Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, September 27, 2004

Papa Ron's, Nomat, SMS, ...

Lampu merah, seberang istana Bogor.

Hampir setiap hari, saat berangkat maupun pulang kantor saya selalu melewatinya. Saya pun jadi hapal baliho iklan apa yang ada di sebelah kanan jalan, dan di kiri jalan. Spanduk apa saja yang setiap hari terpampang dan bahkan saya pun tahu pergantian dari spanduk satu ke spanduk yang lainnya. Dan, satu lagi yang akhir-akhir ini cukup menarik perhatian saya, yaitu anak-anak jalanan.

Jika tak salah, belum dua tahun lalu jumlah anak jalanan yang mengamen di sekitar lampu merah hingga stasiun kereta api Bogor masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Tapi kini, saya jadi penasaran dengan semakin tak terhitungnya jumlah mereka. Usia mereka pun beragam, dari yang masih pantas minum susu sampai yang sudah tak lagi pantas menyandang predikat “anak” jalanan.

Kemarin sore, selepas maghrib saya sempatkan menghampiri seorang anak yang tengah bersiap bergegas pergi dari pelataran masjid agung Bogor. Nampaknya ia baru saja sholat sementara beberapa temannya menunggu di halaman masjid. Mereka adalah anak-anak yang setiap hari menggantungkan nasibnya dengan bergelantungan di pintu angkot sambil mengayunkan ‘kerecek’ -alat musik terbuat dari setumpuk tutup botol yang dipipihkan- dan menyanyikan bait lagu yang tak lengkap. Saya tahu, anak itu tak mungkin mau berlama-lama ngobrol, karena ia harus kembali bekerja. Jadi, waktu yang singkat itu saya manfaatkan untuk melontarkan satu pertanyaan, “buat apa kamu ngamen?”

Jawabnya,”buat biaya sekolah”!

Stop disini.

Saya tak terlalu peduli dengan omongan banyak orang bahwa anak-anak jalanan yang jumlahnya terus bertambah itu diorganisir oleh sekelompok orang yang memanfaatkan tenaga mereka, dan anak-anak itu harus menyetor sekian rupiah dalam sehari. Bahkan kalau tidak setor, mereka akan menerima hukuman, entah apa bentuknya.

Saya pun tak peduli ketika seorang teman mengatakan, sebagian anak-anak itu justru disuruh oleh orang tua mereka untuk turut membantu mencari nafkah. Anak-anak itu bahkan dilarang sekolah dengan dalih sekolah tak menghasilkan uang, mendingan ngamen bisa dapat uang, tambahnya. “Sekolah cuma banyak menghasilkan para koruptor yang menjadikan kita miskin, yang menghantarkan anak-anak kami ke pinggir jalanan,” begitu ucap seorang ibu yang anaknya juga seorang anak jalanan.

Satu kalimat penutup dari teman saya, “orang tua macam apa itu, harusnya mereka yang bertanggungjawab mencarikan nafkah untuk anak-anaknya”.

Selanjutnya,

Teman saya menyebutnya “child abuse”. Ah, kalau soal ini betapa banyak di negeri ini sektor yang memanfaatkan anak-anak untuk mendapatkan keuntungan. Sejumlah pabrik masih mempekerjakan anak-anak di bawah umur, tak terhitung anak-anak yang bisa kita temui di tempat-tempat wisata. Dan nyatanya, siapa yang pernah menghitung jumlah anak yang harus mati terjatuh dari kereta, bis, angkot, atau sakit karena terlalu keras bekerja. Tentu sama sulitnya dengan menghitung berapa jumlah uang yang sudah kita belanjakan Papa Ron's setiap akhir pekan. Sama rumitnya dengan mengkalkulasi jumlah pembelian voucher pulsa telepon genggam selama sekian tahun.

Saya kira, kita tak keberatan untuk sesekali tidak nomat (nonton hemat) dalam satu bulan –dengan asumsi Anda nomat setiap pekan- dan mengalokasikan dana tersebut buat mereka yang kekurangan. Mungkin saja bisa pekan depan tak perlu mampir ke Papa Ron's dan kemudian memberikan uangnya kepada fakir miskin. Coba hitung berapa jumlah SMS yang sebenarnya tak perlu dan terbuang sia-sia setiap bulannya, kemudian kalikan dengan biaya per SMS tersebut. Bagaimana jika jumlahnya itu yang setiap bulannya juga kita infakkan?

Seorang teman yang lain berkomentar. Ah, percuma. Mestinya ini tugas pemerintah. Kita punya Menteri Sosial kan? Wallahu a’lam.

Bayu Gautama
catatan: Ada sekian persen dari setiap pembelian Papa Ron's untuk anak jalanan

Friday, September 24, 2004

Tell Her Now That U Love Her

“I luv u”

Setiap pagi aku menerima SMS bernada seperti itu. Kadang berupa gambar yang melambangkan cinta. Bukan siapa-siapa, karena wanita yang rajin tak pernah absen mengirimiku ungkapan cinta itu tak lain adalah istriku sendiri. Kemarin kuberitahu dia bahwa tindakannya itu memalukan, untuk sebuah keluarga yang sudah memiliki dua anak, tidak usahlah ‘cinta-cinta-an’ seperti halnya orang pacaran atau pengantin baru. Tapi ia tidak menggubrisnya, bahkan ia semakin sering dengan menambah rutinitas itu pada setiap sorenya.

