Ketika tsunami menghempaskan ratusan ribu manusia di Aceh pada 26 Desember 2004, negeri ini bercucuran air mata. Setiap pelosok dan sudut negeri dihiasi tangis seakan kiamat begitu dekat datangnya. Jutaan makhluk Allah bersimpuh di masjid memohon doa agar Allah berkenan mengampuni segala dosa berharap tak menimpakan bencana yang sama di tempat berbeda. Semua orang saat itu seakan ingat mati, bahkan mereka menjauhi tempat maksiat karena takut mati dalam keadaan tak baik. Ribuan masjid melakukan doa bersama, menampung simpati dan memperbanyak amal shaleh guna membantu meringankan beban para korban bencana.
Sekian lama berlalu, kita pun melupakan bencana yang menghiris hati itu. Tangis pun tak lagi terdengar, simpati dan empati berkurang. Masjid tak lagi dipenuhi orang-orang yang menangis takut akan datangnya adzab Allah, suara-suara panggilan kebaikan lebih sering lewat tanpa perhatian. Mereka yang dulu menangis, kembali tertawa. Orang-orang tak lagi menyesaki masjid, berganti memenuhi tempat-tempat hiburan bahkan tempat maksiat dan mati pun bukan hal yang ditakuti. Tak ada lagi tangan-tangan terhulur bersedekah, semakin sedikit simpati bagi mereka yang kesulitan. Beberapa bencana skala kecil di Jember, Banjarnegara dan Manado pun tak memalingkan wajah kita kepada Allah.
Sehingga Allah berkehendak menurunkan kembali bencana yang lebih besar di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu, 27 Mei 2006 ketika manusia masih terlena dengan indahnya fajar dan alunan nada unggas pagi. Luluh lantak sudah Yogyakarta, menangis lagi negeri ini. Air mata pun tumpah di seluruh pelosok tanah air, dan masjid-masjid kembali disesaki orang-orang bersimpuh memohon ampunan-Nya. Kita menangis, sedih, takut bencana besar menimpa diri dan tempat kita bernaung.
Belum habis air mata, belum usai tangis di Yogyakarta, Sinjai membuat kita terus bercucuran, haru, pilu, getir dan ketakutan yang semakin mendalam. Seolah tak puas membuat kita menangis, alam mengamuk di Gorontalo, Balikpapan, Banjarmasin, Boolang Mongondow, dan entah alam mana lagi di negeri ini yang akan bergejolak.
Ratusan ribu anak negeri sudah menjadi korban keganasan alam, jutaan rumah telah hancur oleh amukan bencana, banjir air mata telah pernah menenggelamkan tanah negeri. Tak cukupkah semua kesedihan, kehilangan, kerugian, kehancuran itu menjadi peringatan bagi kita? Masihkah terus bersenang-senang di tengah bencana yang terus mendera negeri? Tak takutkah kita jika suatu saat maut dan bencana menyambangi rumah-rumah kita dan menenggelamkan seisi rumah kita. Masihkah sanggup tertawa ketika banjir bandang menyeret anak-anak mungil kita, ketika lumpur membenamkan isteri tercinta, ketika reruntuhan bangunan menghimpit tubuh suami kita? Sanggupkah mata ini menyaksikan tubuh-tubuh terbujur kaku atau menemukan mereka dalam keadaan tak lagi bernyawa?
Haruskah menunggu Allah mengirimkan bencana lagi di negeri ini agar membuat kita benar-benar takut kepada-Nya. Mungkin Tuhan belum benar-benar melihat taubat kita yang sesungguhnya, dan sebagian kita masih tenang meski dosa terus berlangsung, meski salah dan khilaf tak pernah alpa, meski kekurangan tak pernah diperbaiki. Sungguh, dengan taubat yang sungguh-sungguh Allah akan menghapuskan segala kesalahan kita, menutup aib dan menyelamatkan kita. Jangan tunda taubat yang sungguh-sungguh. Wallaahu ‘a’lam (Bayu Gawtama)
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Thursday, June 29, 2006
Tuesday, June 20, 2006
The Latest Man
"Saat berlebih tak memberi, saat diminta tak memiliki" Ini menjadi kalimat yang paling menyakitkan untuk disimak saat ini, setidaknya oleh saya. Sedih ketika harus berkata "tidak" atau "maaf" untuk mewakili ketakberdayaan untuk membantu seseorang yang tengah berada dalam kesulitan. Pada saat kita teramat dibutuhkan, justru tak sedikit pun yang kita miliki untuk diberikan. Alih-alih kita menjadi pahlawan kesiangan karena menawarkan bantuan kala tak lagi dibutuhkan. "Pergi saja dengan bantuanmu itu, kami tak lagi membutuhkan," seolah kalimat pedih ini yang terdengar sepanjang jalan sepulang dari kegagalan memberi.
