Suatu hari kami pernah dikagetkan dengan kedatangan ibu ke rumah. Padahal jalan yang harus ditempuh lumayan jauh, sekitar dua jam dengan empat kali ganti angkutan umum. Ditambah dengan kondisinya yang sering sakit-sakitan, kakinya yang kadang tidak bisa diajak kompromi setelah lebih sepuluh tahun digerogoti diabetes. “Kangen cucu,” alasan utama yang memberinya kekuatan luar biasa.
Di hari lain ketika kami berkunjung ke rumahnya, ibu ditawari untuk ikut jalan-jalan ke menginap di Villa salah satu keluarga kami di kawasan puncak, Bogor. Biasanya ibu tidak pernah menolak ajakan adiknya itu, karena jalan-jalan ke puncak adalah kesukaannya. Tetapi kali itu, ia menolak tegas ajakan menggiurkan itu dengan satu alasan, “ada cucu di rumah”. Menurutnya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain menikmati hari-hari bersama cucu-cucunya.
Cerita lainnya diperlihatkan Ayah. Ia rela menelepon berlama-lama kalau berbicara dengan cucunya. Padahal, Ayah termasuk yang rewel urusan penggunaan telepon yang tidak penting. Alasannya, tagihan pulsa akan membengkak dan tidak ada uang untuk membayarnya. “Ada yang lebih penting dari berbicara dengan cucu?” kilah sang kakek diplomatis.
Si kakek ini kadang aneh juga. Hampir setiap hari keluhan yang terdengar dari mulutnya selalu mengenai kakinya yang sakit karena asam urat. Di hari lain, badannya yang tidak bisa digerakkan. Intinya setiap hari ada saja penyakitnya. Namun ketika para cucu berkunjung ke rumahnya, entah terbang kemana para penyakit sehari-harinya itu. Bayangkan, tiba-tiba saja ia berani menantang salah seorang cucunya lomba berlari. Atau ia tak keberatan saat cucunya meminta kesediaannya menjadi kuda. Satu cucu menunggang punggungnya, yang lain iri dan tak mau ketinggalan menunggangi punggung yang biasanya selalu dikeluhkan itu. Dan kakinya yang sering sakit itu, tak terasa apa pun saat diduduki beramai-ramai oleh cucu-cucunya.
Satu lagi, kami tak pernah mengizinkan anak-anak meminta sesuatu dari kakeknya. Jangankan meminta, tanpa diminta pun kakek nenek pasti akan memberikan apa yang diinginkan cucu-cucunya. Kadang kami tahu bahwa mereka sedikit memaksakan diri untuk bisa menyenangkan cucunya. Tapi, terang saja kami tak mampu melarangnya. Karena bagi mereka, itulah cinta. Apa pun akan berlaku untuk cinta, semahal apa pun akan terbayar demi cinta.
Banyak yang bilang, cinta kakek dan nenek kepada cucu jauh berlipat ganda dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Buat seorang kakek, mungkin dulu ia sering tidak punya waktu bersamaan dengan anak-anaknya lantaran kesibukan mencari nafkah. Ia merasa cintanya belum sepenuhnya dicurahkan, sehingga saat ini cucunya lah yang menjadi muara cintanya. Buat nenek, ada cinta yang takkan pernah habis di setiap aliran darahnya meski segunung cinta sudah ia berikan kepada anak-anaknya dulu. Kini, setiap tetes cinta itu terus mengalir kepada cucu-cucunya. Setiap detik, setiap masa berganti, takkan pernah lekang di makan waktu.
Jangan pernah pisahkan anak-anak kita dari mereka. sungguh, ada kekuatan luar biasa yang mengalir dari tubuh-tubuh mungil anak-anak sehingga menjadi energi positif bagi kakek dan neneknya. Ia seperti vitamin yang selalu dibutuhkan, melebihi ratusan jenis obat yang pernah diminumnya. Vitamin cinta yang seketika menimbulkan semangat kehidupan seolah garis finish tak terlihat di matanya. Berilah mereka vitamin “C” itu, cukup bagi mereka meski hanya mendengar suaranya dari seberang telepon.
