Dadang, 33 tahun, seorang buruh pabrik di Bandung, Jawa Barat. Sebagai buruh pabrik hanya hanya lulusan SLTA, gaji yang diterimanya pun pas-pasan. “Hanya bertahan di sepekan pertama setelah gajian,” terangnya tentang seberapa cukup gaji yang diterimanya untuk menopang hidup. Hari-hari selanjutnya setelah pekan pertama itu, ia jalani dengan penuh keprihatinan. Beruntung ia masih memiliki sepeda untuk ke tempat kerjanya, sementara isterinya mencari penghasilan tambahan dengan mencuci pakaian tetangganya.
Namun, keterbatasan dan kekurangan tak pernah menyurutkan niatnya untuk bisa berqurban. “Malu saya jika setiap tahun hanya menjadi penerima daging qurban. Saya kira jauh lebih nikmat jika kita sendiri yang berqurban,” semangatnya tak pernah padam jika bicara tentang dua impiannya, berqurban dan pergi ke tanah suci. Tetapi menurutnya, tahap pertama dan yang paling mungkin ia lakukan adalah berqurban.
Ternyata, berqurban bagi seorang Dadang bukanlah hal mudah. Tahun 1991, ketika baru lulus SLTA dan mendapatkan pekerjaan, ia langsung bertekad, “Saya ingin berhaji suatu saat, semoga cita-cita yang terkabul,” sembari menambahkan, target pertama sebelum berhaji adalah membeli seekor kambing untuk diqurbankan. Saat itu ia belum menikah dan masih tinggal bersama orang tuanya. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, ia merasa berkewajiban untuk membantu meringankan beban orangtuanya dengan memberi sebagian penghasilannya untuk biaya sekolah adik-adiknya. “Gaji saya waktu itu cuma dua ratusan ribu, sebagian untuk biaya sekolah adik, sebagian lainnya disimpan untuk pegangan”.
Lima ribu rupiah, nilai yang bisa ditabungnya setiap bulan untuk meraih impiannya berqurban. “Tidak peduli perlu waktu berapa tahun untuk bisa terkumpul uang seharga seekor kambing, yang penting tekad saya harus seratus persen,” tegasnya bersemangat. Tentang tekadnya ini, ia tak pernah berkompromi untuk urusan dan kebutuhan apa pun, yang pasti lima ribu rupiah harus ditabung setiap bulannya.
Tekad seratus persen memang semestinya tak boleh terkalahkan oleh apa pun. Empat tahun bekerja mengumpulkan uang antara lima sampai sepuluh ribu setiap bulannya, Dadang mengantongi cukup uang untuk membeli seekor kambing untuk berqurban. Bahkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di tahun 1995 ia redam demi seekor hewan qurban. Pekan ketiga di bulan Ramadhan 1416 H, berbinar mata Dadang menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan karena ia bisa membeli baju baru, tetapi karena ia merasa punya tambahan untuk membeli seekor kambing untuk qurban di hari raya Idul Adha.
Tetapi di tahun itu juga, saat wajahnya berseri menjelang terwujudnya impian untuk berqurban, Dadang harus ikhlas merelakan uang untuk membeli seekor kambing dipakai untuk biaya masuk sekolah adiknya. “Saya ikhlas. Pasti Allah yang mengatur semua ini, dan saya percaya masih ada kesempatan saya di tahun-tahun depan,” sebuah pemelajaran berharga tentang makna berqurban sesungguhnya.
Dadang tak putus asa. Ia kembali merajut hari, menghitung penghasilannya sebagai buruh pabrik serta menyisihkan sebagian kecil untuk ditabung. “Untuk hewan qurban impian saya,” jelasnya. Setelah sekitar tiga tahun menabung, cobaan atas tekadnya itu kembali datang, kali ini cobaannya berupa keinginan Dadang untuk menikah. “Usia saya sudah pantas untuk menikah, lagi pula sudah ada calonnya. Saya tidak ingin berlama-lama punya hubungan tanpa status, takut dosa,” lagi-lagi uang tabungannya terpakai untuk menikah. Saat itu, Dadang sedikit berkilah, “Toh sama-sama ibadah”.