Salahkah saya? salahkah orang-orang yang datang menawarkan bantuan saat tak lagi dibutuhkan? Mungkin tidak. Lebih tepatnya terlambat. Ingat waktu masih jamannya sekolah dulu, terlambat adalah hal paling memalukan yang harus terjadi dalam sejarah pendidikan saya. Betapa ratusan pasang mata harus memandangi langkah penuh malu si Latest Man ini, mulai dari penjaga sekolah yang dengan tampang seramnya membuka pintu gerbang, anak-anak dari kelas lain yang sedang berolah raga, barisan depan siswa kelas lain yang melihat diri ini melewati pintu-pintu kelas yang tak tertutup rapat, hingga harus main 'kucing-kucingan' agar tak bertemu Wali Kelas atau bahkan Kepala Sekolah.
Langkah pun terhenti saat menjelang mengetuk pintu kelas. Terbayang ketukan itu akan menghentikan suara guru yang tengah serius memberikan pelajaran, membuyarkan konsentrasi teman satu kelas, atau mungkin juga membangunkan seorang teman di deretan belakang yang pulas tertidur. Pernah seorang guru yang terganggu akibat ketukan itu berujar singkat, "tolong tutup kembali pintunya, tapi dari luar!" Duh, sakitnya.
Belasan bibir manyun, puluhan tatap mata tak senang semakin memberatkan langkah menuju kursi yang sejak setengah jam lebih terlihat kosong. Meski tak semua begitu, tetap saja membuat latest man ini menunduk sepanjang satu jam pelajaran. Tatapan dan senyum simpul gadis di bangku tengah baris ke tiga pun tak sempat diladeni. Ah, mana sempat. Oh ya, sebutan latest man ini berasal dari celetukan seorang teman yang bahasa inggrisnya pas-pasan. Karena semua anggota kelas bahasa inggrisnya pun pas-pasan, jadi ngetrend-lah julukan itu untuk siapa pun yang sering terlambat masuk kelas.
Intinya, amatlah malu menjadi orang yang terlambat. Untuk dan dalam hal apa pun.
Kembali ke soal memberi saat tak dibutuhkan, dan tak memberi saat dibutuhkan. Saya mendapat satu pelajaran berharga bahwa Allah senantiasa memberi kita kesempatan untuk berbuat baik, kesempatan itu datang pada saat kita berlebih mau pun dalam kesempitan. Masalah kita adalah, saat berlebih lupa memberi sedangkan saat sempit menjadi alasan untuk tak memberi. Boleh jadi Allah dan para malaikat memperhatikan kita pada saat demikian, sehingga tak ada lagi kesempatan yang diberikan untuk kita berbuat baik.
Semestinya, kita senantiasa memanfaatkan peluang berbuat baik itu pada saat dibutuhkan. Sedikit banyak bukan soal, karena terpenting dari itu adalah kita selalu ada pada saat orang lain membutuhkan. Walau pun saya selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa kesempatan berbuat baik tak pernah tertutup bagi siapa pun. Ini berita baiknya. Tapi, cobalah selalu membuat Dia tersenyum.
Bayu Gawtama
Salahkah saya? salahkah orang-orang yang datang menawarkan bantuan saat tak lagi dibutuhkan? Mungkin tidak. Lebih tepatnya terlambat. Ingat waktu masih jamannya sekolah dulu, terlambat adalah hal paling memalukan yang harus terjadi dalam sejarah pendidikan saya. Betapa ratusan pasang mata harus memandangi langkah penuh malu si Latest Man ini, mulai dari penjaga sekolah yang dengan tampang seramnya membuka pintu gerbang, anak-anak dari kelas lain yang sedang berolah raga, barisan depan siswa kelas lain yang melihat diri ini melewati pintu-pintu kelas yang tak tertutup rapat, hingga harus main 'kucing-kucingan' agar tak bertemu Wali Kelas atau bahkan Kepala Sekolah.