Pernah suatu hari, ibu berjam-jam duduk di dekat telepon. “menunggu telepon dari cucu,” katanya. Ooh… (bayu gawtama)
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Monday, July 31, 2006
Tuesday, July 25, 2006
Sebab Peduli, Jakarta (akan) Selamat
Gempa dan tsunami yang melanda kawasan Pangandaran, Ciamis, Cilacap, Kebumen, Tasikmalaya dan sepanjang pantai selatan Jawa 17 Juli lalu, ditambah guncangan 6,2 pada skala richter di Ujung Kulon yang getarannya dirasakan juga oleh masyarakat Jabodetabek tiga hari sesudah gempa di Ciamis, membuat masyarakat di Jakarta berpikir, akankah bencana mulai mendekati ibukota? jika dua daerah istimewa sudah terkena bencana besar, mungkinkah berikutnya adalah daerah khusus (ibukota)? Dan boleh jadi gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa adalah permulaan sebelum merambat ke Jakarta. Ada pun guncangan di Ujung Kulon adalah tanda-tanda awalnya.
Masyarakat Jakarta sempat lega setelah tidak terjadi gempa susulan -setelah dua kali gempa- pada Kamis, 20 Juli 2006 lalu. Namun ketenangan itu hanya sesaat, terlebih setelah Sulawesi, Bali, Nias, dan -lagi-lagi- Laut Banda diguncang gempa pada hari yang sama, Minggu, 23 Juli 2006. Was-was, cemas, gundah, takut, dan segunung perasaan berkecamuk di benak para penghuni Kota Metropolitan ini. Tidak sedikit yang merasa dihantui datangnya bencana besar, apakah itu gempa maupun tsunami. Ya, dihantui, karena bencana seringkali datang secara misterius, mengendap-endap, tengah malam, dan tanpa memberi aba-aba. Tahu-tahu, ribuan orang mati, keluarga hilang, rumah hancur, dan harta benda pun musnah.
Sesungguhnya, warga Jakarta tak perlu cemas, apalagi takut akan datangnya bencana. Selain berdoa, masyarakat Jakarta harus memiliki keyakinan bahwa keselamatan akan senantiasa memayungi para penghuni kota ini. Apa pasal? seperti halnya bencana seringkali ditimpakan kepada suatu kaum meski hanya segelintir dari kaum tersebut yang membuat Allah murka lantaran berbuat maksiat atau kezaliman, begitu pula dengan keselamatan. Keselamatan akan senantiasa dimiliki Kota Jakarta lantaran masih ada segelintir manusia Kota ini yang sangat peduli dengan saudara-saudara mereka yang selama ini sering tertimpa musibah.
Mari kita lihat. Hitunglah mulai tsunami Aceh Desember 2004, kemudian kelaparan Yahukimo, banjir bandang Jember, longsor Banjarnegara, banjir Manado, letusan Merapi, gempa Yogyakarta, banjir bandang Sinjai, hingga Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Cilacap, Kebumen dan sekitarnya, relawan, dermawan, dan bantuan banyak datang dari Jakarta. Baik relawan individu, dermawan perorangan, hingga kepedulian dari perusahaan-perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta. Boleh jadi, kedermawanan dan kerelawanan yang ditunjukkan orang-orang Jakarta inilah yang membuat kota ini -insya Allah- selamat dari bencana. Ada pun goncangan 'kecil' yang sempat dirasakan kemarin itu hanyalah sebuah peringatan saja, terutama bagi orang-orang yang lalai. Jadi, selama masih ada kepedulian dari Jakarta, kota ini akan dilindungi dari bencana. Tanpa menafikan daerah lainnya, jika pusat perekonomian negeri ini yang hancur lebur oleh bencana, siapa yang akan membantu? siapa relawannya? siapa pula dermawannya?
Begitu pula dengan daerah lain di negeri ini yang masih diselamatkan Allah dari bencana. Mungkin karena masih banyak orang-orang yang memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi, sehingga infak dan zakat yang mereka keluarkan berfungsi sebagai penolak bencana. Semakin tinggi kepedulian, semakin banyak yang peduli, Insya Allah semakin tinggi perlindungan Allah kepada kaum tersebut. Namun bukan berarti tidak ada kepedulian, relawan dan dermawan di daerah-daerah yang terkena bencana saat ini. Tentu Allah punya maksud dan rencana dari semua kehendak-Nya. Bukankah dibalik kesulitan selalu ada kemudahan? maka berbahagialah mereka yang diuji Allah dengan bencana saat ini. Sungguh, meski sulit menghadapi hari-hari paska bencana, niscaya kebahagiaan dari Allah akan segera datang. Sebab itu janji-Nya.
