dengan sang buah hati dan keluarga besarnya. Intinya, kurang lebih satu tahun lalu ia dan suaminya merelakan anak sulungnya, sebut saja Kaka, "dipinjam" oleh saudara dari suaminya dengan alasan sebagai pemancing agar keluarga itu segera diberi momongan oleh Allah.
Mulanya N dengan berat hati melepas Kaka, namun karena ia merasa kasihan dengan saudaranya itu, maka ia pun membolehkan dengan catatan diperbolehkan menjenguk anaknya setiap bulan. Kaka pun dibawa dan tinggal bersama keluarga barunya di salah satu kota di pinggiran Jakarta.
Bagaimanapun, ibu tetaplah ibu, ia akan tetap menjadi ibu bagi anaknya. Ia berdiskusi kepada suaminya untuk mengambil kembali Kaka untuk dibawa ke Bandung. Suaminya setuju dan mulai melakukan pendekatan kepada keluarganya agar diizinkan mengambil kembali anaknya. Terlebih setelah N dan suaminya mengetahui bahwa isteri dari saudaranya itu positif mengidap Miom dan hampir tidak mungkin mendapatkan anak. Tetapi yang terjadi berbeda, dari niatnya "meminjam", berubah ada rasa ingin memiliki. Sisi positifnya, mereka memang sangat menyayangi Kaka seperti anaknya sendiri. Tetapi N dan suaminya tetap merasa lebih berhak mendidik anaknya sendiri.
Masalah ini pun menjadi masalah besar antar dua keluarga. N sempat dilarang untuk sering-sering menjenguk Kaka. "Nanti Kaka ingat terus sama ibunya", begitu alasannya. N makin bingung kenapa ia sebagai ibunya dilarang menengok anaknya sendiri.
Berat bagi N dan suaminya menyelesaikan masalah ini, karena ancaman terburuk jika ia memaksa mengambil Kaka adalah perpecahan keluarga. Ia dan suaminya terus berupaya sambil memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam menyelesaikan masalah tersebut. N sempat merasa sangat marah dan merasa tak mudah memaafkan sikap saudaranya yang tak mau melepas Kaka.
Tetapi perlahan masalah ini pun bisa terselesaikan dengan komunikasi yang baik dan kesabaran yang luar biasa dari N dan suaminya. Ia sangat ingin Kaka kembali tanpa harus membuat perpecahan di keluarganya. Alhamdulillah setelah melalui proses panjang, akhirnya Kaka pun kembali. Dan hari Sabtu 26 Juli itulah hari bahagia N dan Kaka, karena di hari itulah Kaka dijemput Ayahnya.
"Apakah saya tak berhak marah?" tanya N kepada kelas SOL
Sekali lagi, saya tak mampu berkata apapun. Begitu juga dengan peserta lainnya.
Sobat, Al Gazhali berkata, Seseorang dibolehkan marah jika memiliki alasan yang tepat untuk marah. Terpenting dari itu adalah, bagaimana ia melampiaskan amarahnya itu dengan cara yang wajar, sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan orang lain yang menjadi objek marahnya. Sebab kebanyakan yang terjadi, kita kerap mencari-cari alasan untuk marah dan ketika melampiaskannya sangat berlebihan, sangat tidak seimbang dengan tingkat kesalahan orang itu.
Tetapi, tetaplah memaafkan lebih baik bukan?
Masih ada kisah lanjutan dari Bandung. Ditunggu, atau daripada menunggu, bergabunglah dengan kelas SOL.
Hubungi Andips, 0856 1115545
email: schooloflife.gaw@gmail.com
http://bayugawtama.net/?p=19
Inspiring Moment from School of Life (SOL) Bandung
Budhi, salah seorang peserta School of Life (SOL) chapter "Mudahnya Memaafkan" di Bandung, 26 Juli 2008, di Hotel Panghegar, pada sessi "inspiring moment" menceritakan pengalaman barunya ketika pertama kali membeli sepeda motor. Menurutnya, ia baru sekitar satu bulan membeli sepeda motor jenis kopling. Yang menarik, saat membeli motor itu, ia sama sekali belum bisa mengendarai motor sehingga ketika motor itu tiba di rumahnya, ia kebingungan mencari orang yang mau mengajarinya mengendarai motor.