Langkah pun terhenti saat menjelang mengetuk pintu kelas. Terbayang ketukan itu akan menghentikan suara guru yang tengah serius memberikan pelajaran, membuyarkan konsentrasi teman satu kelas, atau mungkin juga membangunkan seorang teman di deretan belakang yang pulas tertidur. Pernah seorang guru yang terganggu akibat ketukan itu berujar singkat, "tolong tutup kembali pintunya, tapi dari luar!" Duh, sakitnya.
Belasan bibir manyun, puluhan tatap mata tak senang semakin memberatkan langkah menuju kursi yang sejak setengah jam lebih terlihat kosong. Meski tak semua begitu, tetap saja membuat latest man ini menunduk sepanjang satu jam pelajaran. Tatapan dan senyum simpul gadis di bangku tengah baris ke tiga pun tak sempat diladeni. Ah, mana sempat. Oh ya, sebutan latest man ini berasal dari celetukan seorang teman yang bahasa inggrisnya pas-pasan. Karena semua anggota kelas bahasa inggrisnya pun pas-pasan, jadi ngetrend-lah julukan itu untuk siapa pun yang sering terlambat masuk kelas.
Intinya, amatlah malu menjadi orang yang terlambat. Untuk dan dalam hal apa pun.
Kembali ke soal memberi saat tak dibutuhkan, dan tak memberi saat dibutuhkan. Saya mendapat satu pelajaran berharga bahwa Allah senantiasa memberi kita kesempatan untuk berbuat baik, kesempatan itu datang pada saat kita berlebih mau pun dalam kesempitan. Masalah kita adalah, saat berlebih lupa memberi sedangkan saat sempit menjadi alasan untuk tak memberi. Boleh jadi Allah dan para malaikat memperhatikan kita pada saat demikian, sehingga tak ada lagi kesempatan yang diberikan untuk kita berbuat baik.
Semestinya, kita senantiasa memanfaatkan peluang berbuat baik itu pada saat dibutuhkan. Sedikit banyak bukan soal, karena terpenting dari itu adalah kita selalu ada pada saat orang lain membutuhkan. Walau pun saya selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa kesempatan berbuat baik tak pernah tertutup bagi siapa pun. Ini berita baiknya. Tapi, cobalah selalu membuat Dia tersenyum.
Bayu Gawtama
Saturday, June 17, 2006
Keluarga Relawan, Hebat!
Nanny (19), seorang mahasiswi akademi perawat di Jakarta yang langsung menghubungi kantor ACT-Aksi Cepat Tanggap di Ciputat ketika mendengar berita bencana gempa di Jogyakarta (27/5). Tapi Nanny tak sendiri, bersama Tantenya Rosi (27), keduanya mendatangi kantor ACT untuk segera bisa berangkat ke Jogya secepatnya. "Kami bisa bergabung dengan tim medis ACT, kami akan berbuat semampu kami," ujar Rosi yang diiyakan Nanny sang keponakan. Meski harus menunggu beberapa hati, Rabu (31/5) siang bersama sejumlah relawan lainnya yang diberangkatkan ACT dari Jakarta, Nanny dan Rosi pun tiba di Posko ACT di Bantul, Yogyakarta.
Sebuah sinergi yang menarik, ketika dua bersaudara berada dalam tingkat kepedulian yang sama untuk bersama menjadi relawan di sebuah lokasi bencana. Nanny yang sebentar lagi menyelesaikan kuliah keperawatannya mendapat pengalaman banyak ketika berhadapan langsung dengan para korban bencana di berbagai lokasi, sementara Rosi yang sudah berpengalaman di dunia medis selain membantu korban juga banyak membantu memberikan pelajaran bagi keponakannya, Nanny. "Satu hari bisa 300 pasien. Ini pengalaman yang sangat berharga buat saya, saya bisa belajar langsung meski pun sangat melelahkan," ujar Nanny yang bersama Rosi setiap hari menemani tim dokter ACT menyambangi berbagai lokasi gempa Jogya dan Klaten.
Jika Nanny dan Rosi adalah Tante dan keponakan, Fathurrahmi (26) dan Meutia (20) adalah kakak beradik. Fathurrahmi adalah Wakil Direktur Lazis UII yang sejak sebelum bencana gempa sudah bersama-sama ACT menangani bencana Merapi. Ketika gempa Jogya terjadi, sang adik Meutia pun bergabung. Calon dokter itu sejak hari pertama bencana tak berhenti melayani ratusan pasien setiap hari di Posko Pengungsian Kecamatan Pundong. "Rasanya seperti benar-benar sudah menjadi dokter berpengalaman," ujar Meutia yang predikat Co-Ass nya tiba-tiba berubah menjadi "dokter" berkat panggilan para pasien di pengungsian.