Bagaimana jika sudah menunjukkan kepedulian tetapi masih tertimpa bencana? padahal ribuan relawan sudah dikirim dari Jakarta ke daerah bencana, tak terbilang bantuan dari para dermawan Jakarta. Oh, mungkin saja Allah masih menganggapnya kurang. Butuh lebih banyak relawan dan bantuan, diperlukan kedermawanan lebih dari sekadar yang ada sekarang untuk membantu para korban bencana. Bagaimana kalau sudah sangat banyak, tetapi masih juga terkena bencana? jawabannya, mungkin kita kurang ikhlas. Masih ada pamrih di sana, masih ada ego yang ingin ditonjolkan, masih merasa perlu berdiri paling depan agar terkesan paling peduli. Yang datang paling dulu, mengejek yang datang belakangan. Padahal, belum tentu yang terdepan itu yang terbaik di mata Allah. Baiklah, keikhlasan hati ini diperbaiki. Kalau sudah ikhlas tapi masih terkena bencana? hmm, kalau demikian berarti Allah tengah menguji kesabaran kita.
Kepedulian, kerelawanan, dan kedermawanan sudah banyak, ikhlas dan sabar pula. Bagaimana jika kota ini tetap terkena bencana? Jangan berburuk sangka kepada Allah. Sungguh, hanya orang-orang hebatlah yang mampu melalui ujian yang berat. Hanya orang-orang pilihan yang sanggup memikul beban berat. Jika bencana tetap menimpa kita, yakinlah bahwa Allah mencintai warga Jakarta yang telah amat peduli kepada saudara-saudaranya di berbagai daerah bencana. Kadang cinta tidak selalu terlukis indah, ianya bisa berupa cobaan dan ujian yang pahit. Sanggup kita menjalaninya, makin besarlah cinta Allah kepada kita. Mari, tunjukkan seberapa besar cinta kita kepada-Nya. Selamatkan diri, keluarga dan lingkungan kita dengan terus meningkatkan kepedulian. Hingga detik ini Jakarta masih selamat dari bencana, yakinlah itu karena Allah menyayangi orang-orang yang mengasihi saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Wallaahu 'a'lam. (Gaw/www.aksicepattanggap.com)
Masyarakat Jakarta sempat lega setelah tidak terjadi gempa susulan -setelah dua kali gempa- pada Kamis, 20 Juli 2006 lalu. Namun ketenangan itu hanya sesaat, terlebih setelah Sulawesi, Bali, Nias, dan -lagi-lagi- Laut Banda diguncang gempa pada hari yang sama, Minggu, 23 Juli 2006. Was-was, cemas, gundah, takut, dan segunung perasaan berkecamuk di benak para penghuni Kota Metropolitan ini. Tidak sedikit yang merasa dihantui datangnya bencana besar, apakah itu gempa maupun tsunami. Ya, dihantui, karena bencana seringkali datang secara misterius, mengendap-endap, tengah malam, dan tanpa memberi aba-aba. Tahu-tahu, ribuan orang mati, keluarga hilang, rumah hancur, dan harta benda pun musnah.
Sesungguhnya, warga Jakarta tak perlu cemas, apalagi takut akan datangnya bencana. Selain berdoa, masyarakat Jakarta harus memiliki keyakinan bahwa keselamatan akan senantiasa memayungi para penghuni kota ini. Apa pasal? seperti halnya bencana seringkali ditimpakan kepada suatu kaum meski hanya segelintir dari kaum tersebut yang membuat Allah murka lantaran berbuat maksiat atau kezaliman, begitu pula dengan keselamatan. Keselamatan akan senantiasa dimiliki Kota Jakarta lantaran masih ada segelintir manusia Kota ini yang sangat peduli dengan saudara-saudara mereka yang selama ini sering tertimpa musibah.
Mari kita lihat. Hitunglah mulai tsunami Aceh Desember 2004, kemudian kelaparan Yahukimo, banjir bandang Jember, longsor Banjarnegara, banjir Manado, letusan Merapi, gempa Yogyakarta, banjir bandang Sinjai, hingga Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Cilacap, Kebumen dan sekitarnya, relawan, dermawan, dan bantuan banyak datang dari Jakarta. Baik relawan individu, dermawan perorangan, hingga kepedulian dari perusahaan-perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta. Boleh jadi, kedermawanan dan kerelawanan yang ditunjukkan orang-orang Jakarta inilah yang membuat kota ini -insya Allah- selamat dari bencana. Ada pun goncangan 'kecil' yang sempat dirasakan kemarin itu hanyalah sebuah peringatan saja, terutama bagi orang-orang yang lalai. Jadi, selama masih ada kepedulian dari Jakarta, kota ini akan dilindungi dari bencana. Tanpa menafikan daerah lainnya, jika pusat perekonomian negeri ini yang hancur lebur oleh bencana, siapa yang akan membantu? siapa relawannya? siapa pula dermawannya?