Hari-hari setelah menikah dibayangkan Dadang akan semakin mudah baginya untuk menabung demi hewan qurban impiannya. Sebab, pikir Dadang, kini ia tak sendirian menabung. Ia bisa mengajak isterinya yang juga bekerja untuk ikut menabung agar di tahun depan bisa membeli hewan qurban.
Konon, kenyataan hidup tak pernah seindah mimpi. Begitu pula yang dialami Dadang selama bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama isterinya, Yenni. Terlebih setelah melahirkan putra pertama mereka satu tahun setelah menikah, Yenni tak lagi bekerja. Dadang pun harus sendirian membanting tulang menafkahi keluarga, belum lagi permintaan orang tuanya untuk ikut membantu biaya pendidikan adik bungsunya. Tetapi dalam keadaan seperti itu, Dadang selalu teringat niatnya beberapa tahun lalu untuk bisa berqurban. “Semoga tak hanya tinggal impian, saya masih bertekad mewujudkannya,” kalimat ini menutup lamunannya.
Meski sedikit, ia paksakan diri untuk terus menabung. Kadang, tabungan yang terkumpul terganggu oleh kebutuhan dapur atau susu si kecil. Kebutuhannya bertambah besar, dengan bertambahnya anggota keluarga di rumah Dadang. Dengan dua anak, si sulung butuh biaya sekolah, sedangkan si kecil perlu susu dan makanan bergizi, nampaknya Dadang harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk berqurban, apalagi pergi haji ke tanah suci.
Dadang, lelaki berbadan kurus itu tetap menggenggam tekad berqurbannya dalam genggamannya. Ia tak pernah melepaskan dan membiarkan mimpinya terbang tak berwujud. Setelah empat belas tahun menunggu, tahun 1426 H, impiannya untuk berqurban terwujud sudah. Sebuah perjuangan maha berat selama bertahun-tahun yang dilewatinya terasa begitu ringan setelah ia melunasi mimpinya menyembelih hewan qurbannya dengan tangannya sendiri.
Cermin kepuasan tersirat di wajahnya. Empat belas tahun, waktu yang takkan pernah dilupakan sepanjang hidupnya untuk sebuah mimpi. “Target saya berikutnya adalah berhaji, entah berapa lama waktu saya untuk mewujudkannya. Saya tak peduli,” ujarnya sambil tersenyum.
***
Seberapa berat perjuangan dan pengorbanan kita untuk melakukan sesuatu?
Gaw
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Tuesday, December 19, 2006
Monday, December 18, 2006
Merajut Cinta
Abah, demikian orang memanggilnya. Puluhan tahun ia mengabdikan hidupnya di masjid sebagai marbot, alias pemelihara masjid. Sebelum pindah ke Tangerang kira-kira belasan tahun lalu, ia juga menjalani hidupnya sebagai marbot di Barat Jakarta. Posisinya tergantikan oleh petugas yang lebih muda dan lebih berenergi sehingga mengharuskannya pindah ke Tangerang. Beruntung ia, salah seorang keponakannya di Tangerang menjabat sebagai salah satu pengurus masjid. Maka, Abah pun menetap di masjid itu bersama keluarganya. Tugasnya tetap sama, sebagai pemelihara masjid.
“Ini tugas yang mulia. Saya sangat senang menjalani tugas ini,” ujarnya suatu kali.
Ada saat-saat yang selalu membuatnya gembira, seperti ketika masjid ramai dengan anak-anak yang belajar mengaji. Meski ia harus dibuat lelah dengan polah anak-anak yang mengotori masjid dengan kaki-kaki kotor mereka, namun Abah justru bertambah senang. “Masjid sepi kalau tidak ada mereka. Soal masjid yang kotor, itu sudah menjadi kewajiban Abah. Justru Abah tambah senang, artinya amal Abah tambah banyak” Jelas, tak semua orang mampu berhati lapang sepertinya.