Beberapa sahabat yang diminta mengajari mengaku tak bersedia. Budhi pun bingung mencari orang lain sampai setelah beberapa hari ia pun mendapatkan orang itu. Tak disangka, yang bersedia mengajarinya adalah seorang SATPAM di kantor tempatnya bekerja. Ia bekerja sebagai tenaga IT (information technology) di ITB.
Saat belajar mengendarai motor, ia mengira dengan membiarkan kakinya agak menempel ke aspal akan membuat ia merasa aman. "Kalau mau jatuh, saya bisa dengan segera menginjakkan kaki ke jalan". Pelajaran yang didapat dari Budhi saat belajar motor berbeda, ia justru tak dapat menjaga keseimbangan dengan kaki yang dibiarkan agak menyisir aspal. Ketika diangkat dan diletakkan di footstep, keseimbangan pun didapatnya.
Ada dua pelajaran dari Budhi; pertama, kita tak pernah menyangka siapa yang akan menolong disaat kesulitan. ketika sahabat-sahabat tak bersedia, seorang SATPAM menjadi penolong bagi Budhi.
Kedua; soal kaki yang ditempatkan pada tempat sebenarnya dan ia mendapatkan keseimbangan. Ini mengajarkan kita bahwa, segala sesuatu itu harus dilakukan sesuai aturan yang berlaku agar tetap berjalan semestinya. Keseimbangan dalam kehidupan akan terjadi sepanjang kita melakukan segalanya sesuai dengan yang semestinya.
Sobat, saya belum menceritakan kisah menarik lainnya berkenaan dengan tema chapter di bandung ini. Ini baru kisah awal di sessi Inspring Moment. Nantikan kisah selanjutnya dari SOL Bandung. Atau Anda tertarik membagi kisah di SOL?
hubungi: Andips 0865 111 5545
http://bayugawtama.net/?p=19
kirim email ke: schooloflife.gaw@gmail.com
Beberapa sahabat yang diminta mengajari mengaku tak bersedia. Budhi pun bingung mencari orang lain sampai setelah beberapa hari ia pun mendapatkan orang itu. Tak disangka, yang bersedia mengajarinya adalah seorang SATPAM di kantor tempatnya bekerja. Ia bekerja sebagai tenaga IT (information technology) di ITB.
Saat belajar mengendarai motor, ia mengira dengan membiarkan kakinya agak menempel ke aspal akan membuat ia merasa aman. "Kalau mau jatuh, saya bisa dengan segera menginjakkan kaki ke jalan". Pelajaran yang didapat dari Budhi saat belajar motor berbeda, ia justru tak dapat menjaga keseimbangan dengan kaki yang dibiarkan agak menyisir aspal. Ketika diangkat dan diletakkan di footstep, keseimbangan pun didapatnya.
Ada dua pelajaran dari Budhi; pertama, kita tak pernah menyangka siapa yang akan menolong disaat kesulitan. ketika sahabat-sahabat tak bersedia, seorang SATPAM menjadi penolong bagi Budhi.
Kedua; soal kaki yang ditempatkan pada tempat sebenarnya dan ia mendapatkan keseimbangan. Ini mengajarkan kita bahwa, segala sesuatu itu harus dilakukan sesuai aturan yang berlaku agar tetap berjalan semestinya. Keseimbangan dalam kehidupan akan terjadi sepanjang kita melakukan segalanya sesuai dengan yang semestinya.
Sobat, saya belum menceritakan kisah menarik lainnya berkenaan dengan tema chapter di bandung ini. Ini baru kisah awal di sessi Inspring Moment. Nantikan kisah selanjutnya dari SOL Bandung. Atau Anda tertarik membagi kisah di SOL?
hubungi: Andips 0865 111 5545
http://bayugawtama.net/?p=19
kirim email ke: schooloflife.gaw@gmail.com
Subscribe to:
Posts (Atom)