Anak Betawi yang Keliling Dunia Lewat Blog

Kate siape anak Betawi kagak bise maju? siape kate anak Betawi pade males dan banyak nyang jadi pengangguran? Bukan maksud nyombong atawe unjuk gigi, aye cuma ngasih tau kalo kagak semue anak Betawi kayak nyang ente kire...

Ini cuman persembahan kecil dari anak Betawi asal Tomang, Jembatan Gantung. Mudah-mudahan bise ngasih semangat sedikit ame semue orang, terutame anak betawi yang masih pade bingung idup mau ngapain? Nyok nyok nyoookk...

Monday, September 29, 2003

Kotak Surat Malaikat

Sekali lagi, aku mendapat kesempatan untuk menangani satu kelas di sekolah musim liburan anak-anak jalanan di Kota Kembang, Bandung. Seorang teman memintaku untuk bergabung dan menangani satu kelas karena dua alasan, ia tahu aku memiliki tidak sedikit pengalaman mengelola kelas di berbagai pelatihan, dan satu lagi, salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut absen untuk musim liburan kali ini.

Mengelola kelas anak jalanan, dari mulai pengemis, pedagang asongan, tukang semir, pengamen, dan bahkan anak-anak yang tidak mengerti bahwa mereka dieksploitasi untuk melakukan tindak kejahatan, meski bukan hal biasa, tapi juga bukan yang pertama bagiku. Ya, satu setengah tahun yang lalu, di kota yang berbeda, pernah bahkan setiap akhir pekan bersama dengan beberapa rekan LSM menangani sekolah gratis anak jalanan, selama hampir tiga bulan. Namun yang membuatku terkejut begitu memasuki kelas, adalah usia rata-rata yang masuk dalam daftar kelas itu memaksaku sedikit membelalakkan mata. Untuk beberapa menit, tak satu katapun keluar dari mulutku setelah sekilas menangkap mata-mata jernih dan penuh tanya yang menatap kehadiranku. Usia rata-rata mereka tak lebih dari tujuh tahun, terdiri dari hanya belasan anak.

“Jangan kaget masuk kelas istimewa itu” temanku mengingatkan sebelum kami memasuki kelas masing-masing. Jadi, inikah yang dimaksud kelas istimewa? Belasan anak bernasib kurang beruntung yang semestinya di usia seperti mereka, masih bermanja-manja dengan kedua orang tua mereka. Tetapi hidup yang mereka jalani menghadirkan mereka di bising kota, deru kendaraan dan lalu lalang pejalan kaki. Merah, hijau dan kuning traffic light seolah menjadi lampu start mereka berhamburan menyerbu bis kota, atau mobil-mobil pribadi untuk mengayunkan krecek dan menyanyikan lagu-lagu yang tak semuanya terhapal dengan baik. Sebagian lain menjajakan rokok, permen serta tissue dari satu bis ke bis kota yang lain, tak peduli beberapa teman mereka yang lain pernah terpelanting dari atas bis ketika hendak turun dari sebuah bis bertepatan dengan nyala lampu hijau.

Tak mengherankan, kerasnya kota dan bising jalanan membentuk pribadi-pribadi lembut itu menjadi sosok yang keras, tak teratur, dan terkesan liar. Padahal anak-anak sebayanya, pasti nampak menyenangkan untuk dilihat, didekati, dan diajak bercengkerama, karena lebih sopan dan lembut, bisa diatur, dan aroma yang jelas lebih bersahabat. Tapi nyatanya, di hari pertama, aku berdiri di depan mereka seperti orang yang salah kostum. Kemeja putih bersih dengan aroma Bvlgari for men yang menyegarkan. Akibatnya, satu persatu bergantian mereka mendekat hanya untuk menghirup aromaku dan kembali, beberapa menit kemudian hal itu mereka lakukan. Senang? Tentu tidak. Aku merasa mereka menerimaku hanya karena aroma itu, bukan diriku yang seutuhnya.