Begitu pula dengan daerah lain di negeri ini yang masih diselamatkan Allah dari bencana. Mungkin karena masih banyak orang-orang yang memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi, sehingga infak dan zakat yang mereka keluarkan berfungsi sebagai penolak bencana. Semakin tinggi kepedulian, semakin banyak yang peduli, Insya Allah semakin tinggi perlindungan Allah kepada kaum tersebut. Namun bukan berarti tidak ada kepedulian, relawan dan dermawan di daerah-daerah yang terkena bencana saat ini. Tentu Allah punya maksud dan rencana dari semua kehendak-Nya. Bukankah dibalik kesulitan selalu ada kemudahan? maka berbahagialah mereka yang diuji Allah dengan bencana saat ini. Sungguh, meski sulit menghadapi hari-hari paska bencana, niscaya kebahagiaan dari Allah akan segera datang. Sebab itu janji-Nya.
Bagaimana jika sudah menunjukkan kepedulian tetapi masih tertimpa bencana? padahal ribuan relawan sudah dikirim dari Jakarta ke daerah bencana, tak terbilang bantuan dari para dermawan Jakarta. Oh, mungkin saja Allah masih menganggapnya kurang. Butuh lebih banyak relawan dan bantuan, diperlukan kedermawanan lebih dari sekadar yang ada sekarang untuk membantu para korban bencana. Bagaimana kalau sudah sangat banyak, tetapi masih juga terkena bencana? jawabannya, mungkin kita kurang ikhlas. Masih ada pamrih di sana, masih ada ego yang ingin ditonjolkan, masih merasa perlu berdiri paling depan agar terkesan paling peduli. Yang datang paling dulu, mengejek yang datang belakangan. Padahal, belum tentu yang terdepan itu yang terbaik di mata Allah. Baiklah, keikhlasan hati ini diperbaiki. Kalau sudah ikhlas tapi masih terkena bencana? hmm, kalau demikian berarti Allah tengah menguji kesabaran kita.
Kepedulian, kerelawanan, dan kedermawanan sudah banyak, ikhlas dan sabar pula. Bagaimana jika kota ini tetap terkena bencana? Jangan berburuk sangka kepada Allah. Sungguh, hanya orang-orang hebatlah yang mampu melalui ujian yang berat. Hanya orang-orang pilihan yang sanggup memikul beban berat. Jika bencana tetap menimpa kita, yakinlah bahwa Allah mencintai warga Jakarta yang telah amat peduli kepada saudara-saudaranya di berbagai daerah bencana. Kadang cinta tidak selalu terlukis indah, ianya bisa berupa cobaan dan ujian yang pahit. Sanggup kita menjalaninya, makin besarlah cinta Allah kepada kita. Mari, tunjukkan seberapa besar cinta kita kepada-Nya. Selamatkan diri, keluarga dan lingkungan kita dengan terus meningkatkan kepedulian. Hingga detik ini Jakarta masih selamat dari bencana, yakinlah itu karena Allah menyayangi orang-orang yang mengasihi saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Wallaahu 'a'lam. (Gaw/www.aksicepattanggap.com)
Monday, July 17, 2006
Yang Sempurna Yang Terpilih
Masih ingat jaman dulu ketika duduk di bangku Taman Kanak-Kanak? Setiap menjelang pulang para guru berdiri di depan dengan kalimat yang khas, “Siapa yang duduknya paling rapih pulang duluan” seketika seluruh kelas hening tak bersuara, duduk dengan sikap paling sempurna, mulut tertutup rapat dengan tangan kanan dan kiri saling menindih di atas meja. Berdebar-debar menunggu siapa yang dinilai paling sempurna sikapnya dan disebutkan namanya untuk dibolehkan keluar kelas paling pertama. Ketika nama saya tak disebut, melainkan nama yang lain, saya mencoba lebih menyempurnakan sikap. Mungkin saja posisi tubuh saya belum tegap, atau tangannya tidak terlipat sempurna.
Tak hanya saya, teman lain yang tak dipanggil hingga panggilan kesekian pun semakin gelisah sambil terus memperhatikan letak duduk, posisi tubuh, hingga mata yang ditahan-tahan tak berkedip untuk menunjukkan sikap sempurna. Barulah senyum mengembang ketika nama disebut sambil melirik ke arah bangku kelas, karena ternyata masih ada beberapa teman tertinggal di belakang. Bangga sedikit boleh, tapi belum puas karena tidak menjadi yang paling sempurna.