Enam setengah bulan lalu, malah dia melakukan satu seremoni yang bagiku hanyalah buang-buang uang saja dan tak selayaknya ia melakukan itu. Malam itu sesampainya aku di rumah, kudapati rumahku hanya diterangi oleh lampu yang remang-remang. Rupanya istriku mengganti lampu ruangan makan kami, agar terkesan lebih romantis, katanya. Sementara dua anakku sudah terlelap menikmati mimpinya, kulihat beberapa batang lilin menyala di atas meja makan yang sudah tersedia hidangan penuh selera kesukaanku. Dengan gaun malamnya, ia terlihat begitu cantik. Aku baru ingat, hari itu adalah ulang tahun ketiga pernikahan kami.

Bahkan satu bulan sebelumnya, ia mengajakku keluar bersama anak-anak. Kami makan di sebuah restoran yang cukup bagus. Ia yang membayar semuanya, katanya. Pikirku, dari mana ia mendapatkan uang, toh ia tak bekerja. Akhirnya kuketahui itu uang yang ia sisihkan dari jatah bulanan yang kuberikan. Hanya saja bagiku, sekadar merayakan ulang tahunku tidak perlu repot-repot dan mahal seperti ini. Cukup dengan membeli makanan di pasar dan dimakan bersama-sama, selesai, yang penting kita bersyukur kepada-Nya bahwa kita masih diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah-Nya sampai usia kita bertambah hari itu. Yang kuheran, malam sebelumnya tepat pukul 00.01 WIB ketika detik pertama pada tanggal kelahiranku, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Kubuka perlahan mataku dan kudapatkan senyumannya yang manis. Malam itu ia menghadiahiku sebuah jam tangan yang di dalam bungkus kadonya terdapat sebuah kartu ucapan bertuliskan: “Take My Heart In Your Arm”.

O ya, sekedar memberitahu, handphone yang kupakai sekarang ini adalah hadiah darinya pada saat ulangtahun pernikahan kami enam setengah bulan yang lalu itu. Aku sempat menolaknya, karena handphone-ku sebelumnya juga masih bagus. Dengan sedikit senyum ia menghulurkan sebungkus kado cantik itu. Di dalamnya, kutemukan kembali sebuah kartu bertuliskan sebuah pesan (harap) singkat: “Keep In Touch, Please …”. Lucunya, aku lupa bertanya, bagaimana cara ia mendapatkan barang semahal itu. Ah mungkin karena aku sedang terkagum-kagum saja kepada istriku itu, yang membuat aku lupa.

SMS terakhir yang aku terima pagi ini, masih sama isinya. Namun entah kenapa hari ini aku menitikkan air mata. Kuperhatikan kembali rangkaian kata-kata dalam pesan itu, padahal setiap hari aku membacanya. I-L-U-V-U … kuperhatikan satu persatu huruf yang terangkai singkat itu, namun titik air dari mataku semakin bertambah. Aku jadi teringat dengan handphone hadiah darinya, teringat dengan makan malam istimewa nan romantis saat ulang tahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu, jam tangan hadiah darinya saat ulangtahunku, semua perhatian, cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Ooh …

Tiba-tiba mataku menatap lingkaran merah di satu tanggal pada kalender mejaku. Di situ tertulis, “Ultah istriku”. Ya Allah … aku hampir saja lupa kalau besok hari ulang tahunnya. Sementara hari sudah sore, aku bingung harus menyiapkan hadiah apa untuknya, padahal uangku sudah habis, tak mungkinlah jika aku meminta kepadanya untuk membeli hadiah untuknya, jelas nggak surprise.

Akhirnya, aku nekat menelepon beberapa teman dan karibku, atau siapapun yang bisa kupinjam uangnya. Aku ingin memberinya sesuatu. Namun, apa daya, tak satupun dari mereka bisa meminjamkannya karena memang selain mendadak, bukan tanggal yang tepat bagi siapapun untuk meminjam uang di tanggal tua.

Aku lemas, hari sudah terlalu malam bagiku untuk mengetuk pintu orang kesekian untuk kupinjami uangnya. Lagipula toko-toko mulai tutup, kalaupun aku mendapatkan uangnya, sudah terlambat untuk membeli sesuatu. Langkahku gontai, aku malu jika pulang tak membawa apa-apa. Aku menyesal, rupanya kesibukan dan sifat egoisku yang selama ini menutupi semua perhatian dan cinta yang diberikannya, hingga tak sekalipun aku membalasnya. Sambil berjalan, lalu terbetik sebuah ide kecil di benakku …