Hari kedua dan berikutnya, aku sedikit membenahi penampilanku agar tidak ada perbedaan yang mencolok. Aku pernah membaca sebuah buku, untuk bisa diterima di sebuah komunitas, jika perlu seseorang mesti meminimalisir perbedaan dengan komunitas tersebut sehingga dirasakannya seseorang yang baru hadir itu juga bagian dari komunitas. Kemudian hal itu kuartikan, setidaknya, untuk menyeragamkan penampilanku agar tidak terlihat perbedaan.

Banyak hal yang tak terduga dalam menangani kelas ini, bisa dibayangkan, aku baru bertemu mereka sejak hari pertama, tak satupun yang kutahu karakter dan tingkah laku masing-masing. Begitu juga Sissy, asisten pengajar yang bersamanya aku bahu membahu menangani kelas tersebut. Sehingga dua pekan pertama kami habiskan untuk mengenal karakter, sikap dan tingkah laku masing-masing. Ini sejalan dengan materi yang diamanahkan kepada kami, Budi Pekerti.

Dua pekan yang mengagumkan, bisa langsung berinteraksi dengan segala kebandelan (sengaja tak menggunakan kata ‘nakal’ untuk menggambarkan perilaku mereka), tata tertib yang dibuat hanya diingat di hari pertama karena hingga hari terakhir pekan ketiga, tak satupun ketertiban dipatuhi. Memberikan sanksi kepada anak-anak itu, tentu bukan hal tepat. Materi ‘Budi Pekerti’ yang tergetnya agar anak-anak itu bisa bersikap lebih manis setelah selesai program kelas yang hanya satu bulan ini, nampaknya harus kami kubur dalam-dalam. Hampir saja kami putus asa sebelum, Dani, tukang koran berusia enam setengah tahun bertanya polos, “Kak, pernah nggak liat malaikat? Katanya di dalam dada kita ada malaikat…”

Satu pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan sempurna. Namun melahirkan satu ide yang ‘menyelamatkan’ kami dari kegagalan merubah –meski sedikit- perilaku mereka.

Hari pertama di pekan terakhir, aku bercerita tentang malaikat yang selalu mengirimkan surat untuk anak-anak yang berperilaku baik di setiap hari. Sebelumnya, aku merayu Sissy untuk mau berdandan seperti malaikat, dan jadilah Sissy, malaikat cantik sepanjang pekan terakhir itu, berjubah putih panjang, lengkap dengan tongkat berujung bintang di lengan kanan, serta sebuah kotak surat di kiri.

Sebelum pulang, setelah makan siang dan sholat dzuhur, di depan kelas, aku membagikan kertas-kertas ukuran setengah kwarto yang sudah dipotong-potong kepada anak-anak itu. Mereka diminta untuk menulis tentang kebaikan apapun yang dilakukan oleh teman mereka sepanjang hari itu. Jika menurut mereka terdapat lebih dari satu teman yang melakukan hal baik, ia boleh menambah kertas lain untuk ditujukan buat teman yang lain itu. Setelah semua selesai menuliskan, mereka lalu memasukkannya ke kotak surat milik malaikat cantik. Ketentuannya, mereka hanya boleh menuliskan nama teman yang dituju tanpa perlu mencatatkan nama mereka sebagai pengirim.

Sore, setelah semua anak-anak itu kembali ke dunianya masing-masing, aku dan Sissy masih punya tugas lain, membicarakan perkembangan anak-anak, efektifitas metode pembelajaran, dan satu tugas baru, membaca satu persatu surat mereka. Terdapat puluhan surat di hari pertama, diantaranya, untuk Yanti, gadis kecil yang hari itu rambutnya lebih rapih dari hari-hari sebelumnya. Surat lain, untuk Dodo, karena tak membuang ludah sembarangan di dalam kelas. Ada surat untuk Dini, yang hari itu tak menangis. Dini adalah anak paling cengeng dan tak melewatkan satupun harinya di program ini dengan menangis. Ada beberapa anak yang tak mendapat surat, seperti Kholik yang masih terus senang memukul teman-temannya, atau juga zaenudin yang tak henti membuat kebisingan dengan ukulele-nya.

