Yang Kutakut...
Yang kutakutkan dalam hidup adalah memiliki
Yang kutakutkan setelah memiliki adalah mencintai
Setelah mencintai, jelas aku takut akan kehilangan
Sungguh berat bila kehilangan
Sesuatu yang ku miliki
Apalagi sudah ku cintai
Sepertinya
Akan lebih baik aku tak pernah mencintai
apa pun
Sebab aku takut kehilangan apa pun
yang aku cintai
Sejujurnya
Aku tak ingin memiliki apa pun
Agar tak ada luka
Saat aku kehilangan
Tapi
bukankah semua yang aku miliki akan hilang?
Lalu kenapa aku begitu mencintai
seolah yang kumiliki itu tak kan pernah hilang
Ternyata
Aku telah salah memaknai cinta
Maafkan aku, Tuhan
Bayu Gautama
Malam tanggal 29 Oktober 2004
Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Friday, October 29, 2004
Thursday, October 28, 2004
Get Well Soon My Angel, U Make My Tears Drop Last Night
Rabu malam pukul 22.40, Anak saya Hufha (3,5 tahun) yang tengah tertidur pulas tiba-tiba batuk dan ... saya kaget dan panik melihat reaksinya setelah batuk. Ia terengah-engah untuk mengambil nafas, dan berkata, "... Hufha nggak bisa nafaaas .." berkali-kali.
Kulihat matanya memerah, dan kembali ia katakan itu, "Hufha susah nih nafasnyaaa ..."
Saya angkat ia ke pelukan dan mendekapnya, sementara istri saya berlari ke dapur untuk mengambil air hangat. Setelah itu ia memeriksa kotak persediaan obat. Ternyata ..., obat persediaan habis!
Kami semakin panik sementara Hufha terus menerus mencoba menarik nafas. Sekali ia coba tarik, bunyi yang memilukan terdengar dari tenggorokan dan dadanya, "sakiitt bii... " katanya.
Saya bergegas keluar rumah malam itu juga untuk mencari obat. Sudah bisa dipastikan, di Bogor, sedikit sekali toko yang buka hingga larut malam. Akhirnya saya kembali dengan tangan hampa.
Saat kembali ke rumah, saya tak hanya mendapati Hufha sesak nafas, tetapi juga tiba-tiba saja suhu tubuhnya meninggi. Melihat Hufha yang semakin menderita, saya pun membopong malaikat kecil kami itu untuk membawanya ke Klinik 24 Jam yang tidak seberapa jauh dari rumah kami.
Tanpa banyak basa-basi untuk urusan administrasi, saya minta segera dokter memeriksa terlebih dulu anak saya. Dan, dokter pun bingung. Ia mengira anak saya terkena asma. "Pernah asma nggak anak bapak?"
Saya katakan tidak, karena selama ini ia memang tidak pernah menderita penyakit itu. Saya tegaskan dokter untuk tidak menyuntiknya ketika dokter muda itu mengatakan, jika memang asma ia akan segera memberinya suntikan.
Saya semakin panik ketika dokter mengatakan Hufha harus mendapatkan bantuan oksigen. Seketika air mata saya luruh, menatap wajah kecil itu menangis ketakutaan sambil menahan perih di dadanya. "Ya Allah... dosa apa hamba pada-Mu, ..." lirihku.
"Tolong dulu deh dok! Kalau harus ke rumah sakit sekarang jauh sekali..." pinta saya sambil mengusap air mata.
Dengan penuh kesabaran dokter pun memeriksa kembali anak saya dan menyatakan, bahwa Hufha cukup diberi obat saja sepulang dari Klinik.
Sampai di rumah, saya masih belum tenang. Istri saya juga masih panik. Segera kami beri Hufha obat dari dokter. Dan, tak lama kemudian, nafasnya sedikit berubah lebih lancar. Tapi ia tetap tidak mau lepas dari pelukan saya.
Saya usap pelan sekujur tubuhnya agar ia merasakan kehangatan. Sebab sejak dari Klinik tadi ia terlihat menggigil. Setengah jam kemudian, ia pun tertidur, masih dengan nafasnya yang agak sesak.
Tak dikira, jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.20, sewaktu Hufha benar-benar bisa tertidur pulas. Saya dan istri tak berani ikut tidur dan tetap menemani Hufha, khawatir kalau-kalau ia kesulitan bernafas lagi. Tak terasa kami terus berdoa menemani Hufha hingga pukul 02.10 dini hari. Akhirnya kami putuskan untuk tidak tidur sampai menjelang sahur.
Semalam dokter bilang, kalau sampai pagi ini tidak ada perubahan dengan nafasnya. Hufha harus segera dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Setelah subuh, saya ragu apakah akan berangkat ke kantor atau tidak. Melihat Hufha yang tertidur pulas dengan nafas yang lebih teratur, istri saya berkata, "Berangkatlah...keep in touch ya..."