Meutia mengungkapkan pengalamannya selama di Posko Pengungsian Kecamatan Pundong, "Lelah, kantuk tak lagi terasa. Bagaimana mungkin kami mengeluh, mereka jauh lebih menderita dan harus segera ditolong." Bersama para Co-Ass dan mahasiswa kedokteran lainnya dari UGM dan UII bahu membahu menangani para korban bencana di pos kesehatan. Uniknya, hari pertama dan kedua bencana belum satu pun dokter di Posko Pundong, sehingga ratusan pasien hanya ditangani oleh tenaga medis seadanya. Membanjirnya Bahkan kawan-kawan yang bukan dari kedokteran pun membantu. Mahasiswa arsitektur, teknik sipil tiba-tiba saja berperan sebagai dokter. "Saya nggak enak selalu dipanggil pak dokter sama pengungsi," ujar Alfan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Sipil UII yang setiap hari bertugas di posko kesehatan Pundong. Dari penampilan, Alfan memang lebih meyakinkan untuk dipanggil dokter ketimbang para calon dokter yang ada di Posko Kesehatan.
Bagi Fathurrahmi, kakak Meutia, kiprah aktifnya dalam kerelawanan baik di Merapi maupun gempa Jogya-Jateng tak lepas dari perannya sebagai Wakil Direktur Lazis UII. Namun jauh lebih tinggi dari sekadar tanggung jawab di Lazis UII itu, Fathur, demikian panggilan akrab bujangan asal Aceh ini, adalah panggilan kemanusiaan yang tak mungkin ia abaikan. "Saya merasa berhutang budi dengan seluruh kepedulian yang pernah ditunjukkan di Aceh ketika tsunami. Kini saatnya saya melakukan hal yang sama," terang Fathur. Keluarga Fathur di Banda Aceh, adalah korban bencana tsunami Desember 2004 silam, termasuk kedua orang tuanya.
Husni (60) dan Fami (23) adalah contoh lain dari kekeluargaan dalam kerelawanan. Husni sang Ayah berperan sebagai driver (sopir) sedangkan Fahmi anaknya bergabung di tim rescue ACT. "Saya sudah tua, tidak punya uang untuk menyumbang tapi saya ingin sekali berbuat untuk Jogya," ungkap Husni yang ternyata juga berbekal seperangkat alat bekam (terapi kesehatan cara Rasulullah). "Saya tergetkan bisa membekam 100 orang, baik pengungsi maupun relawan yang bekerja," tambahnya. Sedangkan Fahmi yang sangat pendiam itu tak banyak berkomentar, "Apa saja, yang penting bermanfaat," tentang peran yang dilakukannya bersama ACT.
Peran keluarga dalam kerelawanan yang tak kalah menarik juga ditunjukkan oleh Ihsan dan Maryam. Pasangan pengantin baru ini seolah ingin menghabiskan bulan madunya dalam aksi kerelawanan di Jogyakarta. Ihsan sebagai tim recovery sedangkan Maryam mengendalikan administrasi dan keuangan Posko. "Ya nggak bisa dibilang bulan madu, kerja kami berbeda. Saya di lapangan sejak pagi hingga malam sedangkan Maryam di Posko," kata Ihsan sambil tersenyum.
"Ini bukan masanya bersenang-senang. Kami datang untuk membantu, meski terus terang sinergi antara saya dan Bang Ihsan membuat kami semakin kuat," tutur Maryam disetujui Ihsan.
Luar biasa. Kalimat ini yang pantas ditujukan bagi seluruh relawan yang bekerja baik di lokasi bencana maupun di berbagai kota lainnya. Meski tak semua harus ke Jogya dan Jateng, peran relawan di Jakarta dan kota lainnya dalam mengumpulkan bantuan, donasi untuk dikirimkan ke lokasi bencana sangatlah patut diacungi jempol. "Kalau menuruti keinginan, saya inginnya ke lokasi bencana. Tapi nampaknya saya lebih dibutuhkan di Jakarta untuk mengumpulkan bantuan dan melakukan fund raising. Meski tak di lokasi bencana, toh yang kami lakukan di sini juga untuk Jogya," ujar Andika, mewakili sejumlah relawan di kantor ACT. Tugas sehari-hari Andika adalah membantu Imam Akbari, Manager Marketing ACT, mulai dari mendistribusikan marketing tools hingga jemput dana dan bantuan.