Begitu seterusnya, di hari selanjutnya di pekan terakhir itu, surat demi surat masuk ke dalam kotak untuk dibagikan keesokan harinya. Kami bisa menyaksikan kebanggaan anak-anak yang mendapatkan surat dari malaikat. Kami tanamkan satu keyakinan, semakin banyak mendapatkan surat berarti ia semakin baik di mata malaikat dan Tuhan. Sehingga hari demi hari, semakin sering kami dapati perkembangan mengagumkan dari perilaku mereka. Meski berbeda rasa bangga yang diperlihatkan, di hari terakhir semua anak di kelas itu memegang surat-surat catatan kebaikan dari malaikat. Khalik, meski cuma satu surat yang didapatnya, seulas senyum mampir di mata kami yang mulai tergenangi sebulir air. Kupeluk satu persatu mereka di hari perpisahan yang mengharukan itu. (Bayu Gaw)

To: Malaikat Cantik. Dimana kini dirimu?

Tuesday, September 16, 2003

Saddest Poem
Pablo Neruda

I can write the saddest poem of all tonight.

Write, for instance: "The night is full of stars,
and the stars, blue, shiver in the distance."

The night wind whirls in the sky and sings.

I can write the saddest poem of all tonight.
I loved her, and sometimes she loved me too.

On nights like this, I held her in my arms.
I kissed her so many times under the infinite sky.

She loved me, sometimes I loved her.
How could I not have loved her large, still eyes?

I can write the saddest poem of all tonight.
To think I don't have her. To feel that I've lost her.

To hear the immense night, more immense without her.
And the poem falls to the soul as dew to grass.

What does it matter that my love couldn't keep her.
The night is full of stars and she is not with me.

That's all. Far away, someone sings. Far away.
My soul is lost without her.

As if to bring her near, my eyes search for her.
My heart searches for her and she is not with me.

The same night that whitens the same trees.
We, we who were, we are the same no longer.

I no longer love her, true, but how much I loved her.
My voice searched the wind to touch her ear.

Someone else's. She will be someone else's. As she once belonged to my kisses.
Her voice, her light body. Her infinite eyes.

I no longer love her, true, but perhaps I love her.
Love is so short and oblivion so long.

Because on nights like this I held her in my arms,
my soul is lost without her.

Although this may be the last pain she causes me,
and this may be the last poem I write for her.




Justru Pada Akhir Tahun
Rendra

Bermukimlah di peti mati dan jangan menatap lagi
aku terpaksa berkhianat dan cintamu jadi siksa
keengganan-kehilangan jadi ketakutan bangsawan
sangsi yang ini mendorong ingin segala punya
dan jadilah hatiku asing pada pangkalan dan persinggahan

Berilah aku kenikmatan atau keedanan dan bukan cinta
cinta memang kudamba tapi jadi asing di dekatnya
begitu agung ia, mungkin tak kukenal bila singgah di dada
dan oleh lukatak kupercaya lagi kehadirannya

Terkutuklah saat-saat aku sadari diri begini
tampak seolah tindakku berbunga dosa
tindak yang di sisi hatiku sungguh bening
(Percayalah! Matamu 'kan mengutuk segala dusta.)

Tolonglah memupus lari sangsiku.
(demi cintamu yang tidak waras kepadaku!)
Pendamlah cintamu dalam perbuatan edan
atau sekali-kali berkhianatlah kepadaku
atau bermukimlah di peti mati dan jangan nangis lagi
atau bunuh aku dengan tikaman mesra duka cinta
dan segalanya akan pupus begitu
bukankah itu mesra, sayangku?