Demikian pula, ada saat-saat yang kadang membuatnya menitikkan airmata. Salah satu agenda tahunan yang kerap membuatnya sedih adalah hari raya Idul Adha, tatkala banyak kaum muslim yang berqurban untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. Qurban, hakikatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara menunjukkan wujud cinta berbentuk sebuah pengorbanan. Adalah Ayahanda Ibrahim yang mengajarkan hakikat cinta seperti ini bersama Ananda Ismail dan ibunya Siti Hajar.
“Abah ingin sekali suatu saat bisa berqurban seperti jamaah lainnya,” ungkapnya tentang sebuah cita-cita yang selama ini baru sebatas mimpi bagi Abah. Ya, Abah tahu persis honornya sebagai pemelihara masjid membuatnya merasa hampir mustahil bisa membeli seekor domba untuk dikurbankan. “Berapa harga seekor kambing sekarang nak?” suatu kali Abah bertanya. Setelah tahu harga yang dimaksud, Abah pun tertunduk lesu. “Entah kapan Abah bisa berqurban seperti orang lain…” lirihnya.
Abah mengaku, ia selalu iri dengan orang-orang yang bisa berqurban setiap tahun. “Orang yang berqurban berarti orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Mereka telah membuktikan sebentuk cinta kepada Tuhan dengan cara berqurban. Ini yang membuat Abah iri, Abah belum bisa mempersembahkan seekor pun untuk dikurbankan,” katanya.
Tetapi Abah bukanlah sosok pemurung yang mudah putus asa. Begitu ia tahu tak mungkin membeli seekor domba, maka bertahun-tahun ia menjalani peran sebagai panitia qurban. Setiap kali penyelenggaraan pemotongan hewan qurban, Abah tak pernah absen berdiri paling depan sebagai panitia. Meski kadang ia mendapat tugas khusus, yakni membersihkan kotoran hewan-hewan yang sudah disembelih. Tak hanya itu, setiap sore saat petugas dan panitia lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing, Abah masih harus membersihkan halaman masjid dari kotoran dan bercak darah yang menempel di lantai masjid.
“Kalau pun saya tidak bisa berqurban langsung, setidaknya Allah tahu Abah berada di tengah-tengah orang yang berqurban. Artinya Allah melihat Abah bersama orang-orang yang mendekatkan diri dan menunjukkan cinta kepada Allah,” terangnya bahagia.
Abah, usianya sudah menginjak tujuh puluh. Ia pun tak lagi bertugas memelihara masjid, namun tak pernah redup semangatnya untuk hadir di hari pemotongan hewan qurban. Tangannya sudah lemah, tenaganya pun sudah berkurang. Tahun lalu, tangan gemetarnya masih memegang sebilah pisau untuk membantu memotong-motong daging qurban. Sesekali ia bersandar di tembok masjid untuk melepas lelah, tak lama ia kembali bergumul dengan daging-daging qurban itu.
Lama sosoknya tak lagi terlihat, mungkin di hari pemotongan hewan qurban tahun ini ia akan muncul lagi. Lengkap dengan sebilah pisau di tangan gemetarnya. Abah, lelaki renta di penghujung usianya terus berjuang merajut cinta, di saat sebagian besar orang mampu membeli cinta Allah dengan berqurban.
Gaw
“Ini tugas yang mulia. Saya sangat senang menjalani tugas ini,” ujarnya suatu kali.
Ada saat-saat yang selalu membuatnya gembira, seperti ketika masjid ramai dengan anak-anak yang belajar mengaji. Meski ia harus dibuat lelah dengan polah anak-anak yang mengotori masjid dengan kaki-kaki kotor mereka, namun Abah justru bertambah senang. “Masjid sepi kalau tidak ada mereka. Soal masjid yang kotor, itu sudah menjadi kewajiban Abah. Justru Abah tambah senang, artinya amal Abah tambah banyak” Jelas, tak semua orang mampu berhati lapang sepertinya.