Keesokan harinya, ketika masuk kelas sudah berpikir untuk bersiap-siap jika menjelang pulang nanti harus bersikap jauh lebih baik, jauh lebih sempurna dari kemarin. Alhasil, meski tidak juga menjadi yang pertama, tetapi lebih baik dari kemarin. Terus hingga hari berikutnya pun sikap sempurnanya diperbaiki lagi hingga pada suatu hari mendapat kesempatan untuk keluar kelas urutan pertama. Bangga, pasti. Senang, jelas. Karena dari hari ke hari berupaya untuk menjadi yang paling sempurna tercapai di hari itu.
Di lain masa dan di lain tempat, hukum kesempurnaan itu terus berlaku. Teringat saat mengaji di kampung, Pak Ustadz akan mengizinkan para santri pulang ke rumah setelah menghapal salah satu Surah pendek yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya. Siapa yang sudah hapal dipersilahkan maju untuk diuji. Lancar dan bagus bacaannya, boleh pulang. Jika terbata-bata, silahkan duduk dan pelajari lagi sambil menunggu giliran berikutnya. Bagi yang tidak hapal, harap pasrah pulang paling akhir plus dengan sedikit ‘omelan’ Pak Ustadz.
Setiap kali seorang santri tengah diuji hapalannya, santri yang lain komat-kamit menghapal, sementara lainnya memperhatikan bacaan santri yang sedang diuji sambil berdebar-debar menunggu giliran. Santri yang sudah teruji, tak jarang menjadi contoh dan dipuji Pak Ustadz. Bangga, tentu saja lantaran hari itu ia menjadi yang pertama mampu melewati ujian. Seorang teman satu pengajian pernah mengisahkan kegembiraannya setelah terpilih mewakili pengajian kami untuk lomba hifdzil quran (hapalan quran). Meski pun tidak menang dalam perlombaan itu, terpilh untuk mewakili pengajian kami pun sudah prestasi luar biasa baginya.
Hukum kesempurnaan ini akan berlaku kapan pun dan di mana pun. Kesempurnaan dimaksud adalah bukan titik puncak dari apa yang bisa dilakukan seseorang. Melainkan sebuah upaya maksimal yang mampu diusahakan, ianya diperoleh melalui proses panjang yang melelahkan. Kesempurnaan bisa dicapai dengan akal pikiran, kerja keras yang tak kenal menyerah. Seorang siswa terpilih menjadi siswa teladan bukan hanya karena nilainya tertinggi, melainkan juga dinilai dari aspek lainnya seperti sikapnya terhadap guru dan teman, kepemimpinannya di kelas, kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, dan kecakapan lainnya yang di atas rata-rata teman satu sekolahnya.
Seorang karyawan di sebuah perusahaan akan mendapat promosi bukan saja karena hasil kerjanya yang memuaskan selama satu tahun. Para atasannya juga melihat kedisplinan serta hubungan baiknya dengan sesama karyawan sehingga mampu menciptakan semangat kerja sama yang bagus. Sama halnya dengan orang tua yang tak segan-segan memberi hadiah kepada anaknya yang rajin, cerdas dan taat menjalankan perintahnya.
Karenanya, berusahalah terus untuk menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Kalau kita bisa menapak anak tangga ke seratus, kenapa harus berhenti di anak tangga ke tujuh puluh? Kalau sanggup mendaki Mount Everest, kenapa hanya bukit kecil? Kalau sanggup menyelesaikan dua-tiga pekerjaan dalam sehari, kenapa hanya satu? Kalau sanggup mendapat nilai A dalam ujian, kenapa hanya berusaha mendapatkan B?
Allah itu sempurna, maka dekatilah Dia dengan cara yang sempurna. Sebagai hamba kita harus beribadah dan bekerja secara sempurna. Perbaikilah semua yang masih bisa diperbaiki, sempurnakan segala yang seharusnya bisa lebih sempurna. Bukankah orang-orang yang akan menghuni surga Allah adalah orang-orang terpilih? Jadilah sempurna, agar kita menjadi orang-orang terpilih. Insya Allah (bayu gawtama)
Tak hanya saya, teman lain yang tak dipanggil hingga panggilan kesekian pun semakin gelisah sambil terus memperhatikan letak duduk, posisi tubuh, hingga mata yang ditahan-tahan tak berkedip untuk menunjukkan sikap sempurna. Barulah senyum mengembang ketika nama disebut sambil melirik ke arah bangku kelas, karena ternyata masih ada beberapa teman tertinggal di belakang. Bangga sedikit boleh, tapi belum puas karena tidak menjadi yang paling sempurna.
