Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Wednesday, December 22, 2004

Ibuku, Tangguh!

Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. Tertusuk kerikil, terangnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan, “Tidak apa, cuma luka kecil kok,” tenang ibu.

Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga yang tak satu pun saya mengenalnya membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk menawarkan jasa mengajar baca tulis Al Qur’an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata, “Maaf, kami belum butuh guru mengaji.” Tapi ibu tetap tersenyum.

Sejak perceraiannya dengan ayahku, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya. Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini takkan pernah bisa ku ukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis Al Qur’an. Selepas isya’ kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir jalan.

Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia?

Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki, sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu.

Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ia membangunkan kami.

Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya.

Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap?

Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, “abang sudah besar, bantu ibu ya.”

Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkesah?

***

Kini, setelah berpuluh tahun ia lakukan semua itu, setelah jutaan mil jalan yang ia susuri, bertampuk-tampuk doa dan selaut tangisnya di hadapan Allah, saya tak pernah, dan takkan pernah bertanya apakah ia begitu lelah. Karena saya teramat tahu, Ibuku tangguh.

Bayu Gautama
Happy Mother's Day, Mom...

Tuesday, December 21, 2004

Menciptakan Perbedaan

Belum lama saya berkenalan dengan dua wanita hebat di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Keduanya adalah bagian dari relawan yang memberikan pelajaran baca tulis kepada anak-anak jalanan dan juga anak-anak pemulung di beberapa tempat di Jakarta. Secara pribadi, saya –yang pernah besar di jalan- sangat tertarik dengan aktivitas para relawan ini. Tidak sekadar mengisi waktu sisa, tak juga sebatas aktualisasi diri. Tapi saya yakin, lebih dari semua itu, apa yang mereka lakukan juga membedakan mereka dengan kebanyakan orang di muka bumi ini yang tak peduli dengan masa depan dan pendidikan anak-anak jalanan.

Persaingan hidup, kadang menjebak kita pada rutinitas harian yang melelahkan. Bahkan hampir-hampir tak ada waktu tersisa selain untuk mengisi keperluan dan kebutuhan pribadi. Bangun pagi, sarapan kemudian berangkat ke kantor bekerja hingga sore bahkan larut. Kembali ke rumah dan merapatkan diri di pembaringan. Kalau pun ada aktivitas lain, ya masih bagian dari kepentingan diri, ibadah, jalan-jalan dengan keluarga, belanja, dan sebaris jadwal lainnya, yang kesemuanya: pribadi.

Jika itu yang kita lakukan, tentu kita tak bedanya dengan milyaran manusia di belahan bumi mana pun. Yang terus menerus terjebak dengan rutinitas hidup demi pemenuhan kebutuhan individu. Kita, tak bedanya dengan orang biasa yang mengejar prestasi pribadi, yang hasilnya pun hanya dirasakan sendiri. Padahal jika hanya demikian, sekali lagi, kita tak bedanya dengan milyaran kepala di bumi ini.

Nilai hidup tidak ditentukan oleh berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan di tabungan pribadi. Tidak juga diukur dari tingkat dan gelar pendidikan yang sudah diraih. Dan saya sendiri tak pernah ‘angkat topi’ melihat jabatan di kartu nama seseorang yang baru saja saya kenal. Hidup akan memiliki nilai jika ada peran serta kita terhadap kehidupan orang lain. Semakin banyak orang lain yang tersentuh oleh keberadaan kita, semakin besarlah nilai hidup kita.

Apapun bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup ini bernilai. Semakin banyak yang bisa kita perbuat untuk orang lain, tentu hidup ini akan semakin berarti. Semangat inilah yang kemudian membaluri seluruh sendi dan aliran darah di tubuh saya untuk menciptakan perbedaan dengan mencoba lebih banyak berbuat untuk orang lain, tentu dengan cara saya sendiri. Dan saya yakin, setiap manusia di muka bumi ini bisa dengan mudah menciptakan perbedaan itu untuk menambah nilai hidupnya.

Seperti dua sahabat baru saya di Stasiun Gambir itu, jejak langkahnya yang seringan kapas, kesabarannya mengajar takkan pernah bisa terlupakan oleh anak-anak jalanan itu. Mereka telah menciptakan sebuah perbedaan dengan apa yang mereka lakukan itu. Tentu tanpa perlu bertanya, saya yakin, hidup mereka jauh lebih berarti. Tak sekadar berarti untuk diri sendiri, atau keluarga. Tapi teramat berharga bagi orang-orang yang pernah disentuhnya.

Kini, saya pun selalu mengenang sebuah momentum di tahun 1983 ketika kakek saya meninggal dunia. Rumah keluarga besar kami tak hanya dipenuhi dengan keluarga, sahabat maupun kerabat dekat kakek. Ratusan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan ikut berjejal dan berebut untuk mencium wajah bersih kakek saya dan menghantarkan jasadnya ke tempat terakhir.

Teramat banyak daftar orang-orang yang telah menciptakan perbedaan dan membubuhkan nilai untuk hidupnya. Sehingga pada saat hidupnya berakhir, kenangan tentang dirinya takkan pernah berakhir, sampai kapan pun. Itu bisa dibuktikan dengan seberapa banyak orang yang antri untuk ikut sholat jenazah.