Siapa pun relawannya, di manapun lokasinya, apa pun yang dilakukannya, baik di lokasi bencana mau pun di tempat lain, salut untuk semua relawan. Begitu juga dengan para donatur, sumbangsih yang diberikan sangat lah berarti untuk para korban bencana. Kerja-kerja para relawan dan peran serta donatur merupakan sinergi terindah antara kerja keras, kepedulian dan kepercayaan. Sungguh, salut untuk semua. Salute to volunteer, salute to donator. (Bayu Gawtama)
ACT Office :
Jl. Ir. H. Juanda no. 50
Kompleks Perkantoran Ciputat Indah Permai B-8
Telepon : 021-741 4482
Fax : 021-742 0664
www.aksicepattanggap.com
Hotline :
Info Lapangan :
Ahyuddin 0811 941 216
Bayu Gawtama 0888 190 2214 / 0852 190 68581
Eko Yudho 0816 169 3044
Donasi :
Imam Akbari 0812 848 1466
Jemput Donasi : 021-7061 4482
Bantuan dana dapat disalurkan melalui rekening a.n Aksi Cepat Tanggap :
BCA no. 676 030 2021
BSM no. 101 000 1114
Mandiri no. 128 000 459 3338
Bank Muamalat Indonesia no. 304 002 3015
BNI Syari’ah no. 009 611 0239
Sebuah sinergi yang menarik, ketika dua bersaudara berada dalam tingkat kepedulian yang sama untuk bersama menjadi relawan di sebuah lokasi bencana. Nanny yang sebentar lagi menyelesaikan kuliah keperawatannya mendapat pengalaman banyak ketika berhadapan langsung dengan para korban bencana di berbagai lokasi, sementara Rosi yang sudah berpengalaman di dunia medis selain membantu korban juga banyak membantu memberikan pelajaran bagi keponakannya, Nanny. "Satu hari bisa 300 pasien. Ini pengalaman yang sangat berharga buat saya, saya bisa belajar langsung meski pun sangat melelahkan," ujar Nanny yang bersama Rosi setiap hari menemani tim dokter ACT menyambangi berbagai lokasi gempa Jogya dan Klaten.
Jika Nanny dan Rosi adalah Tante dan keponakan, Fathurrahmi (26) dan Meutia (20) adalah kakak beradik. Fathurrahmi adalah Wakil Direktur Lazis UII yang sejak sebelum bencana gempa sudah bersama-sama ACT menangani bencana Merapi. Ketika gempa Jogya terjadi, sang adik Meutia pun bergabung. Calon dokter itu sejak hari pertama bencana tak berhenti melayani ratusan pasien setiap hari di Posko Pengungsian Kecamatan Pundong. "Rasanya seperti benar-benar sudah menjadi dokter berpengalaman," ujar Meutia yang predikat Co-Ass nya tiba-tiba berubah menjadi "dokter" berkat panggilan para pasien di pengungsian.
Meutia mengungkapkan pengalamannya selama di Posko Pengungsian Kecamatan Pundong, "Lelah, kantuk tak lagi terasa. Bagaimana mungkin kami mengeluh, mereka jauh lebih menderita dan harus segera ditolong." Bersama para Co-Ass dan mahasiswa kedokteran lainnya dari UGM dan UII bahu membahu menangani para korban bencana di pos kesehatan. Uniknya, hari pertama dan kedua bencana belum satu pun dokter di Posko Pundong, sehingga ratusan pasien hanya ditangani oleh tenaga medis seadanya. Membanjirnya Bahkan kawan-kawan yang bukan dari kedokteran pun membantu. Mahasiswa arsitektur, teknik sipil tiba-tiba saja berperan sebagai dokter. "Saya nggak enak selalu dipanggil pak dokter sama pengungsi," ujar Alfan, mahasiswa tingkat akhir Teknik Sipil UII yang setiap hari bertugas di posko kesehatan Pundong. Dari penampilan, Alfan memang lebih meyakinkan untuk dipanggil dokter ketimbang para calon dokter yang ada di Posko Kesehatan.