Keesokan harinya, ketika masuk kelas sudah berpikir untuk bersiap-siap jika menjelang pulang nanti harus bersikap jauh lebih baik, jauh lebih sempurna dari kemarin. Alhasil, meski tidak juga menjadi yang pertama, tetapi lebih baik dari kemarin. Terus hingga hari berikutnya pun sikap sempurnanya diperbaiki lagi hingga pada suatu hari mendapat kesempatan untuk keluar kelas urutan pertama. Bangga, pasti. Senang, jelas. Karena dari hari ke hari berupaya untuk menjadi yang paling sempurna tercapai di hari itu.
Di lain masa dan di lain tempat, hukum kesempurnaan itu terus berlaku. Teringat saat mengaji di kampung, Pak Ustadz akan mengizinkan para santri pulang ke rumah setelah menghapal salah satu Surah pendek yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya. Siapa yang sudah hapal dipersilahkan maju untuk diuji. Lancar dan bagus bacaannya, boleh pulang. Jika terbata-bata, silahkan duduk dan pelajari lagi sambil menunggu giliran berikutnya. Bagi yang tidak hapal, harap pasrah pulang paling akhir plus dengan sedikit ‘omelan’ Pak Ustadz.
Setiap kali seorang santri tengah diuji hapalannya, santri yang lain komat-kamit menghapal, sementara lainnya memperhatikan bacaan santri yang sedang diuji sambil berdebar-debar menunggu giliran. Santri yang sudah teruji, tak jarang menjadi contoh dan dipuji Pak Ustadz. Bangga, tentu saja lantaran hari itu ia menjadi yang pertama mampu melewati ujian. Seorang teman satu pengajian pernah mengisahkan kegembiraannya setelah terpilih mewakili pengajian kami untuk lomba hifdzil quran (hapalan quran). Meski pun tidak menang dalam perlombaan itu, terpilh untuk mewakili pengajian kami pun sudah prestasi luar biasa baginya.
Hukum kesempurnaan ini akan berlaku kapan pun dan di mana pun. Kesempurnaan dimaksud adalah bukan titik puncak dari apa yang bisa dilakukan seseorang. Melainkan sebuah upaya maksimal yang mampu diusahakan, ianya diperoleh melalui proses panjang yang melelahkan. Kesempurnaan bisa dicapai dengan akal pikiran, kerja keras yang tak kenal menyerah. Seorang siswa terpilih menjadi siswa teladan bukan hanya karena nilainya tertinggi, melainkan juga dinilai dari aspek lainnya seperti sikapnya terhadap guru dan teman, kepemimpinannya di kelas, kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, dan kecakapan lainnya yang di atas rata-rata teman satu sekolahnya.
Seorang karyawan di sebuah perusahaan akan mendapat promosi bukan saja karena hasil kerjanya yang memuaskan selama satu tahun. Para atasannya juga melihat kedisplinan serta hubungan baiknya dengan sesama karyawan sehingga mampu menciptakan semangat kerja sama yang bagus. Sama halnya dengan orang tua yang tak segan-segan memberi hadiah kepada anaknya yang rajin, cerdas dan taat menjalankan perintahnya.
Karenanya, berusahalah terus untuk menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Kalau kita bisa menapak anak tangga ke seratus, kenapa harus berhenti di anak tangga ke tujuh puluh? Kalau sanggup mendaki Mount Everest, kenapa hanya bukit kecil? Kalau sanggup menyelesaikan dua-tiga pekerjaan dalam sehari, kenapa hanya satu? Kalau sanggup mendapat nilai A dalam ujian, kenapa hanya berusaha mendapatkan B?
Allah itu sempurna, maka dekatilah Dia dengan cara yang sempurna. Sebagai hamba kita harus beribadah dan bekerja secara sempurna. Perbaikilah semua yang masih bisa diperbaiki, sempurnakan segala yang seharusnya bisa lebih sempurna. Bukankah orang-orang yang akan menghuni surga Allah adalah orang-orang terpilih? Jadilah sempurna, agar kita menjadi orang-orang terpilih. Insya Allah (bayu gawtama)
Subscribe to:
Posts (Atom)