Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog
Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...
Tuesday, October 12, 2004
Pukul 14.45, Senin (11/10) Mbak Pipien Delta FM nelepon gwe, "alo mas Bayu, jadi ya hari ini kita rekaman siaran di Delta FM. Saya tunggu lo di Ratu Plaza lt. 19 ..." telepon pun ditutup.
Beberapa hari sebelumnya, mas Awan -lengkapnya sih Agus Setiawan- juga dari Delta FM, nelepon saya dan meminta kesediaan saya untuk mengisi acara "Saat Ku Bersujud" (SKB)-nya Delta FM yang akan diputar selama Ramadhan tahun ini.
Janji hari Senin (11/10) pukul 16.00 di Delta FM
Pukul 15.00 tepat, saya berangkat dari kantor eramuslim dan tiba di Delta FM kira-kira pukul 15.42 WIB langsung disambut mbak Pipien yang zuper ramah dan murah senyum...
Setelah mengantar saya ke ruang tunggu di depan studio, mbak Pipien langsung menghilang entah kemana setelah sebelumnya bertanya, "mau minum apa mas?,"
"Teh..." tanpa basa-basi
Sambil menunggu dan menonton TV -kalo nggak salah chanel AXN di kabel vision- gwe perhatiin yang lagi siaran bareng mas Awan.
Sebenarnya soal siaran di radio sih, ini bukan yang pertama kali, pernah juga gwe siaran di acara Pustaka-Pustaka di radio Jakarta News FM bareng teman-teman relawan 1001buku yang dipandu Mas Fajrul...
Pukul 16.10, siarannya Mas Awan selesai dan tibalah giliran gwe. Diawali briefing sedikit-sedikit, dan test suara.... setelah OK, maka dimulailah ......
Intinya sih gwe diminta Delta FM siaran karena banyak tulisan-tulisan gwe yang religius dan banyak "based on true story" gituh, dan Delta tertarik untuk membincangkan tentang bagaimana mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman hidup seseorang sehingga membuat dia semakin beriman.... gitu loch ...
eh, ujung-ujungnya... gwe buka-bukaan juga tentang diri gwe -abis Mas Awan nanyanya mengarahkan kesana sih-, ya lah akhirnya gwe cerita soal latar belakang keluarga gwe yang berantakan -bonyok gwe divorce sewaktu umur gwe 6 tahun- yang itu membuat gwe jadi anak yang nggak terkontrol.
gwe juga cerita sempat terperosok ke titik yang paling hina, saat diri ini kenal minuman keras dan narkoba (itu kelas 3 SMP sampe kelas 1 SMA) .....
Siaran diakhiri dengan menceritakan proses gwe "back to the right track".....
btw, dingin juga sih studio Delta ituh, meski sebelumnya Mas Awan sempat nawarin jaket... sok jaim deh gwe nolak tawaran itu ....
Menjelang pulang, setelah tukar-tukaran kartu nama, Mas Awan bilang, "nanti saya kasih tau tanggal on air-nya"
ngeloyor pulang sambil berpapasan dengan senyum mbak Pipien si zuper ramah itu. "makasih ya mas...."
Gaw
Tuesday, October 05, 2004
Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke sekian.
Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.
Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.
Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.
"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya Diding
Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.
"Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?" terang Diding.
Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?"
"Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi," katanya.
Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.
***
Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya –dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.
Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat"
Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.
Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.
Bayu Gautama