Bagi Fathurrahmi, kakak Meutia, kiprah aktifnya dalam kerelawanan baik di Merapi maupun gempa Jogya-Jateng tak lepas dari perannya sebagai Wakil Direktur Lazis UII. Namun jauh lebih tinggi dari sekadar tanggung jawab di Lazis UII itu, Fathur, demikian panggilan akrab bujangan asal Aceh ini, adalah panggilan kemanusiaan yang tak mungkin ia abaikan. "Saya merasa berhutang budi dengan seluruh kepedulian yang pernah ditunjukkan di Aceh ketika tsunami. Kini saatnya saya melakukan hal yang sama," terang Fathur. Keluarga Fathur di Banda Aceh, adalah korban bencana tsunami Desember 2004 silam, termasuk kedua orang tuanya.
Husni (60) dan Fami (23) adalah contoh lain dari kekeluargaan dalam kerelawanan. Husni sang Ayah berperan sebagai driver (sopir) sedangkan Fahmi anaknya bergabung di tim rescue ACT. "Saya sudah tua, tidak punya uang untuk menyumbang tapi saya ingin sekali berbuat untuk Jogya," ungkap Husni yang ternyata juga berbekal seperangkat alat bekam (terapi kesehatan cara Rasulullah). "Saya tergetkan bisa membekam 100 orang, baik pengungsi maupun relawan yang bekerja," tambahnya. Sedangkan Fahmi yang sangat pendiam itu tak banyak berkomentar, "Apa saja, yang penting bermanfaat," tentang peran yang dilakukannya bersama ACT.
Peran keluarga dalam kerelawanan yang tak kalah menarik juga ditunjukkan oleh Ihsan dan Maryam. Pasangan pengantin baru ini seolah ingin menghabiskan bulan madunya dalam aksi kerelawanan di Jogyakarta. Ihsan sebagai tim recovery sedangkan Maryam mengendalikan administrasi dan keuangan Posko. "Ya nggak bisa dibilang bulan madu, kerja kami berbeda. Saya di lapangan sejak pagi hingga malam sedangkan Maryam di Posko," kata Ihsan sambil tersenyum.
"Ini bukan masanya bersenang-senang. Kami datang untuk membantu, meski terus terang sinergi antara saya dan Bang Ihsan membuat kami semakin kuat," tutur Maryam disetujui Ihsan.
Luar biasa. Kalimat ini yang pantas ditujukan bagi seluruh relawan yang bekerja baik di lokasi bencana maupun di berbagai kota lainnya. Meski tak semua harus ke Jogya dan Jateng, peran relawan di Jakarta dan kota lainnya dalam mengumpulkan bantuan, donasi untuk dikirimkan ke lokasi bencana sangatlah patut diacungi jempol. "Kalau menuruti keinginan, saya inginnya ke lokasi bencana. Tapi nampaknya saya lebih dibutuhkan di Jakarta untuk mengumpulkan bantuan dan melakukan fund raising. Meski tak di lokasi bencana, toh yang kami lakukan di sini juga untuk Jogya," ujar Andika, mewakili sejumlah relawan di kantor ACT. Tugas sehari-hari Andika adalah membantu Imam Akbari, Manager Marketing ACT, mulai dari mendistribusikan marketing tools hingga jemput dana dan bantuan.
Siapa pun relawannya, di manapun lokasinya, apa pun yang dilakukannya, baik di lokasi bencana mau pun di tempat lain, salut untuk semua relawan. Begitu juga dengan para donatur, sumbangsih yang diberikan sangat lah berarti untuk para korban bencana. Kerja-kerja para relawan dan peran serta donatur merupakan sinergi terindah antara kerja keras, kepedulian dan kepercayaan. Sungguh, salut untuk semua. Salute to volunteer, salute to donator. (Bayu Gawtama)
ACT Office :
Jl. Ir. H. Juanda no. 50
Kompleks Perkantoran Ciputat Indah Permai B-8
Telepon : 021-741 4482
Fax : 021-742 0664
www.aksicepattanggap.com
Hotline :
Info Lapangan :
Ahyuddin 0811 941 216
Bayu Gawtama 0888 190 2214 / 0852 190 68581
Eko Yudho 0816 169 3044
Donasi :
Imam Akbari 0812 848 1466
Jemput Donasi : 021-7061 4482
Bantuan dana dapat disalurkan melalui rekening a.n Aksi Cepat Tanggap :
BCA no. 676 030 2021
BSM no. 101 000 1114
Mandiri no. 128 000 459 3338
Bank Muamalat Indonesia no. 304 002 3015
BNI Syari’ah no. 009 611 0239
Subscribe to:
Posts (Atom)