*dikutip dari Empat Kumpulan Sajak, Rendra, Pustaka Jaya, Cetakan Ketujuh, 1994



Body of a Woman
By Pablo Neruda*

Body of a woman, white hills, white thighs,
you look like a world, lying in surrender.
My rough peasant's body digs in you
and makes the son leap from the depth of the earth.

I was lone like a tunnel. The birds fled from me,
and nigh swamped me with its crushing invasion.
To survive myself I forged you like a weapon,
like an arrow in my bow, a stone in my sling.

But the hour of vengeance falls, and I love you.
Body of skin, of moss, of eager and firm milk.
Oh the goblets of the breast! Oh the eyes of absence!
Oh the roses of the pubis! Oh your voice, slow and sad!


Body of my woman, I will persist in your grace.
My thirst, my boudnless desire, my shifting road!
Dark river-beds where the eternal thirst flows
and weariness follows, and the infinite ache.

*Pablo Neruda (1904-1973), a Latin American poet with an international reputation. The winner of Nobel Prize for Literature in 1971.



O Malam Tak Kunjung Kelam
T. S. Pinang*

o, malam tak kunjung kelam

telah habis doa-doa kurapalkan
di mulut tak kunjung menukik hati
di jemari tak kunjung merasuk niat

o, gelap tak kunjung lelap

telah habis api lilin
bahkan bara di perapian
tinggal dengus dingin sepian

o, hati tak kunjung danau

sesempit itu kini terasa
sekeping bara terperam suam
sekepal kepala menampuk tahta

o, api tak kunjung cinta

aku terbakar dimana air
aku terkapar disambar petir
aku terluka kau tak hadir

o, tuhan tak kunjung diri
kulepas baju
aku bosan
aku rindu


*Teguh Pinang Setiawan, calon penyair, domisili di Yogyakarta. Seniman graphis dan webmaster, sitenya di: www.titiknol.com



I Cry

Sometimes when I'm alone I cry
Because I'm on my own
The tears I cry are bitter warm
They flow with life but take no form
I cry because my heart is torn
I find it difficult to carry on
If I had an ear to confide in
I would cry among my treasured friend
But who do you know who stops that long
To help another carry on
The world moves fast and would rather pass by
Than to stop and see what makes one cry
So painful and sad
And sometimes....
I cry and no one cares about why.

By Tupac Shakur

*Tupac Amaru Shakur, Black American greatest rapper, died in a drive by shootings in 1996



Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(sapardi joko damono)

*diambil dari sajak "aku ingin" - sapardi joko damono


Dialog dan Kemanusiaan

Aku tak tahu apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sendiri. Kalau hari ini betul, tentunya inilah sebagian yang menyebabkan aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku. Tapi bukankah memperbanyak dialog dengan diri sendiri itu justru menambah kita makin mengeri arti kemanusiaan ini? Dengan melihat diri sendiri kita melihat manusia.

24 januari 1970 - Ahmad Wahib*

*kutipan dari Pergolakan Pemikiran Islam terbitan lp3es tahun 1983, catatan harian Ahmad Wahib


Diva

"Matilah sebelum mati.
Karena kematianmu adalah kemerdekaanmu."

Diva - Supernova [Dee]* hlm. 166

*Novel sains fiksi Supernova oleh Dee (Dewi Lestari Simangunsong), terbit Januari 2001


Cintaku Jauh Di Pulau

Cintaku jauh di pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang,
tapi terasa aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segalam melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri

Chairil Anwar*, 1946

*Chairil Anwar, lahir 26 Juli 1922 di Medan, meninggal 28 April 1949. Chairil Anwar sering dianggap sebagai pelopor "Angkatan 1945" dalam sastra Indonesia


Thursday, September 11, 2003

Teman Terbaik

Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya sewaktu usiaku baru menginjak tiga tahun. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-kata ayah, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat yang mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.

Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu.

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku.

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil yang penuh debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffuihh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu.

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw)

Buat Papa, terima kasih telah mengenalkanku dengan ayat-ayat-Nya.