Saya berangkat dengan hati masih di rumah, dengan bayang-bayang Hufha di cermin mata ini.
Get Well Soon My Sweetheart...
Rabu malam pukul 22.40, Anak saya Hufha (3,5 tahun) yang tengah tertidur pulas tiba-tiba batuk dan ... saya kaget dan panik melihat reaksinya setelah batuk. Ia terengah-engah untuk mengambil nafas, dan berkata, "... Hufha nggak bisa nafaaas .." berkali-kali.
Kulihat matanya memerah, dan kembali ia katakan itu, "Hufha susah nih nafasnyaaa ..."
Saya angkat ia ke pelukan dan mendekapnya, sementara istri saya berlari ke dapur untuk mengambil air hangat. Setelah itu ia memeriksa kotak persediaan obat. Ternyata ..., obat persediaan habis!
Kami semakin panik sementara Hufha terus menerus mencoba menarik nafas. Sekali ia coba tarik, bunyi yang memilukan terdengar dari tenggorokan dan dadanya, "sakiitt bii... " katanya.
Saya bergegas keluar rumah malam itu juga untuk mencari obat. Sudah bisa dipastikan, di Bogor, sedikit sekali toko yang buka hingga larut malam. Akhirnya saya kembali dengan tangan hampa.
Saat kembali ke rumah, saya tak hanya mendapati Hufha sesak nafas, tetapi juga tiba-tiba saja suhu tubuhnya meninggi. Melihat Hufha yang semakin menderita, saya pun membopong malaikat kecil kami itu untuk membawanya ke Klinik 24 Jam yang tidak seberapa jauh dari rumah kami.
Tanpa banyak basa-basi untuk urusan administrasi, saya minta segera dokter memeriksa terlebih dulu anak saya. Dan, dokter pun bingung. Ia mengira anak saya terkena asma. "Pernah asma nggak anak bapak?"
Saya katakan tidak, karena selama ini ia memang tidak pernah menderita penyakit itu. Saya tegaskan dokter untuk tidak menyuntiknya ketika dokter muda itu mengatakan, jika memang asma ia akan segera memberinya suntikan.
Saya semakin panik ketika dokter mengatakan Hufha harus mendapatkan bantuan oksigen. Seketika air mata saya luruh, menatap wajah kecil itu menangis ketakutaan sambil menahan perih di dadanya. "Ya Allah... dosa apa hamba pada-Mu, ..." lirihku.
"Tolong dulu deh dok! Kalau harus ke rumah sakit sekarang jauh sekali..." pinta saya sambil mengusap air mata.
Dengan penuh kesabaran dokter pun memeriksa kembali anak saya dan menyatakan, bahwa Hufha cukup diberi obat saja sepulang dari Klinik.
Sampai di rumah, saya masih belum tenang. Istri saya juga masih panik. Segera kami beri Hufha obat dari dokter. Dan, tak lama kemudian, nafasnya sedikit berubah lebih lancar. Tapi ia tetap tidak mau lepas dari pelukan saya.
Saya usap pelan sekujur tubuhnya agar ia merasakan kehangatan. Sebab sejak dari Klinik tadi ia terlihat menggigil. Setengah jam kemudian, ia pun tertidur, masih dengan nafasnya yang agak sesak.
Tak dikira, jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.20, sewaktu Hufha benar-benar bisa tertidur pulas. Saya dan istri tak berani ikut tidur dan tetap menemani Hufha, khawatir kalau-kalau ia kesulitan bernafas lagi. Tak terasa kami terus berdoa menemani Hufha hingga pukul 02.10 dini hari. Akhirnya kami putuskan untuk tidak tidur sampai menjelang sahur.
Semalam dokter bilang, kalau sampai pagi ini tidak ada perubahan dengan nafasnya. Hufha harus segera dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Setelah subuh, saya ragu apakah akan berangkat ke kantor atau tidak. Melihat Hufha yang tertidur pulas dengan nafas yang lebih teratur, istri saya berkata, "Berangkatlah...keep in touch ya..."
Saya berangkat dengan hati masih di rumah, dengan bayang-bayang Hufha di cermin mata ini.
Get Well Soon My Sweetheart...
Wednesday, October 27, 2004
Terima Kasih Untuk Tidak Berdusta!
Kejujuran adalah bahasa universal, agama apa pun, di tanah mana pun kita berdiri, dan di waktu kapan pun kejujuran tetap berlaku. Namun nampaknya keuniversalan tersebut semakin teralienasi, dimana justru saat ini yang lebih sering dianggap biasa dan lumrah adalah ketidakjujuran. Di kantor, rumah, persahabatan, rumah tangga semakin mudah ditemui warna-warna dusta dengan berbagai ragam dan bentuknya. Dan justru pula disaat yang sama, kejujuran menjadi barang langka dan seringkali dianggap aneh.