Demikian pula, ada saat-saat yang kadang membuatnya menitikkan airmata. Salah satu agenda tahunan yang kerap membuatnya sedih adalah hari raya Idul Adha, tatkala banyak kaum muslim yang berqurban untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. Qurban, hakikatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara menunjukkan wujud cinta berbentuk sebuah pengorbanan. Adalah Ayahanda Ibrahim yang mengajarkan hakikat cinta seperti ini bersama Ananda Ismail dan ibunya Siti Hajar.
“Abah ingin sekali suatu saat bisa berqurban seperti jamaah lainnya,” ungkapnya tentang sebuah cita-cita yang selama ini baru sebatas mimpi bagi Abah. Ya, Abah tahu persis honornya sebagai pemelihara masjid membuatnya merasa hampir mustahil bisa membeli seekor domba untuk dikurbankan. “Berapa harga seekor kambing sekarang nak?” suatu kali Abah bertanya. Setelah tahu harga yang dimaksud, Abah pun tertunduk lesu. “Entah kapan Abah bisa berqurban seperti orang lain…” lirihnya.
Abah mengaku, ia selalu iri dengan orang-orang yang bisa berqurban setiap tahun. “Orang yang berqurban berarti orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Mereka telah membuktikan sebentuk cinta kepada Tuhan dengan cara berqurban. Ini yang membuat Abah iri, Abah belum bisa mempersembahkan seekor pun untuk dikurbankan,” katanya.
Tetapi Abah bukanlah sosok pemurung yang mudah putus asa. Begitu ia tahu tak mungkin membeli seekor domba, maka bertahun-tahun ia menjalani peran sebagai panitia qurban. Setiap kali penyelenggaraan pemotongan hewan qurban, Abah tak pernah absen berdiri paling depan sebagai panitia. Meski kadang ia mendapat tugas khusus, yakni membersihkan kotoran hewan-hewan yang sudah disembelih. Tak hanya itu, setiap sore saat petugas dan panitia lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing, Abah masih harus membersihkan halaman masjid dari kotoran dan bercak darah yang menempel di lantai masjid.
“Kalau pun saya tidak bisa berqurban langsung, setidaknya Allah tahu Abah berada di tengah-tengah orang yang berqurban. Artinya Allah melihat Abah bersama orang-orang yang mendekatkan diri dan menunjukkan cinta kepada Allah,” terangnya bahagia.
Abah, usianya sudah menginjak tujuh puluh. Ia pun tak lagi bertugas memelihara masjid, namun tak pernah redup semangatnya untuk hadir di hari pemotongan hewan qurban. Tangannya sudah lemah, tenaganya pun sudah berkurang. Tahun lalu, tangan gemetarnya masih memegang sebilah pisau untuk membantu memotong-motong daging qurban. Sesekali ia bersandar di tembok masjid untuk melepas lelah, tak lama ia kembali bergumul dengan daging-daging qurban itu.
Lama sosoknya tak lagi terlihat, mungkin di hari pemotongan hewan qurban tahun ini ia akan muncul lagi. Lengkap dengan sebilah pisau di tangan gemetarnya. Abah, lelaki renta di penghujung usianya terus berjuang merajut cinta, di saat sebagian besar orang mampu membeli cinta Allah dengan berqurban.
Gaw
Friday, December 15, 2006
Menembus Malam Demi Sepuluh Ribu
Motor yang saya tumpangi merambat pelan di tepi jalan Pasar Ciputat, Tangerang, Banten. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam ketika sorot lampu motor saya menembak seraut wajah mematung berdiri hanya beberapa meter di depan. Matanya terpejam, padahal ia dalam keadaan berdiri, sementara di pundaknya menyangkut sehelai tali yang tersambung ke sebuah kotak seukuran kardus air mineral.
Yanto nama pemuda itu, ia salah satu dari belasan penjual rokok ketengan di Pasar Ciputat. Beberapa detik kemudian, tak sengaja jari tangan kiri ini menekan klakson motor, dan... Yanto pun terkaget. Saya merasa bersalah telah membangunkannya dari 'mimpi'. Boleh jadi, saat tertidur dalam keadaan berdiri itu ia tengah bermimpi melayani serbuan pembeli rokok hingga barang dagangannya malam itu habis terjual. Atau bahkan, ia sedang menikmati indahnya menjadi juragan rokok di kampungnya. Tetapi bunyi klakson saya barusan membuyarkan mimpi indahnya.