Inilah yang menjadi cita-cita terakhir saya, semoga.

Bayu Gautama

Monday, December 20, 2004

Antara Monas dan Gambir

Anda tentu tahu Monas, bagi orang Jakarta Monas bukanlah tempat asing. Setiap hari, salah satu monumen kebanggaan bangsa Indonesia yang kini lebih "aman" itu kerap dikunjungi wislok alias wisatawan lokal. Kalau boleh saya bilang, kadar lokalnya tuh, LOKBANG, lokal banget, karena emang kebanyakan warga yang tinggalnya gak jauh dari kota Jakarta saja yang mengunjunginya.

Secara geografis, Monumen yang katanya berhias emas di bagian paling ujungnya itu bersebelahan dengan Stasiun Gambir. Stasiun internasional milik bangsa Indonesia. Dan lagi-lagi, sebagian Anda juga pasti tak asing dengan Stasiun yang satu ini. Terutama bagi Anda yang sering menggunakan jasa transportasi Kereta Api untuk melancong ke luar kota dengan tujuan pulau Jawa.

Nah, di antara Stasiun Gambir dan komplek Monas itu ada sebuah lahan parkir yang juga jadi tempat para tentara menyimpan pagar kawat berduri untuk berjaga-jaga jika suatu waktu Kedubes AS -yang letaknya juga tak jauh dari Monas- dan Kantor Gubernur DKI Jakarta diserbu para demonstran. Disisi mobil kawat berduri itu, di bawah pohon yang tak seberapa rindang, Maliki (2 tahun), Adam (3 tahun), Diana (7 tahun), Tommy (3 tahun) belajar menulis dan membaca.

Saya amat tertarik dengan kegiatan yang dilakukan dua wanita luar biasa, Susi Sebayang -Master dari IPB- dan seorang rekannya, Nita Pramono yang memberikan pelajaran baca tulis untuk anak-anak jalanan di Stasiun Gambir. Sementara rekan-rekan relawan lainnya tak kalah gigihnya melakukan hal yang sama di pemukiman pemulung di Kampung Melayu.

Sore itu, saya bergabung dengan Susi dan Nita dan berkenalan dengan Maliki, Adam, Diana dan Tommy. Dengan membagi-bagikan masing-masing sebuah jeruk kepada mereka saya mencoba mengakrabkan diri dengan wajah-wajah kumal, kotor, bau matahari, lengkap dengan ingus yang keluar masuk dari hidung mereka.

Tak ada wajah curiga dari mereka dengan kehadiran "orang baru", begitu juga dengan ibu mereka yang ikut memperhatikan proses belajar mengajar anak-anaknya. Sayang, saya tak berkesempatan bertemu lebih banyak anak-anak yang biasanya berjumlah tak kurang dari 20 orang. Karena sebagian mereka sedang berenang, entah dimana.

Yang unik, proses belajar mereka tidak hanya sering terganggu oleh kejaran tramtib yang sering bertingkah sangar mengoprak-oprak "kelas" belajar mereka. Tapi, juga terganggu oleh 'kewajiban' mereka mencari uang. Maliki misalnya, ketika sedang asyiknya Nita membacakan cerita dari sebuah majalah, ia malah ngeloyor sambil berujar ringan, "cari duit dulu ah,..."

Atau Adam, yang terlihat paling akrab dengan saya berkata, "ntar diterusin ya, Adam mau cari duit dulu..." sambil memperlihatkan tiga lembar ribuan hasil pencariannya sebelumnya. "Baru segini nih..."

Tommy, yang datang belakangan, langsung menyambar jeruk yang saya tawarkan tanpa peduli tangannya yang sangat kotor. Ia tak suka menulis seperti Adam, ia lebih suka membolak-balik halaman majalah yang bergambar.

Sungguh, ingin saya menangis melihat keinginan kuat mereka untuk belajar. Diana misalnya, ia tekun belajar matematika bersama Susi, dan ternyata ia amat cerdas. "Saya senang membaca, tapi saya nggak punya buku..." aku Diana yang hingga usianya tujuh tahun belum juga bersekolah.

Menurut Nita, anak-anak di Stasiun Gambir sangat semangat belajar, tapi mereka selalu kekurangan buku. Kadang, buku-buku dan alat tulis sering hilang bersamaan dengan paniknya mereka saat petugas tramtib membubarkan prosesi mereka. "Anak-anak ini mau sekolah, tapi sulit mendapatkan sekolah yang mau menerima mereka..." tambah Susi.

Hari berangsur sore, saat anak-anak itu satu persatu pamit untuk meneruskan "pekerjaan" mereka. Kami bertiga pun segera merapikan 'kelas' belajar itu untuk pamit pulang. Tentu, kami akan kembali ke tempat itu, sebuah tempat parkir antara Komplek Monas dan Stasiun Gambir.

hmm, Gubernur DKI pernah mampir ke 'kelas' mereka nggak ya?

Bayu Gautama
sore, 19 Desember 2004