Kalaulah Allah Swt memperingatkan kepada manusia yang beriman agar mengatakan perkataan yang benar untuk mengikuti perintah takwa (Al Ahzab:70) tentulah banyak makna yang bisa dirasakan oleh setiap manusia dari sikap kejujuran tersebut. Perhatikanlah penjelasan Rasulullah berkenaan dengan hal itu, "Hendaklah kamu selalu berada pada siklus kejujuruan, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarkan kamu kepada surga. Jauhilah oleh kamu (jangan sekali-sekali kamu dekati) dusta, sesungguhnya dusta itu membawa kamu kepada kerusakan dan sesungguhnya kerusakan itu akan mengantarkan kamu kepada neraka."
Tak perlu membayangkan bagaimana dunia tanpa kejujuran, karena episode cerita tentang hal ini sudah berlangsung sejak zaman para Nabi hingga sekarang. Bukalah kilasan cerita tentang saudara-saudara Yusuf yang berbohong kepada ayahanda Nabi Ya'kub setelah mereka mencelakai Yusuf. Abdullah bin Ubay bin Salul, terkenal sebagai tokoh munafik pada zaman Rasululullah Muhammad yang pandai bersikap manis di depan kaum muslimin tetapi menohok dari belakang. Pada masa sekarang dimana manusia semakin pintar, teknologi semakin hebat tentu ketidakjujuran pun semakin terbungkus rapi, semakin beragam dengan bentuk kamuflase yang halus. Saksikan bagaimana korupsi menghancurkan negeri ini, rumah tangga yang berantakan karena ada dusta yang terselip di antara suami isteri, dan masih banyak lagi episode-episode kedustaan yang terus berputar hingga sekarang.
Sekarang bayangkanlah jika hidup tanpa dusta barang sehari saja. Maka bisa dipastikan hari itu tidak ada perusahaan yang dirugikan oleh kecurangan pegawainya, negara tidak bangkrut karena ulah para koruptor kelas kakap, tak ada keretakan rumah tangga karena senantiasa terlindung oleh bingkai kejujuran, tidak ada pengkhianatan, tidak ada kemunafikan, tidak ada bencana besar yang timbul akibat satu bentuk ketidakjujuran yang terlalu sering dianggap sepele. Maka juga, bisa dipastikan hari itu adalah hari yang sangat dirindukan kembalinya.
Jujur saja, ide judul dan isi tulisan ini berawal dari satu label peringatan yang bertuliskan "Terima Kasih Untuk Tidak Merokok" yang dapat kita jumpai di berbagai tempat. Selain di tempat-tempat yang memang dilarang keras untuk menyalakannya seperti di pom bensin, rumah sakit, perkantoran atau ruangan-ruangan berpendingin, peringatan itu juga kadang terlihat di tempat-tempat umum lainnya seperti kendaraan umum atau bahkan di rumah-rumah yang memang diisi oleh keluarga yang anti terhadap tembakau dan asapnya. Sangat beralasan memang jika peringatan-peringatan itu seharusnya makin diperbanyak, bahkan jika perlu di semua tempat dimana masih ada wanita (hamil), anak-anak, orang-orang yang mencintai kesehatan. Meski demikian, terkadang masih saja ada yang bandel dengan tetap menghisap tembakau rokok tersebut di tempat-tempat yang dilabeli peringatan itu tanpa mempedulikan hak orang lain yang ingin tetap sehat.
Ah, kalau saja urusan rokok yang memang begitu merugikan orang lain dan juga membuat sakit para penghisapnya sampai sedemikian banyak label peringatannya. Kenapa juga tidak dibuat saja stiker-stiker dengan bertuliskan, "Terima Kasih Untuk Tidak Berdusta". Toh keluarnya sama-sama dari mulut seseorang, hasilnya juga bisa melukai dan merugikan banyak orang. Cuma bedanya, dusta juga bisa merugikan bangsa dan negara. Si pendustanya juga bisa merasakan sakit, yang semakin ia terus berbohong maka sakit di hatinya semakin membusuk.
Untuk bisa memulainya, perhatikan terlebih dahulu kutipan hadits berikut, seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasul, "mungkinkah seorang mukmin itu menjadi pengecut?" Rasulullah mengatakan, "ya mungkin". Lalu sahabat tersebut bertanya kembali, "mungkinkah seorang mukmin itu bakhil?" "Ya" jawab Rasul. Lalu, "mungkinkah seorang mukmin itu pendusta?" Rasul dengan tegas menjawab, "Tidak! karena dusta tidak mungkin bersatu dengan iman". Wallahu a'lam bishshowaab
Bayu Gautama
Subscribe to:
Posts (Atom)