“Maaf mas,…” Saya jadi kikuk sendirian merasa bersalah telah mengagetkannya. Akhirnya saya menghampirinya untuk membeli beberapa butir permen. “Rokoknya nggak mas?” tanya Yanto berharap. Saya harus meminta maaf untuk kedua kali lantaran memupuskan harapannya, lantaran saya tidak merokok. “Kalau permen untungnya kecil pak, lagi pula permen ya cuma pelengkap saja. Siapa tahu ketemu pelanggan seperti bapak yang tidak merokok,” jelasnya.
Saya tertarik dengan keterangannya tentang ‘untung yang kecil’ dari jualan permen. Tapi bukan untung permen yang saya tanya, melainkan untung dari jualan rokoknya. “Seribu, paling besar seribu lima ratus untuk sebungkus rokok,” terangnya. Padahal, sering terlihat para pedagang rokok ketengan itu menjual rokoknya tidak bungkusan, melainkan ketengan lantaran pembeli rokok mereka pun bukan dari kalangan menengah ke atas. Pelanggannya biasanya membeli rokok satu atau dua batang saja, dan tak jarang untuk meladeni pembeli dua batang rokok itu harus sambil berlari mengejar angkot atau bis yang melaju.
Pernah satu kali saya melihat seorang pedagang rokok terjatuh saat mengejar angkutan umum, padahal ia hanya melayani seorang pelanggan yang hanya membeli sebatang rokok. Berapa sih untungnya? Kalau sebungkus rokok isi 24 hanya seribu rupiah, berapa untung dari sebatang rokok? Itu harus dibayar mahal tatkala ia tersungkur di jalan raya, hingga semua rokok dagangannya berantakan. Sebagian masih diselamatkan, tapi jauh lebih banyak yang patah dan tak bisa terjual lagi.
Yanto, seorang pedagang rokok ketengan di pinggir jalan kecewa karena saya hanya membeli permen lantaran untung yang didapat dari menjual permen itu kecil. Jika demikian asumsinya menjual rokok itu untungnya besar. Tetapi nyatanya, ‘besar’ yang dimaksud hanyalah seribu atau seribu lima ratus rupiah untuk sebungkus rokok?
“Berapa bungkus rokok terjual setiap malam?”
Yanto sumringah, senyumnya tak menampakkan satu pun masalah dengan jumlah rokok yang berhasil dijualnya setiap malam. “Alhamdulillah pak, sekitar sepuluh sampai lima belas bungkus”, kembali ia menutup kalimatnya dengan senyum.
Seketika hati ini berteriak keras, “Hey, dia begitu bahagia!”, padahal hanya sekitar sepuluh ribu atau dua puluh ribu yang dibawanya pulang untuk makan anak dan isterinya. Tetapi aura kesyukuran atas rezeki yang didapatkan hari itu yang membuatnya tetap tersenyum. Bandingkan dengan kita, kadang masih terkecut setiap kali menerima transferan gaji di rekening dan berujar, “Gaji segini, mana cukup?”
Yanto dan belasan pedagang rokok ketengan lainnya, setia menemani malam hingga pagi menjelang, hanya untuk mendapatkan sepuluh ribu rupiah. Namun wajah dan senyumnya menyiratkan rasa syukur yang tak bertepi atas nikmat dan rezeki yang masih bisa didapatnya. Ternyata benar, kebahagiaan tak mengenal status. Sebab kebahagiaan bukan terletak pada apa yang dimiliki seseorang, melainkan tertanam jauh di dalam hati orang-orang yang senantiasa bersyukur atas yang diperolehnya.