Aku pulang, kudapati rumahku sudah sepi, istri dan kedua anakku sudah terlelap. Aku tak ingin membangunkan mereka. Belum juga mataku merapat karena masih membayangkan betapa menyesalnya aku yang telah mengabaikan perhatian dan kasih sayangnya selama ini, bahkan tak sepatah kata ‘terima kasih’ pun aku ucapkan untuk semua cintanya itu. Satu jam kemudian, istriku terbangun untuk menunaikan sholat malamnya. Biasanya ia membangunkan aku (atau sebaliknya jika aku bangun terlebih dulu) untuk sholat bersama. Namun ia tak segera, karena kuyakin matanya langsung menatap setangkai bunga mawar merah yang kuletakkan di samping bantal tidurnya. Sementara aku masih berpura-pura terlelap, namun mataku sesekali menangkap senyuman di bibirnya ketika ia membaca kertas kecil yang kuikatkan di tangkai bunga itu, “Maafkan abang dik, yang telah melupakan perhatian dan cinta adik. Bunga ini memang tidak akan mampu membalas semua yang telah adik berikan … with luv …”

Bayu Gautama
ulang tahun istriku, Juni 2002

Orang Sopan Makin Langka

"Weyy... kalo nyeberang mata dipake donk...!!!" bentak supir angkot kepada seorang pejalan kaki setengah baya yang nyaris terserempet kendaraan tersebut. Saya yang berada di angkot tersebut tak tahu persis harus berbuat apa. Meski cukup sering mendengar umpatan serupa dari seorang pengendara mobil kepada pejalan kaki, saya tetap merasa tak semestinya mereka mengeluarkan kata-kata kasar semacam itu.

Suatu kali secara kebetulan saya pernah mendengar omelan seorang pejalan kaki yang terciprat air genangan sisa-sisa hujan yang dihempaskan oleh sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Serta merta, sederet sumpah serapah keluar yang kalau dibayangkan, isinya itu sangat mengerikan, seperti "Gue sumpahin tabrakan luh!" atau semacamnya. Bagaimana jika umpatan atau sumpah itu bernilai do'a di mata Allah? bukankah mereka tak bedanya seperti orang-orang yang terzalimi? Jadi, jangan sembarangan mengumpat seorang pejalan kaki yang belum tentu benar-benar salahnya. Bisa jadi, Anda yang justru bersalah.

Sebenarnya, ini soal etika berkendaraan di jalan umum. Namanya juga jalan umum, jadi siapapun tidak bisa merasa harus dipentingkan, siapapun tak boleh memaksakan kehendaknya, dan siapapun tak berhak atas jalan tersebut layaknya jalan milik pribadi.

Yang namanya jalan umum boleh digunakan oleh siapapun, pemilik kendaraan dari roda dua, tiga, empat sampai enam belas, atau pun pejalan kaki. Yang penting kan semuanya ada aturannya. Nah, ngomong-ngomong soal aturan, ternyata tidak semua etika berkendara di jalan masuk dalam aturan yang sudah ada.

Begini, saya pernah menumpang mobil seorang rekan sepulang kondangan. Namanya Edi. Malam itu terasa sangat segar, sehingga kami tak perlu memasang AC karena sore tadi Jakarta baru saja diguyur hujan yang lumayan deras. Mobil melaju tidak terlalu kencang ketika kami merasa mobil kami telah menghempaskan genangan air di pinggir jalan dan... mengenai seorang ibu pejalan kaki. Ciiiitttt!!! Edi segera menghentikan mobilnya dan mundur sejauh tidak kurang dari 70 meter dari genangan air tadi.

"Kena nggak?" tanya Edi. Yang dimaksud adalah, apakah hempasan mobilnya terhadap genangan air tersebut telah menyebabkan pejalan kaki tadi terciprat atau tidak. Agak sedikit ragu, saya katakan, "Kena...".

Sesampainya di depan ibu pejalan kaki tadi, Edi segera turun dan meminta maaf atas tindakannya tadi. Pejalan kaki yang tengah mengibas-ngibaskan tangannya ke beberapa bagian pakaiannya yang kotor terlihat tersenyum, apalagi setelah kami menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuannya.

Dalam perjalanan berikutnya, saya tanyakan kepada Edi tentang sikapnya tersebut, seraya memberikan asumsi bahwa ibu pejalan kaki tersebut terlihat ramah dan 'ikhlas', mungkin Edi tak perlu memundurkan mobilnya untuk meminta maaf pada pejalan kaki tersebut.

Sekarang coba Anda pikirkan kenapa saya terus tersenyum sampai di rumah setelah mendengar jawaban Edi seperti ini, "Kamu betul, mungkin ibu itu ikhlas dan tak marah, bahkan mungkin saya tak perlu berhenti setelah 70 meter dari genangan air tersebut. Tapi bagaimana kalau Allah yang tidak ikhlas, dan menjadikan 10 meter berikutnya adalah kesempatan terakhir saya mengendarai mobil ini?"

Hmm, Edi, Edi ... saya dengar, kalau sedang bersepeda atau naik motor, anak muda satu ini juga akan turun dan menuntun kendaraannya saat melewati orang-orang yang tengah duduk di pinggir jalan di sebuah gang, satu kebiasaan yang saya kira telah hilang sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu.

Bayu Gautama