Gaw
Yanto nama pemuda itu, ia salah satu dari belasan penjual rokok ketengan di Pasar Ciputat. Beberapa detik kemudian, tak sengaja jari tangan kiri ini menekan klakson motor, dan... Yanto pun terkaget. Saya merasa bersalah telah membangunkannya dari 'mimpi'. Boleh jadi, saat tertidur dalam keadaan berdiri itu ia tengah bermimpi melayani serbuan pembeli rokok hingga barang dagangannya malam itu habis terjual. Atau bahkan, ia sedang menikmati indahnya menjadi juragan rokok di kampungnya. Tetapi bunyi klakson saya barusan membuyarkan mimpi indahnya.
“Maaf mas,…” Saya jadi kikuk sendirian merasa bersalah telah mengagetkannya. Akhirnya saya menghampirinya untuk membeli beberapa butir permen. “Rokoknya nggak mas?” tanya Yanto berharap. Saya harus meminta maaf untuk kedua kali lantaran memupuskan harapannya, lantaran saya tidak merokok. “Kalau permen untungnya kecil pak, lagi pula permen ya cuma pelengkap saja. Siapa tahu ketemu pelanggan seperti bapak yang tidak merokok,” jelasnya.
Saya tertarik dengan keterangannya tentang ‘untung yang kecil’ dari jualan permen. Tapi bukan untung permen yang saya tanya, melainkan untung dari jualan rokoknya. “Seribu, paling besar seribu lima ratus untuk sebungkus rokok,” terangnya. Padahal, sering terlihat para pedagang rokok ketengan itu menjual rokoknya tidak bungkusan, melainkan ketengan lantaran pembeli rokok mereka pun bukan dari kalangan menengah ke atas. Pelanggannya biasanya membeli rokok satu atau dua batang saja, dan tak jarang untuk meladeni pembeli dua batang rokok itu harus sambil berlari mengejar angkot atau bis yang melaju.
Pernah satu kali saya melihat seorang pedagang rokok terjatuh saat mengejar angkutan umum, padahal ia hanya melayani seorang pelanggan yang hanya membeli sebatang rokok. Berapa sih untungnya? Kalau sebungkus rokok isi 24 hanya seribu rupiah, berapa untung dari sebatang rokok? Itu harus dibayar mahal tatkala ia tersungkur di jalan raya, hingga semua rokok dagangannya berantakan. Sebagian masih diselamatkan, tapi jauh lebih banyak yang patah dan tak bisa terjual lagi.
Yanto, seorang pedagang rokok ketengan di pinggir jalan kecewa karena saya hanya membeli permen lantaran untung yang didapat dari menjual permen itu kecil. Jika demikian asumsinya menjual rokok itu untungnya besar. Tetapi nyatanya, ‘besar’ yang dimaksud hanyalah seribu atau seribu lima ratus rupiah untuk sebungkus rokok?
“Berapa bungkus rokok terjual setiap malam?”
Yanto sumringah, senyumnya tak menampakkan satu pun masalah dengan jumlah rokok yang berhasil dijualnya setiap malam. “Alhamdulillah pak, sekitar sepuluh sampai lima belas bungkus”, kembali ia menutup kalimatnya dengan senyum.
Seketika hati ini berteriak keras, “Hey, dia begitu bahagia!”, padahal hanya sekitar sepuluh ribu atau dua puluh ribu yang dibawanya pulang untuk makan anak dan isterinya. Tetapi aura kesyukuran atas rezeki yang didapatkan hari itu yang membuatnya tetap tersenyum. Bandingkan dengan kita, kadang masih terkecut setiap kali menerima transferan gaji di rekening dan berujar, “Gaji segini, mana cukup?”
Yanto dan belasan pedagang rokok ketengan lainnya, setia menemani malam hingga pagi menjelang, hanya untuk mendapatkan sepuluh ribu rupiah. Namun wajah dan senyumnya menyiratkan rasa syukur yang tak bertepi atas nikmat dan rezeki yang masih bisa didapatnya. Ternyata benar, kebahagiaan tak mengenal status. Sebab kebahagiaan bukan terletak pada apa yang dimiliki seseorang, melainkan tertanam jauh di dalam hati orang-orang yang senantiasa bersyukur atas yang diperolehnya.
Gaw
Subscribe to:
Posts (Atom)